Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 23


__ADS_3

Setelah Naziya dan Vita berlalu dari pandangannya, Alby pun kemudian beranjak menuju penginapan mereka. Terlihat teman-temannya sedang mempersiapkan pembakaran api unggun di pantai. Mereka juga berencana untuk membuat acara bakar ikan untuk makan malam. Angin malam berhembus membuat jaket yang dipakai Alby bergerak-gerak. Ia merekatkan jaketnya. Menahan angin agar tak masuk.


"Pak Alby dari mana saja? Dari tadi saya telpon kok nggak di angkat." Frida langsung menyambut begitu melihat lelaki itu datang. Ia memang mencari-carinya dari tadi namun tak menemukannya. Nada suaranya terdengar khawatir.  .


Alby merasa sedikit tak enak. Ia memang pergi tanpa memberi tahu siapapun. Ia hanya bermaksud untuk jalan-jalan sebentar. "Maaf. Tadi saya hanya ingin keluar mencari udara segar dan ponsel saya kebetulan tertinggal di dalam kamar. Jadi saya tidak bisa mengangkat telpon ibu." Alby memberi penjelasan.


"Oh gitu. Ya udah, nggak apa-apa. Sekarang ayo bergabung sama yang lain," ajak Frida. Suara yang awalnya bernada khawatir kini berubah menjadi lebih lembut. Ia mendekati lelaki itu dan tangannya menyentuh lengan Alby.


Alby merasa sangat tidak nyaman ketika lengannya disentuh oleh Frida. Dia merasakan adanya ketegangan dan perasaan tidak enak di tubuhnya. Sentuhan itu memicu perasaan tidak nyaman yang mungkin sulit untuk dijelaskan secara pasti, tetapi dia merasa seperti batasan pribadinya telah dilanggar. Dia ingin menghindar. Namun, masih mencoba untuk menahan diri. Frida adalah Dekannya dan sekarang mereka sedang berlibur. Ia tidak mau membuat suasana liburan mereka menjadi tidak nyaman. Ia mengikuti langkah Frida menuju kepada teman-teman mereka yang sedang sibuk. Hanya ada sepuluh orang yang ikut berlibur. Yang lain lebih memilih untuk bersama keluarga mereka. Dan memang semuanya yang ikut adalah yang belum menikah, Tadinya Alby sebenarnya tak mau ikut, namun Frida yang memintanya langsung. Jadi, ia tidak bisa menolak.


Randy yang berada tak jauh dari mereka hanya tersenyum sekaligus merasa kasihan. Ia tahu bahwa Alby tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Frida-Dekan mereka itu memang sudah menyukai Alby sejak dulu. Namun, karena dulu Alby punya istri, jadi dia tidak terlalu menunjukannya. Sekarang, Alby sudah bercerai dan dia merasa bebas untuk mendekatinya. Apalagi dia merasa punya jabatan yang lebih tinggi dari Alby. Dia pikir dia bisa mengendalikan semuanya. Randy menarik nafas. Dia juga tidak tahu bagaimana harus membantu temannya itu. Ia mengikuti keduanya menuju teman-teman yang lain untuk bergabung.


Saat tiba, Alby hendak membantu Alex yang sedang mengumpulkan kayu untuk dibakar. Namun, ia langsung di cegat oleh Frida.


"Pak Alby disini saja. Biar mereka yang mengurusnya." Frida melirik Alby, menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.


Alby hendak menolak, namun Alex sudah duluan bicara.


"Nggak apa-apa, Pak Alby. Biar saya saja." Alex tersenyum dan kemudian mengambil sepotong kayu lalu menumpuk di atas kayu yang lainnya.

__ADS_1


Alby merasa tidak enak. Namun lagi-lagi ia tidak bisa berbuat banyak. Permasalahannya, Frida adalah sosok wanita yang egois. Ia tidak akan mentolerir sesuatu jika tidak sesuai dengan keinginannya. Ia kerap memaksakan keinginanannya dengan melakukan apa saja. Itulah kenapa Alby terus menahan diri. Ia tidak mau membuat teman-temannya terkena imbas kekesalan Frida karena dia. Alby mendesah pelan, berusaha mengontrol emosinya yang mulai naik. Ia menegakkan wajahnya, menatap laut yang di penuhi dengan kerlip lampu pantai. Nyala api unggun perlahan memberi kehangatan. Suara ombak yang tenang memukul-mukul di tepi pantai. Keadaan begitu damai, namun tidak dengan hati Alby.


Frida berdehem. Mencoba membuka pembicaraan karena dari tadi Alby tak juga bersuara. "Malam ini begitu indah, bukan? Suasana pantai di malam hari selalu membuat orang-orang merasa tenang dan damai."


Alby tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Pandangannya tetap lurus.


