
Pukul delapan lewat lima pagi rombongan keluarga Naziya sampai di pantai.
Vita turun dari mobil dan langsung berlari ke arah pantai dengan penuh semangat seperti anak kecil yang menemukan surga di dunia nyata. Langkahnya yang riang menghentak-hentak di atas pasir putih yang lembut, seraya menghirup udara segar yang bertiup perlahan. Wajahnya dipenuhi senyuman yang ceria, memancarkan kegembiraan yang tak terbendung.
Naya yang juga ikut bersamanya melompat-lompat girang. Onti, onti, nanti kita mandi air laut ya.” Naya berbicara khas anak-anak, mengajak Vita. Wajahnya yang gembul terlihat lucu.
Vita mengangguk antusias. Sudah lama sekali rasanya ia tidak pernah liburan bersama keluarganya. Selama ini ia biasa liburan, tetapi bersama teman-temannya. Kesibukan masing-masing anggota keluarganya menjadi alasan. Meskipun sempat sedih, ia juga bersyukur karena kakaknya bercerai dari lelaki brengsek itu. Selain kakaknya bisa lepas dari penghianat, mereka bisa punya waktu untuk bersama. Dulu, sejak kakaknya menikah, sangat susah untuk berkumpul karena waktu kakaknya hanya dihabiskan untuk keluarganya dan pekerjaannya.
Naziya, Hari dan Harti hanya tersenyum melihat kelakuan Vita. Mereka kemudian masuk ke dalam penginapan berbentuk rumah panggung yang mereka sewa. Rumah itu langsung berhadapan dengan pantai. Sarwo mengangkat barang-barang di bantu oleh Hari.
“Mama, mama, ayo kesana,” ajak Naya tak sabar sambil menunjuk ke arah lautan.
“Sebentar ya, sayang. Naya main dulu sama onti, ya.” Naziya sedang duduk di tangga penginapan saat Naya datang. Ia masih ingin duduk disitu sedikit lebih lama.
Naya menurut dan langsung berlari ke arah Vita yang sedang bermain pasir. Di belakang Bi Rita-pengasuhnya juga ikut berlari mengikuti anak asuhannya. Takut jika dia terjatuh.
“Kamu nggak kesana?” Harti bertanya, bersiap untuk bergabung dengan anak dan cucunya.
“Sebentar ma,” balas Naziya.
“Ya udah, mama sama papa kesana dulu, ya.”
Naziya mengangguk.
“Ayo, Pa.” Hari dan Harti beranjak meninggalkan Naziya sendirian.
Naziya menghembuskan nafas pelan. Menengadah ke langit biru yang terang disinari mentari pagi yang hangat. Ia memejamkan matanya merasakan kehangatan itu menyentuh kulitnya, seolah-olah pelukan dari alam semesta yang menenangkan. Ia kemudian melepas sepatunya, lalu menjejalkan kakinya di atas pasir. Seketika ia merasakan sensasi kenikmatan saat pasir menyapu telapak kakinya yang terbuka. Ia kemudian beranjak untuk bergabung bersama keluarganya.
Mereka bermain-main pasir. Tawa mereka bergemuruh di tengah hiruk pikuk orang-orang yang juga sedang menikmati pantai. Sejenak Naziya melupakan masalahnya.
“Aku mau mandi,” ucap Vita sambil membersihkan pasir yang bertumpuk di badannya.
“Naya mau ikut Onti,” celetuk Naya.
“Mama sama Papa juga mau mandi,” Harti menimpali.
Hanya Naziya yang tidak bersuara. Mereka semua langsung bergegas ke lautan.
Naziya memandang mereka dengan senyuman. Ia bersyukur, di saat seperti ini, ia mempunyai keluarga yang selalu berada disisinya. Naziya menengok ke sebelah kirinya karena mendengar suara anak kecil. Seorang perempuan yang mungkin seumuran dengannya sedang bersama seorang laki-laki yang Naziya tebak adalah suaminya. Mereka bersama seorang anak yang berusia sekitar tiga tahun. Sang anak sedang berlari dikejar ayahnya lalu disambut oleh ibunya. Mereka tertawa-tawa, terlihat sangat bahagia. Tiba-tiba hati Naziya mencelos. Ia kembali teringat pada masa-masa saat ia bersama dengan Zain. Naziya mendesah.
