
“Saya sudah yakin dengan keputusan saya dan saya tidak akan mengubahnya.” Naziya menjawab dengan penuh keyakinan setelah mediator perceraian mereka bertanya.
Hari ini adalah sidang mediasi pertama mereka setelah Naziya mendaftarkan kasus perceraiannya.
“Bagaimana dengan Pak Zain.” Sang mediator beralih bertanya pada Zain.
“Saya masih ingin mempertahankan rumah tangga saya. Saya yakin ini semua hanyalah kesalahpahaman istri saya. Saya yakin kami akan bisa bersama kembali.” Zain tetap kekeuh pada keinginan untuk tidak menceraikan Naziya.
Naziya menunduk. Jari jemarinya terkatup saling mencengkeram. Giginya saling menindih. Ia mendesah pelan. Berusaha mengontrol emosinya.
Hampir satu jam mereka berada dalam ruangan. Tak ada titik temu, mereka masing-masing mempertahankan apa yang menjadi keyakinan mereka.
“Aku merindukanmu, Sayang. Pulanglah dan kita mulai dari awal lagi semuanya,” bujuk Zain saat mereka keluar bersamaan.
Naziya tak menanggapi ucapan Zain. Ia terus berjalan menuju kearah Pak Restu-pengacaranya yang sedang menunggunya.
“Bagaimana?”
Naziya menghela nafas kasar, lalu menggeleng. “Kenapa dia keras kepala sih?” Naziya frustrasi. Ia sudah tidak sabar untuk berpisah dari lelaki itu.
“Sabar saja. Sidang akan tetap berlanjut meski dia kekeuh dengan dengan keputusannya. Cuma memang memakan waktu yang lebih lama.” Restu memberi nasehat. Ia sudah menganggap Naziya seperti anak sendiri. Selain sebagai pengacara, ia juga bersahabat dengan Hari-ayah Naziya.
Naziya mengangguk.
“Kamu nggak lapar?”
Naziya menggeleng. “Maaf, Om. Saya punya janji dengan teman di kafe dekat sini.”
__ADS_1
“Oh, ya sudah. Kalau begitu om duluan ya,” pamit Restu dan kemudian beranjak.
Naziya melirik jam tangannya. Waktu baru menunjukan pukul satu lewat dua puluh menit, masih ada waktu empat puluh menit. Ia janjian bertemu dengan Selly yang kebetulan sedang ke Jakarta. Dan mereka janjian di kafe dekat pengadilan karena Naziya bilang dia ada sidang mediasi hari ini. “Nggak apa-apalah menunggu saja disana,” gumamnya kemudian beranjak.
Saat hendak memasuki area parkir, ia melihat Alby. Ia berhenti sejenak, alisnya berkerut. “Alby ngapain disini?” Ia menggumam. Merasa aneh sekaligus bingung. Kenapa sepertinya ia selalu bertemu dengan laki-laki itu. Mulai dari rumah sakit, pantai, kampus dan sekarang pengadilan. Ia serasa diikuti meski dia tahu itu tidaklah benar.
“Loh, dokter Naziya.”
Naziya dikagetkan dengan Alby yang tiba-tiba sudah ada didepannya.
"Dokter ngapain disini?" Alby bertanya, namun sesaat kemudian memaki dirinya sendiri.
“Aku ada urusan sedikit.”
"Oh." Alby mengangguk mengerti. Ia sudah bisa menebak maksud keberadaan dokter spesialis kandungan itu di tempat ini. Naziya sudah banyak bercerita mengenai masalahnya saat dipantai beberapa waktu lalu, meskipun tidak secara detail. “Maaf, aku harus segera pergi.”
Naziya baru hendak bertanya kenapa Alby ada disitu, Alby sudah keburu pamit. “Oh, ya, silahkan.” Naziya memandangi punggung lelaki itu menebak-nebak kenapa dosen tampan itu berada di tempat ini. “Aish, aku kenapa jadi kepo begini?” Naziya tidak habis pikir. Ia memaki dirinya sendiri.
Naziya hendak membuka pintu mobil untuk turun, namun ekor matanya tak sengaja menangkap sesuatu. Ia kembali menegakkan tubuhnya memeriksa jika apa yang dilihatnya tidak salah. Dan benar. Ia melihat Zain dan Devina baru saja memasuki kafe yang akan ia masuki. Seketika keinginannya untuk masuk langsung menguap. “Zain memang brengsek.” Naziya menggeram. Meremas setir mobilnya. Padahal belum satu jam yang lalu Zain menyuruhnya kembali dan memulai semuanya dari awal. Dan mereka pun belum resmi bercerai. Tapi, coba lihat sekarang. Dia bahkan sudah terang-terangan membawa selingkuhannya itu.
