
“Dok, jika orang tua memiliki golongan darah O dan B, apakah ada kemungkinan anak memiliki golongan darah A?” Alby bertanya penasaran sekaligus gelisah. Sudah seminggu anaknya di rawat di rumah sakit dan sekarang sudah berada di rumah. Dan selama itu pula pikirannya terus mengembara. Ia mencoba untuk menetralkan pikirannya, mencoba untuk berpikir logis, namun semuanya sia-sia. Pikiran liar itu selalu datang menghantuinya. Alby menarik nafas dalam.
“Tidak, jika orang tua memiliki golongan darah O dan B, maka anak mereka tidak akan memiliki golongan darah A secara langsung. Golongan darah A diwarisi ketika seseorang memiliki alel1 A dari salah satu orang tua atau keduanya.”
“Orang tua dengan golongan darah O memiliki dua alel O, sedangkan orang tua dengan golongan darah B memiliki minimal satu alel B. Alel O merupakan alel resesif, yang berarti seseorang harus memiliki dua alel O agar memiliki golongan darah O. Oleh karena itu, jika kedua orang tua memiliki golongan darah O dan B, mereka tidak memiliki alel A untuk mentransmisikannya kepada anak mereka.”
“Dalam hal ini, anak-anak mereka memiliki kemungkinan mewarisi alel O dari orang tua dengan golongan darah O dan alel B dari orang tua dengan golongan darah B. Oleh karena itu, anak-anak mereka kemungkinan akan memiliki golongan darah O atau B, tergantung pada alel yang mereka warisi dari kedua orang tua.” Dokter Andri menjelaskan panjang lebar.
Serasa tulang-tulang Alby runtuh seketika. Penjelasan dokter seakan menguatkan dugaannya. Lalu, apakah ia harus melakukan tindakan lebih untuk meyakinkan dirinya? Alby dilanda kebimbangan. Ia berjalan lunglai keluar dari rumah sakit.
“Loh, Pak Alby?” Naziya menyapa saat melihat suami salah satu pasiennya itu berjalan melewati ruangan mereka.
Alby mendongakkan kepalanya, mengarahkan pandangan pada orang yang menyapanya. “Dokter Naziya, selamat siang.” Alby menyapa disertai sunggingan yang sedikit dipaksakan. “Selamat siang.” Alby beralih pada Meti dan Reni yang mengikuti Naziya.
“Siang.” Meti dan Reni membalas kompak. Terpana dengan ketampanan lelaki yang berada di depan mereka.
“Anak Pak Alby masih di rumah sakit?”
“Sudah dipulangkan ke rumah.”
"Bagaimana keadaannya?"
"Sudah lebih baik."
“Syukurlah. Maaf, Pak. Kami pamit untuk makan siang,” ucap Naziya sopan.
“Oh iya, silahkan, dok.”
Alby kembali berjalan setelah Naziya, Meti dan Reni berlalu, menuju ke parkiran. Ia langsung menyalakan mobil setelah masuk, namun tak langsung pergi. Ia hanya menyalakan AC karena udara sangat terasa panas diluar. Alby menunduk di atas setir mobilnya, membuang nafas, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus tes DNA untuk membuktikan semuanya? Hanya ini cara satu-satunya untuk membuktikan bahwa Rimba memang benar anaknya atau bukan.
Ia teringat pada ucapan adiknya saat melihat Rimba beberapa bulan lalu. “Kok Rimba nggak ada mirip-miripnya sama mas Alby.” Saat itu, itu bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Toh anak yang lahir tidak selalu harus mirip dengan orang tuanya. Tapi hari ini, kalimat itu sangat mengganggunya. Dan memang jika dilihat, sampai Rimba sudah berumur tujuh bulan sekarang, tak ada sama sekali bagian dari Alby yang mirip dengannya. Hanya ada Rima sebagian dan sebagian yang lain entah siapa. Alby menyugar rambut frustasi.