Naziya menatap ke arah lautan luas. Di kejauhan, terlihat garis-horison yang terbentang luas, memisahkan antara lautan biru yang dalam dan langit yang cerah. Namun, pandangan Naziya terlihat samar dan tidak fokus. Suara angin berhembus lembut menggerai rambutnya yang terurai, tetapi tidak mampu meniup keceriaan ke dalam hatinya yang gelap.
__ADS_1
“Ayo, Ma. ayo.”
Naziya dikagetkan dengan Naya yang sudah berada di depannya dan sedang menarik-narik tangannya.
“Ayo, kak.” Vita berteriak mengajaknya sambil tangannya melambai-lambai.
Ayah dan ibunya juga sedang berendam sambil melihat ke arahnya.
Sejujurnya Naziya malas, namun ia tidak mau mengecewakan mereka. Mereka sudah jauh-jauh kesini.
“Iya, iya.” Akhirnya Naziya menyerah juga. Ia mengikuti Naya yang terus menariknya.
Mereka baru istirahat setelah satu jam lebih berendam di lautan. Mungkin jika Harti tidak bilang jika ia sudah lapar, mereka mungkin masih terus berada di sana. Setelah mandi dan bersih-bersih, mereka menikmati makanan yang memang mereka siapkan dari rumah. Suasana begitu terlihat membahagiakan.
*******
Naziya berjalan sendirian di pantai yang indah, terhempas oleh ombak yang bergulung dengan lembut ke tepi pasir. Tadi ia pamit untuk berjalan-jalan sendirian. Wajahnya tampak penuh pikiran, seolah terjebak dalam kepungan kegalauan yang berkecamuk di dalam hatinya. Meskipun suasana pantai penuh dengan keceriaan dan riuh rendah, Naziya masih tetap terlihat tenggelam dalam lautan pikiran yang menghimpitnya.
Saat Naziya melangkahkan kakinya di sepanjang pantai yang berpasir putih, ia merasakan sentuhan lembut deburan ombak yang menyentuh kulitnya. Tetapi, tidak ada senyuman yang terukir di bibirnya. Hanya kekosongan dan kebingungan yang terpancar dari matanya yang sayu.
Saat matahari perlahan terbenam di cakrawala, memancarkan warna jingga yang indah, Naziya memandangnya tanpa ekspresi. Cahaya senja yang memancar terlihat menghiasi wajahnya yang murung. Hatinya masih terbungkus dalam kegelapan yang tak terpecahkan. Keberadaan keluarganya hanya mengobati lukanya sesaat. Dan setelah itu semuanya kembali lagi.
Naziya duduk di pinggir pantai, menggenggam pasir di tangannya dan membiarkannya perlahan berjatuhan kembali ke tanah. Ia merenung dalam ketenangan yang penuh tanda tanya, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya.
Meskipun berada di pantai yang begitu indah, Naziya tidak mampu melupakan kegalauannya. Ia terus berjuang mencari jawaban dan kedamaian yang selama ini hilang. Hanya waktu yang akan membawa Naziya menjauh dari lautan kegelapan ini, memberinya kesempatan untuk berlayar menuju pulau kebahagiaan yang telah lama ia rindukan.
Di tengah pikirannya yang sedang berkecamuk, sebuah suara mengagetkannya. Suara yang secara tidak sadar sudah ia hapal karena beberapa kali mendengarnya. Ia menengok ke arah sumber suara. Matanya langsung bersiborok dengan mata Alby. Ia ingin katakan kenapa lelaki ini selalu hadir saat ia sedang sendiri. Namun, urung. Ia hanya tersenyum. Senyum yang coba dipaksakannya.
“Saya tidak sedang mengikuti dokter.” Kelakar Alby. Ia melihat wajah wanita itu sedang muram. Ia lalu duduk di samping Naziya. “Saya sedang liburan dengan staf kampus. Alby menjelaskan kenapa ia berada di pantai itu tanpa ditanya. "Dokter kesini sendiri?” Ia bertanya.
“Nggak. Aku sama keluargaku.”
“Oh. Nginap dimana?"
Naziya menengok dan menunjuk sebuah rumah panggung yang berada sekitar dua ratus meter dari tempat mereka duduk. Tampak samar ibu dan ayahnya sedang mengobrol di teras penginapan.
“Nggak jauh dong.” Alby lalu menunjuk penginapan mereka yang berjarak hanya satu rumah dari penginapan Naziya. Tampak disana terdapat beberapa orang yang sedang mengobrol sambil tertawa.
Naziya hanya menanggapinya dengan membentuk huruf O di mulutnya.
