
Naziya sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Ia sedang menonton video tentang pembedahan perut di tabnya. Terdengar suara ponselnya berdering. Naziya langsung bergegas mengambil ponselnya yang berada diatas nakas. Sebagai seorang dokter kandungan, ia harus siap dan cekatan dalam 24 jam jika dibutuhkan saat keadaan darurat. Nama dokter Andri terpampang kala Naziya melihat ke arah layar ponselnya. Naziya melirik jam yang berada di atas nakas. Waktu sudah menunjukan jam 22.10 malam.
Nazia terlihat enggan, namun ia tetap harus mengangkatnya. Siapa tahu ada yang penting apalagi kakak dokter Andri adalah pasiennya.
“Rasa pusing dan mual sering terjadi pada ibu hamil. Hal yang perlu diketahui adalah, berapa tekanan darahnya. Terus pastikan makannya cukup dan kebutuhan air minumnya terpenuhi. Kalau ada hal lain yang terjadi, silahkan besok bawa ke rumah sakit untuk dicek lebih lanjut,” ucap Naziya saat dokter Andri bertanya tentang kondisi kakaknya.
Pintu kamar terbuka, Zain baru pulang dari kerja. Ia tersenyum saat melihat sang istri.
“Iya, usahakan istirahat yang cukup.”
“Selamat malam.”
Naziya menutup telpon dan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
“Siapa?” tanya Zain seraya mencium dahi istrinya.
“Dokter Andri,” jawab Naziya. Ia mengambil tas suaminya.
“Ada apa dia menelpon malam-malam begini?” Zain bertanya tak suka.
“Dia bertanya mengenai kondisi kakaknya. Kakaknya adalah pasienku,” jelas Naziya sambil membuka kancing baju suaminya.
“Kenapa bukan kakaknya atau suami kakaknya yang menelpon? Kenapa harus dia?”
“Kakak iparnya sedang berada diluar kota.”
“Dari mana kamu tahu?” tanya Zain penuh selidik.
“Kakaknya yang mengatakannya padaku. Aku kan tadi sudah bilang kalau kakaknya adalah pasienku.”
“Alah, aku tahu itu pasti hanya modus.”
Naziya mengerutkan dahinya. “Maksudmu?”
“Aku tahu itu pasti cuma alasannya untuk bisa berbincang denganmu,” dengkus Zain.
“Tidak begitu. Kakaknya memang sedang sakit.”
“Kenapa bukan kakaknya saja yang langsung menelpon. Memangnya kakaknya tidak bisa memegang ponsel?"
Naziya tidak ingin suasana menjadi runcing. “Kamu cemburu ya, Sayang?” tanya Naziya lalu mencium pipi suaminya.
“Tentu saja! Karena aku tahu dia menyukaimu dari dulu bahkan hingga sekarang.” Zain memeluk istrinya.
__ADS_1
“Meski dia menyukaiku, tapi kan kamu yang menjadi juaranya,” ucap Naziya.
Zain tersenyum. Dia hendak mencium bibir istrinya.
“Mandilah dulu, tubuhmu masih bau rokok,” pinta Naziya saat Zain hendak menciumnya.
Zain menuruti perintah istrinya. Ia langsung beranjak ke kamar mandi.
Naziya mengambil tas kerja Zain. Ia lalu mengambil ponsel suaminya dan memeriksa percakapan. Sejak penjelasan Zain seminggu yang lalu tentang hubungannya dengan perempuan yang bernama Renita itu, ia rutin memeriksa ponsel suaminya. Sesuai kesepakatan, Zain tidak lagi mengunci ponselnya dan memperbolehkan Naziya memeriksa percakapannya. Zain seolah ingin membuktikan bahwa kecurigaan istrinya tak beralasan.
Beberapa saat memeriksa, Naziya tak menemukan percakapan yang aneh. Nama ‘Ibu Notaris’ pun sudah berganti menjadi ‘Bu Renita’. Naziya membuang nafas. Bukannya lega, ia malah semakin bingung. Meski sudah memeriksa, rasa curiganya masih tetap ada. Namun, pilihan terbaik sekarang adalah menampilkan sikap percaya pada Zain.
Beberapa menit kemudian, Zain keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Bau sabun langsung menguar dari tubuhnya yang hanya dibaluti handuk. Ia lalu mengambil sebuah bingkisan dari tas belanja, sebuah kotak kado berwarna hitam.
“Untukmu,” ujar Zain sambil menyodorkan kotak tersebut.
Naziya mengambil kado itu dengan wajah sumringah. Semakin hari Zain semakin memanjakannya dengan berbagai hadiah dan perhatian. Namun, di balik perasaan senangnya, terselip rasa was-was. Naziya takut jika ini hanyalah cara Zain untuk menutupi kesalahannya.
Naziya membuka kotak itu. Sebuah lingerie berenda berwarna merah.
“Pakailah, kamu pasti terlihat sangat seksi,” bisik Zain di telinga Naziya.
Lagi-lagi perasaan Naziya berbunga-bunga. Namun, sekali lagi rasa berbunga-bunga itu kemudian berganti dengan sedikit rasa takut.
