
“Pak, ada Pak Zain. Apakah diperkenankan masuk?’ tanya Anto, petugas keamanan di kediaman Hari Murti.
Hari menghela napas, cepat atau lambat menantunya itu akan datang. Ia menoleh ke arah Naziya yang sedang bermain dengan Naya dan istrinya di ruang keluarga. “Zi, ada Zain,” ucap Hari. Ia sebenarnya sudah enggan untuk menerima menantunya itu untuk kesini. Dia bahkan baru datang setelah dua hari. Bukankah itu sudah keterlaluan? Namun, dia harus bersabar karena bagaimanapun dia tetap ayahnya Naya. Apalagi Naziya juga ingin semuanya diselesaikan dengan baik-baik. “Apa Papa suruh masuk?”
Naziya mengangguk. Ia ingin berbicara dengan Zain secara baik-baik karena ia tahu Zain tidak akan menerima begitu begitu saja keputusan perceraian mereka. Naziya juga tak perlu takut karena Zain tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk jika berada di rumah ayahnya. Ia hanya ingin masalahnya cepat selesai dan ia dapat segera hidup dengan tenang. Ia kemudian meminta ibunya untuk mengajak Naya ke kamar.
"Pak Zain boleh masuk, Anto,” instruksi Hari kepada petugas keamanan rumahnya.
Beberapa menit kemudian, Zain memasuki ruang tamu, di mana ayah mertua dan istrinya telah duduk menanti. Ia melihat ketegangan di wajah kedua orang itu. Dengan cepat ia bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Sebuah skenario pun telah ia siapkan.
“Pa,” sapa Zain sambil menyalami dan dan mencium tangan ayah mertuanya. Ia terlihat begitu tenang seakan-akan tidak ada yang terjadi.
Hari berusaha bersikap tenang dan tetap melayani Zain. “Dari kantor?” tanya Hari basa basi.
“Iya, Pa. kebetulan bisa pulang cepat," jawab Zain.
“Duduklah,” pinta Hari.
Zain mengangguk dan langsung duduk disamping Naziya.
“Papa tinggal dulu,” ujar Hari. Ia beranjak meninggalkan anak dan menantunya. Memberi ruang bagi mereka berdua berbincang, tapi juga dapat bertindak cepat apabila ada hal yang tidak diinginkan.
“Baik, Pa,” sahut Zain. ia kemudian menggenggam tangan Naziya. “Apa yang akan kau sampaikan?” tanya Zain sambil menatap manik istrinya.
Naziya melepas tangannya. Tak sudi digenggam tangan kotor Zain yang sudah meraba-raba tubuh wanita lain. “Aku ingin kita selesaikan secepatnya urusan kita.” Naziya tak ingin basa basi.
“Sayang, aku tau kamu marah padaku, dan aku akui aku salah. aku minta maaf. Aku akan jelaskan semuanya.” Zain berusaha untuk meyakinkan Naziya.
__ADS_1
“Aku tak mau. Aku sudah bulat dengan keputusanku.” Naziya tetap dengan pendiriannya.
“Dengarkan aku dulu, sayang."
"Nggak. Semuanya sudah jelas. Tak ada lagi yang perlu di jelaskan."
Zain mulai emosi, namun ia menahannya. Ia sedang berada di rumah mertuanya. "Aku sudah merobek surat itu.” Aku Zain serius.
Naziya membelalakkan mata. “Apa maksudmu? Mengapa kamu melakukan itu?”
Zain menarik jemari Naziya, mengecup, dan menempelkan didadanya. Ia menatap istrinya lekat. “Sayang, maafkan aku. Aku terlalu memaksakan kehendakku. Aku berjanji akan berubah, aku akan memutuskan hubunganku dengan Devina dan tidak lagi menyakitimu karena bagiku keutuhan rumah tangga kita lebih dari segalanya. Aku mohon tolong jangan tinggalkan aku,” ucap Zain dengan wajah memelas.
Kalimat Zain terdengar penuh penyesalam, tapi Naziya menyadari bahwa ini bisa merupakan manipulasi suaminya.
”Please, Sayang. Aku tidak mungkin bisa hidup tanpamu. Aku berjanji akan merubah perilakuku. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau asal kita tetap bersama.” Zain terus berupaya meyakinkan Naziya.