Hening. Hanya terdengar suara ombak yang memukul lembut.
__ADS_1
Merasa tak ada lagi balasan, Alby mengarahkan panfangannya pada lautan yang terbentang luas. "Pemandangan laut malam ini benar-benar indah, ya. Suasana di sini begitu menenangkan." Alby membuka percakapan setelah beberapa saat.
Tak ada respon.
"Coba dokter lihat ombak yang menghantam pantai dan langit yang dipenuhi bintang." Alby kembali berbicara meski tak mendapat respon. "Semuanya terasa begitu magis. Aku suka bagaimana warna langit berpadu dengan cahaya dari lampu-lampu pantai."
Tanpa sadar, Naziya menengadah ke atas. Menatap langit yang dipenuhi dengan kerlap kerlip bintang seperti yang diucapkan Alby.
Alby tersenyum tipis. Memandangi wajah Naziya dari samping. Terlihat tetap cantik meski dengan pencahayaan kurang. Tanpa sadar, sejenak ia terpesona. Ia terus memandangi wajah itu hingga tersadar sendiri atas apa yang sudah dilakukannya. Ia mengalihkan lagi pandangannya pada lautan.
Naziya masih belum bersuara. Pandangannya sudah turun dan kembali pada lautan di depan mereka.
Alby mendesah, tak melanjutkan upayanya untuk bercerita. Mungkin Naziya memang sedang tak ingin bercerita. Selain itu juga, ia takut membuat wanita itu tidak nyaman. Ia kemudian menatap lurus ke lautan. Namun, ekor matanya sesekali mencuri pandang pada wanita yang sering ditemuinya itu secara tak sengaja. Ia melihat Naziya menyatukan dan menggosok-gosokkan tangannya. Tanda dokter spesilais kandungan itu merasa kedinginan. Ia hendak membuka jaketnya untuk menutupi tubuh Naziya. Namun, sebuah suara membuatnya terhenti.
"Kak."
Mereka berdua langsung menengok ke asal suara. Vita yang berjarak sekitar sepuluh meter berjalan ke arah mereka.
"Loh, Pak Alby?" Vita mengerutkan keningnya. Bertanya-tanya kenapa dosennya itu ada di pantai dan sedang berbicara dengan kakaknya. Sesaat ia menjadi gugup. Ia tidak pernah bertemu Alby dalam keadaan sesantai ini. Apalagi wajah Alby terlihat lebih tenang, tak seperti saat di kampus.
Alby tak kalah terkejut. "Kalian bersaudara?" Ia baru tahu kalau VIta dan Naziya bersaudara. Pasalnya, beberapa waktu lalu saat Alby bilang dia mengajar di fakultas manajemen dan bisnis, Naziya sama sekali tidak menyinggung tentang adiknya.
Vita mengangguk. "Dia kakakku. "Kalian saling kenal?" Vita melirik, bertanya pada kakaknya. Ia tidak berani melirik pada Alby.
"Istrinya pernah jadi pasien kakak."
"Oh."
Alby hendak bertanya mengenai kenapa Naziya tidak pernah bilang kalau Vita adalah adiknya, namun urung. Dia yakin Naziya punya alasan. Lagian juga tidak penting dan harus Naziya mengatakan itu padanya. Mereka hanya kebetulan kenal. Alby menyadarkan dirinya.
"Ada apa?" Naziya bertanya kemudian.
"Makan malam udah siap," jawab Vita. "Pak, sekalian makan malam bersama kami." Vita menawarkan. Ia memberanikankan diri melirik pada sang dosen favoritnya.
"Terima kasih. Saya akan makan malam dengan rombongan." Alby menolak dengan halus.
"Oh." Sejujurnya mulut Vita ingin sekali bertanya lebih banyak. Rombongan? Pak Alby dengan siapa datang kesini? Namun, ia harus menahannya. Ia tidak mau bersikap tidak sopan pada lelaki itu.
"Silahkan. Saya juga harus kembali ke penginapan." Alby mempersilakan. Ia tidak mau mengganggu acara makan malam keluarga Naziya.
"Kami duluan, Pak." Vita pamit disertai dengan senyuman manis. Senyum yang ingin sekali ia sunggingkan pada lelaki itu, namun tak pernah berani. Dan kali ini mungkin adalah kesempatan satun-satunya.
__ADS_1
Alby senyum tipis. Terpaksa.
Sementara Naziya hanya mengangguk. Lalu berlalu bersama adiknya.