Naziya beranjak ke kamar mandi. Ia mematut dirinya di depan cermin kamar mandi setelah memakai lingerie itu. Namun, bukannya bangga karena terlihat seksi, Naziya malah merasa risih. Ia menghela napas, berusaha untuk meyakinkan diri bahwa apa yang sedang dilakukannya sekarang adalah demi untuk menyenangkan hati suaminya.
Ia lalu berjalan keluar, namun langkahnya terhenti saat melihat celana panjang Zain yang hanya tersampir begitu saja di kantong pakaian kotor. Ia lalu mengambilnya dan memasukkan ke dalam keranjang. Namun sebelumnya, ia memeriksa kantong celana tersebut, siapa tahu ada yang terlupa.
Tangan Naziya terhenti saat meraba sesuatu yang berbahan plastik di dalam kantong celana Zain. Ia lalu mengeluarkan benda itu dan dalam sekejab tubuh Naziya menjadi lemas. Sebuah kon**m . Setahu Naziya, selama ini mereka tidak pernah menggunakan benda itu. Ia seorang dokter. Mereka memilih cara yang lebih aman dan sehat dibanding memakai benda pengaman itu. Lalu jika demikian, mengapa itu bisa ada di kantong suaminya?
Amarah Naziya langsung membuncah. Ia langsung keluar dan melempar benda itu pada Zain yang sedang bermain ponsel. “Apa itu?”
Zain yang sedang berbaring diatas tempat tidur langsung terkesiap. “Ada apa, sayang?”
“Dasar penghianat!” maki Naziya. “Kebohongan apalagi yang akan kau katakan sekarang?”
Zain mengambil benda yang baru saja dilemparkan Naziya. Ia tersenyum. “Oh ini. Ini tadi ada yang sedang membagikan sampel di kantor. Mungkin sesekali kita bisa mencobanya."
Naziya semakin marah. Napasnya memburu. Penjelasan Zain membuat dirinya seolah-olah hanyalah perempuan tolol yang dengan mudah dicekoki dengan kebohongan.
Zain tidak memedulikan amarah istrinya. Nafsunya sudah terlanjur memuncak melihat Naziya dalam balutan lingerie seksi. Ia merengkuh istrinya dan mulai menciumi leher jenjang sang istri. “ Kamu terlihat seksi sekali memakai ini, Sayang,” bisiknya.
Naziya tak sudi tubuhnya di sentuh lelaki bajingan itu. Ia langsung mendorong tubuh Zain. “Jangan menyentuhku! “ teriak Naziya. Ia berusaha untuk menjauh. Rasa jijik langsung menghinggapinya.
__ADS_1
Zain menarik kasar tangan Naziya. “Jadi sekarang kamu tidak mau melayaniku?”
Naziya menjerit. “Lepaskan!” ia meronta ingin melepaskan diri.
Zain tak peduli. Ia langsung mengcengkeram leher Naziya dan langsung melemparnya ke atas tempat tidur. “Aku sudah bilang jangan melawanku! Kenapa sih kamu sekarang sangat susah untuk diberitahu!”Zain mendekat.
Naziya merasa dirinya sedang dalam bahaya. Ia menjauh saat Zain mendekatinya.
Zain berusaha menangkap kaki Naziya.
Naziya berusaha menendang Zain dan berteriak sekuat tenaga.
Zain semakin tak terkendali. Ia langsung menerkam Naziya. Tubuhnya langsung menindih tubuh Naziya dan berusaha memegang tangan istrinya yang terus berusaha untuk berontak.
“Diam!"
Plakkk.
Zain berteriak dan langsung menampar istrinya.
Naziya tak mau mendengar perintah Zain. Meski merasakan panas menjalar di pipinya, ia terus berusaha berontak.
Zain mulai kewalahan. Ia lantas mencekik Naziya. “Aku bilang diam! Kamu berani membangkangku hah!” Zain semakin beringas.
Naziya terbatuk-batuk dan berusaha melepaskan tangan Zain dari lehernya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Wajah Naya tersembul dari balik pintu. “Mama…” panggilnya sambil mengucek mata.
Zain langsung menoleh ka arah pintu kamar. Begitu juga dengan Naziya.
Zain langsung melepaskan cengkeramannya.
Naziya mengambil kesempatan dan langsung mendorong tubuh Zain. Ia langsung menghampiri anaknya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya lembut Naziya.
Naya tak menjawab. Dia lantas menangis.
"Kamu mimpi buruk ya? Ya udah, Mama temani tidur ya.” Naziya lantas berdiri dan mengambil kimono untuk membungkus tubuhnya. Ia langsung menggendong Naya, menahan segala kesakitan di tubuhnya. Lebih dari itu, kesakitan pada hatinya.
Sementara Zain hanya terpaku kesal diatas tempat tidur. Antara menahan hasrat dan amarah sekaligus.
Di kamar Naya, sambil menidurkan putrinya, Naziya berusaha untuk menahan air matanya. Ia tak ingin anaknya melihatnya menangis. Untung saja tadi Naya datang. Jika tidak, bisa saja ia mungkin akan mati ditangan Zain. Dada Naziya sesak. Tak bisa membayangkan hari-hari selanjutnya setelah ini.
__ADS_1