Ia bahkan mulai berpikir bahwa jatuh ditangga hanyalah akal-akalan Rima untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia sudah hamil duluan. Bahwa Riska-ibu Rima hanya berpura-pura sakit untuk membuatnya mau segera menikah dengan anaknya. Alby mulai mengingat-ngingat saat ia diminta untuk menikah dengan Rima sekitar satu tahun yang lalu.
__ADS_1
Saat itu, Alby dipanggil oleh orang tuanya. Orang tuanya dan orang tua Rima memang sudah dekat sejak mereka masih anak-anak. Dan Alby sudah menaruh hati pada Rima saat mereka SMP dan hingga dewasa. Rima adalah adik kelasnya. Itulah kenapa ia tidak menolak saat orang tuanya menjodohkan mereka berdua dan dengan alasan ibu Rima sedang sakit.
Alby kembali menyugar rambutnya. Jika memang benar semua dugaannya, kesalahan mereka tak akan mungkin Alby maafkan.
*****
“Tumben cepat pulang?” Rima sedang bermain ponsel diatas tempat tidur saat melihat suaminya membuka pintu kamar.
Alby hanya menoleh sekilas. “Ada yang ketinggalan. Mana Rimba?” Hatinya kembali berdenyut sakit saat menyebut anaknya. Tak bisa ia bayangkan jika ternyata anak yang selama beberapa bulan ini ia sayangi dengan sepenuh hati bukanlah darah dagingnya.
“Ada tidur siang di kamarnya,” jawab Rima. Kemudian wajahnya kembali menekuri benda pipih yang ada di genggamannya. Ia tersenyum sekilas.
Alby menoleh, sejenak memperhatikan istrinya. Berbagai rasa berkelindan dalam hatinya. Kecewa, marah, sayang, semuanya bercampur satu membuat nafasnya mengalun tak teratur. Tak bisa ia bayangkan istrinya tidur dengan orang lain sebelum menikah dengannya. Sebenarnya Alby tak pernah mempermasalahkan virginitas seorang wanita. Toh dia juga bukanlah lelaki yang sepenuhnya bersih. Ia juga pernah melakukan hal-hal kotor saat kuliah SI dulu. Hanya yang Alby tidak terima, ia seperti hanya dijadikan sebagai tameng untuk menutupi aib istrinya. Ia memang mencintai Rima, bahkan sangat mencintainya. Rima adalah wanita kedua setelah ibunya yang Alby cintai lebih dari apapun. Namun, itu bukanlah alasan untuk mempermainkannya seperti ini. Egonya sebagai seorang lelaki tersentil.
Alby menarik nafas dalam-dalam. Menenangkan emosinya yang mulai berpacu. Ia mengingatkan kembali niatnya pulang ke rumah. Ia harus menyelesaikan masalah ini sebelum semakin rumit dan membuatnya gila.
Alby melangkah masuk ke kamar buah hatinya, mengambil gunting dan memotong sedikit rambutnya. Ia menoleh ke arah pintu masuk, memastikan bahwa Rima tidak berada disana. Setelah selesai, ia kembali ke kamar mereka yang bersebelahan dengan kamar anaknya. “Aku balik lagi ke kampus.” Alby pamit.
Alby mengangguk. “Aku pergi dulu.”
“Iya, hati-hati, Sayang.” Rima masih tak beranjak dari tempat tidur. Sibuk dengan ponselnya.
******
Alby memasuki rumah sakit dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Sejenak ia ragu. Apakah tindakannya ini benar? Bagaimana jika Rimba adalah anaknya? Lalu Rima tahu dia melakukan ini. Apakah Rima akan memaafkannya? Apakah Rimba akan menganggapnya sebagai ayah? Alby mengerang frustasi. Beberapa orang yang melewatinya memandang ke arahnya dengan tatapan heran.
Alby menyadarinya. Ia perlu menenangkan diri sebelum benar-benar menyerahkan sampel yang dipegangnya itu. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Ia berhenti di sebuah taman. Saat hendak menjejalkan kakinya menuju sebuah kursi, ia melihat Naziya sedang duduk memandangi air yang mengalir. Hari ini, sudah dua kali ia bertemu dengan wanita itu.
