Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 11


__ADS_3

Hari masih gelap, Naziya melihat jam yang berada di meja sang putri. Waktu baru menunjukan pukul lima pagi. Dengan badan yang masih sakit, ia lalu bangun dan bergegas ke kamarnya. Membuka pintu dengan perlahan. Tampak Zain masih tertidur pulas. Ia kemudian beranjak ke kamar mandi.


Naziya bersiap untuk memulai kegiatannya hari ini. Untuk menyembunyikan memar di lehernya, Naziya memilih untuk memakai syal.  Baru saja ia hendak mengambil tasnya, terlihat Zain sudah menggeliat.


“Kamu mau berangkat sepagi ini?” tanya Zain setelah melirik jam di atas nakas.


“Ya.” Naziya menjawab tanpa melirik suaminya. Ia kembali berjalan ke arah lemari tasnya.


Zain beranjak dari tempat tidur dan langsung menghampiri Naziya.


Naziya menahan napas. Dadanya mulai berdegup kencang. Ketakutan langsung saja menyergapnya. Kejadian semalam kembali berputar di kepalanya. Ia takut Zain akan berbuat kasar lagi.


Zain langsung memeluknya. “Maafkan aku, Sayang. Aku lepas kendali tadi malam.” Ia melepas pelukannya dan mencium dahi istrinya.


Naziya bergeming. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Ia benar-benar takut Zain akan melakukan kekerasan lagi.


Zain memegang tangan istrinya.


“Ouwh!” jerit Naziya tertahan. Zain menyentuh tangannya yang memar akibat pukulan semalam.


“Sakit?” tanya Zain lembut.


Naziya mengangguk lemah. Rasanya ia seperti anak kucing yang tersiram air.


“Maafkan aku,” ucap Zain kembali memeluk istrinya.


Naziya masih diam. Ia tak tahu juga harus mengatakan apa. Marah, tidak mungkin karena itu hanya akan membuat Zain menjadi kasar kembali.


Zain melonggarkan pelukannya. Ia menatap manik mata coklat istrinya. “Aku janji, aku tak akan pernah lagi mengulangi perbuatanku. Ini yang terakhir. Tapi tolong, berhenti untuk menuduhku.”


Tak ada kata yang keluar dari bibir Naziya. Ia seakan sudah mati rasa. Tak ada lagi rasa percaya terhadap suaminya.


“Sayang, bicaralah!” pinta Zain pelan.


“Aku bingung harus berkata apa. Yang pasti, aku tak bisa disakiti terus-terusan seperti ini.”


“Sayang, aku janji. Aku tidak akan pernah mengulanginya lagi.” Zain menggenggam tangan istrinya.


“Aku mau berangkat kerja.” Naziya berusaha melepaskan genggaman tangan Zain dengan pelan. Ia sama sekali tak menanggapi permintaan maaf suaminya.


“Apakah kamu tidak bisa izin hari ini? Kamu perlu istirahat. Aku akan menemanimu,” usul Zain.


Naziya menggeleng. Membiarkan Zain bersamanya, sama saja dengan membuang dirinya ke kandang macan. “Aku banyak pasien hari ini.”


“Kamu bisa menundanya besok.”


“Aku tidak bisa.” Naziya tetap kekeuh.

__ADS_1


“Kenapa? Apa karena ada hal lain yang ingin kamu lihat selain pasienmu?” tuduh Zain berusaha mencari cela untuk menyudutkan Naziya.


“Aku benar-benar sedang banyak pasien. Aku juga punya jadwal operasi hari ini, jadi tidak bisa aku tinggalkan,” balas Naziya. Rasa kesalnya  seperti sudah berada di ubun-ubun. Ia nyaris meluapkan kegeramannya.


“Kalau begitu, kita makan siang bersama.”


Naziya tak bisa menolak lagi. Ia terpaksa mengiyakan ajakan Zain. Ia tak mau lagi menjadi bahan amukan suaminya.


Zain tersenyum dan langsung mencium dahi Naziya. “Terima kasih, Sayang.” Kemudian ia beranjak ke kamar mandi.


Naziya menghembuskan napas panjang. Sejenak ia merasa lega. Sungguh sangat menyiksa berada dalam keadaan seperti ini. Ia rasanya seperti dipenjara. Tak bisa berbuat apa-apa.


