Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 4


__ADS_3

Sinar pagi menyembul di sela-sela kamar sebuah rumah berlantai dua bergaya modern minimalis di kawasan elit Kemang, Jakarta Selatan. Sinar yang memberikan rasa hangat bagi Naziya untuk menyambut hari. Ia berdiri didepan meja riasnya, mematut diri, bersiap untuk menjalani hari bertemu dengan pasien-pasiennya.


Berbalut celana kain panjang hitam dan dan kemeja berwarna lavender pink berlengan panjang, tubuh semampai Naziya yang memiliki tinggi 165 cm, terlihat sangat memesona. Rambut sedada berwarna hitam dengan ujung bergelombang serta make up tipis yang membalut wajahnya semakin menambah kecantikannya. Apalagi jika tersenyum, lesung pipit di kedua pipinya membuat orang yang melihatnya semakin kagum.


Zain yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengamati penampilan Naziya sejenak, lalu memeluknya dari belakang. “Kamu cantik banget, sayang.” Zain mencium tengkuk istrinya.


Seulas senyuman terbit di bibir tipis Naziya. ia tak lagi mempermasalahkan tamparan Zain seminggu yang lalu. Toh, suaminya itu sudah meminta maaf. Bukan hanya perkataan, tapi dia benar-benar menyesali perbuatannya. Zain sudah bersikap manis seperti dulu, membawakan Naziya makanan kesukaannya, membelikan perhiasan dan selalu menyempatkan diri untuk makan siang dengannya. Bahkan, mereka sesekali memesan hotel untuk membuat hubungan mereka semakin intim. Naziya memaklumi jika Zain bersikap seperti itu karena banyaknya tekanan kerja yang dirasakan suaminya.


“Sayang,” panggil Zain lembut.


“Hmmp.”


“Bagaimana kalau pekan ini kita pergi berlibur, tapi berdua saja,” usul Zain sambil menghirup aroma red berries yang menguar dari rambut istrinya.


“Liburan kemana, sayang?” Naziya berbalik menghadap suaminya.


“Terserah kamu, dimanapun kamu mau,” jawab Zain lalu mencium pipi istrinya.


“Pekan ini kayaknya nggak bisa, sayang. Aku udah janji sama Naya untuk menemaninya bermain. Lagian akhir-akhir ini waktu kita untuk Naya kurang. Kasihan dia kalau harus sering ditinggal,” tolak Naziya halus.


Tampak Zain kecewa.


Naziya menyadari ekspresi suaminya. Dia tidak ingin membuat suaminya kembali kesal. “Kalau bulan depan bagaimana?” Naziya memberikan opsi.


“Bulan depan?” Zain membelalakkan mata.


Naziya mengangguk. “Bulan ini banyak sekali pasien. Banyak sekali operasi yang harus aku tangani. Jika bulan depan, aku bisa kembali mengatur jadwal operasi agar tak terlalu banyak.”

__ADS_1


“Jadi sekarang aku tidak lebih penting dari pasien-pasienmu itu?” Zain merajuk.


Naziya menggeser sedikit tubuhnya lalu mengalungkan tangan dileher Zain. Dia menatap mata indah beriris gelap dihadapannya. “Sayang, bukan gitu maksudku. Kamu tahu, kamu dan Naya sangat berarti dalam hidupku, tapi tanggung jawabku juga sebagai seorang dokter tak bisa aku abaikan.” Naziya berusaha membujuk suaminya.


“Kalau memang aku masih menjadi prioritas dalam hidupmu, ku rasa membatalkan satu dua operasimu bukanlah masalah.”


Naziya tertawa kecil. Kedua tangannya mencubit gemas kedua pipi Zain. “Aku gemas banget, kamu itu kadang bersikap kekanak-kanakan.”


“Oh ya? Jadi sekarang ada pria yang lebih dewasa dari aku?" tukas Zain dengan nada tinggi.


“Sayang, kamu kenapa sih?”


“Menurutmu?”


Naziya menarik napas panjang. Akhir-akhir ini mood Zain mudah berubah-ubah.


