Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 19


__ADS_3

Setelah melalui waktu yang lumayan lama dengan berbagai drama kebohongan, akhirnya Naziya sah memperoleh predikat janda. Dan hak asuh Naya juga jatuh di tangannya. Lega. Ia keluar dari ruang sidang tanpa peduli pada Zain yang menatapnya sendu. Entah dia benar-benar sedih atau hanya pura-pura. Naziya sudah tidak peduli. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong pengadilan diikuti oleh kedua orang tuanya.


Zain memandang kepergian mantan istrinya dengan perasaan yang campur aduk. Marah, jengkel tapi juga rindu bersatu. Ia masih mencintai istrinya dan tak ingin berpisah dengannya. Bagi Zain, Naziya tetaplah yang utama. Memiliki Naziya adalah pengukuhan tentang kesempurnaan hidupnya. Naziya banyak diinginkan oleh lelaki diluar sana. Dengan memiliki Naziya, maka ia merasa menjadi lelaki yang tak terkalahkan. Hidupnya sempurna. Wanita di luar sana hanya selingan baginya. Ia harus melakukan apapun untuk kembali mendapatkan apa yang sedang hilang saat ini. Bagaimanapun caranya. Zain bertekad. Dan satu-satunya caranya adalah melalui Naya, anaknya. Naziya tidak mungkin akan menolak jika itu berkaitan dengan putri satu-satunya itu.


Zain melangkah keluar. Hanya ia sendiri dan pengacaranya yang datang sidang. Orang tuanya sibuk dan ia juga tidak mau mereka datang. Zain memasuki mobil dan kemudian keluar dari parkiran. Ia menuju kampus Devina.


*****


“Maaf, Sayang, kamu nunggu lama, ya,” ujar Devina begitu memasuki mobil Zain. Wajahnya menunjukan penyesalan. Hubungan mereka masih terus berlanjut meski Devina sudah tidak magang lagi di tempatnya.


Zain tidak menjawab. Ia langsung mencium wanita itu. Tangannya sudah bergerak kemana-mana. Hasratnya membuncah setelah tadi merasa dicampakkan oleh mantan istrinya.


“Sayang, jangan disini.” Devina mengingatkan. Mereka masih berada di parkiran kampus.


Zain menghentikan aksinya. Matanya sudah tampak sayu menandakan hasrat yang sudah tak terbendung.“Aku sangat merindukanmu.”


Devina tersenyum. Perasaannya melambung. Ia merasa kehadirannya sangat dibutuhkan oleh pengacara itu. “Ke Apartemen aja.” Devina memberi opsi. Tersenyum lalu mengecup singkat bibir lelaki yang sudah bersamanya hampir dua bulan ini.


Zain menatap sedikit kesal.


Devina tertawa. Ia sangat menyukai dan menikmati ketika wajah Zain tampak memelas, mendamba untuk mencumbunya. Karena saat-saat itulah, ia merasa lelaki itu sepenuhnya berada dalam kendalinya.


Zain mendengus. Namun dengan segera menghidupkan mesin mobil dan segera melaju pergi.


******


Devina langsung membuka pintu mobil begitu mereka tiba di basemen apartemennya. Bersamaan dengan keluarnya, Alby muncul dari depan dan hendak masuk ke mobilnya yang ternyata berdampingan dengan mobil Zain.

__ADS_1


Devina tersenyum.


Alby datar. Ia langsung masuk ke mobilnya tanpa membalas senyum wanita disampingnya itu. Ia tidak mengenalnya. Beberapa detik kemudian ia menjalankan mobilnya dan keluar dari basement.


“Siapa?” tanya Zain begitu keluar dari mobil dan melihat Devina memandangi mobil yang baru saja pergi.


“Dosen di kampusku, tapi bukan di fakultasku,” jawab Devina. Ia memang mengenal Alby. Alby bukan hanya terkenal di fakultas manajemen dan bisnis tempatnya mengajar, tetapi hampir satu kampus. Devina sering mendengar para mahasiswi membicarakan tentang ketampanan dosen itu di kantin. Dan memang. Devina mengakuinya saat melihat lelaki itu lewat di depan kantin. Apalagi di lihat dari dekat seperti barusan. Devina semakin terpukau.


“Oh.” Zain membalas pendek dan langsung menuju lift. “Kamu ngapain disitu. Ayo.” Panggil Zain tak sabar.


Devina masih berada di tempatnya. Selain masih terpesona dengan ketampanan Alby, ia juga penasaran kenapa lelaki itu ada disini. Jangan-jangan dia tinggal disini. Devina menduga. Ia dikagetkan dengan panggilan Zain. Segera ia melangkah mengekor di belakang pengacara kondang itu.


******


Alby tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya. Sejak kabar perceraiannya tersebar, wanita-wanita di kampusnya semakin gencar mendekatinya. Ada yang secara terang-terangan, namun ada juga yang hanya tetap memendam perasaan mereka.


