Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 13


__ADS_3

“Sayang, kamu yakin mau cerai sama Zain?” Harti membelai rambut putri sulungnya.


“Aku sudah yakin dengan keputusanku, Ma.” Naziya kekeuh. Ia sudah bercerita mengenai perselingkuhan Zain tapi tidak dengan tindak kekerasan. Ia tahu, orang tuanya tidak akan membiarkan Zain jika tahu hal itu. Ia menutupinya karena tak ingin mereka khawatir.


“Mama bukannya membela Zain, tapi kamu harus pikirkan Naya. Dia masih butuh sosok ayah. Kamu belum tahu, kan, jika Zain benar-benar selingkuh.” Harti berusaha membujuk. “Kamu selidiki dulu, kalau hanya pesan seperti itu, kamu bisa bicara baik-baik dengan suamimu.” Harti menasehati. Ia hanya merasa Naziya terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Ia tidak tahu kejadian yang sesungguhnya seperti apa.


Naziya memang hanya bercerita mengenai chat mesra Zain, tidak yang lainnya.


Naziya menggeleng. “Nggak, Ma. Naziya sudah nggak mau lagi. Naziya mau bercerai.”


Harti membuang nafas. “Apa kamu sudah bicara pada ayahmu?”


Naziya kembali menggeleng. “Nanti saja setelah makan malam.”


“Terserah kamu saja. Mama harap ini adalah keputusan terbaik. Mama akan selalu mendukungmu.” Harti memeluk putrinya. Mengelus rambut halus sang putri.


Tangis yang sedari tadi Naziya tahan, akhirnya tumpah. Pundaknya bergetar. Naziya terisak dalam dekapan sang ibu. Semakin lama semakin mengiris.


Harti mengurai pelukannya, menghapus bulir air mata yang mengalir. Ia menatap putrinya sendu. “Jujur sama Mama.” Harti merasa Naziya menyembunyikan sesuatu. Tangisan putrinya seakan mengatakan bahwa ia sangat menderita.


Bukannya menjawab, Naziya malah semakin terisak. “Zain juga memukulku.” Naziya akhirnya bicara. Suaranya tersendat-sendat akibat tangis.


“Apa?” Pupil mata Harti melebar. Alisnya terangkat ke atas. Mulutnya terbuka. Otot wajahnya menegang. “Dasar laki-laki kurang ajar! Dia tidak bisa dibiarkan,” geram Harti. Ia tidak terima putri sulungnya yang ia rawat dan cintai dengan sepenuhnya hati dikasari oleh orang lain.


“Ma.” Naziya menyentuh lengan ibunya. “Aku hanya ingin berpisah baik-baik. Tolong jangan bilang pada ayah mengenai itu.” Naziya menatap manik mata ibunya penuh harap.


Harti tak tega melihat wajah putrinya. Matanya memanas. Ia mendekap putrinya. Erat. Air matanya sudah menganak sungai. Ia menyesal karena tadi telah menyuruh putrinya untuk mempertimbangkan ulang keputusannya. “Maafkan Mama, Nak. Maafkan mama yang tidak peka.” Harti terisak. Ia tidak bisa membayangkan semenderita apa putrinya.


“Sudah berapa lama Zain melakukannya dan sudah berapa kali?” Harti bertanya setelah mengurai pelukannya.


“Sudah sekitar sebulanan. Tiga kali”


Harti membuang nafas kasar. Ia menggeram. Berani-beraninya Zain melakukan itu pada putrinya. “Kenapa kamu nggak cerita lebih awal sama Mama.” Harti sedikit menyesalkan keputusan sang putri.


“Aku pikir dia akan berubah, tapi ternyata tidak. Aku menyesal karena memberinya kesempatan.”


“Ma, tolong jangan beritahu ayah masalah ini. Aku nggak mau Zain dilaporkan ke polisi. Biar bagaimanapun dia masih ayahnya Naya.” Naziya kembali mengingatkan ibunya.


“Iya, sayang, Mama nggak akan bilang sama Papa.”


“Makasih, Ma.” Ia mencium pipi ibunya. Aku mau lihat Naya dulu.” Naziya berdiri dan keluar dari kamar orang tuanya.

__ADS_1


Harti memandang putrinya. Hatinya perih.


******


“Aku menyukainya,” ucap Devina sambil melirik baju yang sedang dikenakannya. Kemeja berwarna hitam hadiah dari Zain. ia sedang berada di atas pangkuan Zain.


“Kamu menyukainya?”


“Ya, aku sangat menyukainya. Aku serius. Kamu memang yang terbaik,” ucap Devina lantas mencium pipi Zain. “Terima kasih.”


Zain mengibas lembut rambut Devina yang tergerai dan menyampirkan di belakang telinganya.


“Aku senang kamu menyukainya.”


“Selera kamu memang terbaik,” puji Devina lagi.


“Kamu juga sangat cocok menggunakannya,” ucap Zain sambil tangannya sibuk membuka kancing kemeja Devina.


“Benarkah?”


Zain mengangguk.


“Apakah aku terlihat lebih cantik dari istrimu?”


Devina mencubit pelan lengan Zain. "Kamu nakal," ucapnya dengan senyum nakal. Ia lantas menempelkan bibirnya pada bibir Zain.


Zain membalasnya. Mereka saling berpagut, saling menikmati tubuh masing-masing.


*****


“Pak Zain ada diruangannya?” Naziya bertanya pada Resi-Sekertaris Zain.


“Eh, ada, Bu. T-tapi sedang ada tamu sekarang.” Resi sedikit gugup. Belum lama Devina masuk ke ruangan bosnya. Ia tahu bosnya punya hubungan dengan anak magang itu dan ia sudah hafal dengan kelakuan Zain.


