Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 10


__ADS_3

Amel yang baru saja selesai peninjauan lokasi pembangunan yayasan panti asuhan, ia baru ingat saat melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Itu tandanya Rafif sudah pulang dari tadi.


Amel segera meminta pada kuasa hukumnya untuk mengakhiri peninjauan dan pamit untuk segera menuju sekolah Rafif.


"Mas Lino, aku duluan ya, soalnya mau jemput anak sekolah," ujar Amel pamit undur.


"Yaudah sekalian aku antar, Mbak Amel," tawar Pria itu, sama-sama ingin pulang.


"Ah, tidak usah. Aku naik taksi saja," tolak Amel segera merogoh ponselnya di dalam tas.


"Ya Allah, ternyata ponsel aku habis daya. Pasti pihak sekolah udah nelpon." Amel gusar sendiri. Ia masih menunggu taksi yang lewat, tetapi tak kunjung nampak armadanya. Wanita itu semakin bingung harus bagaimana, ingin pesan taksi online ponsel mati.


"Udah, ayo Mbak Amel biar sekalian saya antar," tawar pengacaranya yang bernama Lino itu.


Akhirnya mau tidak mau Amel harus menerima tawaran itu. Amel segera masuk ke mobil dan meminta Lino untuk singgah ke sekolahan Rafif terlebih dahulu.


"Maaf Ibu, anak Rafif sudah dijemput oleh Papanya," jelas pihak sekolah.


"Oh, begitu ya, baiklah Terimakasih Pak." Amel kembali masuk kedalam mobil.


"Mana anaknya Mbak?" tanya Lino.


"Ah, sudah pulang di jemput suami saya."


"Oh, yasudah sekarang kita langsung pulang kan?"


"Ah, iya."


Radit yang sedari tadi resah menanti kepulangan sang istri. Pria itu berulang kali menghubungi Amel tetapi ponselnya masih belum aktif. Radit mendengar ada deru mesin mobil di gerbang rumah, ia segera membuka gorden jendela untuk melihat siapa orang yang datang.


"Amel!" Radit terkesiap melihat pemandangan yang menyakitkan. Pria itu segera keluar dari kamar untuk menghampiri sang istri baru saja pulang.


Radit berdiri diambang pintu utama dengan tatapan penuh amarah. Amel yang melihat itu segera menghampiri untuk meminta maaf karena lupa dengan jam pulang Rafif.

__ADS_1


"Ah, Mas, aku minta maaf karena..."


"Apa? Karena kamu sudah pergi dengan lelaki lain, iya?!" bentak Radit seketika.


"Mas, bu-bukan itu maksud aku!"


"Terus apa? Aku lihat sendiri kamu pulang diantarkan oleh seorang lelaki. Dan kenapa ponsel kamu dimatikan? Kenapa kamu tidak membawa mobil sendiri? Mau berkilah apalagi kamu?" Radit segera berlalu meninggalkan Amel yang masih terpaku.


Memang sulit untuk menjelaskan pada seseorang yang sudah terlebih dahulu menghakimi tanpa berminat untuk mendengarkan, karena dia sudah mempercayai apa yang dia lihat tanpa tahu hal yang sebenarnya di belakang itu.


"Mas Radit, dengarkan aku dulu, Mas! Aku bisa menjelaskan semuanya!" ujar Amel masih berusaha untuk mengejar dan ingin menjelaskan. Tetapi, Radit sudah tak menghiraukan, Pria itu segera meraih kunci mobil yang ada di meja.


"Mas, tunggu dulu!" Amel menahan langkah Pria itu.


"Lepaskan Amel!" bentak Radit menghempaskan tangan Amel dengan kuat.


"Mas, aku mohon tolong dengar penjelasan aku dulu!"


DEG!


Seketika hati Amel hancur mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Radit. Air matanya jatuh seketika. Radit sudah melanggar komitmen yang dibangun saat sebelum mereka menikah.


Amel terduduk menangis dengan tergugu. Ternyata Pria itu selama ini masih menganggap dirinya sebagai wanita malam. Padahal dia selalu berusaha untuk mengubur kenangan kelam itu. Tetapi nyatanya Radit sendiri yang menggalinya kembali.