*****


Sepulang dari rumah sakit, Naziya tidak langsung menuju ke rumah. Sore ini, ia punya janji dengan seseorang. Naziya melajukan kendaraannya menuju kafe. Sekitar 20 menit ia sudah berada di sana. Ia memesan tempat yang agak private. Lalu memesan minum dan camilan.


Sekitar lima menit menit kemudian, seorang lelaki bertubuh tegap dan mengenakan kacamata hitam langsung menghampirinya. “Sudah lama menunggu?” tanya lelaki itu.


“Belum, aku juga baru saja datang,” jawab Naziya. “Silahkan duduk, Bima.”


Bima langsung duduk dan tak lama seorang pelayan mendatangi mereka.


“Bagaimana?” tanya Naziya setelah pelayan berlalu.


“Aku sudah menyelidikinya, tapi tak ada wanita yang bernama Renita dengan profesi sebagai seorang Notaris,” jawab Bima.


“Jadi, maksud kamu Zain membohongi aku?”


Bima mengangguk.


Naziya membuang napas kasar. Ia sungguh sangat kesal. Zain benar-benar lelaki bang**t. Naziya mengumpat dalam hati. Dari awal sebenarnya dia sudah tidak percaya, namun untuk membuktikan itu dia harus mencari bukti.


“Tapi aku menemukan sesuatu,” ucap Bima kemudian mengambil ponselnya.


Naziya mengerutkan alisnya.


Bima menyerahkan ponselnya. “Itu adalah foto-foto Zain sedang memasuki hotel namun saat aku bertanya pada resepsionisnya, nama pemesan kamar yang dimasuki bukanlah Zain melainkan Devina,” jelas Bima.


Naziya memperhatikan hotel itu. Terlihat masih asing di matanya. Sepertinya hotel itu adalah hotel yang tidak terkenal. Zain tidak mungkin menyewa hotel mewah. Pasti dia akan mencari tempat yang tidak familiar agar aman. Zain memang pintar. Dia memilih untuk bermain aman.


“Siapa wanita itu?”


“Ia seorang mahasiswa hukum yang sedang magang di kantor Zain.” Bima kembali memperlihatkan potret seorang gadis yang baru saja keluar dari kantor Zain. “Ini wajah wanita itu.”


Naziya menatap foto itu. Lumayan cantik. Batin Naziya. “Sudah berapa lama mereka berhubungan?”


“Sepertinya hubungan mereka sudah berjalan sekitar sebulan. Ia tinggal di apartemen Ananda residence. Mereka biasa bertemu setelah pulang dari kantor," tutur Bima.

__ADS_1


Naziya menyandarkan tubuhnya di sofa sambil membuang napas. Dadanya seakan terhimpit batu besar.


“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanya Bima memandang kasihan pada mantan adik kelasnya itu.


“Aku ingin bercerai.” Naziya sudah yakin dengan keputusannya. Memilih untuk bertahan dengan Zain berarti memilih untuk mati perlahan.


Bima mengangguk. Mendukung keputusan Naziya.


*****


Alby tertunduk lemas. Berbagai rasa berpadu. Setitik air jatuh dari sudut matanya. Tangannya meremas kertas yang sedang dipegangnya. Dia bukanlah ayah biologis Rimba. Ia memegangi dadanya yang sesak. “Ah, kenapa sesakit ini, Tuhan.” Alby mengeluh dalam lirihnya. Padahal kemungkinan ini sudah ia bayangkan, namun tetap saja menyakitkan.


Alby mengangkat kepalanya, menatap langit-langit mobil. Hatinya benar-benar hancur. Bagaimana mungkin Rima tega melakukan ini padanya. Padahal ia begitu mencintai wanita itu. Sekarang ia tahu kenapa Rima tidak mau memberitahu siapa yang mendonorkan darah untuk Rimba. Sebab dia adalah ayah kandung putranya. “Ah.” Alby tak kuasa menahan laju air mata yang terus merangsek tanpa jeda. Ia terisak dalam perih.


