Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 15


__ADS_3

“Ma, bagaimana ini? aku nggak mau cerai dari Alby, aku nggak mau jadi janda.” Rima merengek pada ibunya.


“Itu semua gara-gara kamu. Kenapa juga Rimba bisa jatuh dari tempat tidur. Kalau kamu bisa memperhatikan Rimba lebih baik, semua hal ini tak akan pernah terjadi.” Riska kesal. Ia menyalahkan anaknya.


“Kok mama malah nyalahin aku? Ini semua salah mama. Kenapa juga waktu itu mama nyuruh aku nikah sama Alby sampe harus pura-pura sakit.” Rima tak mau disalahkan.


“Memangnya kamu pikir lelaki brengsek itu akan menikahimu? Kamu seharusnya bersyukur karena Alby mau menikahimu waktu itu. Tapi sekarang kamu malah membuat hal bodoh.” Riska menatap tajam pada putrinya.


“Ok, ok. Terserah mama saja. Tapi bagaimana sekarang, Alby mau menceraikan aku, Ma.” Rima kembali pada masalah utama. Berdebat dengan ibunya memang tak akan ada habisnya. Wanita paruh baya itu memang keras kepala. Tak mau mengalah walau pada anaknya sekalipun. Itulah mungkin ayahnya meninggal lebih cepat karena stress menghadapi istrinya.


Riska membuang nafas kasar. Diam berpikir. Suara lamat-lamat orang berbincang dari luar ruang kerjanya terdengar. Ia sedang berada di butiknya.


Rima hanya diam, memperhatikan wajah ibunya yang tampak serius. Menunggu jawaban.


“Kita harus bicara pada orang tuanya. Alby pasti mau jika orang tuanya yang meminta.” Riska memberi saran setelah beberapa menit berpikir. Ia tidak mendapat cara lain.


“Tapi bagaimana jika Alby bilang yang sebenarnya pada mereka? Mereka pasti akan membenci kita, Ma.”


“Benar juga. Kamu sih. Jadi anak kok bodoh banget.” Riska kesal. Ia membuang nafas kasar. Ia mulai putus asa. Sepertinya tak ada cara untuk menghentikan keinginan menantunya itu. “Ah, Mama punya ide!” Tiba-tiba Riska berseru.


Mata Rima berbinar. “Apa, Ma?” tanyanya penasaran. Refleks ia memajukan sedikit badannya.


“Kamu pura-pura hamil saja. Aku yakin Alby tidak mungkin menceraikanmu jika sedang hamil.” Riska tersenyum, berpikir itu adalah ide brilian.


Bahu Rima langsung merosot. Membuang nafas putus asa. “Ma, kita sudah pernah membohonginya. Alby tak akan mungkin percaya begitu saja. Bagaimana kalau dia suruh aku periksa ke dokter?” Rima tak sependapat dengan ibunya. Kebohongan yang pertama saja sudah membuatnya frustasi. Bagaimana jika berbohong lagi dan ketahuan. Rima tak tahu lagi bagaimana Alby akan membencinya. Sejujurnya ia mulai mencintai lelaki itu.


“Itu mah gampang. Dulu usia hamil mu saja bisa dimanipulasi. Kita hubungi lagi dokter gadungan itu.”


Rima mendelik kesal. “Aku nggak mau, Ma.”

__ADS_1


“Kalau begitu biarkan saja Alby menceraikanmu.” Riska memandang putrinya jengkel. “Sudahlah, sekarang kamu pulang. Mama mau bertemu dengan pelanggan.” Riska berdiri menuju pintu.


“Ma,” panggil Rima lemah.


Riska tak peduli. Ia kesal. Putrinya tidak mau mendengarkannya.


Rima bersandar di sofa, membuang nafas kasar, lalu menengadah ke langit-langit ruangan. Suara ibunya yang sedang berbicara dengan pelanggan terdengar sayup-sayup di telinganya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan sofa. Pikirannya berkelana. Dalam sekejap, ia dilanda dilema. Ia bingung bagaimana harus menyelesaikan semuanya. Ia benar-benar tak ingin Alby meninggalkannya. Ia membutuhkan lelaki itu untuk mengisi hari-harinya. Ia menundukkan kepala, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepalanya sedikit pening.


Ia datang pada ibunya untuk meminta saran, namun malah membuatnya semakin pusing. Apa ia harus merelakan lelaki itu pergi dari hidupnya? Oh tidak. Rima tak bisa membayangkan bagaimana jika hidup tanpa lelaki itu. Bagaimana dengan Rimba yang membutuhkan sosok ayah. Alby memang bukan ayah kandungnya, tapi ia sangat menyayangi anak itu. Ya, tapi itu sebelum ia mengetahui yang sebenarnya. Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa Alby masih menyayangi Rimba seperti dulu? Ah. Rima tak mau tahu. Ia hanya ingin Alby berada disampingnya selamanya.


Rima bangkit dari sofa, beranjak menuju pintu. Berlama-lama dalam ruangan ibunya hanya membuatnya semakin sakit kepala. Ia keluar menghampiri ibunya yang sedang berbicara dengan seorang wanita muda. “Ma, aku pulang,” pamitnya.


