
Rosita menoleh ke Silla menunggunya melanjutkan ucapannya
"tadi dia tanya apa aku sudah punya pacar gitu Ros"
lanjut Silla
"terus kamu jawab apa??"
tanya Rosita penasaran
Silla menatap lawan bicaranya tersenyum
"ya aku bilang belum mikirin pacar mau fokus kengaji dan kuliah, udah gitu aja"
jawab Silla tersenyum
"terus apa yang bikin kamu galau tadi??"
tanya Rosita lagi karna tidak biasanya Silla yang ceria menjadi murung
"cuma gak enak aja Ros takut dia tersinggung, terus nanti aku dipersulit disini jadi makin lama nanti, aku juga ingin mengejar cita citaku Ros, aku ingin membahagiakan mama papa, bikin bangga mereka berdua dengan prestasiku"
Silla tersenyum membayangkan keinginannya
Rosita manggut manggut tanda mengerti
"terus itu surat dari Azzam apa mau kamu balas??"
tanya Rosita lagi
"gak tau, mungkin gak Ros, uda aku buang juga kertasnya tu masih disampah"
Silla menunjuk kearah tempat sampah
Rosita mengangguk kembali tanda paham
mereka saling diam dengan pemikiran masing masing
"Sill kamu pernah jatuh cinta ga??"
tanya Rosita tiba tiba
Silla menoleh ke sumber suara temannya tersebut
"kamu lagi jatuh cinta Ros?? sama siapa?? mau aku bantuin??"
tanya Silla mencolek colek bahu Rosita sambil cengengesan
"jawab aku?? kamu pernah jatuh cinta tidak??"
tanya Rosita kembali ia bergelayut manja dilengan Silla
"jawab gak ya??"
Silla menggoda
"ihhh jawab dong Sill??"
rengek Rosita mereka berdua pun tertawa bersama
"ok deh aku jawab dengerin ya??"
perintah Silla Rosita mengangguk menunggu ucapan selanjutnya
"aku pernah jatuh cinta sama kakak kelas ku Ros aku diam diam menyimpan perasaan ke dia tanpa siapapun yang tau termasuk teman teman ku namanya kak Malik sekarang dia kuliah diLondon rencananya setelah lulus aku mau nyusul dia kuliah diLondon agar bisa ketemu dan melihatnya lagi tapi sayang aku mala dimasukin kesini, gagal sudah deh menggapai cintaiku"
Silla cengengesan menceritakan kisah cintanya pada Rosita
"kamu pernah pacaran??"
tanya Rosita menatap Silla yang masih cengengesan Silla dengan cepat menggelengkan kepalanya karna memang adanya
"aku memang pernah jatuh cinta sampai sekarang pun masih menyimpan perasaan ke dia, tapi aku belum pernah merasakan rasanya pacaran Ros, kamu jatuh cinta sama siapa?? ayo jawab pertanyaanku, jangan bikin jiwa kepo ku meronta ronta"
Bujuk Silla ia tertawa dengan kekepoannya
"apa aku salah kalau aku jatuh cinta"
Rosita berbicara menatap lurus ingin rasanya menyampaikan apa yang selama ini ia pendam tapi takut
"tidak salah, semua orang berhak jatuh cinta Ros termasuk kamu"
Silla menyemangati sahabatnya agar percaya diri
"tapi Sill dunia kita sangatlah berbeda, bahkan tidak pantas membayangkannya saja, aku bagaikan bumi dan dia langitnya"
Rosita lemas menatap nasibnya hanya dari keluarga sederhana dibandingkan pria pujaannya
Rosita cukup sadar diri dengan kenyataan hidupnya
"Ros kalau jodoh kita bisa apa?? kita kan tidak tau jodoh kita siapa kalau allah berkehendak kita bisa apa?? walaupun menurut kita bagaikan langit dan bumi. yakan??"
