Unperfect Life

Unperfect Life
Episode 3


__ADS_3

“Sayang, kita jadi ke rumah mama, kan?” Naziya mengingatkan Zain rencana makan malam mereka dalam rangka syukuran atas prestasi Vita- adiknya yang didapatkan dari kampusnya.


“Aku nggak bisa ikut. Tadi ada undangan klien besar, jadi kita pergi saja sore ini. Aku akan datang menjemputmu.” Zain  mengambil keputusan sepihak. “Aku sudah belikan chocolate cake kesukaan Vita.”


“Kalau begitu, boleh aku tetap ikut makan malam di rumah mama? Kamu kan punya acara makan malam dengan klien.” Naziya mencoba membujuk. Ia tak ingin mengecewakan adiknya karena sudah merencanakan acaranya sejak beberapa hari.


“Kamu ikut makan malam denganku!” tegas Zain. Nada suaranya tak ingin dibantah.


“Tapi, sayang …” rajuk Naziya “Aku juga tak mengenal klienmu. Dan pasti aku tak bisa mengikuti pembicaraan kalian. Lebih baik aku ke rumah mama.”


“Tidak ada alasan!” Nada suara Zain meninggi.


Naziya tak membantah. Tidak ada gunanya membujuk Zain jika sudah mengatakan sesuatu seperti itu. Namun, bukanlah Naziya jika menyerah begitu saja. Ia memutar otak mencari rencana lain agar tetap bisa menghadiri acara makan malam keluarganya.


*****


Sebuah mobil Pajero Sport berwarna putih keluaran terbaru memasuki halaman luas kediaman orang tua Naziya di bilangan Pondok Indah, salah satu kompleks perumahan elit di Jakarta. Rumah bergaya modern mediterranean yang menempati lahan hampir seluas 500 m persegi itu nampak sepi. Naziya menduga pasti ibunya hanya berdua dengan Vita dan ayahnya belum pulang dari kegiatannya sore ini. Hari Murti-ayah Naziya adalah salah satu pengusaha sukses.


“Assalamu alaikum, Ma,” sapa Naziya yang melihat ibunya sedang menonton di ruang keluarga. Naziya menyalami ibunya, begitu juga dengan Zain.


“Waalaikumussalam,” balas Harti-Ibu Naziya. Ia terkejut melihat anaknya sudah datang sebelum magrib. “Mana Naya?” Harti bertanya karena tak melihat keberadaan cucunya.


“Naya nggak ikut, tadi Zain jemput aku di rumah sakit dan langsung kesini. Vita mana?”


Panjang umur. Baru saja ditanyakan langsung nongol. “Loh, Kak, tumben datang cepat?” Kening Vita berkerut.


Zain memberikan chocolate cake pada Vita. “Congratulations, Vit.” Zain memberi selamat.


“Makasih, Kak.”


“Maaf, Ma, Vit, pasti kalian terkejut karena kami datang lebih awal. Saya minta maaf karena tidak bisa ikut makan malam karena ada undangan mendadak dari klien besar nanti malam. Makanya saya menyempatkan diri untuk pulang cepat dan langsung menjemput Naziya, belum sempat mengambil Naya di rumah.” Zain mengungkapkan penyesalannya serta berusaha memberi penjelasan atas keterkejutan ibu mertua dan adik iparnya.


Vita berusaha tersenyum, meskipun dalam hati menahan rasa kecewa. Dia tidak ingin dianggap sebagai adik ipar yang tidak peduli dengan kesibukan kakak iparnya. “Nggak apa-apa, Kak. Kalian udah menyempatkan diri sekarang saja, aku udah senang.” Vita berusaha tersenyum.


Harti menangkap nada kecewa pada ucapan anaknya. Namun, dia tidak mau ikut campur. Ia juga sebenarnya sedikit merasa sedih.


“Papa belum pulang?” Naziya bertanya sambil berselonjor di sofa.


