
wajah Santi semakin kesal dibuatnya ia tidak terima dikatai bermake up tebal walau kenyataannya memang Santi memakai riasan tebal
"nyolot kamu ya??"
ucapnya geram
Silla pun maju didepan Santi hanya berjarak satu meter dengannya
"apa?? belum puas??"
ancam Silla yang berhasil membuat nyali Santi menciut ia takut akan dihajar kembali oleh Silla
Silla pun menyunggingkan senyumnya ia tau kakak tingkatannya tersebut tidak punya nyali menghadapinya
"sana pergi sebelum aku hajar habis kamu??"
usir Silla santai
"bisa gak adu mulut aja gak usah main jambak atau hajaran??"
Santi menawar yang berhasil membuat Silla tertawa besar
hahahahahaha
"bilang aja lu takut, kayak emak emak sukanya adu mulut, nyinyir, sana pergi, jangan ganggu pak Fatih lagi, awas aja kalau aku sampai lihat kamu godain dia lagi, habis riwayatmu"
ancam Silla kembali Santi pun akhirnya pergi mengakhiri perdebatan tersebut walau ia kesal ingin membuat adik tingkatannya takut padanya tapi nyatanya ia lebih takut darinya ia sempat mendengar bahwa Silla anak seorang gangster atau mafia membuat nyalinya menciut akan kekuasaan keluarga Silla
"San kamu ada ada aja sih make ngelabrak dia segala udah tau latar belakangnya menyeramkan, gimana sih??"
peotes salah satu teman Santi yang bernama Irma yang juga sempat mendengar kabar tentang identitas Silla
"he'em mendingan gak usah nyenggol tu anak biar hidup kita aman dan tentram"
salah satu teman Santi yang lain yang bernama Pelangi ia mengangguk anggukan kepalanya menyetujui ucapan Irma
Santi semakin kesal dengan dua temannya tersebut yang tidak mau mendukungnya
"udahlah gak usah ngambek gitu, aku masih ingin hidup San, tapi dia kalo anteng gitu kalem ya cuma kalo lagi begono langsung nyeremin, emang bener bener ya akan mafia beda auranya"
Irma menduga duga dengan pemikirannya sendiri
"ya lah gak tau lu dia berasal darimana?? Jakarta guys anak metropolitan taulah gimana orangnya"
timpal Pelangi Santi hanya diam saja mencerna ucapan dua temannya tersebut
"udahlah nyerah aja jangan bangunin singa tidur"
lanjut Pelangi yang dianggukan kepala Irma
"tapi ada hubungan apa ya dia sama pak Fatih, terus kenapa tadi pertama gak ingat pak Fatih setelah dikasih tu sama si Anna baru dia ingat, aneh gak?? dia yang nglarang kita untuk jauhin pak Fatih tapi dia juga yang gak ingat nama pak Fatih??"
Santi menduga duga dengan apa yang tadi terjadi dengan Silla
"iya juga sih San, tapi udahlah daripada kita nyari masalah masa tu orang mending cuek aja kalo masih ingin hidup"
Irma menyarankan agar tidak mengganggu Silla dan kawan kawannya
dikantin tempat Silla dan teman temannya nongkrong
"Sill kok mereka takut sama kamu ya?? biasanya sih yang aku denger dia gak ada takut takutnya sama yang lain mala sering ngelabrak orang lain yang menghalangi mangsanya, tapi kok sama kamu gak berani ya??"
