
Naziya melirik jam tangannya. Sudah waktunya pulang. Ia bangkit dari kursi, merapikan meja kerja, melepas sneli dan kemudian menggantungnya di tempat gantungan pakaian yang berada disudut ruangan. Setelah itu ia mengambil tas dan bergegas keluar. “Saya pulang duluan, ya,” pamit Naziya pada Meti dan Reni yang sedang mengobrol.
“Iya, dok,” balas mereka serempak.
Naziya tersenyum, menyapa beberapa perawat yang lewat. Ia langsung menuju parkiran. Satu jam kemudian, ia sudah memasuki halaman rumahnya. Namun, ada yang berbeda. Mobil Zain sudah terparkir di garasi padahal sekarang baru pukul enam lewat sepuluh.
Ketika memasuki rumah, bau masakan lezat dan menggugah selera langsung tercium dari arah dapur. Naziya yakin itu adalah kerjaan Zain. Suaminya itu memang pandai memasak. Naziya menarik napas. Dia yakin itu adalah salah satu trik Zain untuk membujuknya. Naziya sudah hapal. Bertahun-tahun bersama dengan Zain, dia sudah tahu kebiasaan suaminya itu saat ingin membujuknya saat ia sedang merajuk.
Naziya tidak langsung ke kamarnya. Dia terlebih dahulu ke kamar Naya. Disana, dia tidak mendapati buah hatinya. Ke ruang keluarga pun Naya tidak terlihat. Terakhir dia mengintip di dapur. Ternyata putrinya di sana. Dia sedang duduk di meja makan sambil memperhatikannya ayahnya yang sedang memasak. Sesekali ayahnya mendatanginya untuk sekedar menciumnya. Ah pemandangan yang sungguh indah, namun berhasil mengiris-ngiris hati Naziya.
Tanpa diketahui Naziya, keberadaannya sudah disadari oleh sang suami. Zain tersenyum tipis.
“Sayang,” panggil Zain yang membuat Naziya tersentak dari lamunannya.
“Mama,” panggil sang anak kala menyadari ibunya sudah berada di dapur.
“Sayang.” Naziya menghampiri sang buah hati. Memeluk dan menciumnya. “Kamu ngapain di sini, sayang?” tanya Naziya tanpa memperdulikan Zain
“Tadi Papa ajak Naya kesini, katanya mau kasih kejutan buat Mama,” jawab sang anak dengan suara gemasnya.
“Aku ingin kita makan malam bersama di rumah. Sudah lama kita tidak pernah melakukan itu.”
Naziya tak membalas ucapan suaminya. Namun dalam hatinya merasa kesal. Dia tidak mungkin menolak Zain karena akan melukai perasaan Naya.
“Ya udah, kalau begitu, Mama mau ganti pakaian dulu ya, sayang,” ucap Naziya kemudian mencium pipi putrinya dan berlalu.
******
Zain menatap istrinya yang sedang duduk di meja rias. Ia baru saja selesai menyiapkan makan malam dan berniat untuk memanggil istrinya. Ia lalu mendekat dan memijat lembut pundak sang istri. “Maafkan aku, sayang,” ucap Zain lembut sambil memandang pantulan wajah istrinya di cermin.
Naziya melepas tangan Zain. “Kenapa cepat pulang? Bukannya tadi kamu bilang mau makan malam dengan klien?” tanya Naziya sambil menahan rasa kesal.
“Makan malamnya di tunda. Ayo sayang, makanannya sudah siap. Kasihan Naya sudah menunggu di meja,” ajak Zain tak ingin membahas hal lain. Ia juga sedang tak ingin bertengkar.
Naziya tak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya dia sudah kehilangan selera makan, tapi dia tidak mungkin menolak karena ada Naya. Naziya memaki dalam hati. “Kamu duluan, sebentar lagi aku menyusul.”
__ADS_1
“Jangan lama-lama, sayang. Nanti makanannya keburu dingin,” ucap Zain lalu mengecup pipi istrinya dan kemudian berlalu.
Naziya menghapus bekas ciuman Zain setelah laki-laki itu menghilang dari balik pintu. Ia merasa muak. Naziya mengurut pelipisnya. Kepalanya terasa berat.
Naziya langsung memeluk anaknya ketika tiba di meja makan. Ini adalah salah satu cara untuk mengalihkan kegundahan hatinya. Menatap putrinya adalah salah satu obat bagi Naziya saat ini. Dia tidak bisa bayangkan jika Naya tak ada. Dia mungkin akan uring-uringan.
Naziya melirik makanan yang terhidang. Salah satu makanan favoritnya juga ada. Lobster thermidor yaitu daging lobster yang gurih berpadu sempurna dengan pasta dan salad ditambahkan dengan balsamic dressing. Meski begitu, ia benar-benar sudah kehilangan selera makannya. Dia hanya mencomot sedikit daging lobsternya.
“Sayang, kok makannya sedikit?” Zain bertanya.
Naziya tak menggubris pertanyaan suaminya. Ia malah berfokus pada Naya yang sedang disuapi oleh pengasuhnya. “Naya suka makanannya?” tanya Naziya pada sang putri.
“Masakan Papa enak,” jawab Naya dengan gaya kekanak-kanakannya.
Zain tersenyum melihat putrinya. “Nanti Papa akan sering-sering buatkan Naya makanan. Naya mau, kan?”
Naya mengangguk khas anak-anak.
Naziya menarik nafas panjang. Perasaannya menjadi tak karuan. Melihat Naya begitu senang membuatnya semakin merasa jengkel pada Zain. Bagaimana mungkin Zain tega menyakiti anak sekecil itu. Naziya tak habis pikir.