Silla berkata dengan bijak Rosita pun mengangguk membenarkan ucapan Silla dan tertawa bersama
"siapa orangnya?? boleh aku tau??"
tanya Silla setelah berhenti tertawa
Rosita masih diam malu untuk mengatakannya tapi Silla tidak kehilangan akal ia terus membujuknya agar mau mengatakannya
"Gus Fatih"
akhirnya Rosita pun mengatakan yang sebenarnya
"wouwww yang seperti apa ya orangnya??"
tanya Silla yang lupa akan Fatih yang menabraknya
Rosita mengerutkan alisnya heran dengan Silla
"kamu lupa sama Gus Fatih Sill??"
tanya Rosita menebak
Silla hanya cengengesan mengakuinya mengangguk membenarkan ucapan Rosita
Rosita menepuk jidatnya gemas dengan kelakuan satu temannya tersebut ia geleng geleng kepala
menghela nafasnya sebelum memberitahunya
"kamu ingat orang yang menabrakmu berpakaian hitam sarung hitam peci hitam terus kamu teriak setan??"
Rosita memberitahu mengingatkan kejadian tersebut
Silla pun berfikir dan mengangguk kala mengingatnya
"oh yang itu?? berati yang itu yang namanya Gus Fatih??"
ucap Silla setelah mengingatnya
Rosita kembali menepuk jidatnya mengatur nafasnya agar teratur menghadapi temannya tersebut Silla cengengesan tanpa dosa
"yang itu Sill, itu namanya Gus Fatih anak pemilik pondok ini"
__ADS_1
Rosita memberitahu
"bagus dong Ros cocok, kamu yang kalem ini bersanding dengannya dan menjadi menantu dipesantren ini Ros, terus apa masalahnya??"
tanya Silla dengan polosnya
"ya allah Silla kamu masih belum mengerti, dia anak pemilik pondok yang besar ini sedangkan aku?? aku hanya orang biasa Sill mana pantas aku bersamanya"
Rosita menjelaskan perbedaannya dengan Fatih secara gamblang Silla mengangguk mengerti apa yang dimaksud sahabatnya
"tapi kalau kalian ternyata berjodoh, bisa apa??"
tanya Silla simple tidak ingin mempersulitnya
Rosita membuang nafas yang susah susah ia menghirupnya
"apa kamu masih belum memgerti Sill??"
tanya Rosita memelas ia bingung harus menjelaskannya ke Silla kembali
"ya aku ngerti dengan perbedaan status kalian berdua Ros, tapi yang namanya jodoh kita gak tau, siapa tau orang itu jodohmu kelak, bukannya aku memberimu harapan ke dia Ros, aku cuma ngeceplak doang, kita kan gak tau kedepannya gimana Ros, jalani saja apa adanya seperti air yang mengalir"
ucap Silla sok bijaksana ia cengengesan dengan apa yang ia ucapkan sendiri
"sok bijak kamu Sill"
cibir Rosita tertawa
"jadi kamu gak naksir sama ustadz Azmi Sill??"
tanya Rosita tiba tiba penasaran menatap temannya yang salah tingkah dengan pertanyaannya
Silla gelabakan ditanya tentang Azmi
"Silla??"
panggil Rosita masih menunggu jawaban darinya
"apa sih mala bahasnya ustadz Azmi, gak asik kamu Ros"
protes Silla
"ayo ah tidur dah malam besok aku harus kuliah gak mau telat"
Silla mengakhiri obrolan karna tidak mau membahas tentang Azmi dengan cepat mereka berdua masuk kekamar dan merebahkan tubuh masing masing
"Sill??"
panggil Rosita
Silla pun yang menoleh ke Rosita membuka selimutnya yang tadi menutupi wajahnya
"hmm??"
jawab Silla yang hampir terlelap
"beneran kamu gak naksir ustadz Azmi??"
Rosita kembali mempertanyakannya
"ayo tidur gak usah bahas yang gak penting"
jawab Silla mengalihkan pembicaraan ia memeluk Rosita dan langsung terlelap bertemu dengan mimpinya
Rosita tersenyum dengan tingkah temannya satu itu yang langsung anteng bertemu alam mimpi
"semoga mimpi indah"
***
keesokan paginya Silla terus menguap dikampus karna tidur malam curhat curhatan dengan Rosita
"anak santri emang kurang tidur ya??"
