
Angin sepoi-sepoi berhembus membelai rambut Naziya yang tergerai indah. Suara gemericik air yang mengalir dari kolam buatan terdengar menyejukkan di telinga. Naziya duduk termenung sendiri di bangku yang terletak di pinggir taman rumah sakit. Tempat itu memang menjadi salah satu tempat yang dapat menghadirkan ketenangan tersendiri bagi Naziya di tengah hiruk pikuk kegiatan rumah sakit. Ketenangan yang dibutuhkan oleh Naziya sebelum melakukan operasi satu jam ke depan.
Naziya memandang aliran air dengan tatapan kosong. Kejadian tadi pagi masih terus berputar dalam kepalanya. Kekerasan kali ini adalah kekerasan fisik yang didapatkan Naziya dari suaminya untuk kedua kalinya. Perlakuan yang lebih kasar dari sebelumnya. Berbagai rasa berkecamuk dalam dada Naziya, rasa yang sulit untuk diartikan olehnya.
Kejadian ini sungguh mengusik hidup Naziya. Di tengah kesempurnaan kehidupan yang dimiliki olehnya-setidaknya itu menurutnya sebelum kejadian itu dan menurut orang-orang yang melihat mereka, ternyata ada cacat di dalamnya. Cacat yang membuat harga dirinya terjatuh sejatuh-jatuhnya.
Memang siapapun yang melihat kehidupan Naziya akan sangat iri. Sama sekali tak ada cela. Keluarga harmonis. Karir bagus. Harta berlimpah. Prestasi cemerlang. Orang pasti tak akan menyangka jika suami Naziya yang terlihat sangat tulus dan menyayangi Naziya akan melakukan tindak kekerasan.
Perlakuan Zain sungguh menjadi tamparan keras buat Naziya. Ia ingin bercerita pada seseorang, namun jika dilakukannya, itu sama saja mempertontonkan keburukannya. Menampik segala kesempurnaan yang selama ini menjadi gambaran hidupnya. Naziya merasa bahwa penilaian orang lain akan menjadi buruk. Dan hal ini sangat tidak disukai oleh Naziya. Bagaimana mungkin dia sanggup mendengar orang-orang yang dahulu sering memujinya kemudian mencibirnya. Membayangkan saja sudah sangat mengerikan.
Naziya meneguk air minum yang dibawanya. Ia lalu membuka ponselnya. Mencari-cari berita tentang KDRT. Matanya langsung tertuju pada sebuah berita yang baru rilis sekitar beberapa hari lalu. ‘Seorang istri tewas dianiaya oleh suaminya sendiri’. Judul itu seketika langsung membuat jantung Naziya seakan berhenti berdetak. Gejolak emosi kembali memenuhi nalarnya. Pikirannya menjadi tak menentu.
“Dokter Naziya.” Sebuah panggilan menyentak lamunannya.
“Ternyata dokter disini. Saya tadi mencari dokter kemana-mana,” ucap Meti, salah satu perawat yang biasa membantunya. “Saya hanya mengingatkan, setengah jam lagi ada operasi.”
Naziya melirik jam tangannya. Waktu menunjukan pukul setengah sebelas. Tak terasa dia sudah berada di sini selama setengah jam. “Ok," jawab Naziya pendek.
Meti sejenak memandang dokter panutannya itu. Ada yang berbeda dari hari biasanya. Dokter Naziya yang terkenal ramah dan selalu ceria kini terlihat muram. “Dokter lagi sakit, ya?” tanya Meti penasaran. Bukan berniat kepo, dia hanya ingin mengetahui kondisi dokter kesayangannya.
“Saya tidak apa-apa. Kamu duluan saja saya akan menyusul,” pinta Naziya.
“Baik, dok.” Baru saja mau beranjak, Meti tak sengaja melihat pergelangan tangan Naziya yang lebam. “Maaf, dok, tangan dokter kenapa?” tanya Meti lagi. Dia memang terkenal agak sedikit cerewet.