Naziya menyandarkan kepalanya ke kursi kemudian membuang nafas pelan. Memang tidak mudah dan secepat itu untuk menghilangkan perasaan sayang kepada seseorang. Sekeras apapun itu, jika kamu masih mencintai dia, kamu masih akan selalu tersakiti saat melihat dia bersama orang lain. Naziya mengakui, dia masih mencintai pengacara kondang itu. Sebenci apapun Naziya padanya, ia tidak bisa membohongi perasaan terdalamnya. Namun, secinta apapun Naziya pada Zain, ia tidak ingin lagi bersamanya. Karena bersama lelaki itu hanya akan semakin membuatnya terluka.
Naziya merogoh ponsel dari tasnya, mengabari Selly untuk pindah tempat bertemu. Naziya menyebutkan sebuah nama kafe. Setelah menelpon, Naziya langsung bergegas. Sekitar setengah jam ia sudah sampai. Ia memilih kafe yang berada dalam mall karena cuaca diluar terlalu panas. Ia mengedarkan pandangannya mencari tempat yang cocok. Kafe ini adalah kafe yang mengusung nuansa alam. Meski berada di dalam mal, kafe ini dihiasi tanaman rambat yang menghias di sekitarnya. Sangat cocok jika ingin berfoto. Selain tanaman, di tengah-tengah kafe terdapat dekorasi air mancur mini yang membuatnya terlihat seperti taman. Naziya menuju meja dengan sofa berwarna biru muda di dekat air mancur.
Tak lama, datang seorang pelayan. “Selamat siang, Bu.” Pelayan itu tersenyum lalu menyerahkan daftar menu. “Silahkan.”
“Siang,” balas Naziya kemudian mengambil daftar menu. Ada berbagai macam menu dalam kafe ini, mulai dari menu indonesia hingga luar negeri. Ia melihat-lihat sebentar pada menu-menu yang tertera. Sebenarnya ia sudah pernah sekali kesini dulu saat masih bersama dengan Zain. Tapi jangan salah sangka. Ia kesini bukan karena merindukan lelaki itu. Ia memilih tempat ini karena ini yang pertama kali muncul tadi saat menelpon Selly.
__ADS_1
Naziya memilih masakan yang berasal dari Jepang. “Miso grilled salmon, Mba. Makanan penutupnya Chili beef cheese fries. Minumnya air mineral aja, ya." Setelah memesan, ia menyerahkan kembali buku menunya. Dulu, saat kesini ia memesan makanan indonesia, kali ini ia ingin mencoba yang lain.
“Baik, silahkan ditunggu pesanannya.”
Naziya mengangguk. Ia melirik jam tangannya setelah pelayan itu pergi. Sudah hampir pukul setengah tiga. Ia menunggu Selly sambil melihat-lihat sosmed. Lagu loneliness dari Putri Ariani terdengar mengalun lembut. Naziya terhanyut dalam liriknya yang dalam. Lagu itu seakan mewakili kisahnya.
You break my heart, break my hope
Make me so down in a loneliness
You left me when I deep
Thought you are my best scene
Being my prince, but I was wrong
Baby, you change a pink into the blue
Mata Naziya mulai berkaca-kaca saat memasuki reff lagu ini. Hatinya seperti diremas. Lagu itu seakan mengingatkan bagaimana Zain menghancurkan hatinya, menghancurkan harapannya.
Lagu terus berlanjut. Namun, saat reff kedua, Naziya sudah tak mampu menahan laju air matanya. Ia menunduk, menyeka bulir-bulir yang jatuh tak tahu tempat. Ponselnya berdering. Ia mengangkat sedikit wajahnya melihat ke arah ponsel. Nama Selly terpampang pada layar. Ia menjawab panggilannya dan sesaat melihat kedepan. Naziya mengangkat tangannya ke arah Selly yang sedang berdiri mencari-cari keberadaannya.
“Oh My God, Zi.” Selly langsung menghambur memeluk sahabatnya. Ia turut merasakan apa yang dirasakannya oleh sahabatnya itu. Naziya sudah bercerita pada Selly tentang masalahnya. “Are you, ok?” Selly bertanya setelah mengurai pelukannya.
Naziya berusaha tersenyum, namun matanya tak bisa bohong. Ia kembali duduk di tempatnya. Sementara Selly duduk di sofa depannya.
“Seharusnya tadi kamu memesan tempat yang lebih private. Supaya kamu bisa mengeluarkan semuanya beban dihatimu.”
__ADS_1
Pelayan datang, membawakan pesanan Naziya. Hanya selang beberapa detik, seorang pelayan datang lagi menyapa Selly kemudian memberikan daftar menu.
Selly menerimanya dan melihat-lihat sebentar. “Classic caesar salad, minumnya lime citrus soda.” Selly menyerahkan kembali buku menu. Ia memilih makanan yang lebih ringan. Setelah pelayan berlalu, ia berdiri dan kemudian duduk disamping Naziya. “Kamu makan dulu, ya. Nanti baru kita cerita.”