“Jika memang aku sakit, maka aku membutuhkanmu untuk membantuku sembuh.” Zain menempelkan jemari Naziya di bibirnya. “Aku tidak mungkin melakukannya sendiri, aku butuh dirimu, perlu dukunganmu.” Zain memohon.
“Kamu bersedia pergi ke psikolog?” pancing Naziya.
Zain mengangguk penuh keyakinan. “Apa pun! Akan aku lakukan apapun yang kau mau demi keutuhan rumah tangga kita.”
Naziya mendengkus. Zain mengubah peran menjadi tokoh yang menjadi korban, menjadikan dirinya yang seolah tidak berusaha mempertahankan perkawinan mereka.
“Jika kamu perlu waktu untuk berpikir, silahkan. Namun kumohon, jangan buru-buru melayangkan gugatan cerai. Masalah ini bisa kita selesaikan dengan cara baik-baik. Ini baru terjadi akhir-akhir ini, bukan? Terlalu dini untuk memutuskan bercerai, Sayang.”
“Kamu bukan hanya menyiksaku, namun juga berselingkuh. Entah itu kamu lakukan baru atau sudah lama, aku tidak bisa menerimanya. Siapa yang tahu jika sebelum Devina kamu juga mempunyai wanita lain dan siapa yang bisa tahu juga jika kedepan kamu akan berhenti menyiksaku. Aku sudah tidak mau lagi. Keputusanku sudah bulat,” ucap Naziya. Ia berusaha tegas kendati dalam hati dirasuki keraguan.
__ADS_1
“Aku hanya berharap kamu masih mencintaiku dan memberikanku kesempatan untuk berubah. Pikirkan Naya, kasihan jika dia harus tumbuh dalam keluarga yang tidak lengkap,” bujuk Zain.
“Apakah kamu memikirkan Naya saat hendak berselingkuh? Apakah kamu juga memikirkannya saat menghajarku hingga babak belur?” Naziya menarik tangan dari genggaman suaminya. Ia kesal karena seolah-olah dirinyalah yang menyebabkan dunia Naya runtuh.
“Aku janji akan berubah dan tidak mau kita gegabah.” Zain membelai lembut rambut istrinya. “Kalau kamu perlu ruang dan waktu untuk berpikir, aku bersedia menjauh. Pisah ranjang, bahkan pisah rumah, aku yang akan keluar. Kamu pulanglah, Naya tentu ingin berada di rumah.”
Naziya termenung, kepalanya tiba-tiba berdenyut. Ia harus mendiskusikan ini dengan kedua orang tuanya.
“Papa,” tiba-tiba Naya berlari menghampiri. Ia melihat ayahnya saat digendong pengasuhnya untuk ke dapur.
“Naya!” seru Zain seraya membuka tangannya lebar-lebar. “Papa kangen sekali.”
“Papa!” Naya menghambur ke pelukan ayahnya. “Papa mau jemput Naya sama Mama?” Naya bertanya antusias.
“Iya, Naya mau pulang?” Zain bertanya sambil membelai kepala anaknya. Ia rindu.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Ia tidak sabar ingin kembali bermain dengan semua mainan di kamarnya.
“Kita tanya mama dulu, jangan-jangan mama masih kangen sama kakek dan nenek.” Zain berusaha bersikap setenang mungkin.
“Mama?” Naya menanyakan keputusan ibunya.
Naziya tersenyum masam. Zain sengaja membuat dirinya terpojok, tapi ia tidak mau terpengaruh. “Pulangnya besok saja ya, Sayang. Kan Naya udah janji nanti malam akan menemani Aunty Vita tidur. Nanti Aunty Vita sedih kalau Naya tidak menepati janji.” Naziya membujuk.
“Oh iya, Aunty Vita juga udah janji kan untuk membelikan Naya es krim.” Mata Naya berbinar mengingat janji tantenya itu. “Bagaimana kalau papa tidur di sini saja,” pintanya kepada ayahnya.
Naziya menarik napas panjang, gundah melanda. Naya masih terlalu belia untuk memahami konflik yang terjadi antara kedua orang tuanya. Keputusan untuk bercerai sungguh bukan perkara mudah. Bukan hanya dirinya dan Zain yang terkena dampak, tapi Nayalah yang akan merasakan imbas terbesar. Anak tak berdosa yang harus menanggung akibat dari kesalahan orang tua.
__ADS_1