Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 2


__ADS_3

“Selamat siang semuanya.” Seorang lelaki berkulit putih, bertubuh tinggi atletis, dengan penampilan maskulin dan wajah rupawan datang dari arah belakang Naziya. Menyapa Meti, Reni dan juga seorang dokter lelaki yang  sedang makan siang di kantin rumah sakit.


Naziya menoleh ke belakang ke arah sumber suara tersebut dengan ekspresi terkejut, sama sekali tak menyangka bahwa lelaki itu akan datang ke sini.


“Siang, Pak Zain,” sahut Reni membalas sapaan suami Naziya. Barulah kemudian beberapa saat Meti juga menyambut. Dia baru tahu dan pertama kali melihat suami dokter spesialis kandungan itu. Sementara dokter Andri-dokter spesialis anak yang ikut bersama mereka hanya tersenyum. Senyum yang sedikit dipaksakan.


Zain menyodorkan tiga kotak cheese cake pada Reni.  Perempuan itu langsung menerima pemberian Zain dengan sumringah dan kemudian membagikan kepada  Meti dan dokter Andri. Tadinya kue yang satunya rencananya untuk dokter Henny, namun karena dokter Henny tidak ada dan kebetulan ada dokter Andri, maka kue itupun diberikan padanya. Dokter Andri menerima dengan enggan.


Zain kemudian melingkarkan tangan dipinggang Naziya yang sudah berdiri menyambutnya. “Semua berjalan dengan lancar, Sayang?” tanyanya sembari mengecup kepala sang istri.


“Lancar dong, Sayang,” sahut Naziya seraya memeluk pinggang Zain.


Reni dan Meti yang masih mengagumi ketampanan dan kebaikan Zain membawakan kue untuk mereka, semakin iri dengan kemesraan pasangan yang ada di hadapan mereka itu. Sementara dokter Andri hanya bisa kesal dalam hati.


“Tadinya, aku mau ajak kamu untuk makan siang diluar, cuma aku nggak tega pas dengar kamu baru saja melakukan operasi,“ ujar Zain yang sudah duduk disamping Naziya.


“Kamu udah makan?” tanya Naziya khawatir jika suaminya belum sempat makan siang dan langsung ke rumah sakit.


“Udah sayang, tadi makan siang dulu sebelum membeli kue.”


“Saya permisi dulu. Terima kasih untuk kuenya,” sela dokter Andri dengan senyum yang yang berusaha dipaksakan. Padahal makanannya belum sempurna habis. Rasanya dia tidak sanggup berlama-lama di situ menyaksikan kemesraan yang dipamerkan oleh pasangan suami istri itu.


Zain memperhatikan kepergian dokter Andri. Dia merasa lelaki itu sepertinya tak suka padanya. “Dia dokter apa?” tanya Zain penasaran. Dia merasa wajah lelaki itu tidak asing. Zain memang tidak mengenal dokter Andri. Naziya tidak pernah berbicara padanya mengenai dokter lelaki di rumah sakit. Istrinya itu hanya bercerita mengenai tiga temannya, dua perawat dan satu dokter anestesi.


“Itu dokter Andri, dokter spesialis anak. Dia juga teman satu kampus aku yang dulu pernah ku tunjukan pas nikahan kita,” jawab Naziya.


Zain hanya mengangguk. “Pantas saja wajahnya tidak asing dan seperti tak menyukaiku,” Zain bergumam. Ternyata dia lelaki yang sudah menyukai istrinya sejak lama. Dia mengetahui itu berdasarkan cerita Naziya dan saat pernikahan mereka, Naziya sempat menunjukan lelaki itu padanya.

__ADS_1


Setelah dokter Andri berlalu, mereka lalu berbincang-bincang. Pandangan mata Zain tak pernah berpaling dari wajah cantik istrinya membuat wajah Naziya memerah. Hal itu kontan membuat Meti dan Reni semakin dilanda iri atas kemesraan mereka.


“Ya ampun, Pak Zain, natapnya sampai di rumah aja. Kasihanilah kami yang jomblo akut ini,” sahut Reni yang tak pelak di disambut tawa oleh ketiganya.


“Aku juga nggak tahu kenapa bisa seperti ini. Naziya selalu membuatku rindu dan rindu lagi,” ucap Zain lalu mengecup pipi istrinya.