Alby tersenyum. Lalu masuk ke ruangannya. Beberapa staf wanita melirik ke arahnya. Alby langsung mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya. Ia menghela nafas. Meski terlihat ia tidak peduli, sesungguhnya ia sedikit terganggu dengan itu. Ia memang bukan orang yang suka mengumbar masalah pribadinya. Alby mendesah, pikirannya berkeliaran, bertanya siapa yang menyebarkan cerita mengenai perceraiannya. Ia tidak pernah menceritakan masalahnya pada siapapun.


“Sudahlah,” gumamnya kemudian. Toh semua sudah terlanjur. Orang sudah tahu. Ia lalu menghidupkan komputernya, memeriksa jadwal mengajarnya. Jam 2 siang nanti ada jadwal untuk mengajar. Alby melirik jam tangannya. Setengah jam lagi. Sambil menunggu, ia kembali mempelajari materi yang akan dibawakan nanti.


Baru sekitar lima menit, terdengar pintu ruangannya ketuk. Alby menoleh. Randy muncul. “Di panggil sama Bu Dekan di ruangannya.” Randy menginformasikan. Tadi ketika lewat di ruangan dekan itu ia tidak sengaja bertemu.


Alby membuang nafas. Sejujurnya ia malas bertemu dengan dekannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya bawahan. “Ok. Aku akan segera kesana.”


“Kalau begitu aku balik dulu ke ruanganku.”


Alby mengangguk. Kemudian wajahnya kembali lagi menghadap komputer, menutup materi yang sedang dipelajarinya, kemudian mencabut flashdisk dan setelah itu mematikan komputernya. Ia berdiri, menghela nafas sekali lagi, lalu mengambil ponselnya yang berada di atas meja kerjanya kemudian beranjak keluar.

__ADS_1


Alby mengetuk pintu setelah berada di depan ruangan dekannya. Terdengar suara dari dalam mempersilahkannya masuk. Alby memutar knop pintu, lalu berusaha tersenyum. Senyum yang dipaksakan. “Selamat siang, Bu.” Ia menyapa.


Frida-dekan fakultas manajemen dan bisnis itu melirik pada Alby. “Siang.” Frida membalas disertai dengan senyuman yang ia percayai itu adalah senyuman termanis yang pernah ia berikan pada lelaki. “Silahkan duduk.” Pintanya. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya menuju sofa berwarna hitam dengan meja kaca di tengahnya yang berada di depan meja kerjanya.


“Terima kasih.” Alby menurut, duduk di sofa, berhadapan dengan wanita yang hampir memasuki usia paruh baya namun belum menikah itu. “Ada apa ya, ibu memanggil saya?” Alby bertanya setelah beberapa saat.


“Ehm.” Wanita itu berdehem, memperbaiki postur tubuhnya sebelum memulai pembicaraan.


Alby merasa tak nyaman.


“Begini, saya dengar ada mahasiswamu yang kedapatan membawa barang haram di kelas.” Frida memulai pembicaraan. “Apa itu sudah ditangani?’ Ia bertanya sambil memperhatikan wajah lelaki yang ada di depannya. Suaranya lembut. Wajahnya teduh. Tidak ada sama sekali tanda bahwa wanita itu sedang bertanya suatu masalah yang berat.


“Iya, Bu. Permasalahan ini sudah diambil alih oleh komite disiplin dan mahasiswa tersebut sudah diberikan sanksi.” Alby melapor. Meski sebenarnya ia sedikit heran. Pasalnya, kasus itu sudah berlalu hampir satu minggu. Ia juga sudah pernah berbicara dengan Frida. Dan Alby juga yakin Frida sudah tahu bahwa komite disiplin sudah mengambil alih. Lalu kenapa ia bertanya lagi? Apakah mungkin dekannya itu lupa? Tak mungkin. Pikiran Alby berputar-putar.


“Oh, baguslah kalau begitu. Apa kamu punya jadwal mengajar hari ini?” Frida kembali bertanya, Namun, bukan lagi mengenai kasus yang awal di pertanyakannya. Ia melirik Alby kemudian tersenyum tipis.


Alby semakin tak nyaman. Namun ia tetap berusaha tenang. “Iya, bu. Jam dua.”


Frida melirik jam dinding yang berada di di sebelah kanan. “Oh, sebentar lagi ya.” Ia tampak sedikit kecewa. Jam sudah menunjukkan kurang sepuluh menit pukul dua.


“Iya, Bu. Apa masih ada yang mau ditanyakan lagi?” Alby ingin segera keluar dari ruangan itu.


“Untuk sementara ini tidak ada.” Sekali lagi ia tersenyum.


Alby merinding. Frida di depannya sudah seperti tante-tante girang yang berusaha menggodanya. Alby menelan ludah, ia yakin, mungkin setelah ini ia akan sering bertemu dengan Frida. “Kalau begitu saya permisi dulu.” Akhirnya Alby pamit.


“Iya, silahkan. Saya harap kamu tidak bosan-bosan jika saya panggil kesini.”

__ADS_1


Alby berusaha tersenyum kemudian berlalu. Ia kesal.


__ADS_2