Kepercayaan wanita itu runtuh seketika. Sekali bila lelaki memandangnya rendah, maka di episode selanjutnya kata-kata itu akan kembali terucap kepadanya. Radit tak menghiraukan tangis wanita itu, dia segera pergi mengendarai mobilnya.


Amel masuk kedalam kamar masih dengan tangis pilu. Wanita itu duduk di bibir ranjang sembari menatap pigura pernikahannya. Tangannya terulur meraih gambar itu.


"Mas Radit, kenapa kamu mengucapkan hal itu, Mas? Kenapa kamu melanggar janji kita? Apakah aku memang tidak pantas menjadi istrimu, apakah selama ini kamu masih memandangku hina?" wanita itu bertanya pada benda mati itu secara beruntun.


Amel menangis tergugu. Entah berapa lama ia larut dalam kesedihan. Amel menyudahi tangisannya dan segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak terasa waktu magrib sudah tiba. Ia segera melaksanakan ibadah tiga rakaat sendiri.


Malamnya Amel masih menunggu kepulangan sang suami, tetapi yang dinanti tak kunjung menampakkan diri. Amel resah dan cemas, apakah Radit akan lari ke klub malam lagi untuk mencari ketenangan.

__ADS_1


"Mama kenapa dari tadi sedih?" tanya Rafif memutus lamunannya.


"Hah? Enggak, Mama tidak sedih, Sayang, Mama baik-baik saja." Amel berusaha untuk tetap tenang dihadapan Rafif dan memeluknya.


"Ma, tadi aku dengar Papa marahin Mama ya? Emang Mama salah apa sehingga Papa marah?" tanya bocah itu begitu polos.


"Hmm, ada sedikit masalah, Nak, Papa hanya salah paham. Sudah, tidak perlu dipikirkan, sekarang ayo Mama temani kamu bobok. Udah larut, nggak boleh anak kecil begadang, kan besok sekolah," ucap Amel membawa sang anak untuk segera tidur.


Setelah menidurkan anaknya, Amel kembali ke kamarnya, wanita itu ingin sekali menghubungi sang suami, tetapi dia tak mempunyai keberanian. Maka, Amel memilih untuk tidur terlebih dahulu.


Jam dua dini hari Amel terbangun, ia meraba sisi tempat tidur berharap suaminya ada disana. Tetapi ternyata Amel tak menemukan Pria itu. Tatapannya menyapu ruangan itu untuk mencari sosok yang dinantikan dari sore kemarin.


Amel beranjak keluar kamar, ia memeriksa kamar tamu, tetapi tak ditemukan, lalu mencari di kamar Rafif, ternyata Ayah dan anak itu tidur pulas disana. Amel merasa sedikit lega melihat Radit sudah pulang. Tetapi hatinya sedih karena Radit sudah tak ingin tidur seranjang dengannya.


Pagi-pagi seperti biasa, Amel menyediakan sarapan untuk suami dan anaknya. Setelah itu ia segera menyiapkan pakaian ganti untuk Radit ke RS.


Sejak bangun tidur Radit tak mau bicara dengannya. Amel sudah berusaha untuk menegur terlebih dahulu, tetapi Pria itu enggan untuk menjawab. Amel kembali menekan rasa sabar dalam hatinya.


"Ini pakaian ganti kamu, Mas," ujar Amel menyerahkan pada Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tidak usah mengurusku lagi. Aku bisa sendiri."


Amel terdiam, kembali air matanya jatuh di pagi ini. "Mas, apakah kamu sudah tak menginginkan aku lagi?" tanya Amel dengan lirih.


"Jika aku tak menginginkan kamu lagi, sudah pasti Pria hidung belang diluaran sana masih banyak yang menginginkan..."


"Stop Mas! Stop!!" Teriak Amel menyorot dengan tajam, air matanya bercucuran. "Sudah cukup segala hinaan kamu, Mas! Kenapa kamu semudah itu berpikir buruk tentangku. Kamu sudah melanggar komitmen yang kita bangun sebelum kita menikah. Jika kamu memang tak menginginkan aku lagi, aku akan pergi dari kehidupan kamu, Mas!"


Amelia segera keluar dari kamar dan menumpahkan tangisannya dikamar yang sebelumnya ia tempati.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2