
“Sebentar.” Alby menyetop langkah kaki Randy saat mereka hendak ke kantin khusus dosen dan pegawai kampus yang berdampingan dengan kantin mahasiswa.
“Ada apa?” Randy bertanya kemudian mengikuti arah pandang Alby. Tak ada yang aneh. Randy hanya melihat orang-orang yang sedang lalu lalang. Randy mengerutkan kening. Kembali melihat pada temannya itu. “Apa sih yang mau lo lihat?” Randy bertanya kembali, menggunakan bahasa nonformal.
Beberapa mahasiswa maupun pegawai yang lewat melirik ke arah mereka. Berbisik-bisik memuji ketampanan Alby. “Selamat siang, Pak Alby, Pak Randy.” Beberapa mahasiswa yang mengenal mereka menyapa. Alby tak peduli. Hanya Randy yang menjawab dengan balasan maupun hanya senyuman.
Alby berjalan beberapa langkah. Randy mengikuti. Ia sudah tak bertanya lagi karena pertanyaan sebelumnya belum juga dijawab.
“Selamat siang, Dokter.” Alby menyapa seorang perempuan cantik yang sedang berjalan sambil mengobrol dengan temannya yang lebih muda dengan seragam berwarna putih-putih.
Randy menoleh sejenak pada temannya. Mengerti kenapa sedari tadi temannya itu terus melihat ke arah depan.
Naziya menoleh. “Loh, Pak Alby!” Alisnya berkerut. Kaget sekaligus heran. “Bapak ngapain disini?” Naziya bertanya setelah kekagetannya sedikit mengendur. Ia juga menyapa lelaki yang disamping Alby
Reni yang bersama dengan Naziya juga menoleh. Ia sedikit terkejut. Lelaki yang didepannya ini sungguh tampan, tapi tampak tidak asing.
Alby tersenyum.
Randy heran. Bertanya-tanya dalam benaknya siapa wanita ini hingga membuat Alby sampai mengeluarkan senyumnya yang mungkin seribu tahun sekali baru terlihat. Namun, sesaat kemudian ia sadar. Tadi ia mendengar Alby memanggil wanita itu dokter. Pasti dokter itu pernah menangani Alby atau setidaknya keluarga temannya itu. Itulah sebabnya dosen itu bersikap ramah.
Beberapa perempuan yang lewat berhenti sejenak. Seakan tak percaya apa yang mereka lihat. Dosen yang terkenal dingin itu tersenyum. Jantung mereka seakan berhenti sebentar. Alay.
“Saya mengajar disini. Dokter sendiri ngapain kesini?”
“Oh.” Naziya tampak sedikit kaget. Meski beberapa kali bertemu, Naziya belum tahu dan juga tidak bertanya mengenai profesi laki-laki yang merupakan suami pasiennya itu.
“Dokter mau ngapain kesini?” Alby bertanya kembali.
“Saya mendapat undangan dari Fakultas kedokteran untuk membawakan materi, tapi pengen singgah sebentar makan siang di kantin. Kangen. Saya kuliah disini dulu.” Naziya menjawab sekaligus memberi sedikit informasi mengenai tempat kuliahnya.
Gantian Alby yang terkejut. “Kalau begitu kita satu kampus, dong. Cuma beda fakultas makanya nggak saling kenal. Saya di fakultas bisnis dan manajemen.”
“Bagaimana kalau kita ngobrol sambil makan. Dokter juga mau ke kantin, kan?” Randy menyela, memberi opsi. Dari pada mereka terus berdiri disitu dan terus dilihat oleh orang-orang yang lewat.
“Astaga!” Alby berseru. “Aku sampai lupa. Mari!” Alby bergegas mengajak Naziya dan Reni ke kantin.
Naziya sedikit tidak nyaman karena beberapa kali ekor matanya mendapati orang-orang melihat ke arah mereka sambil berbisik. Padahal saat tadi ia berjalan dengan Reni tak terjadi hal seperti itu. Atau itu karena mereka bersama dengan Alby dan Randy?