“Aku tidak punya waktu untuk berdebat. Aku harus segera ke rumah sakit. Banyak pasien yang sedang menungguku,” dengkus Naziya. ia tidak ingin suasana hatinya menjadi kacau sepagi ini. Ia membalikkan badan menuju lemari untuk mengambil tasnya.


“Sakit, sayang!” Naziya mengeluh. Mencoba menarik tangannya yang ditarik paksa. Ia berusaha mendorong tubuh Zain yang berusaha menghimpitnya. “Aku mau ke rumah sakit.”


Zain tak menggubris ucapan istrinya, justru ia semakin mengeratkan pegangannya.


Naziya jelas tidak bisa berbuat banyak. Fisik Zain yang lebih besar dan kuat jelas bukanlah tandingannya.


Zain mendorong tubuh istrinya ke arah lemari hias.


Naziya menjerit kala tubuhnya bersentuhan dengan lemari kayu. Berbagai pernak pernik kecantikan yang berada diatas lemari hias seketika berhamburan. Naziya menatap marah pada suaminya. Kali ini dia tidak mau mendapatkan kekerasan untuk kedua kalinya. “Sekali lagi kamu menyentuhku, aku …”

__ADS_1


“Aku apa?” Zain memotong ucapan Naziya. “Apa yang akan kamu lakukan?” Zain menantang. Ia maju mendekati Naziya dan langsung menampar pipi istrinya.


Naziya menjerit. Ia memegang pipinya yang memanas. Ia tidak terima perlakuan Zain padanya. Lalu, sekuat tenaga ia membalas tamparan Zain.


Mendapat tamparan balasan, Zain semakin beringas. Dia menarik tubuh istrinya dan melemparnya ke atas tempat tidur.


Naziya terjembab. Ia merasa sangat syok. Namun dengan cepat berusaha untuk menguasai diri. Profesinya sebagai seorang dokter selalu mengajarkan mereka untuk tetap tenang dikala ada pasien yang marah-marah. Saat ini, keadaannya juga hampir sama seperti itu meskipun ini lebih parah. Ia harus memikirkan cara agar bisa lepas. Dia tidak mau menjadi samsak.


Zain kembali mendekat. Kali ini, ia menarik rambut istrinya dan kemudian mendorong kepalanya.


Naziya kembali berteriak kesakitan. “Brengsek! Cukup! Kamu keluar dari rumah ini atau aku dan Naya yang akan keluar.” Naziya mengancam.


Zain melepas tangannya dari rambut Naziya. Ia meraih tangan istrinya. “Maafkan aku, sayang. Tolong jangan pergi.” Zain berubah dalam sepersekian detik.


“Jangan sentuh aku!” Naziya menepis tangan suaminya. Ia merasa sangat muak dengan permintaan maaf Zain. Bahkan melihat wajahnya saja sudah membuatnya jengkel.


Zain tidak menyerah. Ia menarik tubuh istrinya dan merengkuhnya dalam pelukan. “Maafkan aku, sayang.” Aku khilaf,” pintanya lirih sembari mencium kepala istrinya.


Naziya terisak dalam dekapan suaminya. Sejenak ia menjadi luluh kembali. “Kamu menyakiti aku,” ucapnya dengan suara serak.


“Maafkan aku, sayang.” Zain mencium wajah Naziya. “Aku lepas kendali. Kamu seharusnya tadi tidak menantangku.” Zain membela diri.


Naziya tidak menjawab. Ia masih terisak.


Tanpa memperdulikan istrinya yang sedang terluka, Zain langsung mengulum bibir Naziya. Setelah pertengkaran mereka, nafsunya menjadi menggelora. Ia kembali mendorong tubuh istrinya diatas tempat tidur dan ingin melampiaskan hasratnya.


“Sayang, aku harus ke rumah sakit.” Naziya menolak saat Zain mulai melucuti pakaiannya.

__ADS_1


“Please, sayang. Aku lagi pengen banget.” Zain tak dapat menahan birahinya. “Kamu tidak akan menolakku untuk yang satu ini, kan?”


Naziya tak kuasa menolak. Dengan sangat terpaksa Naziya melayani hasrat suaminya dengan tubuh kesakitan. Ia tidak ingin kembali menjadi sasaran amukan Zain.


__ADS_2