Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 20


__ADS_3

Angin bertiup lembut, membelai rambut Naziya yang terurai. Suara ombak terdengar mengepak silih berganti. Burung-burung bersiul riang saling bersahutan. Sesekali terdengar suara orang-orang tertawa.


Tampak dari jauh anak-anak dengan pelampung bermain dengan orang tua mereka sambil tertawa. Naziya iri melihat pemandangan itu. Naziya menarik nafas. Memandang jauh pada lautan yang terbentang luas. Pikirannya berkelebat pada memori beberapa tahun silam saat kehidupannya masih baik-baik saja.


“Aku sangat mencintaimu, Zi. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu.” Zain mencium kening Naziya.


Naziya tersanjung. Perasaannya melambung. “Aku juga mencintaimu. Kamu harus janji padaku, jika ke depan ada masalah kita akan hadapi bersama-sama. Janji?” Naziya menunjukkan jari kelingkingnya.


Zain mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Naziya. “Aku janji.”


Senyum Naziya merekah. Ia ingat, itu saat pernikahan mereka baru menginjak satu tahun. Saat itu Naziya seakan merasa dunia begitu menyayanginya. Kembali kedua sudut bibirnya terangkat menunjukkan giginya yang berbaris rapi. Namun, di saat yang bersamaan bulir air mata sudah lolos dari pelupuk matanya. Hatinya mencelos. Ia menelungkupkan wajahnya di atas lututnya. Tubuhnya bergetar. Ia terisak. Pelan. Nyaris suaranya tak terdengar.


Naziya merasa menjadi perempuan paling bodoh. Ia bodoh terlalu mempercayai Zain. Ia bodoh karena begitu mencintai lelaki itu. Ia bodoh. Bodoh, bodoh dan bodoh. Ia semakin terisak. Ternyata berpisah dengan Zain sungguh menyakitkan. Ia pikir, setelah bercerai perasaannya tak akan sehancur ini. Tuhan. Naziya mengeluh.


Setelah beberapa saat, ia mulai merasa tenang. Ia mengusap air matanya. Menarik nafas. Lalu kembali memandang pada lautan. Perasaannya sedikit berangsur membaik. Ia mengambil minuman fresh mintnya yang tadi ia pesan. Tampak esnya sudah habis mencair karena tak tersentuh. Naziya menyedot sedikit. Tenggorokannya terasa lebih longgar.


Ia kemudian mencomot roti lapis sandwich. Menangis membuat perutnya keroncongan. Ia mengunyah pelan makanannya sambil melihat ke lautan. Hembusan angin membuat rambutnya terkibas-kibas. Ia merapikan rambutnya yang sesekali ikut masuk ke dalam mulutnya. Ia kembali membuang nafas.


"Dokter."


Sebuah suara mengejutkannya. Naziya menoleh ke samping kiri. Seorang lelaki tampan menyunggingkan senyum lebar hingga memperlihatkan semua gigi-giginya yang berbaris rapi.


Naziya balas tersenyum. Lagi-lagi ia bertemu dengan Alby. Dosen itu seakan tahu kemana tempat perginya.


"Boleh aku duduk?" Alby bertanya sopan.


Naziya mengangguk, mempersilahkan.


"Dokter sendirian?" Alby bertanya basa basi. Ia sedikit canggung. Juga takut mengganggu. Sebab mata sang dokter terlihat begitu sembab. Alby menebak ia habis menangis.


Naziya lagi-lagi mengangguk.


Hening.


Alby memilih untuk diam. Ia memandang ke lautan, namun pikirannya jalan. Haruskah ia pergi atau tetap di sini? Ia menduga Naziya tak ingin di ganggu. Mungkin sebaiknya ia pergi saja. Ia baru hendak pamit, Naziya membuka suara.


"Sendirian juga?" tanya Naziya memecah keheningan.


"Iya. Apa aku tak mengganggu?" Alby bertanya memastikan.


Naziya tersenyum. "Tadinya aku memang ingin sendiri, tapi kemudian aku berpikir, tak ada salahnya juga punya teman bicara," jawab Naziya jujur.


Alby lega. "Syukurlah. Tadinya aku berpikir kalau sudah mengganggu dokter."

__ADS_1


Naziya melirik pada Alby. Senyum tipis terbit dari bibirnya yang berwarna pink. "Aku kok ngerasa kita sering bertemu, ya?" Naziya mengutarakan sedikit keheranannya. "Aku merasa seperti diikuti. Padahal kan tidak begitu." Naziya tertawa. Ia merasa lucu dengan pemikirannya sendiri.


Alby senang melihat wanita itu tertawa. Setidaknya kehadirannya di sini sedikit menghibur Naziya. "Aku juga mikir gitu. Berawal dari rumah sakit, kampus, pantai dan pengadilan. Nanti setelah ini nggak tau di mana lagi." Alby terkekeh.


Mendengar kata pengadilan, Naziya ingat, ia belum sempat bertanya waktu bertemu saat itu. "Oh, iya. Waktu itu di pengadilan kamu ngapain?"


Wajah Alby langsung berubah muram.


"Maaf, kalau pertanyaanku menyinggungmu." Naziya menyadari perubahan wajah dosen itu.


Alby tersenyum. "Nggak apa-apa." Ia lalu menarik nafas dalam. "Saat itu aku pergi untuk mendaftarkan perceraianku." Alby memutuskan untuk bercerita. Toh kabar perceraiannya juga sudah tersebar luas. Jadi, tak perlu lagi ia tutupi.


"Oh, maaf." Naziya merasa bersalah. Tidak seharusnya tadi ia bertanya. Ia hanya tidak berpikir sampai ke arah sana. Mereka baru saja dikaruniai anak. Jadi tidak mungkin hal itu terjadi.