Naziya terkejut. Dia langsung melihat tangannya. Lebam itu jelas adalah bekas kekerasan Zain. Dia memang tidak terlalu memperhatikannya tadi.
Naziya menghembuskan nafas. “Tadi aku terpeleset di kamar mandi dan tanganku membentur bath–up. Tidak menyangka saja kalau separah ini, karena tidak terasa sakitnya,” jelas Naziya bohong.
“Aduh, hati-hati dok. Untung bukan kepala yang kena, hehehe,” ucap Meti sambil terkekeh. “Jangan lupa diobati dok.”
Naziya mengangguk sambil tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.
__ADS_1
“Kalau begitu saya duluan ya, dok,” pamit Meti.
“Ok.”
Sepeninggal Meti, pandangan Naziya kembali beralih pada air yang mengalir. Sesaat kemudian dia menarik nafas dalam-dalam. Meski hatinya sedang rapuh saat ini, dia tidak boleh melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter. Ia kembali menarik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali lalu memperbaiki jubah kebanggaannya. Dengan penuh percaya diri, Naziya berjalan seperti tidak ada yang terjadi. Dia harus menampakkan diri seperti sebagaimana dirinya biasanya yang selalu ramah dan ceria.
Naziya langsung menuju ke ruangannya dan mempersiapkan segala sesuatunya. Setelah itu dia langsung keluar. “Sudah siap semuanya?” tanya Naziya pada kedua perawat yang selalu menemaninya.
“Siap, dok,” jawab mereka serentak.
Tak lama kemudian muncul dokter Henny yang merupakan dokter anestesi pasangan dokter Naziya. Mereka kemudian menuju ruang operasi.
Hampir satu jam, akhirnya operasi selesai dan semuanya berjalan dengan lancar.
“Ren, ke kantin yuk, aku udah lapar banget,” ajak Meti pada Reni saat sedang berjalan ke ruangan mereka. “Dokter Naziya sama dokter Henny mau makan siang nggak” Meti bertanya.
“Ayo,” dokter Henny langsung mengiyakan.
“Yah, aku tahu pasti dokter lagi menunggu pak Zain untuk makan siang, kan? Nggak mau kami mengganggu. Duh, jangan terlalu mesra dong, dok. Kasihanilah kami yang jomblo ini kalau terus-terusan melihat keromantisan,” goda Meti yang langsung disambut tawa oleh Reni dan dokter Henny.
Naziya pun ikut tergelak, tapi hatinya terasa perih. “Met, Met, kamu ini ada-ada saja. Cepatlah pergi, kasihan Reni udah kelaparan tuh,” ucap Naziya sambil bibirnya mengarah ke Reni. Tanpa ada yang tahu, itu adalah caranya mengalihkan rasa teriris yang tiba-tiba muncul.
“Ok, selamat bermesraan ya, dok,” goda Meti sebelum berlari menjauh diikuti oleh Reni dan dokter Henny.
Naziya memandang ketiga rekannya itu dengan hati yang tersayat-sayat. Bagaimana kira-kira reaksi mereka saat tahu yang terjadi sebenarnya. Keharmonisan yang tampak dipermukaan hanyalah kedok untuk menutupi sesuatu yang buruk. Naziya meremas dadanya yang terasa sesak. Ternyata semenyakitkan ini berpura-pura bahagia.
Naziya memilih untuk kembali ke ruangannya. Dia lalu mengambil ponselnya, membuka sebuah aplikasi percakapan. Lalu mencari sebuah nama. Dia mengklik nama tersebut sehingga terbuka ruang percakapan. Sejenak dia terdiam. Terlihat dia ragu. Lalu beberapa saat kemudian dia mulai mengetik, namun sesaat lagi dia menghapusnya. Hal itu dilakukannya hingga tiga kali. Dan akhirnya dia memutuskan untuk tidak menghubungi temannya.