celetuk Senja yang terusik dengan nguapan Silla
Silla mengangguk mengiyakan
"namanya juga santri Nja tapi tadi malam emang aku tidur malem banget sih makanya masih ngantuk"
ucap Silla sambil menguap
"ngerondain apa sampe tidur malam?? ngeronda kitab??"
tanya Senja cengengesan
"biasa lah ngobrol ngobrol ama temen sekamar gitu, gak sah kepo"
cibir Silla cengengesan
"ngerondain ustadz ustadz ganteng itu ya?? aku juga mau tidur malam cuma buat ngerondain para ustadz yang gantengnya melebihi oppa oppa korea itu"
Senja tertawa yang mulai mengagumi Azmi dan Fatih
"apaan sih gak lucu"
Silla kesal karna dimana mana semua orang lebih minat menceritakan tentang Azmi ketimbang orang lain
"eh Sill tadi aku lihat ustadz ganteng itu lagi loh berboncengan, ahhh ya allah andai dosen disini pada cakep cakep kayak gitu mungkin aku gak mau pulang, bahkan gak mau lulus duluan biar puas lihatin dia"
Senja berandai andai ia tertawa cekikikan membayangkannya ditambah melihat muka kesal Silla
tidak lama dosen mereka pun datang dan memulai pelajarannya
**
"Sill tadi malam bahas apaan sama Rosita?? gak ngajak ngajak??"
protes Anna
mereka berempat sudah berada dikantin kampus karna jam istirahat
"gak papa kok cuma bahas kakak kelas yang aku taksir dulu waktu SMA, itu doang"
jawab Silla tidak mau memberitahukan tentang perasaan Rosita ke Fatih
ia pun menyedot es teh yang sudah diantar oleh bu Kantin tersebut
"kalau mau gabung kenapa gak ikut gabung aja sih An malas aku nyeritain lagi"
lanjut Silla enggan menceritakannya dengan rinci
"ngantuk banget Sill, kalau gak ngantuk udak ikut ngrumpi semalam denganmu"
jawab Anna makan cemilan yang dipesan bersama
"ehh gimana kabar dosen ganteng ngajar kelasmu itu Ann?? pengen lihat aku Ann"
celetuk Senja yang mulai mengagumi Fatih
"ada tuh orangnya lagi jalan bareng mahasiswi lainnya"
celetuk Silla yang kebetulan melihat Fatih jalan dengan mahasiswi terlihat mahasiswi tersebut seperti sedang menggoda Fatih
__ADS_1
mereka pun menoleh kearah yang ditunjuk Silla
dan langsung tersenyum tidak lama senyumannya berubah menjadi kecut karna melihat mahasiswi yang kecentilan bersama Fatih
"ihh apaan sih tu cewek gatel banget"
cibir Viona kesal
yang dianggukin semua temannya tidak dengan Silla ia masih cuek dengan Fatih
"garukin yang gatel Vi"
Silla cengengesan menanggapi ucapan Viona
"kamu aja yang garukin Sill"
Senja yang menjawab
Silla langsung bangkit dan menghampiri dimana Fatih dan mahasiswa berjalan
"eh eh tu anak mau kemana kok ngluyur gitu"
Anna menatap Silla yang berjalan ia tidak tau akan kemana Silla melangkahkan kakinya
"wah gawat kalau dia beneran mau menggaruk perempuan yang gatel ke pak Fatih itu An"
Senja yang menyadari ucapannya diiyakan Silla
Anna dan Viona menoleh ke Senja yang asal bicara dan saling memandang satu sama lain dengan pikiran masing masing setelah sadar ia pun langsung berlari mengejar Silla yang hampir sampai didepan Fatih
"Silla"
teriak semua teman temannya
Silla yang tepat didepan Fatih pun menoleh keteman temannya dan kembali ke Fatih
Fatih dan dua mahasiswa tersebut menatap bingung Silla yang diam tidak bertanya apapun
"ada apa Silla??"