tanya Anna heran dengan apa yang ia lihat karna yang sepengetahuannya Santi seoarng yang sangat populer dikalangan kampusnya yang suka cari perhatian dan menggait semua wocok ganteng yang jadi incarannya
"aku denger denger sih katanya dia tau identitas Silla anak seorang mafia Ann gitu sih beritanya yang aku dengar kalau gak salah"
Senja memberitahu berita yang beredar dikampus
Anna mengerutkan alisnya heran dan tatapan matanya menatap Silla meminta penjelasan akan masalahnya
Silla pun cengengesan mendapatkan tatapan penuh tanya Anna
"aku berbohong pada cowok yang waktu itu hendak mengangguku, aku bilang aku anak seorang mafia biar dia gak ganggu aku lagi, mungkin dia nyebarin berita itu jadi ya begitu deh"
jawab Silla dengan entengnya Senja dan Anna pun mengangguk mengerti
"ayo ahh masuk bentar lagi jam pelajaran dimulai"
ajak Silla mereka pun beranjak dari bangku kantin menuju ruang kelas masing masing
dikediaman Umi Siti seperti biasa Rosita membantu Umi Siti memasak dan mengerjkan pekerjaan rumah tangga lain bersama satu santriwati lainnya
"Nduk kamu sudah punya calon suami belum Nduk??"
tanya Umi Siti pada Rosita yang sedang mengiris cabe untuk dimasak oseng oseng tempe lombok ijo
Rosita yang ditanya seperti itu jadi salah tingkah
"b belum Umi"
jawab Rosita sopan
"ohh, apa ada yang kamu sukai santri atau ustadz disini Ros??"
tanya Umi Siti kembali
__ADS_1
Rosita terdiam wajahnya langsung merona ditanya hal seperti itu oleh Umi Siti
salah satu santriwati yang ikut membantu memasak pun menyenggol lengan Rosita untuk menjawabnya
"g' ada Umi"
jawab Rosita malu mengakui perasaannya ia cukup sadar diri bukan dari kalangan orang yang berada
"semoga cepat bertemu jodohnya yo Nduk??"
Umi Siti mendoakan yang terbaik untuk santriwatinya bukan maksud untuk menolak Rosita mempunyai perasaan terhadap putranya tapi ia tidak mau berharap banyak biarkan allah yang menjodohkannya itulah pemikiran Umi Siti
Rosita dan satu temannya mengaminkannya
"habis ini bikin puding ya??"
perintah Umi Siti dan ia pun mengambilkan bahan bahannya untuk membuatnya
"njehh Mi"
jawab Rosita dan temannya
setelah selesai memasak lauk mereka bertiga pun mulai membuat puding sesuai yang diperintahkan Umi Siti pada Rosita dan satu temannya tersebut
Rosita bisa membuat barbagai masakan dan makanan belajar dari Umi Siti yang selalu mengajarinya tentang beraneka ragam masakan tiap harinya dengan membantu Umi Siti Rosita punya bakat memasak dan banyak pengetahuan
"ini bawa satu buatmu dan teman temanmu ya Nduk"
Umi Siti memberikan satu loyang puding untuk Rosita dan teman temannya
setiap meminta bantuan pada santrinya Umi Siti selalu memberikan makanan atau cemilan untuk yang membantunya dan tidak lupa mengingatkan untuk berbagi pada teman yang lainnya
Rosita pun menerimanya dan tidak lupa mengucapkan
"Matur nuwun Umi"
ucap Rosita dan satu temannya pada Umi Siti
"sami sami"
jawab Umi Siti dengan senyuman
Rosita dan satu temannya pun pamit kembali kepesantren dengan membawa puding yang diberikan Umi Siti
Rosita dan temannya tersenyum senang mendapatkan makanan gratis dari pemilik pesantren tersebut
hidup dikalangan pesantren yang serba terbatas akan semua fasilitas terlebih makanan harus seadanya membuat semua santri yang mendapat makanan cuma cuma dari orang lain membuatnya senang bukan main bagi mereka rejeki yang tidak boleh ditolak apalagi yang memberikannya adalah pengasuh pesantren tersebut mereka pasti akan mengatakan NGALAH BERKAH yang membuat mereka tambah bahagia tiada tara
"enak ya Ros tiap hari kamu bantuin Umi tiap hari dapat makanan gratis, kenapa aku selama ini gak sering sering ikut ya, agak nyesel juga sih selama ini terlalu cuek"
Rosita tersenyum mendengar celoteh Nurul yang kadang memang suka malas bila diajak ikut membantu
"kamu sih banyak alasan, nyesel kan??"