“Sebentar.” Naziya menghentikan langkahnya. Mereka sudah sedikit melewati kantin mahasiswa. “Bolehkah kita makan disitu?” Naziya bertanya kemudian menunjuk kantin mahasiswa. “Saya ingin makan disana.”
Alby melirik Randy.
Randy mengangguk,
“Boleh. Ayo,” ajak Alby.
Serempak kantin menjadi heboh. Kasak kusuk terdengar dimana-mana seperti lebah yang berdengung. Sebagian besar mata tertuju pada mereka terutama para kaum perempuan.
“Apa ada yang salah?’ Reni bertanya heran.
Naziya menggeleng.
“Pak Alby ini merupakan dosen populer disini karena beliau dikenal tampan dan digemari oleh banyak wanita.” Randy berusaha menjelaskan keheranan kedua wanita itu.
Alby menyikut Randy.
“Selain itu, ia juga dikenal sebagai dosen killer. Wajahnya selalu datar dan tatapannya dingin serta tajam.” Randy tak peduli dan terus melanjutkan.
Naziya mengangkat alisnya sebentar kemudian tersenyum. Menahan tawa.
__ADS_1
“Pantas saja dari tadi orang-orang pada ngeliatin. Ternyata karena itu? Tapi memang Pak Alby tampan.” Reni menimpali kemudian melirik sejenak pada Alby. Tersenyum.
“Jangan didengarkan. Dia memang selalu suka bercanda. Ayo kita kesana, kebetulan mejanya sedang kosong.” Alby berusaha mengalihkan.
Randy menahan tawa melihat rekan sejawatnya itu salah tingkah.
“Selamat siang, Pak Alby.” Seorang mahasiswi menyapa dengan senyuman yang sangat lebar hingga memperlihatkan seluruh gigi-giginya.
Alby tak peduli.
“Itu kan, benar apa yang saya bilang. Beliau itu dingin dan datar.” Randy kembali mengerjai temannya. Kapan lagi? Alby tak akan mungkin marah padanya karena ada Naziya dan Reni.
Alby memelotot pada Randy.
Naziya dan Reni menahan tawa.
“Silahkan duduk.” Alby mempersilahkan setelah mereka sampai.
Naziya memperhatikan suasana kantin yang sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah ia datangi. Ada rindu yang membuncah.
“Dokter pasti teringat masa-masa kuliah dulu disini, kan?” Alby bertanya saat melihat mata perempuan itu bergerak kesana kemari.
Naziya mengangguk. “Tak banyak yang berubah.”
Seorang perempuan muda datang membawa buku catatan. “Pesan apa?” ia bersiap mencatat.
“Saya bakso telur sama jeruk hangat satu.” Naziya memesan menu andalan yang selalu ia pesan dulu saat kuliah.
“Itu pasti menu kesukaan dokter saat dulu.” Randy menebak.
Naziya mengangguk. Tersenyum. Pikirannya melayang pada beberapa tahun yang lalu. Teringat teman-temannya yang sudah tak tahu entah dimana. Hanya satu sahabatnya yang sampai kini masih biasa berkomunikasi. Selly, namun ia sudah menikah dan tinggal di Surabaya. Sesekali mereka masih bertemu.
“Saya juga sama.” Randy dan Reni memesan bersamaan. Lalu saling melirik dan tertawa.
“Awas, nanti ada yang jadian karena memesannya bersamaan.” Naziya menggoda.
Alby, Randy dan juga Reni serta si pelayan tertawa. Mereka tampak akrab meski belum lama saling kenal.
Orang-orang tampak terpaku. Lalu suasana menjadi semakin riuh. Suara-suara wanita seakan menggema dimana-mana.
“Oh My God. Pak Alby tersenyum. Ya ampun manis banget.” Suara seorang wanita terdengar, tak terlalu keras tapi cukup terdengar di telinga keempat orang itu.
“Astaga, aku rasanya semakin tak tahu diri. Haluku sudah menembus galaxy bukan lagi di bumi.” Seorang wanita yang merupakannya temannya si wanita tadi menimpali.
“Senyumnya bikin pabrik gula tutup.” Suara wanita yang lain.
“Senyumnya buat apotik tutup. Nggak ada obat.”
