Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 24


__ADS_3

Waktu baru menunjukan pukul delapan lewat lima menit setelah Naziya dan keluarganya selesai makan malam. Mereka kemudian pindah dan duduk mengobrol di teras penginapan.


Naziya menatap ke arah lautan luas. Sesekali ia melirik pada api unggun yang menyala tak jauh dari tempat mereka. Tampak di sana beberapa orang sedang menikmati malam sambil berbincang. Angin bertiup lembut menerbangkan ujung rambutnya. Suara Naya berceloteh pada kakek neneknya terdengar. Sesekali anaknya itu tertawa. Naziya tersenyum melihat interaksi mereka.


"Kak."


Suara Vita membuat ia menoleh. Ternyata adiknya itu sudah berada di sampingnya. "Kenapa?" Ia bertanya. Keningnya sedikit berkerut melihat ekspresi Vita. Adiknya itu tampak penasaran.


"Kakak udah lama kenal sama Pak Alby?" Vita bertanya. Penasaran.


"Lumayan."


"Sejak kapan?" Vita bertanya lagi. Jawaban kakaknya masih menggantung.


"Sejak hampir setahun. Dia dulunya adalah suami pasien kakak. Cuma kakak sempat lupa karena sudah lama. Kami bertemu lagi di rumah sakit saat ia mengantar anaknya. Dan setelah itu kami kembali bertemu tanpa sengaja." Naziya menjelaskan panjang lebar.


Bibir Vita membentuk huruf O. "Termasuk tadi nggak sengaja?" Ia bertanya memastikan.


Naziya mengangguk.


"Kakak tahu dia dosenku?" Vita bertanya, sebab kakaknya tadi sama sekali tidak kaget saat ia memanggil nama Pak Alby.


Naziya kembali mengangguk.


"Kakak kok nggak pernah bilang kalau mengenal Pak Alby?" Vita sedikit protes.


Naziya melirik adiknya sebentar. "Untuk apa?" Ia kemudian kembali menatap lautan. "Lagian kakak dan dia nggak punya kepentingan apa-apa. Kami hanya bertemu tak sengaja."


Vita bernafas lega. Kemudian tersenyum tipis tanpa di sadari oleh Naziya. Wajah Alby yang teduh dan menenangkan kembali membayang dalam ingatannya. Vita menyukai ekspresi wajah itu.  Sangat berbeda saat di kampus. Ia kembali tersenyum. Lalu sesaat tersadar. Jangan sampai ia di lihat oleh salah satu anggota keluarganya terutama Naziya. Bisa-bisa kakaknya itu akan mewawancarainya.


"Menurut kakak, Pak Alby itu bagaimana?" Vita bertanya kembali.


"Maksudnya?" Naziya mengerutkan alisnya. Tidak paham dengan pertanyaan adiknya.


"Maksudnya karakternya." Vita menjelaskan.


"Kenapa kamu ingin tahu?" Naziya menatap curiga pada adiknya. Ia ingat perkataan Randy mengenai para mahasiswi yang menyukai Alby.

__ADS_1


"Kenapa kakak ngelihatin aku seperti itu?" Vita mencoba bersikap biasa.


"Kamu tidak menyukai Pak Alby kan?" Naziya bertanya memastikan. Tatapannya masih mencari tahu.


Vita langsung terbahak yang membuat kedua orang tua dan ponakannya menoleh.


"Ya nggaklah, Kak." Vita berbohong. Ia sudah menyukai lelaki itu saat pertama kali melihatnya. Dan semakin lama, perasaannya semakin besar. Ia sudah berusaha untuk menghilangkan rasa itu saat tahu Alby menikah. Namun, semuanya sia-sia. Rasa itu tetap ada bersemayam dalam hatinya. "Aku hanya bertanya karena melihat ekspresi wajahnya yang berbeda tadi saat bersama dengan kakak. Soalnya, Pak Alby kan terkenal dingin dan seram di kampus." Vita tak sepenuhnya bohong, meski sebenarnya tujuan pertanyaannya bukanlah itu.


"Ohh." Naziya mendesah lega. Masuk akal jika adiknya itu bertanya mengenai karakter dosennya. "Sebenarnya dia tidak seperti itu."


Vita semakin penasaran. "Maksud kakak, sikap yang Pak Alby tampakkan di kampus itu bukanlah karakter yang sebenarnya? Dan kalau bukan seperti itu, dia seperti apa?" Vita bertanya tak sabar.


