Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 17


__ADS_3

Radit segera menggendong gadis kecil itu. Sementara Rafif berusaha menghibur agar bocah itu tak lagi menangis.


"Nama Adek siapa?" tanya Rafif sembari mengekor dibelakang Papa dan membawa adik kecil itu bicara.


"Lala," lirihnya menahan perih.


"Lala?" tanya Rafif memastikan.


"Bukan, Kak, tapi Lala," jelasnya tetapi tak bisa diartikan oleh Rafif, karena gadis kecil itu tidak bisa mengatakan huruf "R"


Radit hanya tersenyum mendengar percakapan kedua bocah itu. Pria itu masih menyusuri jalan yang membawanya menuju rumah makan.


"Rumahnya dimana, Sayang?" tanya Radit


"Itu Om." bocah itu menunjuk sebuah rumah makan sederhana.


"Oh, jadi kamu anaknya pemilik rumah makan itu," tanya Radit. Dan dibalas anggukan olehnya.


Sementara Amel yang selesai berberes untuk menutup rumah makan, ia baru ngeh, ternyata sedari tadi tak melihat keberadaan sang putri. Seketika wanita itu panik.


"Uni, Rara mana?" tanya Amel pada Uni dan Ayu.


"Eh, iya, kayaknya dari nggak lihat Rara deh, Mbak," sahut Ayu yang baru selesai membersihkan peralatan.


"Rara! Kamu dimana, Nak!" panggil ibu satu anak itu."


Amel segera melesat keluar dari warung, namun langkahnya terhenti saat menemui sang putri dalam gendongan seseorang. Seketika mata wanita itu terbuka lebar.


"Mas Radit!" serunya menatap tidak percaya bahwa sang anak berada dalam gendongan ayahnya.


"A-amel!" Radit tak kalah gugup, jantungnya berdegup kencang saat menatap wanita yang selama ini ia cari ada dihadapannya. Wanita itu terlihat sangat berbeda dengan hijab yang selalu menutupi mahkotanya. Kecantikan wanita itu semakin bertambah kadarnya.


"Ra-rara kenapa, Nak?" tanya Amel mencoba fokus pada putri kecilnya.


"Tadi dia jatuh dijalan sana," jawab Radit mencoba untuk tenang. Pria itu baru sadar bahwa Rara adalah putri Amel, itu berarti Amel sudah mempunyai suami setelah berpisah darinya.


Mendadak hati Pria itu tak menentu, yang jelas perasaan kecewa begitu tampak dari raut wajahnya. Ya, tentu saja Amel akan menikah dengan Pria lain, karena dirinya telah mengecewakan wanita itu.

__ADS_1


Amel segera mengambil Rara dari gendongan Radit. "Te-terimakasih ya, Mas," ucapnya tak kalah gugup. Perasaan Amel semakin tak menentu saat ditatap begitu dalam oleh lelaki yang sampai saat ini masih berstatus sebagai suaminya. Bahkan rasa cintanya tak pernah pudar walau sedikitpun. Ah, andai saja hubungan mereka tak bermasalah, mungkin ia akan segera berhambur masuk kedalam pelukannya.


"Mama?" panggil seseorang yang sedari tadi bersembunyi dari balik tubuh sang Papa, bocah kecil itu juga merasa canggung melihat kehadiran wanita yang amad dirindukannya, tetapi sepertinya sang Mama sudah mempunyai kehidupan baru, karena sudah mempunyai anak dari orang lain.


Amel terkesiap melihat kehadiran Rafif. Dia mendudukkan Rara dibangku dan segera menghampiri bocah laki-laki yang sangat dirindukannya.


"Rafif!" Amel segera meraih tubuh kecil itu untuk masuk kedalam pelukannya. "Mama kangen banget sama kamu, Nak, kangen banget, Sayang," gumam wanita itu dengan tangis haru.


"Aku juga kangen banget, Ma, kenapa Mama pergi tinggalkan aku dan Papa? Kenapa Mama tidak pernah kembali lagi? Aku dan Papa selalu tungguin Mama untuk pulang. Hiks..." Akhirnya tangis bocah itu pecah juga dalam dekapan sang Mama.


Radit yang melihat pemandangan itu tak kuasa menahan haru, hormon kesedihannya menyeruak sehingga membuat matanya berkaca-kaca.


