Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 25


__ADS_3

Pagi itu, sinar matahari perlahan muncul di cakrawala, menyebarkan cahaya keemasan yang membelah awan dan menyapu permukaan laut yang tenang. Pantai terbuka di depan Alby, membentang luas dengan pasir putih yang bersih dan lembut di bawah langkahnya.


Embusan angin lembut membelai wajahnya, membawa aroma segar dari air laut yang terhembus ke darat. Suara ombak yang mengecil berirama seperti napas yang tenang, memberikan ketenangan dan keselarasan bagi suasana pagi yang baru terbangun. Langit cerah biru yang belum tercipta satu awan pun menambah keindahan panorama pantai. Terdapat sekumpulan burung camar yang melintas di udara dengan suara khas mereka yang saling bersahutan.


Di sepanjang pantai, tampak beberapa orang berjalan santai, menghirup udara segar pagi dan menikmati keindahan alam. Beberapa dari mereka duduk diatas pasir menyaksikan deburan ombak yang datang dan pergi dengan ritme yang seirama. Dan sebagian yang lain memilih untuk berendam dalam lautan.


Suasana pagi di pantai memberikan energi yang menyegarkan dan rasa damai yang mendalam. Dalam ketenangan ini, rasanya seolah waktu berhenti sejenak, membuat Alby melupakan kehidupan sehari-hari dan terhubung dengan keajaiban alam yang mempesona.


Alby duduk diatas pasir putih menatap pada beberapa orang yang sedang bermain air laut dan saling bercanda. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang tertawa bersama seorang anak kecil. Mereka sedang bermain air dan saling menyipratkan satu sama lain. Alby tersenyum tipis. Ada campuran emosi saat memandangi Naziya yang bermain air laut bersama anaknya. Ada kehangatan yang hadir mengisi hatinya. Alby merasakan kegembiraan melihat mereka berdua menikmati momen indah di tepi pantai, dengan cahaya matahari yang memancar di atas kepala mereka.


Namun, terdapat juga perasaan yang rumit dan sedikit melankolis jika mengingat wanita itu saat bersedih. Seperti tadi malam. Entah kenapa Alby merasa sakit saat melihat dan mendengar isakan Naziya. Ia ingin memeluk wanita itu dan menyuruhnya bersandar didadanya dan menenangkannya. Ia tidak tahu. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Ia mendesah. Ia hanya berharap semoga kesedihan Naziya cepat berlalu dan berganti bahagia.


"Ehhmmm."


Suara deheman membuat Alby menoleh. Ia kemudian tersenyum. Terpaksa.


"Serius banget. Lagi lihatin apa, sih?" Frida bertanya dan langsung duduk di samping Alby. Hampir tanpa jarak. Lengannya dan lengan Alby hampir bersentuhan.


Alby refleks sedikit menjauh.


Frida tampak kecewa. "Kamu nggak suka ya dekat-dekat aku?" Wajah Frida tampak murung.


"Bukan begitu, Bu. Nggak enak di lihat orang." Alby memberi alasan. Bohong. Sejujurnya ia memang tidak suka dekat-dekat dengan wanita itu. Ia tidak nyaman berada di dekatnya. Ia ingin perempuan itu segera menjauh darinya supaya ia bisa kembali memandangi perempuan yang berada sekitar lima puluh meter darinya yang sedang bermain air. ia tidak mau di ganggu. Ia sedikit kesal. Hanya bisa menggerutu dalam hati.


"Aku kan udah bilang, Jangan panggil aku dengan panggilan formal. Kita sedang tidak di kampus." Wajahnya cemberut. Ia merasa sangat tua jika dipanggil dengan sebutan ibu di tempat seperti ini. Ya meski memang usianya terpaut jauh dengan Alby. Tapi kan dia masih terlihat awet muda dan cantik. Frida nyengir sendiri.

__ADS_1


Alby menoleh heran.


Frida berdehem kembali. Menyamarkan rasa malunya karena kedapatan nyengir sendirian. "Kamu sedang mikirin apa?" Frida bertanya mengalihkan perhatian.


"Nggak ada." Alby menjawab seadanya.


"Masa sih? Tadi kamu keliahatannya serius sekali."


Penasaran amat, Bu. Bukan urusan ibu saya mikirin apa. Alby berbicara dalam hati. Kesal sendiri. Kesenangannya terganggu. "Jam berapa kita berangkat, Bu?" Alby bertanya perihal kepulangan mereka. Ia tak menjawab pertanyaan Frida sekaligus tak mengindahkan perintahnya untuk memanggil namanya. Lagian, Alby merasa agak risih jika memanggil dekannya itu dengan nama biasa. Umur mereka terpaut hampir sepuluh tahun. Alby bahkan cocok memanggilnya tante. Alby tidak habis pikir dengan wanita yang berada disampingnya itu.