tanya Fatih ramah ia sudah mengenal nama Silla karna sudah mengecek semu datanya
"Sill please jangan katakan itu"
teriak Senja tapi Silla tidak menghiraukannya
"maaf mbak sebelumnya jangan terlalu ganjeng atau gatel didepan dosen, kalau ada yang gatel sini aku garukin"
ucap Silla tanpa dosa semua teman teman malu mereka menepuk jidatnya melihat aksi nekat Silla tanpa berpikir
Fatih dan mahasiswi tersebut terperangah mendengar ucapan Silla yang absurd tersebut lalu Fatih tersenyum dengan kelakuan nekatnya ia berfikit bahwa Silla seperti wanita lainnya yang naksir dengannya dan berbuat nekat
"ya allah Silla"
gumam Anna gemas dengan kelakuannya
"maksudnya apa ngatain aku gatel"
tanya mahasiswi yang bernama Santi tersebut yang bersama Fatih
"gak usah kegatelan, denger itu"
ucapan Silla menekan Anna dengan cepat dan panik campur bingung menarik tangan Silla menjauh takut keributan terjadi
"maaf ustadz ehh pak Fatih, maaf Silla hanya salah bicara saja permisi assalamualaikum"
ucap Anna gugup ia benar benar takut dengan kenekatan Silla tersebut
"ya waalaikum salam"
jawab Fatih terkekeh menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Silla
"Sill jangan gila deh masak kamu ngatain gatel ke anak anak tadi sih"
protes Anna kesal dengan temannya
"lah katanya suruh garukin ya aku samperinlah gimana sih kamu itu Ann"
Silla tidak mau kalah
"ya tapi gak gitu juga kali Sill, walaupun dia keganjengan sama Gus Fatih, tapi juga gak nekat kayak kamu"
Anna bingung memberitahu ke Silla
"kelamaan kalau hanya mengumpat dibelakangnya doang mending langsung samperin gercep"
Silla masih kukuh dengan pemikirannya
Anna dan yang lain tepuk jidat dan mengelus dada dengan kelakuan teman satunya
"udah ah pusing aku, lanjut makan lagi bentar lagi pelajaran"
Viona mengakhiri perdepatan yang memusingkan tersebut
dan mereka pun kembali kemejanya untuk melanjutkan minuman dan cemilan yang sempat tertunda karna aksi Silla saat sedang asik menyantap sambil mengobrol santai tiba tiba mahasiswi yang tadi ditegur Silla saat bersama Fatib menggebrak meja Silla yang membuat semua orang kaget termasuk Silla
"astagfirullahal adzim"
gumam Anna dan Silla hanpir bersamaan
"apa maksud loe ngatain gue ganjeng didepan pak Fatih hahh"
tanya Santi mahasiswa yang tadi bersama Fatih tidak terima
"karna kamu gatel, apa pantes seorang berhijab kayak kamu keganjengan sama dosen??"
ucap Silla santai menanggapinya ia berdiri menantang Santi
"terus loe apa?? seorang santri yang ngomomgnya gak disaring didepan ustadz loe sendiri, apa bedanya gue sama loe??"
Santi tidak terima ia pun mendorong bahu Silla meremehkan
"Sill"
tegur Anna menggelengkan kepalanya untuk tidak menanggapinya tapi yang namanya Silla tidak akan tinggal diam saja seperti orang yang lemah lembut kenyal seperti jelly
"kamu mau tau bedanya dimana antra kamu dan aku, bedanya aku cuma ngomong apa yang sebenarnya karna memang kamu gatel sama dosen itu sedangkan kamu memang kegatelan semua orang yang lihat pasti bakalan tau maksud kamu itu"
ucap Silla tersenyum ia sangat santai menghadapi perempuan model seperti Santi karna memang sudah biasa menghadapinya
Anna dan yang lainnya menghela nafas pasrah melihat kelakuan temannya tersebut
"terus loe sirik??"
tanya Santi meremehkan
"aku gak sirik cuma risih aja lihat perempuan modelan kayak kamu itu, kalau mau menggoda seenggaknya lepas dulu kerudungmu merusak nama baik wanita hijab aja tau gak"
cibir Silla santai ia menyunggingkan senyuman remehnya yang berhasil membuat emosi Santi tersulut
"dasar santri tidak tau diri"
Santi tidak terima ia yang akan menarik hijab Silla akan tetapi Silla yang sudah hafal adegan tersebut dengan cepat menangkap tangan nakal Santi dan langsung melintirnya hingga berteriak kesakitan
__ADS_1