Sekitar lima belas menit yang lalu menelpon, katanya sudah dalam perjalanan pulang,” jawab Harti. Ia lalu memanggil asisten rumah tangga mereka untuk membuatkan minuman.


“Terima kasih chocolato cakenya, Kak,” ucap Vita yang juga ikut duduk bergabung.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki memasuki area ruang tamu.


“Itu pasti Papa,” terka Harti yang sudah hafal tekanan langkah kaki suaminya.


Tidak lama seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan senyum lebar muncul di ruang keluarga. Hari Murti, pemilik HANAKA Grub, salah satu perusahaan yang bergerak dibidang property developer.


“Zain dan Naziya sudah datang, ya? Hari bertanya memastikan. Ia melihat mobil Pajero Sport milik menantunya terparkir di halaman.

__ADS_1


Zain yang mendengar suara ayah mertuanya langsung berdiri. “Sehat, Pa?” Zain langsung menyalami dan mencium tangan Hari Murti.


Hari tersenyum dan menepuk pundak menantu kesayangannya. “Sehat, Naya mana?” tanyanya sambil celingukan mencari keberadaan cucunya.


“Tadi kami belum sempat menjemputnya, Pa. Kami mohon maaf, malam ini belum bisa ikut makan malam. Ada undangan mendadak dari klien besar dan tidak bisa ditunda.” Zain mengulang permintaan maaf kepada ayah mertuanya.


Hari tersenyum, namun hatinya sedikit kecewa. Ia berusaha memahami kesibukan menantunya yang seorang pengacara muda dengan karir yang sedang meroket.


“Tidak apa-apa, Nak. Masih ada lain waktu untuk makan malam. Kamu harus memenuhi undangan klienmu itu.” Hari mencoba menghibur dirinya serta istri dan anaknya yang terlihat juga kecewa.


“Terima kasih atas pengertiannya, Pa.” ucap Zain. “Saya sudah berusaha menggeser jadwal, tapi tidak bisa karena jadwal beliau sangat padat.”


Hari, Harti dan Vita tersenyum, menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa mereka memahami situasi Zain.


Sementara itu, Naziya terus sibuk mencari cara agar tetap bisa tinggal dan tak perlu ikut suaminya makan malam dengan kliennya.


“Klien kamu kasusnya individu atau organisasi?” Naziya bertanya.


“Individu,” jawab Zain.


“Kasus apa?” Naziya kembali bertanya.


“Pencemaran nama baik dan penipuan.”


“Klien besar artinya orang terkenal, dong.”


“Kalau begitu pasti pembicaraannya sangat rahasia. Aku sebaiknya tidak usah ikut, khawatir membuat dia tidak nyaman dengan kehadiranku. Kasihan Vita hanya ditemani mama dan papa. Nanti aku minta Sarwo untuk mengantar Naya kesini.” Naziya dengan sigap mengambil kesempatan. Ia sengaja melakukannya di depan kedua orang tuanya, tahu bahwa Zain tidak mungkin menolak dalam situasi ini.


Vita dan Harti memandangi Zain dengan wajah sumringah, berharap menantunya itu mengabulkan permintaan Naziya.


Zain memaki dalam hati. Istrinya itu memang selalu jeli melihat peluang untuk memaksakan keinginannya. Karena merasa terjepit, akhirnya dengan berat hati ia mengangguk menyetujui.


Naziya tersenyum lebar dan langsung memeluk suaminya. “Makasih, sayang.” Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Lalu ia mengambil ponsel dan menelpon Sarwo-supir pribadi mereka untuk mengantar Naya ke rumah kakek neneknya.


“Kalau begitu, aku pamit dulu sekarang, khawatir terlambat menemui klien.” Zain langsung pamit sebelum emosinya semakin memuncak.


“Sampai nanti, sayang.” Naziya melambaikan tangan saat Zain melangkah. Ia terlalu girang hingga tidak menyadari wajah suaminya itu sedang menahan amarah.