Tiga orang yang sedang menunggu pesanan itu terkikik. Sementara Alby seakan tak terganggu dengan suara-suara yang terdengar bersahut-sahutan.
“Jam berapa nanti bawa materinya?” Alby bertanya setelah teman-temannya sudah mulai normal.
“Jam dua.”
Pelayan datang membawakan pesanan mereka.
“Terima kasih.” Naziya sudah tak sabar ingin menikmati makanan kesukaannya dulu.
“Eh, Mba.” Naziya menghentikan langkah si pelayan yang hendak pergi. Ia teringat sesuatu. “Apa Bi Sarinem masih menjual disini?”
__ADS_1
“Iya, masih,” jawab si pelayan.
“Oh. Ok. Terima kasih.”
“Sama-sama, Kak.” Ia kemudian berlalu pergi.
“Nggak pernah ganti ya penjual kantinnya? Tapi memang sih, baksonya terkenal enak sekampus.” Naziya mengambil sambal.
“Nggak pernah ganti sejak awal disini.” Alby menimpali sambil mengambil kecap. “Selain memang masakannya enak, orang-orang sudah kenal beliau. Anaknya juga kalau tidak salah masuk fakultas kedokteran disini, dapat beasiswa.”
“Oh ya? Si Sari atau Neli?” Naziya mengingat dua anak perempuan yang selalu datang ke sini dan membantu kedua orang tuanya.
“Dokter kenal mereka?” Randy speechless.
Naziya mengangguk. “Dulu, mereka selalu datang kesini abis pulang sekolah makanya kenal.”
“Oh.”
Naziya menyeruput kuah baksonya. “Hmphh.” Ia memejamkan mata. Menikmati kelezatan air bakso itu mengaliri tenggorokannya. “Enak banget. Rasanya masih tetap sama,” puji Naziya. Ia kagum.
“Benar, dok. Enak banget baksonya,” timpal Reni yang selesai mengunyah satu pentol bakso.
Alby hanya tersenyum melihat dua wanita di depannya itu. Tapi ngomong-ngomong kita belum saling kenalan.
“Iya juga sih, dari tadi ngobrol tapi tidak saling kenal.” Reni menimpali.
Lalu mereka pun saling memperkenalkan diri.
Selesai makan, Naziya pamit sebentar. Ia ingin menemui pemilik kantin.
“Suit suit. Boleh kenalan, kak.”
“Boleh minta nomor?”
Beberapa lelaki menggoda Naziya yang sedang lewat. Ia tidak peduli dan terus berjalan. Alby, Randy serta Reni melirik pada sumber suara. Alby memasang wajah dingin seperti kebiasaannya.
Beberapa lelaki yang tadi menggoda tersenyum masam.
“Assalamu alaikum, Bi.” Naziya menyapa seorang wanita yang usianya mungkin lebih muda dua atau tiga tahun dari ibunya.
“Waalaikumsalam.” Sarinem mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. “Mau pesan apa, Nak?” Ia bertanya. Berpikir mungkin ini mahasiswa yang mau memesan makanan.
“Bibi masih ingat saya?”
Sarinem memperhatikan wanita yang ada di depannya itu. “Nak Ziya, ya?” Nada suaranya terdengar ragu.
Naziya mengangguk.
“Gusti!” Wanita itu berseru dan langsung memeluk Naziya. Beberapa mahasiswa yang berada di dekatnya langsung mengalihkan pandangan. Juga Alby, Randy dan Reni. “Bagaimana kabarmu, Nak? Pangling bibi lihat kamu.” Sarinem bertanya setelah mengurai pelukannya.
“Saya sehat, Bi. Bibi bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulilah sehat. “Nak Ziya sudah menikah?”
Naziya mengangguk. Lalu kepalanya celingukan. “Paman mana?” Naziya bertanya setelah tak mendapati keberadaan lelaki yang disebutnya paman.
“Paman menjual di sebelah, bagian pegawai. Nak Ziya ngapain ada disini?”
“Oh. Saya dapat undangan mengajar disini.”
__ADS_1
“Oh.” Lalu mereka pun berbincang sebentar. Naziya kemudian pamit karena waktu sudah menunjukan pukul satu lewat lima.