Tadi Naziya sempat berpikir untuk menghubungi teman SMAnya yang tinggal di Surabaya. Selly, namanya. Mereka sudah bersahabat sejak masih SMA dan sampai sekarang. Jika ada masalah, Selly-lah tempat Naziya curhat. Namun kali ini dia merasa tidak harus terburu-buru. Siapa tahu suaminya akan berubah.
Ya, Naziya masih berharap suaminya berubah dan mereka bisa kembali hidup seperti sebelumnya. Dia masih yakin Zain akan berubah apalagi ada Naya diantara mereka. Dia akan memberikan Zain kesempatan sekali lagi, dan jika Zain masih melakukannya, maka dia sendiri yang akan meninggalkan laki-laki itu.
__ADS_1
Memikirkan itu kembali hati Naziya mencelos. Memikirkan kata meninggalkan saja rasanya ia tidak sanggup. Lima tahun bukanlah waktu yang mudah untuk Naziya lupakan begitu saja. Naziya tak bisa membayangkan hidup tanpa Zain dan memikirkan Naya tanpa ayahnya.
Bukan masalah materi. Toh hidup mereka sudah sangat berkecukupan. Sekalipun nantinya Naziya pulang ke orang tuanya, dia tetap akan bisa memenuhi kebutuhannya dengan Naya. Namun kasih sayang dan cinta. Naya baru dua tahun. Masih terlalu kecil untuk kehilangan kasih sayang ayahnya.
Naziya membuang nafas berat. Keadaannya sungguh sangat membuat hati gundah. Disatu sisi dia ingin bertahan. Namun, bila mengingat kelakuan Zain padanya, hati rasanya berontak ingin bebas.
Naziya mengangkat kepalanya sedikit. Menyesap nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali dan membuangnya. Hal ini selalu dilakukannya untuk sedikit menenangkan hati dikala gundah.
*****
“Dokter Naziya?” Alby memanggil ragu. Takut salah.
Yang dipanggil langsung menoleh. Rencana yang tadinya hendak membuka pintu mobil terjeda sejenak. Ia memandang lelaki tampan yang berada di hadapannya, berusaha memindai wajahnya. Keningnya berkerut.
“Saya Alby, Dok.” Alby berusaha menjawab keheranan Naziya. “Saya suami salah satu pasien yang beberapa bulan lalu sempat dokter operasi. Yang pasiennya jatuh dari tangga.” Alby berusaha mengingatkan.
“Oh, ya. Saya ingat.” Naziya berseru setelah beberapa saat. Ia ingat ada salah satu pasiennya yang mendadak operasi karena jatuh dari tangga. Namun, untungnya pasien dan anaknya itu tidak mengalami keadaan yang parah.
“Bagaimana kabar istri dan anak bapak?” Naziya bertanya.
Wajah Alby tiba-tiba menjadi muram.
“Maaf, jika saya salah bicara.” Naziya menyadari ekspresi Alby.
“Anak saya baru saja mengalami kecelakaan, jatuh dari tempat tidur dan sekarang sedang dirawat di sini.”
“Oh, saya ikut berduka. Semoga anak bapak segera pulih.” Naziya mendoakan tulus.
“Terima kasih, dokter. Maaf sudah mengganggu waktu dokter.” Alby menyadari jika ia sudah menahan dokter itu untuk pulang. “Silahkan lanjutkan perjalanannya, dok. Semoga selamat sampai tujuan.”
Naziya tersenyum. “Terima kasih, kalau begitu saya duluan. Sampaikan salam saya pada istri bapak dan semoga anak bapak segera sembuh.” Naziya kembali mendoakan lalu membuka pintu mobilnya yang sempat terjeda tadi. Sebelum berangkat, ia membunyikan klakson.
__ADS_1
Setelah Naziya berlalu, Alby segera memasuki mobil. Ia akan kembali ke rumah, berganti pakaian, mengambil apa saja yang diperlukan lalu kemudian kembali ke rumah sakit.