*****


Naziya sedang fokus mempelajari rekam medis pasien yang akan dioperasinya besok. Lalu tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sebuah lengkungan tipis terbentuk di bibirnya saat melihat suaminya masuk. Dasi yang sudah bergeser dan posisi seharusnya, lengan panjang kemeja yang tergulung hingga ke siku. Meskipun penampilan suaminya terlihat awut-awutan, di mata Naziya dia tetap terlihat memesona.


“Bagaimana makan malamnya, sayang?” Naziya bertanya kemudian beringsut dari tempat duduknya bermaksud untuk membantu suaminya membuka dasi.


“Bagaimana menurutmu?” Zain menjawab ketus.


Naziya memandangi wajah Zain. Rahang pria itu mengeras. Ia yakin kejengkelan pria itu karena penolakannya tadi sore yang tidak mau ikut makan malam dengan kliennya.


“Maafkan aku, sayang, aku tidak …”

__ADS_1


Plakk


Naziya belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipinya. Tamparan itu bahkan membuatnya tersungkur.


Naziya terperanjat. Baru kali ini Zain berbuat kasar padanya ia tak menyangka lelaki yang selama ini sangat dicintainya tega berbuat seperti itu padanya. Ada rasa perih di dada yang melebihi rasa panas di pipinya. Ternyata kehidupan perkawinannya tidak seindah dan sesempurna yang dibayangkan dan dilihat orang lain selama ini.


*****


“Apa?” Alby yang sedang mengajar terperanjat setelah menjawab panggilan ibu mertuanya. Anaknya jatuh dari tempat tidur dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Alby langsung mematikan laptopnya dan bergegas keluar. “Maaf, saya harus segera pergi. Ada urusan mendadak.”


Alby menyetir dengan perasaan yang tidak karuan. Hanya sekitar 30 menit, Alby telah sampai ke rumah sakit.


“Mas.” Rima langsung berlari menghambur ke suaminya.


“Mana Rimba?” Alby bertanya tak sabar.


“Tenang, Nak. Rimba sedang ditangani dokter.” Riska berusaha menenangkan anak menantunya.


Alby frustasi. Khawatir. “Bagaimana ini bisa terjadi?” Alby bertanya pada Rima yang masih terisak.


“Itu semua salahku, Mas.” Rima semakin terisak.


Alby merangkul istrinya. Berusaha menenangkan dalam dekapannya.


Tak lama, dokter Andri yang merupakan dokter anak keluar dari ruangan. “Pasien butuh darah secepatnya, pendarahan di kepalanya cukup parah. Kebetulan darah di UTD sedang tidak tersedia untuk jenis darah pasien.” Dokter Andri menjelaskan.


“Saya ayahnya, silahkan ambil darah saya.” Alby mengajukan diri.


“Baik silahkan ikut perawat saya.”


Alby menurut dan mengikuti seorang perawat ke unit transfusi darah.


“Silahkan duduk.” Perawat itu mempersilahkan. Kemudian seorang dokter muncul. Ia kemudian memeriksa Alby. “Maaf, Pak, bukannya darah yang dibutuhkan adalah golongan darah A? Golongan darah bapak O.” Dokter itu bertanya memastikan.


“Maksud bapak golongan darah saya berbeda dengan anak saya?” Tadi memang dokter Andri tak bertanya dahulu.


Dokter itu mengangguk.


“Des, informasikan pada dokter Andri untuk mencari darah lain. Darah yang rencana diambil tak cocok.” Sang dokter memberi tahu pada perawat.


Alby berdiri dengan tubuh lemas. Terbesit pikiran lain, namun segera ditepisnya. Sekarang, keselamatan Rimba lebih penting dari segalanya. Ia kemudian kembali ke UGD tempat Rimba ditangani.


“Bagaimana, dok?” Alby bertanya saat tiba. Ia tahu Rima juga pasti tidak bisa mendonorkan darahnya karena golongan darahnya B.


“Sudah ada pendonor, dia sedang menuju kesini.” Dokter Andri menginformasikan.


Alby merasa sedikit lega.


Sementara Rima dan Riska saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2