
Naziya menatap dirinya di cermin dengan seksama. Apa ada bagian dari dirinya yang tidak disukai Zain hingga membuat suaminya itu memiliki wanita lain diluar sana? Bukannya berbangga, Naziya adalah dokter tercantik di rumah sakit Meditra, bukan hanya Meditra namun hampir di seluruh rumah sakit yang berada di Jakarta. Itu bukan kata Naziya. Namun, semua orang yang baru bertemu dengannya mengatakan itu. Bukan sekali atau dua kali tapi berkali-kali. Saat masih masih SMA, dia bahkan sudah ditawari menjadi seorang model. Namun, dia menolak karena akan fokus belajar dan menjadi dokter seperti cita-citanya.
Jadi, Zain berpaling karena masalah fisik, Naziya merasa itu bukanlah penyebabnya. Ataukah ada sikap Naziya yang Zain tak suka? Jika memang, kenapa dia tidak pernah bilang. Selama ini Naziya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya. Dia bahkan seringkali merelakan banyak hal untuk mengikuti kemauan suaminya.
Naziya menarik nafas panjang. Perasaannya tak menentu. Ia bahkan tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Berbagai rasa muncul dalam satu waktu yang membuat sesak dadanya. Seakan dia masih tidak percaya bahwa suaminya kini menghianatinya dan melanggar apa yang sudah diikrarkannya ketika menikah di depan orang tua Naziya. Semua rasanya sudah tak bisa lagi diperbaiki. Tinggal menunggu kehancuran rumah tangganya.
Naziya sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dia ingin segera pergi agar tak lebih lama melihat wajah suaminya dan lebih dari itu, dia tidak ingin terlibat pertengkaran dengan Zain yang akan menyebabkan dia kembali menjadi samsak. Berlama-lama dikamar bersama dengan Zain akan menyebabkan emosi Naziya menjadi semakin tidak stabii.
Sebelum pergi, Naziya menyiapkan segala keperluan Zain mulai dari pakaian dan pernak pernik yang akan dipakainya untuk bekerja. Coba lihat, kurang baik apa Naziya. Sudah di KDRT dan di selingkuhi, dia masih mau mengurus suaminya. Seandainya itu terjadi pada wanita lain, mungkin mereka sama sekali tidak akan peduli lagi pada suaminya.
Saat sedang menyiapkan pakaian suaminya, terlihat Zain menggeliat.
Zain mengusap wajahnya dan melirik jam yang berada di atas nakas. “Pagi, sayang,” sapanya kemudian lalu menghampiri dan mengecup kening istrinya.
Tindakan yang sebelumnya terasa manis, kini terasa menjijikkan. Naziya muak melihat tingkah mesra yang sedang dipertontonkan oleh suaminya yang ternyata semuanya palsu. Rasanya Naziya ingin memaki. Namun, berusaha ditahannya.
“Kamu akan berangkat jam segini?” tanya Zain setelah melihat secara sadar penampilan istrinya yang sudah rapi.
__ADS_1
“Aku ada jadwal operasi pagi. Pasiennya mendadak,” jawab Naziya. Dia harus menjaga suaranya tetap stabil di tengah gemuruh perasaannya yang sudah tak karuan akibat menahan emosi. Ia bergegas mengambil tasnya yang terletak dalam lemari.
“Apakah jadwalmu padat hari ini?” tanya Zain.
“Lumayan.”
“Apa saja?”
“Ada dua operasi hari ini, dan beberapa pasien yang akan konsul,” jelas Naziya. “Kalau kamu, apa kegiatanmu hari ini?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Naziya. Ini kali pertama dia menanyakan kegiatan suaminya. Selama ini dia selalu percaya pada suaminya. Bahwa suaminya sehari-hari pasti sibuk bekerja menangani kasus-kasus kliennya.
Sejenak Zain menatap istrinya. ada yang aneh. Naziya bertanya tentang kegiatannya sehari-hari bukanlah kebiasaan istrinya. “Hanya ada dua sidang hari ini,” jawabnya kemudian. “Tadinya aku mau ngajak kamu untuk makan siang, tapi berhubung jadwalmu padat, sepertinya lain kali saja.”
“Maafkan aku, sayang. Nanti malam ada jadwal makan malam dengan Pak Narji. Itu loh klienku yang anggota DPR yang pernah aku ceritakan padamu. Malam ini, aku baru bisa bertemu secara langsung dengannya semenjak kasus anaknya naik,” sahut Zain sambil membuka pakaiannya dan bersiap untuk mandi.