Naziya mengangguk."Dia orang yang hangat dan perhatian juga sabar." Naziya teringat saat Alby memperlakukan kakaknya saat konsul beberapa waktu lalu.


"Dari mana kakak tahu?" pancing Vita. Meski sebenarnya dia sudah bisa menduga bahwa dosennya itu tak mungkin bersikap dingin pada saat bertemu dengan dokter yang telah membantu istrinya. Tapi dia penasaran. Apakah sikap itu yang selalu dia tampakkan pada kakaknya. Ah. Vita jadi iri. Ia membayangkan menjadi kakaknya dan melihat senyum hangat sang dosen.itu setiap bertemu. Ia pasti sangat bahagia. Ternyata apa yang dibilang Dewi ada benarnya juga. Lagi-lagi ia tersenyum. Menertawakan pemikirannya. Dan sesaat kemudian tersadar. Untung saja kakaknya tidak memergokinya.


"Kakak tahu saat ia membawa kakaknya untuk konsultasi. Sikapnya pada kakaknya sama sekali bertolak belakang dengan sikap seperti yang kamu bilang." Naziya menjelaskan pengamatannya.


"Kakaknya juga pasien kakak?"


Naziya mengangguk. "Dia pernah menemani kakaknya ke rumah sakit."


"Kalian belum masuk ke dalam?" Hari bertanya memotong pikiran Vita.


Keduanya langsung menoleh ke sumber suara.


"Belum, Pa." Naziya menjawab.


"Aku juga mau masuk. Dingin di luar," Vita menimpali. Tadinya dia berpikir untuk tinggal dan bertanya lebih banyak mengenai dosen favoritnya itu. Namun, ia takut jika kakaknya akan menjadi curiga. Dia masih belum mau orang lain mengetahui tentang perasaannya pada lelaki itu. Ia kemudian berdiri menyusul orang tuanya ke dalam.


Naziya mendesah pelan dan kembali menatap lautan setelah semuanya masuk ke dalam. Angin bertiup sedikit lebih kencang. Naziya merekatkan jaketnya. Menghalau angin yang masuk. Suasana malam begitu tenang dan damai. Sesekali terdengar suara tawa samar yang berasal dari rombongan Alby. Naziya menengadah ke langit, menyaksikan bintang-bintang yang bertaburan. Matanya langsung tertuju pada bintang yang berjejer tiga. Ia membayangkan jika itu adalah dirinya, Zain dan Naya. Ia tersenyum miris. Kenapa susah sekali melupakan lelaki itu. Naziya mendesah. Matanya memanas. Ia mulai terisak.


Naziya turun ke bawah. Sedikit menjauh dari penginapan mereka. Ia tak mau suara isakannya terdengar oleh kedua orang tuanya. Ia berjalan menyusuri pantai. Lalu kemudian duduk diatas pasir dan kembali memandangi lautan. Suasana sudah sepi tinggal satu dua orang yang masih terlihat berbincang. Rombongan Alby pun sebagian sudah masuk ke dalam penginapan mereka.


Naziya kembali terisak. Kali ini isakannya semakin mengiris. Ia sama sekali tidak menahannya. Tidak ada yang bisa mendengarnya. Ia bebas menangis sesuka hatinya di sini meluapkan segala gundah yang masih tertahan di hatinya. Ia menangis hampir setengah jam dan tidak sadar jika Alby sudah berada di situ selama beberapa saat.


Naziya terkejut kala mendongakkan kepalanya dan melihat sosok lelaki yang berada di depannya. Hampir saja ia berteriak. Ia langsung mengusap air matanya. Lagi-lagi lelaki itu datang. Sudah berapa kali Alby melihatnya menangis. "Kamu ngapain disini?" Naziya bertanya dengan nada sedikit ketus.

__ADS_1


Alby tidak menjawab dan langsung duduk di samping Naziya. "Kalo kamu mau lanjutin nangisnya, nangis saja." Alby buka suara.


"Kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu ngapain kesini?" Naziya tidak menanggapi ucapan lelaki itu. Ia kembali menanyakan maksud lelaki itu ada di tempatnya.