"Kamu mau berjalan-jalan?" Naziya bertanya sambil melirik dosen itu.


"Boleh."


Naziya berdiri menuju ke arah lautan yang berada sekitar dua puluh meter dari tempatnya. Alby ikut berdiri kemudian mensejajarkan langkahnya.


"Kenapa kamu suka laut?" Naziya bertanya. Kakinya menyentuh sisa-sisa ombak yang berwarna putih seperti busa sabun.


Alby tak segera menjawab. Pandangannya menjulur pada lautan yang terbentang luas. "Laut bisa sejenak membuatku lupa pada masalahku. Juga kadang bisa memberi solusi di saat kepalaku terasa buntu karena berbagai persoalan hidup." Alby berjalan sedikit menjauhi ombak. Karena ia menggunakan sepatu.


Naziya menghela nafas, lalu menunduk, mengangkat sedikit ujung celananya yang sudah basah terkenal air lau. Ia kemudian melepas sandal dan menentengnya. "Kenapa kita harus diberikan masalah?" Naziya bertanya setelah beberapa saat. Pandangannya lurus di sepanjang garis pantai.


Alby menatapnya sekitar beberapa detik. Ia tahu dokter itu sangat terluka. Pertanyaannya menandakan sebuah keputusasaan. "Masalah hadir untuk mendewasakan kita. Dan yakinlah bahwa setiap masalah pasti selalu ada solusinya." Alby menjawab seadanya sekaligus berusaha memberi dukungan. Ia tidak mau bicara terlalu panjang lebar. Tak mau terkesan menggurui.


Naziya menunduk. Menghela nafas berat. Kakinya terus melangkah.


Hening.


Alby menunduk, mengangkat celana jeans-nya lalu membuka sepatu dan kemudian menentengnya. Ia sedikit mempercepat langkahnya mensejajarkan langkah dengan Naziya yang terus berjalan.


Masih tak ada suara.


Alby juga tak bersuara. Memberikan kesempatan pada wanita itu untuk berpikir. Ia menoleh ke arah lautan dan tiba-tiba …


"Awas!" seru Alby refleks menarik Naziya.


Alby ambruk di atas pasir di ikuti dengan Naziya yang menindihnya dari atas. Wajah keduanya bertemu. Beberapa detik saling pandang.


"M-maaf, dok." Alby segera tersadar.

__ADS_1


Naziya juga demikian. Ia langsung bangkit dari tubuh sang dosen. Dadanya berdetak tak beraturan.


Alby menyusul. Jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasanya. "Tadi ada ombak besar. Takutnya dokter basah." Ia segera menjelaskan duduk permasalahannya, khawatir Naziya salah paham. Ia mengibas-ngibaskan pasir yang menempel di pakaiannya.


"Terima kasih." Naziya masih menunduk dan juga membersihkan pasir dari pakaiannya.


"Auwh." Naziya menjerit tertahan lalu memegang matanya yang terkena cipratan pasir dari gerakan Alby.


"Ouh, maaf." Alby refleks hendak memeriksa mata Naziya.


Naziya kaget. "Aku nggak apa-apa."


"Maaf." Alby langsung menjauhkan tangannya. Sudah tak terhitung berapa kali hari ini Alby mengucapkan kata itu.


Alby menjadi canggung.


Naziya terus menggosok-gosok matanya.


"Kamu beneran nggak apa-apa? Kalau kamu tidak keberatan biar aku membantumu." Alby tak tega melihat Naziya. Matanya sudah memerah. Ia juga merasa bersalah.


Sejenak Naziya berpikir. Lalu kemudian mengangguk.


Alby mendekat. "Maaf, dok." Ia meminta izin. Kemudian memajukan mulutnya pada mata dokter itu.


Naziya sangat dekat dengan leher sang dosen. Ia memejamkan mata. Aroma cendana langsung menguar memenuhi indra penciumannya. Ia menahan nafas. Berusaha mengontrol degup jantungnya yang bertalu-talu semakin tak terkendali.


Alby membuka mata sang dokter, tangannya sedikit gemetar. Ia berusaha mengendalikan rasa gugupnya. Jarak mereka terlalu dekat. Ia berusaha fokus, lalu memberikan tiupan mata mata sang dokter. Setelah selesai, ia segera melepaskan tangannya dari mata Naziya. Berusaha bersikap senormal mungkin. "Bagaimana?" Alby bertanya sembari menenangkan dadanya.


Naziya mengangguk. "Sudah mendingan."


"Jangan lagi di gosok-gosok."


Naziya kembali mengangguk.


Hening. Suasana semakin canggung.


"Bagaimana kalau kita kembali. Sepertinya kita berjalan sudah agak jauh." Alby memecah kekakuan yang terjadi. Matahari sudah mulai menampakkan awan kekuning-kuningan. Menandakan sebentar lagi akan tenggelam dan berganti gelap.


Naziya mengangguk.


Mereka kemudian berjalan beriringan. Masih hening. Hanya suara ombak yang terdengar memukul-mukul di tepian pantai. Juga suara orang-orang sedang bercengkrama. Burung-burung terbang saling mengejar, sesekali mengeluarkan siulan.


"Dokter nggak apa-apa?" Alby bertanya setelah beberapa saat.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa, kok." Naziya menjawab tanpa menoleh.


Mereka kembali ke tempat semula, menikmati mentari tenggelam. Namun, tanpa mereka sadari, kegiatan mereka sedari tadi tak lepas dari sorotan seseorang yang tak jauh dari mereka.


__ADS_2