Selesai makan, Naziya menemani sang putri sebentar dan kemudian menidurkannya. Ia berniat untuk tidur dengan anaknya, namun Zain sudah datang dan mengajaknya untuk tidur di kamar mereka. Ingin rasanya menolak, namun Naziya tidak mau membuat Zain marah dan berbuat sesuatu yang tak diinginkan. Lagian Naziya juga sudah malas untuk berdebat dengan suaminya itu.
“Sayang, kamu jangan ngambek begitu dong. Aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa. Itu hanya panggilan candaan saja,” Zain memulai pembicaraan saat sang istri tak peduli dan memilih untuk tidur membelakanginya.
Naziya tak merespon.
“Sayang,” panggil Zain lalu memeluk istrinya dari belakang.
“Tak ada wanita yang kucintai selain kamu, sayang.” Zain masih berusaha untuk membujuk.
Naziya bergeming. Ia yakin Zain tidak akan mengakui perbuatannya. Dia akan selalu mencari alasan untuk menyangkal semua yang sudah dilakukannya.
“I love you, sayang,” bisik Zain.
“Itu kata yang selalu kamu katakan padanya, kan?” sindir Naziya. Ia tak bisa lagi menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
“Sayang, kami hanya bercanda. Tak mungkin ada hubungan antara aku dengannya. Hanya kamu satu-satunya perempuan yang sangat berarti dalam hidupku.” Zain masih berupaya meyakinkan istrinya.
“Jadi memanggil sayang pada seorang lelaki yang beristri, menurutmu itu hanya sekedar bercanda? Kalau tidak ada apa-apa di antara kalian, dia tidak akan memanggilmu dengan kata sayang dan kamu juga tidak akan menghapus percakapan kalian. Kamu pikir aku anak kecil?” omel Naziya. “Itu sebabnya kamu sekarang menjadi kasar padaku, bukan? Karena hatimu sudah di isi oleh wanita lain dan aku hanya menjadi pajangan yang kapan saja bisa kamu singkirkan.”
“Sayang, itu semua tidak benar! Mana mungkin aku bisa melakukan hal seperti itu. Kamu dan Naya adalah separuh hidupku. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Kalau memang aku seperti yang kamu tuduhkan, aku pasti akan langsung meninggalkanmu. Aku tidak akan perlu repot-repot menjelaskan semua ini padamu.” Zain memutar badan Naziya hingga menghadapnya.
“Sayang, kalian adalah segala bagiku. Kamu adalah wanita satu-satunya yang kucintai.”
“Jika begitu, lantas mengapa kamu menghianatiku?”
“Aku tidak pernah mengkhianatimu, sayang. Dia hanya partner kerjaku dan kami tidak mempunyai hubungan apa-apa.” Zain masih berusaha menyangkal.
“Apakah aku sudah tak menarik lagi bagimu?” Naziya tetap kekeuh.
“Tak ada perempuan yang lebih menarik darimu. Bukan hanya aku yang akan mengatakan itu tapi bahkan orang lain. Perempuan di luar sana hanya sebagai selingan untuk bercanda. Tak ada niat sama sekali untuk menghianatimu,” sanjung Zain.
“Siapa dia dan sejak kapan?” Naziya tidak mau terpengaruh dengan kebohongan suaminya.
“Dia seorang notaris yang kebetulan punya klien yang sama denganku. Dia juga kebetulan satu kampus denganku. Mungkin itu yang membuat kami cepat akrab. Dia adalah orang yang senang bercanda, senang memanggil orang dengan panggilan ‘sayang’. Panggilan itu bukan hanya kepadaku tapi pada pria lain juga,” jelas Zain dengan nada suara yang yang tenang. “Percayalah sayang, kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupku.”
“Lalu kenapa kamu berusaha menghapus percakapan kalian jika memang hanya teman biasa?”
“Aku tak ingin kamu salah sangka, sayang. Makanya aku menghapusnya. Dan sekarang lihat, benarkan? Kamu jadi marah padaku gara-gara pesan-pesannya.” Zain menggenggam tangan istrinya lalu menciumnya. “Hanya kamu wanita yang sangat aku cintai.” Zain selalu mengulang-ulang ucapannya agar istrinya percaya.
Naziya tak bergerak. Dia berusaha mencerna penjelasan suaminya.
“Aku berani bersumpah tidak ada apa-apa antara kami, sayang. Aku tidak mungkin mempertaruhkan kebahagiaan keluarga kita hanya untuk hal-hal seperti itu,” ucap Zain lembut.
“Lantas kenapa kamu tidak menyimpan nama aslinya? Dan siapa nama sebenarnya?”
“Dia yang menyimpan dengan nama seperti itu bukan aku. Namanya Renita. Kebetulan memang dia yang pertama meminta nomorku. Hubungan kami tak seperti yang kamu bayangkan. Jika memang kamu masih tidak mempercayaiku, aku akan mempertemukanmu dengannya. Biar dia jelaskan seperti apa hubunganku dengannya. Aku tak mungkin meninggalkan wanita sempurna demi seorang wanita yang baru beberapa kali aku temui. Jika aku benar melakukan itu, aku adalah laki-laki paling bodoh di dunia ini,” tutur Zain begitu meyakinkan.
Naziya tampak mulai bimbang.
“Kamu melakukan itu hanya karena kamu cemburu, Sayang,” ucap Zain sambil mencubit pelan pipi istrinya.
__ADS_1
Naziya menjadi dilema. Penjelasan Zain tampak begitu meyakinkan. Benarkah dirinya yang terlalu berlebihan menanggapi perbincangan antara Zain dengan perempuan itu? Apakah ia hanya cemburu buta? Apakah dirinya terlalu berburuk sangka terhadap suaminya? Pikiran-pikiran itu perlahan mulai menggerogoti kepala Naziya.