"Aku hanya ingin jalan-jalan dan tak sengaja mendengar kamu menangis." bohong Alby. Alby sengaja mengikuti Naziya saat melihat wanita itu turun dari penginapannya. Ia tidak berniat mengganggu, hanya khawatir karena keadaan pantai sudah sangat sepi. Orang-orang sudah masuk ke dalam penginapan mereka karena waktu sudah hampir larut dan angin malam yang bertiup semakin dingin.


Naziya mendengus pelan. Ia terkadang tidak suka melihat lelaki itu selalu mengganggunya.


"Maaf jika mengganggumu." Alby seperti tahu apa yang dipikirkan Naziya.


Naziya hanya diam.


Hening. Hanya suara ombak yang terdengar mengepak lembut di bibir pantai menimbulkan suara yang damai dan menenangkan.


Satu menit berlalu. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Masih belum ada suara yang terdengar. Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa kali mereka merekatkan jaket.


"Kita punya masalah yang sama. Sama-sama menjadi korban pengkhianatan." Alby akhirnya bersuara setelah hampir dua puluh menit mereka saling diam. "Istriku berhubungan dengan lelaki lain sebelum menikah denganku dan hamil." Alby bicara tanpa ditanya. Ia mengambil nafas dalam-dalam mencoba menetralkan hatinya yang mulai gundah. Setiap kali mengingat semua itu, hatinya seketika langsung sesak.


Naziya langsung menoleh. Memperhatikan wajah lelaki yang ada disampingnya itu. Jarak mereka yang hanya setengah meter membuat Naziya dapat melihat wajah lelaki itu dengan jelas meski tertutupi dengan warna malam yang gelap. Ada seberkas luka disana. Perasaan kesal yang tadi sempat hadir kini langsung berubah menjadi simpati.


"Dia sedang hamil saat menikah denganku." Alby bicara lagi melanjutkan ucapannya lalu kembali mendesah. "Aku baru tahu itu bukan anakku setelah bayi itu berusia tujuh bulan saat ia tak sengaja jatuh dari tempat tidur dan kehilangan banyak darah." Alby menengadah. Matanya memanas.


Naziya teringat pada saat menangani Rima. Memang saat itu, kandungannya baru delapan bulan, setidaknya itu yang tertulis dalam rekam mediknya, tapi bayinya terlihat normal seperti cukup umur saat lahir. Mungkinkah jatuh dari tangga adalah kesengajaan untuk membohongi Alby? Naziya menduga-duga. Dan jika benar, mereka sudah sangat keterlaluan. Pantas saja lelaki ini begitu tersakiti. Ia memandang iba pada Alby. Ternyata bukan hanya dia yang punya masalah besar. Ada orang lain yang masalahnya lebih rumit dari dirinya. Tanpa sadar, Naziya mencondongkan tubuhnya ke arah Alby kemudian mengelus pundak lelaki itu. "Sabar, ya." Itu refleks ia lakukan karena sudah terbiasa dengan pasiennya.


Alby sedikit terkejut mendapat sentuhan. Ia menoleh ke arah lengan Naziya. Ia seketika merasa sedikit tenang. Ia tidak tahu kenapa. Saat tadi Frida menyentuh lengannya, ia merasa tidak nyaman. Namun, kenapa ketika Naziya melakukan hal sama tapi rasanya berbeda? Alby mempertanyakan pada dirinya sendiri. Namun sesaat mengetahui jawabannya. Karena saat Naziya menyentuhnya ia sedang sedih. Setidaknya itu jawaban yang dipikirkan oleh Alby. "Terima kasih." Ia membalas ucapan Naziya kemudian.


Hening.


Angin bertiup semakin kencang. Naziya menggosok-gosokkan kedua tangannya dan kemudian menempelkan pada wajahnya untuk menyalurkan rasa hangat.


Alby melakukan hal yang sama.


"Sepertinya angin semakin kencang dan cuaca semakin dingin. Sebaiknya kita kembali ke penginapan." Alby memberi opsi.


Naziya mengangguk. Dan keduanya kemudian beranjak dari tempat duduk mereka. Menepuk-nepuk pasir yang melengket pada pakaian.


Mereka berjalan beriringan tanpa suara. Naziya pamit saat sudah berada di depan penginapan mereka.

__ADS_1


Alby memandangi punggung wanita itu hingga menghilang dari balik pintu. Setelah itu ia baru beranjak menuju penginapannya.


__ADS_2