"Kamu sengaja menghindar ya. Sepertinya kamu sedang memikirkan perempuan yang disana." Frida kekeuh pada pertanyaannya sambil matanya melirik pada Naziya yang sedang bermain dengan Naya. "Kamu kenal dia?"


Alby mendesah pelan. Sepertinya wanita disampingnya itu tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Akhirnya Alby mengangguk. Pasrah.


"Siapa dia? Pacar baru kamu?" Frida bertanya tak sabar dan sedikit tidak suka. Ia cemburu Alby memerhatikan wanita lain.


Frida ber oh-lega. Mengangguk-angguk. Lalu kemudian kembali bertanya.  "Kamu masih mengingat istrimu?"


"Loh, Bu Frida." Vita datang tiba-tiba dari belakang. Tak langsung menyapa karena kaget melihat dekan fakultasnya ada di situ. Tadi saat hendak ke laut untuk bergabung dengan kakak dan ponakannya, dia tidak sengaja melihat Alby mengobrol dengan seorang wanita. Ia datang bermaksud untuk menyapa Alby. Namun, tak menyangka jika wanita yang bersama Alby adalah Frida-dekan di Fakultasnya.


Keduanya menoleh secara bersamaan.


Frida heran.


Alby biasa. Meski tak terlalu menyukai keberadaan Vita, ia sedikit bersyukur karena sejenak terbebas dari tekanan keberadaan Frida.

__ADS_1


Vita tersenyum dan kemudian menyapa keduanya. "Selamat pagi, Bu Frida, Pak Alby."


"Kamu ngapain ada disini?" Frida akhirnya bertanya setelah beberapa saat. Ia memang mengenal mahasiswa itu karena dia merupakan salah satu mahasiswa berprestasi di fakultasnya.


"Saya sedang liburan sama keluarga, Bu," jawab Vita. Ia kemudian melirik sebentar pada lelaki yang berada disamping dekannya itu. Tersenyum.


Frida ber oh sambil mengangguk-angguk.


"Ibu juga liburan sama Pak Alby?" Vita bertanya penasaran. Ia hanya melihat Frida dan Alby. Tak ada staf atau siapapun yang ia kenal. Jangan sampai dekannya itu menjalani hubungan khusus dengan dosennya. Oh tidak. Vita tak bisa membayangkannya. Ia pasti akan sangat kecewa. Lagian juga kalau betul dugaannya, sungguh Pak Alby sangat keterlaluan. Masa dosennya itu mau menjalani hubungan dengan wanita yang jauh lebih tua darinya? Apalagi dekannya itu terkenal dengan kegalakan dan wajah seramnya. Vita bergidik ngeri. Pikirannya sudah kemana-mana, padahal belum juga semenit dia menyapa mereka.


"Tidak. Ini liburan khusus untuk Fakultas Manajemen dan Bisnis." Frida memasang wajah kampusnya.


Vita menggigit bibir. "Oh. Maaf, Bu, kalau sudah mengganggu. Saya mau kesana dulu." Vita akhirnya pamit. Ia takut melihat wajah dekannya yang mulai sangar. "Pak, saya permisi." Ia kemudian pamit pada Alby dan kemudian berjalan menuju pada Naziya dan Naya.


"Loh, Vita juga mengenal wanita itu?" Frida bertanya karena melihat Vita bergabung dan ikut bermain dengan Naziya dan Naya.


"Dokter itu kakaknya Vita," Alby menjelaskan keheranan Frida.


"Kamu tahu dari mana?" Frida kembali menatap curiga.


Alby semakin tidak suka dengan sikap dekannya itu. Terlalu kekanak-kanakan. Tidak sesuai dengan umurnya. "Saya bertemu mereka semalam."


"Oh itu sebabnya kamu terlambat datang ke penginapan?" Frida bersikap seakan Alby adalah pasangannya.


"Maaf, Bu. Saya mau ke dalam dulu." Alby akhirnya tidak tahan. Ia memutuskan untuk pergi. Terserah jika dekannya itu marah. Alby tidak peduli. Habis sudah kesabaran Alby. Jika di biarkan, Frida akan semakin tak tahu diri.

__ADS_1


Sementara Frida, ia menatap jengkel pada Alby yang meninggalkannya begitu saja.


Dan di luar dari itu, ternyata Naziya sesekali melirik pada Alby dan wanita yang berada di sampingnya selama mereka berbincang. Ia juga tahu, Alby terus memandangi mereka saat wanita itu belum datang bergabung.


__ADS_2