Hampir setengah jam Alby berada dalam mobil. Lalu ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Vita bahwa ia tidak bisa mengajar nanti siang. Setelah terkirim, ia mematikan ponselnya dan bergegas keluar dari parkiran rumah sakit. Ia melajukan mobilnya kemana saja yang bisa membuatnya sedikit tenang. Alby mengarahkan mobilnya ke arah pantai ancol. Ia menyukai laut dan pantai.


Setelah hampir dua jam berkemudi, Alby memasuki parkiran sebuah hotel. Ia keluar dari mobil dan langsung memesan kamar. Ia ingin menikmati pantai namun bukan sekarang. Ini masih terlalu terik dan mungkin juga masih ramai. Meski hari kerja, pantai ancol selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Ia langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur berukuran king size itu. Ia hanya ingin tidur sejenak. sebentar saja untuk menghilangkan penat di kepalanya.


*****


Alby mengedarkan pandangan, mencari tempat yang agak sepi dari pengunjung. Di sebelah kiri pantai terlihat tidak terlalu ramai. Ia hanya melihat beberapa pasang perempuan dan laki-laki yang duduk sedikit berjauhan. Sementara di bagian paling ujung, ada seorang wanita yang duduk sendirian. Alby melangkah hendak mengambil tempat paling ujung sesudah wanita itu, namun langkahnya terhenti saat wanita itu mengangkat kepalanya menatap matahari yang berwarna jingga. “Dokter!”


Naziya terkejut saat namanya dipanggil. Pandangannya refleks beralih pada sumber suara. “Pak Alby!” Naziya mengerutkan keningnya. Lelaki ini selalu hadir saat dirinya lagi galau dan ingin sendiri. Sudah dua kali. “Pak Alby sedang apa disini?” Naziya bertanya.


“Hanya ingin menikmati laut dan pantai,” jawabnya lalu duduk disamping Naziya. Kali ini tanpa permisi.


“Oh.” Hanya itu jawaban Naziya. Ia kembali beralih ke matahari.


Hening sejenak.


“Dokter suka melihat sunset, ya?” Alby bertanya. Ia mengalihkan sejenak pandangannya dari matahari ke wajah sang dokter.


“Aku menyukainya. Sejak dulu,” jawab Naziya. Pandangannya tetap lurus.


“Apa ada arti tertentu sunset bagi dokter?” Alby kembali menatap matahari yang perlahan mulai tenggelam.


Naziya tak langsung menjawab. Ia diam sesaat. “Sunset dulu tak punya arti sama sekali bagiku. Aku menyukainya karena dia indah dilihat. Hanya itu saja. Namun kini, semua berubah. Sunset menyadarkanku bahwa hidup tak akan selamanya indah dan bahagia, terkadang kamu akan dihadapkan dengan kesedihan dan kesulitan. Seperti keberadaannya yang hanya sementara lalu digantikan dengan gelap dan sunyi.” Naziya menarik nafas dalam. Matahari sudah separuh menghilang.


Alby kembali memandang wajah sendu disampingnya. Ada rasa iba yang hadir. Alby tak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh dokter spesialis kandungan itu, tapi rasanya ia ingin Naziya membagi kesusahannya. Ia ingin membantu dokter itu keluar dari masalahnya. Mungkin karena ia juga sedang dirundung masalah. Ia merasa senasib dengan perempuan itu.


Naziya mengalihkan pandangannya saat matahari sudah hilang sempurna. Pandangannya langsung bersiborok dengan Alby yang masih memandanginya.


Alby terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya. Begitu juga dengan Naziya. Hening. Hanya terdengar suara orang-orang yang sedang mengobrol dan tertawa tak jauh dari mereka. Suara ombak yang teduh dan menenangkan.


“Apa aku terlihat begitu menyedihkan?” Naziya bertanya setelah beberapa saat. Ia menyadari pandangan iba Alby padanya tadi.


“Hmmpp” Alby sedikit meragu. “Maaf jika jawabanku menyinggung dokter. Sepertinya dokter sedang punya masalah.” Alby memberanikan diri.

__ADS_1


Naziya membuang nafas kasar. Kepalanya menengadah ke atas. Menutup mata, kemudian membukanya dan sejenak menatap langit yang mulai gelap. “Menurutmu, kenapa laki-laki berselingkuh?”


__ADS_2