Alby memandang sejenak wajah Naziya. Meski dari samping, cukup terlihat jelas, perempuan itu terlihat muram. Sejenak Alby menimbang, apakah ia harus menghampirinya atau tidak. Namun, akhirnya ia memilih opsi tidak. Ia kesini untuk menenangkan diri agar bisa mengambil keputusan yang tepat. Dan lagi pula, sepertinya dokter spesialis kandungan itu juga butuh sendiri. Alby lalu melangkah ke satu kursi yang berada tak jauh dari Naziya.
Tak seperti rencana awalnya, ia justru malah fokus memperhatikan Naziya. Ia melihat beberapa kali perempuan itu menarik nafas. Sepertinya ia sedang dilanda masalah besar. Alby seperti bisa merasakan apa yang Naziya rasakan. Ia juga sedang dilanda masalah yang rumit.
“Selamat siang, Dok.” Alby akhirnya memutuskan untuk menyapa. Ia berpikir mungkin Naziya butuh teman untuk bicara, bukan tentang masalahnya, tapi hanya sekedar teman bicara.
__ADS_1
Naziya terkejut mendapati Alby berada di sampingnya. Tersenyum. “Eh, siang.”
“Maaf mengganggu, dokter. Tadi saya kebetulan lewat disini dan melihat dokter.” Alby berusaha menjawab kekagetan Naziya.
“Oh.”
“Boleh saya duduk?” Alby bertanya sopan.
“Ya, silahkan.” Naziya berusaha tersenyum. Ia menggeser sedikit tubuhnya ke samping.
Hening sejenak.
“Bagaimana kabar anak dan istri bapak?” Naziya bertanya random, berusaha memecahkan hening.
“Mereka baik-baik saja. Dokter, bagaimana kabarnya?” Sedetik kemudian, Alby memaki dirinya. Ia takut jika pertanyaannya menyinggung perasaan dokter cantik itu.
“Saya baik-baik saja.” Naziya tersenyum. Ia melihat sekilas wajah tampan disampingnya.
“Maaf jika saya lancang, dok.”
“Tidak apa-apa. Sekali-kali memang dokter yang harus ditanyakan keadaannya.” Naziya berusaha berkelakar. Kemudian tertawa tanpa suara. Dan dalam beberapa detik kemudian hatinya mencelos. Miris. Kabarnya sedang tidak baik-baik saja.
Alby menangkap nada sedih dalam kaiimat Naziya. Ekor matanya melirik, menangkap tawa tersemat disana. Namun, itu bukan tawa senang. Tawa itu mengandung kepedihan. Ternyata dibalik keramahan dan ketegaran yang selama ini ditampilkan oleh Naziya-setidaknya yang Alby lihat setelah beberapa kali bertemu, ia menyimpan duka yang amat dalam.
Alby tidak sok tahu, ia seorang dosen. Ia juga sedikit mempelajari tentang psikologi. Apalagi Naziya adalah seorang dokter. Profesi dokter dituntut untuk selalu menampilkan ketenangan. Harus selalu tersenyum dan ramah pada semua pasien, meski mereka berada dalam masalah. Maka, jika Naziya sudah seperti itu, itu artinya masalah yang dialaminya pasti sangat rumit.
Alby berusaha tersenyum. “Dokter tidak ada pasien?” Alby bertanya mengalihkan perhatian.
Naziya melirik jam tangannya. “Oh, maaf, Pak Alby, sepertinya saya harus segera kembali ke ruangan saya. Sebentar lagi ada jadwal konsul dengan pasien.”
Alby mengangguk “Iya, silahkan, dok.”
Sesaat kemudian Naziya berlalu. Alby memandangi punggung dokter spesialis kandungan itu. Tadi ia sempat melihat bekas lebam ditangan Naziya saat perempuan itu mengangkat tangannya.
__ADS_1