"Jangan menangis, Nak, meskipun Mama tidak bersama kamu lagi, tetapi kamu akan selalu ada dalam hati Mama," jawab Amel masih mendekap erat.


"Apakah adik itu anak Mama?" tanya Rafif ingin memastikan.


"Ah, iya, dia anak Mama. Sama seperti kamu," jawab Amel melerai pelukannya.


Saat mereka masih larut dalam perasaan, terdengar rengekan gadis kecil itu menahan perih luka yang di kakinya. Radit segera menghampiri.


"Kenapa Sayang? Kakinya perih ya, yaudah biar Oom kasih obat ya." Radit segera beranjak ingin kembali ke rumah untuk mengambil kota obat.


"Ti-tidak usah repot-repot, Mas, di dalam ada kotak obat kok," jawab Amel sembari menatap wajah Pria yang sangat dirindukannya.


"Tidak apa-apa, aku ambil salep luka biar nggak terasa perih," jelasnya tak mau dibantah. Radit segera beranjak menuju kediamannya untuk mengambil obat.


"Ayo, Sayang." Amel membawa Radit duduk disamping Rara.


"Mana yang sakit, Sayang? Sini Mama tiup ya." Amel meniup luka lecet yang ada di lutut sang Putri. Makanya Adek jangan suka lari-lari, jadinya luka 'kan?" nasehat wanita itu pada sang anak.


"Aku nggak lali-lali, Ma, tapi kecandung cama batu," ujarnya membela diri.


"Oh, gitu. Yaudah besok lain kali jangan main jauh-jauh dari Mama. Oke,"


Gadis itu hanya mengangguk paham, tangisnya mulai reda karena mendapat tiupan dari Mama, sedikit mengurangi rasa perih.


"Rafif sudah makan, Nak?" tanya Mama beralih pada bocah laki-laki yang sedari tadi hanya diam mengamatinya.

__ADS_1


"Belum, Ma, tadi Papa buru-buru tidak sempat mampir beli makanan," jawabnya jujur sekali.


"Oh, yaudah, Mama masakin sesuatu buat Rafif dan Papa ya," tawar wanita itu.


"Boleh, Ma. Sini biar aku saja yang tiup kaki Adek. Oya, nama Adek siapa sebenarnya, Ma?" tanya Rafif belum mendapatkan kepastian dari gadis kecil itu saat bicara karena tidak jelas.


"Namanya, Rara."


"Oh, Rara. Nama kita hampir sama ya, Dek, nama Kakak Rafif, dan kamu Rara, awalannya sama," celoteh bocah itu pada adiknya. Saat Rafif berhasil menghibur adiknya, Amel segera beranjak menuju dapur memasak sesuatu untuk menjamu tamu hatinya.


"Siapa mereka, Mel, kok kamu akrab banget?" tanya Uni dan Ayu penasaran.


"Ah, dia tetangga aku dulu, Un, kebetulan ketemu disini. Yaudah Uni sama Ayu kalau sudah siap pekerjaannya boleh pulang kok," ucap Amel, ia masih belum jujur tentang kedua Pria yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu ya Mel,"


"Mbak, aku pulang ya."


"Iya, silahkan."


Setelah pegawainya pulang, Amel segera memasak sesuatu. Wanita itu begitu fokus tanpa menyadari kehadiran Radit yang sedang mengobati luka putrinya.


"Gimana, Masih sakit?" tanya Radit setelah mengolesi salep pada luka Rara.


"Enggak, Om, dingin banget. Hihi.." Gadis kecil itu cekikikan sehingga membuat Radit dan Rafif begitu gemas.


"Tadi aja nangis, sekarang udah bisa tertawa. Lucu banget sih kamu," celoteh Rafif pada sang adik.


"Cekarang udah nggak pelih lagi, Kak. Nanti kalau kakak luka kacih obat ini aja, benal kan, Om?" balas Rara begitu semangat.


"Iya, Sayang." Radit mengusap kepala bocah itu dengan lembut. Netranya mencari sosok wanita yang teramat dirindukannya.


Radit melangkah menuju dapur rumah makan itu, sosok yang ia cari tampak sedang cekatan dengan peralatan masak.


"Ghem!"


"Astaghfirullah, Mas Radit!" wanita itu terlonjak kaget. Tatapan mereka kembali bertemu.

__ADS_1


Bersambung...


Happy reading 🥰


__ADS_2