Frida berdehem lagi. Memperbaiki duduknya. "Apa aku boleh bertanya?" Frida melirik pada Alby. Ia menggunakan kata 'aku' yang menandakan ia ingin berbincang lebih dekat dengan sang dosen tampan.


Yanti dan Nunu yang berada sekitar tiga meter dari Alby dan Frida dan sedang membakar ikan diam-diam melirik mereka. Di tempat duduk Alby dan Frida memang hanya ada mereka berdua. Teman-teman yang lain duduknya sedikit menjauh. Mereka sengaja. Tak berani untuk mengganggu dekan mereka yang lagi PDKT.


"Ada apa, Bu?" Alby akhirnya buka suara. Enggan namun harus.


Alex yang sudah bergabung dengan Yanti dan Nunu menahan tawa melihat Dekan mereka yang sudah hampir setengah abad itu bersemu. Namun juga kasihan pada Alby yang sepertinya tidak nyaman. Meski jarak mereka sedikit jauh, masih cukup terlihat jelas ekspresi yang di tampilkan oleh Dekan dan Dosen itu. Apalagi ada nyala api unggun yang menerangi disekitarnya, Ini adalah hal langkah. Mereka tidak pernah melihat Frida seperti itu. Sebenarnya Frida itu cantik. Di umurnya yang sudah menginjak kepala empat, sisa kecantikannya masih terpancar jelas. Namun sayang, semua itu tertutupi dengan wajahnya yang jutek dan suka marah-marah.


Alby menengok sebentar ke arah Frida lalu kemudian kembali menatap laut. "Kenapa ibu tanyakan itu?" Alby bertanya meski sebenarnya bisa menduga kemana arah pembicaraan wanita itu.


"Nggak, hanya ingin tahu saja."


Alby membuang nafas pelan. "Tidak ada kriteria khusus. Yang terpenting saya merasa nyaman saat bersamanya." Alby langsung teringat pada Naziya. Akhir-akhir ini, ia selalu merasakan kenyamanan saat bersama dengan wanita itu. Meski pun terkadang Naziya tidak terlalu menganggapinya. Ia tersenyum tipis. Lalu segera tersadar.

__ADS_1


Frida yang sempat melirik Alby, melihat senyum lelaki itu dan kemudian mengartikannya berbeda. Ia mengira senyum itu untuknya. Ia menunduk menahan agar bibirnya tak ikut juga tertarik. Hatinya dipenuhi dengan bunga warna warni yang sedang bermekaran. "Menurutmu, bagaimana dengan aku?" Ia bertanya lagi dan kemudian menggigit bibirnya. Jantungnya mulai berdegup tak beraturan. Ia sedikit gugup. Bagaimana bisa dia merasakan hal seperti ini di umur yang sudah tidak muda lagi. Ia seperti kembali ke umur dua puluhan saat pertama mengalami masa-masa percintaan. Ia tak dapat menahan senyumnya.


Alex, Nunu, Yanti dan Randy yang juga sudah bergabung terkikik. Daritadi mereka terus memperhatikan interaksi kedua orang itu.


"Maksud ibu?" Alby bertanya tak paham. Dari tadi ia masih konsisten untuk menggunakan panggilan formal.


Frida kembali berdehem. Ini sudah yang ketiga kalinya. "Maksudku, apa saat bersama denganku, kamu merasa nyaman? Dan juga, tolong untuk jangan memanggilku dengan panggilan ibu. Panggil saja namaku. Kita tidak sedang berada di kampus."


Alby tak langsung menjawab. Ia bingung bagaimana harus menjelaskannya. Ia tidak mungkin jujur karena itu pasti akan menyakiti Frida. Namun, jika ia bohong, takut jika itu membuat Frida terus berharap padanya.


"Maaf, mengganggu, Bu. Makan malam sudah siap." Randy datang tiba-tiba. Melirik pada Alby kemudian tersenyum. Ia memang sengaja melakukan itu karena tidak tega melihat teman sejawatnya itu tertekan.


Alby bernafas lega. Akhirnya ia terbebas dari keadaan yang menyiksanya. Ia seperti baru saja lepas dari himpitan batu besar. Randy menyelamatkanya malam ini.


Frida mendengus. Ia menatap kesal pada Randy karena menganggu kesenangannya. Namun, ia tidak bisa marah-marah. Ia sementara ini harus menjaga imeg di depan Alby agar laki-laki itu tidak merasa ilfil padanya. Ia kemudian berdiri menyusul Alby yang sudah berdiri duluan.


"Mari, Bu." Randy tak memperdulikan tatapan kesal sang Dekan.


Mereka kemudian pergi beriringan. Di saksikan oleh semua orang yang sedang menahan tawa melihat ekspresi kesal sang Dekan.

__ADS_1


__ADS_2