“Ok terima kasih.” Naziya tersenyum dan langsung mengerti kenapa sekretaris suaminya itu gugup. Ia langsung menuju ruangan Zain tanpa menunggu balasan Resi.


Resi menggigit kuku. “Ah, bagaimana ini.” Ia khawatir sekaligus bingung. Khawatir Zain akan memecatnya karena tidak bisa mencegah istrinya masuk. Tapi bingung bagaimana harus menghentikan Naziya. “Bu …” belum sempat ia mencegahnya, Naziya sudah berhasil membuka pintu yang memang tidak terkunci.


Naziya terpaku. Tenggorokannya tercekat. Pemandangannya di depannya sungguh sangat menjijikan. Devina berada diatas tubuh Zain yang sedang duduk dikursi. Bercumbu. Pakaian mereka sudah tak berada ditempat yang semestinya. Meski sudah membayangkan apa yang suaminya lakukan didalam, tetap saja ini sangat menyakitkan. Naziya berusaha menguasai diri, ingat apa tujuannya datang kesini.


Sementara Resi yang berada dibelakang Naziya hanya menggigit bibir. Ia tidak syok sama sekali. Ia pernah ada diposisi itu juga sebelum disingkirkan oleh anak magang itu. Ia hanya memikirkan apa yang akan dilakukan bosnya padanya setelah ini.

__ADS_1


Zain terbelalak, begitu juga dengan Devina


“Sayang …” Zain segera menguasai keadaan. Ia langsung mendorong Devina hingga terjerembab dan langsung memakai pakaiannya. Ia tak menyangka jika istrinya akan datang ke ke kantor.


Devina meringis kesakitan. Kesal.


Naziya yang sudah bisa menguasai emosinya langsung mendekat ke meja Zain. “Maaf jika mengganggu aktivitas kalian. Aku hanya ingin mengantar ini.” Naziya meletakkan sebuah map di atas meja kerja Zain. “Silahkan lanjutkan aktivitas kalian yang sempat terjeda.” Naziya berbalik. Berjalan dengan elegan seperti tidak terjadi apa-apa. Namun, tentu saja hatinya serasa diremas. Sakit. Tubuhnya gemetar berusaha sekuat tenaga agar tak tumbang.


Sementara Zain bersegera memakai pakaiannya dan mengejar sang istri.


Resi tersenyum melihat ke arah Devina. Diam-diam ia mensyukuri kesialan anak magang itu yang telah berani merebut posisinya.


Devina bersungut-sungut, memperbaiki pakaiannya yang masih acak-acakan.


Zain masih terus mengejar sang istri. “Sayang,” panggilnya. Beberapa orang melihat ke arahnya.


Naziya mempecepat langkahnya. Ia tak ingin berbicara dengan lelaki laknat itu. Sampai di parkiran ia langsung memasuki mobilnya. Dan saat itu, semuanya tumpah. Ia meraung. Memukul-mukul dadanya yang terasa menghimpit. Ia tak peduli pada Zain yang terus mengetuk-ngetuk pintu mobilnya, memohon agar ia membukanya.


“Sayang, please buka pintunya. Aku bisa jelaskan semuanya.”


Naziya tak menghiraukan permohonan suaminya. Ia terus menangis. Ia kemudian menyalakan mesin mobil dan langsung melaju. Seiring dengan melajunya mobil, air matanya juga terus mengalir seakan berpacu dengan laju mobil.


******


Zain kembali ke ruangannya dengan perasaan jengkel.


“Sayang.” Devina memberengut. Kesal. Cemburu karena Zain mengejar istrinya dan meninggalkannya begitu saja. Ia mendekat ke arah Zain, hendak memeluk.


“Aku tak  mau diganggu. Sekarang keluar dari ruanganku.” Zain tak menatap Devina. Ia langsung duduk di kursinya. Menyugar rambut frustasi.


“Tapi, sayang …”


“Aku bilang keluar!” Zain berteriak yang membuat Devina terperanjat.


Devina tak membantah. Ia jengkel namun tak bisa berbuat apa-apa. Wajah Zain terlihat menakutkan. Ia keluar dengan wajah memberengut. Membanting pintu dan menatap Resi tak suka. Tadi, ia sempat melihat perempuan itu tersenyum saat ia terjatuh.


Resi menatap sekilas. Tak peduli namun tertawa dalam hati.. Ia kembali sibuk dengan komputer di depannya.


Devina berjalan ke kubikelnya. Beberapa orang menatapnya puas. Mereka semua tahu hubungan Zain dan anak magang itu.


Sementara dalam ruangannya, Zain mencoba untuk menelpon istrinya. Sudah enam kali panggilan, tak ada jawaban. “Sialan!” Ia memukul meja kerjanya. Pandangannya kemudian tertuju pada map yang tadi diberikan istrinya. Saking paniknya, ia lupa mengenai map itu. Ia mengambilnya, membaca pengirimnya yang berada di sampul. ‘Pengadilan Negeri Jakarta’ Keningnya berkerut. “Jangan-jangan istrinya sudah mendaftarkan perceraian mereka.” Ia menggumam. Segera ia membuka map itu. Dan benar. Terlihat istrinya sudah menandatangani surat cerai mereka. Ia tak menyangka jika istrinya sudah bertindak sejauh itu. Ia memaki dalam hati kenapa tidak langsung menjemput mereka saat Naziya pergi dari rumah. Ia pikir, Naziya tidak akan serius ingin meninggalkannya.

__ADS_1


Ia mengangkat surat itu. Merobeknya. “Jangan berharap aku akan menceraikanmu Naziya. Itu adalah hal yang tak akan pernah aku lakukan.” Ia lalu keluar. Bergegas ke parkiran.


__ADS_2