Riska melirik putrinya, lalu kembali pada wanita itu dan tersenyum. “Sebentar, ya.” Ia menarik tangan putrinya, sedikit menjauh dari wanita muda itu. “Kamu sudah memikirkan apa yang mama bilang?”


Rima membuang nafas. “Nanti aku pikirkan, Ma. Aku capek. Aku mau pulang.”


Riska mendelik kesal. “Kamu itu, ya. Terserah kamu sajalah. Mama juga capek.” Riska putus asa, lalu meninggalkan Rima begitu saja. Kembali pada wanita tadi.


******


“Analisis dan strategi bisnis adalah pendekatan yang digunakan oleh perusahaan untuk memahami dan merencanakan langkah-langkah yang diperlukan guna mencapai tujuan bisnis mereka. Ini melibatkan mengumpulkan informasi, mengevaluasi situasi internal dan eksternal perusahaan, serta merancang rencana tindakan yang tepat. Secara umum, ada enam tahapan umum dalam analisis dan strategi bisnis …”


“Interupsi, Pak.”


Alby menoleh ke sumber suara. Ia melihat Vita mengangkat tangannya.


“Emm, maaf, Pak. Bukan enam tapi tujuh.” Vita mengoreksi.


Alby menoleh pada slide. “Oh, ya. Maksud saya tujuh.” Alby mendesah pelan. Sungguh, masalah yang sedang dihadapinya saat ini membuat ia tidak bisa konsentrasi. Ia kemudian melanjutkan pelajarannya.

__ADS_1


“Kayaknya Pak Alby sedang ada masalah, deh.” Dewi salah satu mahasiswa sekaligus pengagum Alby membuka suara setelah dosen itu berlalu.


Ketiga temannya, Vita, Ani dan Dina mengangguk menyetujui.


“Tapi kira-kira masalah apa, ya? Aku yakin bukan masalah kampus.” Ani mengutarakan pendapat. Jiwa-jiwa keponya mulai bangkit.


“Kalo bukan masalah kampus, kemungkinan masalah keluarga.” Dina menimpali.


Sementara Vita hanya diam saja. Namun, pikirannya berkeliaran. Dari awal ia sudah menduga dosen favoritnya itu sedang punya masalah. Wajahnya tak seperti biasa yang selalu terlihat datar dan dingin. Tadi wajahnya terlihat lebih capek.


“Bagaimana menurut lo, Vit.” Dewi bertanya karena melihat Vita hanya diam.


Vita hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Yang mana? Masalah kampus atau masalah keluarga?” Dewi memperjelas.


“Kayaknya masalah keluarga, deh.” Vita yang sebenarnya bukan orang yang terlalu kepo, tiba-tiba nyeletuk. Kalau berkaitan dengan dosen favoritnya itu, memang Vita tak bisa diam.


Dewi, Ani dan Dina kembali menyetujui. Mereka berempat kemudian berembuk, seperti para wakil rakyat yang sedang membahas masalah rakyatnya. Namun, ini bukan masalah rakyat, ini masalah dosen yang mereka kagumi. Mereka membahas kemungkinan masalah keluarga apa yang sedang dialami oleh dosen tampan dan dingin itu. Apakah dengan orang tuanya ataukah istrinya? Astaga! Mereka serius sekali. Saking seriusnya, mereka bahkan tak merasa lapar. Mereka melupakan kantin yang selalu menjadi tempat istirahat kala selesai menerima mata kuliah.


*****


Alby duduk bersandar di kursinya. Mendesah pelan, mengurut pelipis. Stress memikirkan masalahnya. Sudah dua hari ia tidak pulang ke rumah. Ia sementara tinggal di apartemennya yang ia tempati saat belum menikah. Ia masih bingung bagaimana menyampaikan ini pada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Pasti ibunya akan menolak keras keputusannya. Ibunya sangat menyayangi Rima, apalagi ibunya dan ibu mertuanya sudah berteman sejak lama. Apalagi pernikahan mereka baru seumur jagung. Ia tidak mungkin mengatakan masalah yang sebenarnya. Ia tidak ingin ibunya membenci mereka. Ah. Sungguh mulia hatimu, Alby. Sudah dikhianati seperti itu, masih saja memikirkan anak dan ibu yang tak tahu diri itu. Alby mendengus mendengar pikirannya sendiri.


Kembali ia mendesah. Lalu terdengar ketukan pintu. Tak lama wajah Randy-teman sejawatnya muncul dari balik pintu. “Nggak makan siang?” Randy bertanya tanpa masuk.


“Ok. Sebentar.” Alby mengiyakan. Daripada tinggal di ruangannya juga membuat ia pusing.


“Ok. Aku tunggu.” Randy menarik kepalanya dan menutup pintu.

__ADS_1


Alby merapikan beberapa berkas yang berantakan, lalu mengambil ponsel yang berada di atas meja kemudian beranjak keluar.


__ADS_2