jawab Rosita tersenyum mereka berjalan bersama menuju kekamarnya
"Ini kita paruh ya buat mu dan buat ku jangan lupa bagi sekamarmu Rul"
Rosita mengingatkan Nurul pun mengangguk mengiyakan
dan kembali kekamarnya dan bersiap siap mengikuti kegiatan pengajian bagi sabtri yang tidak melanjutkan sekolah atau kuliahnya seperti Rosita Aida Nurul dan teman yang lain
Nurul sendiri juga tidak melanjutkan pendidikannya seperti Rosita karna memang ingin mendalami ilmu agamanya
dikampus tempat Aisyah menuntut ilmu ia dihampiri Melati yang sedang duduk dikantin menunggu Rani karna Rani setuju mengantarkannya ke bengkel untuk mengambil motornya yang sedang diperbaiki
"Ais aku mau ngomong sama kamu"
panggil Melati ketus ia berdiri didepan Aisyah yang sedang menyeruput es tehnya digelas
"ngomong aja, duduk gih biar gak capek"
ucap Aisyah cuek bukan benci tapi Aisyah memang tidak suka dengan perilaku Melati yang sok kaya dan sombong
akhirnya Melati pun menurut dan ikut duduk bersama Aisyah
Aisyah hanya diam saja menunggu Melati mengatakan apa yang ingin diucapkannya
"bisa gak kamu bilangin sama Silla itu biar gak kecapekan kalau didepan santri putra atau ustadz yang lain"
ucap Melati dengan pedenya tanpa beban Aisyah pun mengerutkan alisnya heran mendengar perkataan Melati yang mala justru sebaliknya ia yang setiap kali melihat santri putra atau usradz liwat selalu caper dan tidak lupa selalu membenarkan kerudungnya agar terlihat rapi dan baik semua itu sudah tidak asing bagi Aisyah atau santriwati lainnya yang memang sering melihat tingkah Melati tersebut
"kenapa gak bilang sendiri sama orangnya?? lagian kamu itu ya lucu yang suka cari perhatian kan kamu kenapa mala nuduh Silla?? aneh??"
cibir Aisyah heran
mata Melati melotot kesal dengan Aisyah
"apa kamu bilang??"
tanya Melati agak menyentak
"ya kan Mel kamu sendiri yang suka sok kecapekan didepan santri putra dan para ustadz kenapa kamu mala nuduh Silla yang begitu bukannya memang kamu yang selalu membetulkan kerudungmu sarung serta bajumu dan berdandan cantik tiap kali kegiatan, kamu kan sering bedakan liptipkan bahkan wangi wangian tidak lupa bercermin dulu sebelum berangkat?? kalau Silla emang udah cantik dari pabriknya tanpa bedak atau apapun"
Aisyah membuka kebiasaan Melati yang memang sering seperti itu bila didalam pesantren
__ADS_1
mulut Melati menganga mendengar semua yang diucapkan Aisyah benar adanya
"kamu mratiin aku ya?? kamu selalu penguntit??"
tuduh Melati ia tidak sadar bahwa mereka hidup disatu atap satu pesantren jadi apa kegiatan mereka pasti akan tau satu sama lain
"masyallah Melati kita satu pesantren bukan hanya aku yang tau kegiatan dan perilaku kamu tapi yang lain pun tau hanya saja kami cuek dengan semua itu, tapi kamu mala menyinggung teman Silla tanpa ngaca kelakuan kamu sendiri?? apa gak malu, udah deh mending kita urusin urusan kita masing masing tanpa menyinggung orang lain"
saran Aisyah ia pun bangkit dari duduknya karna melihat Rani datang menghampirinya dan berlalu meninggalkan Melati yang masih menganga mulutnya mungkin syok Aisyah bisa mengatakan ucapan pedasnya
"tumben Melati duduk bareng kamu Ais?? lagi akur??"