“Sayang, udah ah. Malu diliat orang,” ujar Naziya. Dia sebenarnya bahagia diperlakukan seperti itu oleh suaminya, tetapi mereka sedang berada ditempat umum. Tidak enak saja dilihat banyak orang.


“Iya, sayang. Kalau begitu aku balik dulu ke kantor,” ucap Zain lalu berdiri. “Selamat menikmati kuenya.” Zain memandang sejenak pada kedua perawat itu. “Bye, sayang.” Zain kembali mengecup kening istrinya dan kemudian berlalu.


“Ya ampun dokter, Pak Zain so sweet banget sih. Bikin iri saja,”celetuk Meti setelah Zain berlalu.


“Iya ih. Aku iri banget.” Reni menimpali.


Naziya hanya membalas celetukan kedua perawat itu dengan senyuman. Namun hatinya berbunga-bunga. “Ayo kita kembali!” ajak Naziya segera sebelum dua makhluk di depannya itu semakin membuatnya malu.


“Ya ampun, Pak Zain ganteng banget, lebih cakep jika dilihat dari dekat,” ujar Reni setelah Naziya masuk ke dalam ruangannya. “Kayak bintang film, ya.”


“Iya, udah ganteng sayang sama istri lagi,” timpal Meti yang membuat rasa iri semakin membuncah.


“Ganteng, baik, sayang sama istri, anak pejabat, karir sukses dan kaya raya. Paket lengkap. Kapan ya kita dapat yang seperti itu,” ujar Reni lalu menekuk wajahnya. Wajahnya dibuat sesedih mungkin hingga membuat satu jari Meti menoyor kepalanya.


“Ih lebay banget, sih.”


“Tapi benar loh. Aku kalo dapat laki-laki seperti itu pasti, emmm ...” balas Reni sambil merem membayangkan jika mendapat suami seperti Zain. “Aku nggak tahu lagi deh bagaimana melukiskan kebahagiaanku.” Reni sok serius.


“Menghayalnya jangan ketinggian, nanti jatuh sakit loh.” Meti meledek. “Jodoh itu cerminan diri. Mana mungkin kamu akan mendapatkan jodoh seperti Pak Zain. Pak Zain itu ya levelnya emang sama dokter Naziya, kalo kamu mah levelnya sepuluh kali dibawah mereka.” Meti terbahak.

__ADS_1


“Ishh kamu kok jahat banget sih. Yo sebagai teman yang baik dukunglah.” Reni pura-pura merajuk.


“Ya, jangan merajuk dong, nanti aku belikan jajan bakso sekalian sama tukang baksonya. Lumayan kan beli bakso gratis pemiliknya.” Meti tak berhenti meledek temannya.


“Boleh juga, daripada jomblo.” Reni membalas. Dan mereka pun terbahak bersama.


******


“Selamat siang, Pak Narji.” Zain berdiri dari kursinya, menyambut dan menjabat tangan kliennya. “Silahkan duduk.”


“Siang, Pak Zain. Terima kasih.”


“Apa yang bisa saya bantu?” Zain bertanya setelah Resi-asistennya membawakan mereka minum.


“Begini …” Narji berhenti sebentar dan menghembuskan nafas kasar. “Anak saya ditangkap karena penggunaan serta kepemilikan narkoba.”


Zain sudah mendengar kasus yang lagi viral tersebut dari TV dan juga dari ayahnya. ‘Seorang anak dari pejabat ditangkap sedang menggunakan narkotika. Dia juga diketahui ternyata memiliki dan memperjualbelikan barang haram tersebut’. Demikianlah berita yang Zain dengarkan.


Zain memperhatikan wajah frustrasi kliennya. Lalu mulai melancarkan serangannya.


“Sanksi bagi pengedar narkotika diatur dalam Pasal 120,  Narkotika Golongan II, dipidana dengan pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama sepuluh tahun dan pidana denda paling sedikit enam ratus juta rupiah dan paling banyak lima miliar rupiah. Jika beratnya melebihi lima gram maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama lima belas tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah sepertiga.” Zain mengingatkan meski dia yakin bahwa kliennya pasti sudah tahu.


Narji menyugar rambut frustasi.


Zain tersenyum tipis.  “Lalu, apa yang bapak mau saya lakukan?” Zain bertanya.


“Saya mau anak saya di rehabilitasi.”

__ADS_1


Zain mengangguk. “Ok”


__ADS_2