Setelah Zain tak terlihat wujudnya lagi, tiba-tiba Naziya teringat sesuatu. Sepertinya Zain pernah mengatakan alasan itu sekitar empat hari yang lalu. Ya, Naziya ingat, saat itu Naziya ingin menitip nasi goreng untuk dibelikan saat pulang. Namun Zain menolak dengan alasan sedang makan malam dengan kliennya yang bernama Pak Narji. Padahal tadi dia bilang baru pertama bertemu. Dasar laki-laki pembohong. Sekali berbohong, dia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Ia mengumpat.
Tak ingin berlama-lama, akhirnya Naziya pun beranjak. “Aku pergi dulu,” sahut Naziya di depan pintu kamar mandi. “Sampai nanti, Pak Pengacaraku sayang!” Kembali Naziya pamit dengan setengah berteriak. Dia sengaja menyindir suaminya. Kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun. Dia yakin Zain mendengar suaranya. Biarkan saja supaya dia tahu bahwa istrinya sudah mengetahui kalau dia punya selingkuhan. Biar dia mikir.
__ADS_1
Pintu kamar mandi yang tak tertutup rapat membuat suara Naziya terdengar begitu jelas di telinga Zain. Baru saja dia hendak menyalakan shower. Aktivitasnya terhenti akibat kalimat yang baru saja di dengarnya. Dengan tergesa, Zain keluar dengan hanya melilitkan handuk di badannya.
Sementara dengan langkah cepat Naziya langsung mengambil mobilnya. Tanpa peduli dengan Zain yang terus memanggilnya. Naziya melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah. Amarahnya kian membuncah. Ia meremas setir mobilnya. Dengan segenap tenaga, dia berusaha untuk menahan laju air matanya yang hendak terjatuh. Dia tidak ingin wajahnya terlihat sembab saat di rumah sakit.
Bunyi ponsel terdengar. Naziya merogoh tasnya. Hanya sekilas dia melihat ke arah benda pipih itu. Saat melihat tulisan ‘suamiku’ di layar panggilan, dia langsung mengabaikan. Beberapa kali Zain menelpon, namun terus diabaikan oleh Naziya. Hatinya masih terlalu sakit. Bayangan akan kehancuran rumah tangga mereka sudah menari-nari di kepalanya.
Sambil menyetir mobil, Naziya melihat-lihat kemungkinan ada café yang buka sekitar jam delapan. Dia ingin singgah sejenak untuk menenangkan diri sekaligus sarapan. Meski sedang tidak selera makan, dia harus tetap sarapan agar punya tenaga. Dia masih mempunyai tanggung jawab terhadap pasiennya. Bagaimana jika nanti pasien yang sedang dioperasinya kenapa-kenapa karena tiba-tiba Naziya pingsan karena belum makan sama sekali. Kan nggak lucu. Bisa hancur reputasinya sebagai dokter terbaik di rumah sakit. Cukuplah rumah tangganya yang sudah mendekati ambang kehancuran, masa masih mau ditambah lagi dengan karirnya. Sungguh sangat apes hidup Naziya jika memang itu sampai terjadi.
Hampir setengah jam Naziya berkeliling mencari café, akhirnya dia menemukan sebuah café yang baru saja buka. Naziya melirik jam tangannya. Waktu sudah hampir setengah Sembilan. Jam sepuluh nanti dia akan mulai menerima pasien untuk konsul. Sementara jam satu dia punya jadwal operasi.
Tadi pagi, dia sengaja membohongi Zain dengan mengatakan akan melakukan dua operasi hari ini. Itu hanya dilakukan untuk menghindari suaminya. Dia sungguh muak melihat wajah suaminya yang sok romantis. Memperlakukannya seperti ratu namun ternyata semua itu bohong.
Naziya langsung menghampiri café tersebut. Sunyi. Jelas, karena dia adalah pelanggan pertama. Seorang pramusaji langsung datang membawakan buku menu.
Naziya memilih nasi goreng ayam sebagai sarapan berpasangan dengan jeruk hangat. Sambil menunggu, Naziya mengambil ponselnya. Tujuh panggilan tak terjawab dari suaminya. Selain itu ada pesan di aplikasi whatsapp dari Zain.
Naziya tidak peduli. Melihat pesannya, mengingatkan Naziya pada pesan semalam. Ia mengeratkan kepalan tangannya. Giginya terdengar gemeretak. “Kurang ajar!” makinya dengan suara tertahan. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana harus mengekspresikan perasaannya yang terlalu terluka. Menangis saat ini bukanlah pilihan tepat bagi Naziya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, pesanannya sudah datang. “Silahkan, Bu.”
Naziya tersentak. Saking emosinya, dia sampai tidak sadar dengan kedatangan pelayan. Bahkan tak jauh dari mejanya sudah ada dua orang lelaki berseragam yang sedang duduk mengobrol sambil menunggu pesanan mereka. Dunianya teralihkan dengan semua ingatan tentang pengkhianatan suaminya.