ledek Rani pada Aisyah ia cengengesan mengatakannya
"tau tuh orang tiba tiba nyamperin aku dan bilang tolong kasih tau Silla ya jangan sok kecakepan bila didepan satri putra dan para ustadz"
Aisyah memperagakan gerak gerik Melati kala mengatakan hal tersebut membuat Rani tertawa yang mendengarnya
"dia sendiri gak ngaca kayak gimana mala ngatain orang lain begitu, heran aku"
dengkus Aisyah kesal dengan perilaku Melati teman pesantrennya tersebut
Rani hanya terkekeh mendengar kekesalan temannya tersebut
"udah biarin aja, gak usah diladeni orang kayak Melati, yang ada capek doang"
Rani mengingatkan yang dianggukan kepala Aisyah mereka pun menuju bengkel untuk mengambil motornya
"udah belum mas??"
tanya Aisyah yang mereka sudah sampai bengkel tempat Aisyah menyerviskan motornya
"udah dek, bentar ya saya cek dulu"
ucap tukang bengkel tersebut dan ia pun mulai menyalakan motor Aisyah untuk mengecek semuanya agar tidak ada kesalahan
Aisyah mengangguk dan duduk dikursi kayu yang sudah disediakan bersama Rani
sambil nenunggu Rani dan Aisyah mengobrol ringan hingga tukang servis motornya selesai
"udah dek semuanya udah beres"
ucap tukang motor tersebut sambil menyerahkan kunci motor milik Aisyah
Aisyah menerima kunci motornya dan membayar biaya perbaikan dan pamit berlalu tidak lupa mengucapkan terima kasih pada tukang bengkel tersebut
Aisyah dan Rani berjalan beriringan santai sambil menikmati perjalanan mereka
"Sill itu Rani ya sama Aisyah??"
tanya Anna membuka kaca helmnya
Silla pun ikut melongokkan kepalanya setelah membuka kaca helmnya
"iya, baru pulang ya??"
Silla bertanya balik
"kayaknya, samperin yuk??"
ajak Anna Silla mengangguk setuju motor Anna pun agak dipercepat agar dapat mengiringi motor Aisyah dan Rani
"Ais?? Rani??"
panggil Silla saat sudah dekat Rani dan Aisyah pun menoleh lewat spion motornya dan tersenyum melihat Silla melambaikan tangannya dan akhirnya motor mereka pun berjalan beriringan bertiga seperti jalanan milik mbahnya beruntung jalanan lumayan sepi tidak banyak kendaraan atau mobil berlalu lalang jadi tidak terlalu terganggu dengan motor Aisyah Rani dan Anna
"baru pulang ya??"
tanya Silla tersenyum ia senang bisa bisa pulang bersama teman temannya
"lumayan Sill, tadi mogok motorku, jadi ngambil motor dulu dibengkel baru sekarang jalannya"
Aisyah memberitahu ia pun senang bisa pulang bersama dengan yang lain
"Rani yang antar kamu ambil motor dibengkel Ais??"
tanya Anna
"iya minta anterin dia tadi sekalian lah pulang bareng bareng"
jawab Aisyah memberitahu
"kenapa gak pulang bareng bareng aja ya sepesantren biar rame ni jalanan biar kayak karnaval"
celetuk Silla ia terkekeh membayangkan satu pesantren pulang kuliah bersama betapa macetnya jalanan yang ia lewati
mereka bertiga tertawa mendengar ocehan Silla
mereka bertiga tidak sadar bahwa sepasang mata memerhatikan obrolannya dijarak tiga meter Azmi yang kebetulan pulang pun melihat para santrinya sedang berjalan santai beriringan tanpa memedulikan kendaraan lainnya
Azmi hanya menggeleng melihatnya
Azmi sengaja tidak mau medahuluinya karna ingin menikmati pemandangan Silla didepannya yang tersenyum ceria bila ia mendahului motor mereka pasti mereka akan bubar dan canggung karna kepergok bercanda sambil motoran ditengah jalan dab takut teguran jadi Azmi pun membiarkannya tanpa mengangguk mereka
tidak lama motor Melati pun lewat ia sengaja memelankan motornya demi menyapa Azmi karna motor Azmi berada dibelakang motor Silla Anna dan Rani
__ADS_1