
"Duduk dulu, Sayang." Radit mendudukkan putri kecilnya di sofa.
"Nggak mau!" pekik gadis itu tak ingin lepas dari sang Papa.
"Oh, iya iya. Yaudah, minum obatnya sambil peluk Papa ya, tolong Ma, ambilkan air minumnya," ujar Radit kembali mendudukkan gadis kecil itu diatas pangkuannya.
Amel segera mengambil air putih dan membantu suaminya memberi obat untuk Rara sesuai petunjuk yang tertera.
Selesai minum obat, Rara sudah mulai ngantuk. Radit segera membawa kedalam kamar dan menidurkan hingga putri kecil itu terlelap. Sementara itu Amel sibuk di dapur sedang menyiapkan makan malam, karena mereka memang belum makan.
"Mas Radit!" pekik wanita itu kaget karena mendapat pelukan dari belakang.
"Serius banget, masak apa Sayang?" tanya Radit sembari mencuri kecupan di pipi istrinya.
Seketika wajah Amel merona, darahnya berdesir, jantung berdegup kencang, hampir tiga tahun ia tak merasakan sentuhan itu.
"Kenapa diam begitu, hmm?" tanyanya masih memberi kecupan.
"Mas, lepas dulu ya, aku lagi nyiapin untuk makan malam," ucap wanita itu, wajahnya masih terasa panas.
"Kangen banget, Dek," bisik Pria itu di telinga Amel, membuat bulu romanya berdiri.
"Tapi lagi masak, Mas."
"Tunda sebentar ya, please..."
Amel tak bisa menolak, ia juga tak ingin munafik, bahwa sesungguhnya juga sangat menginginkan sentuhan itu.
"Hmm, baiklah, aku matiin kompor dulu. Sana tunggu di kamar," ujar Amel menuruti keinginan suaminya.
"Kamu serius Sayang?" tanya Radit begitu senang, senyum sumringah membingkai di bibirnya.
"Iya, aku beresin ini sebentar ya."
"Oke, Sayang, dengan senang hati, aku tunggu, jangan lama ya," ujar Pria itu sembari mengecup pipi sang istri sebelum beranjak.
Amel hanya tersenyum lembut, ia segera membereskan peralatan masaknya sebentar, setelah itu menuju kamar mandi untuk berbersih sebelum digunakan. Wanita itu menyemprotkan parfum di leher dan area sensitif lainnya dengan tipis.
Dengan perlahan Amel keluar dari kamarnya yang telah dihuni oleh kedua buah hatinya, maka pasangan itu menggunakan kamar Rara untuk tempur.
Perlahan wanita itu masuk kedalam kamar putrinya yang memang jarang sekali di tempati, karena bocah itu tidak pernah mau tidur sendirian.
"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Radit berdiri dari duduknya dan segera memeluk Amel dengan penuh kerinduan.
"Maaf ya, tadi bersih-bersih dulu," ucap wanita itu tersenyum lembut.
Radit segera mengecup bibir Amel dengan lembut, semakin lama kecupan itu berubah menjadi luma tan. Dengan perlahan Radit membaringkan tubuh ramping itu diatas ranjang.
__ADS_1
Akhirnya benda keramat yang sudah pensiun selama tiga tahun, kini kembali aktif di dunianya. Radit mengecup seluruh wajah sang istri yang telah memberinya kepuasan batin. Rasanya begitu membuatnya candu.
"Mau kemana, Dek?" tanya Radit melihat sang istri bangkit dari tempat tidur.
"Mau mandi, Mas, masakan aku terbengkalai," jelasnya.
"Nanti saja masaknya, Sayang," ujar Pria itu menahan tubuh Amel agar kembali merebah disampingnya.
"Tapi Mas..."
"Nanti Sayang, aku masih kangen," lirih Pria itu memeluk dengan erat.
"Apakah kepala kamu tidak sakit lagi?" tanya Amel memastikan, tapi memang tak terlihat lagi suaminya mengeluh.
"Tidak Dek, kan udah diobati sama kamu. Hehe..."
"Ih, bisa aja kamu, Mas." Wanita itu tersenyum malu.
Selesai ritual nafkah batin, Amel segera membersihkan diri, lalu kembali ke dapur untuk merampungkan masakannya.
Selesai menghidangkan di meja makan, Amel Kembali ke kamar untuk memanggil suaminya.
"Mas, baru selesai mandi?" tanya Amel melihat Pria itu masih menggunakan handuk dengan rambut yang masih basah.
"Hmm, ketiduran sebentar, Dek."
"Oke, Sayang."
Pasangan itu makan dalam kehangatan, setelah makan mereka duduk di teras bersantai sambil ngobrol.
"Mau kopi, Mas?" tanya Amel sembari bersandar di bahu suaminya.
"Nggak, Dek, tapi mau kamu lagi," jawab Radit tersenyum nakal.
"Ya ampun, nggak capek apa?" tanya Amel mencubit gemas.
"Nggak, bayangin aja udah tiga tahun pensiun. Serasa pengantin baru lagi," ujarnya sembari membawa wanita itu kedalam pelukan.
"Tidur yuk Mas, udah ngantuk. Besok bangun pagi harus siap-siap," ajak Amel membawa suaminya untuk segera tidur.
"Yaudah, ayo kita tidur sekarang."
Pasangan itu tidur di kamar utama bersama dengan anak-anaknya. Pagi-pagi sekali Amel bangun terlebih dahulu, segera bersiap sebelum kedua buah hatinya bangun.
"Ma, kita mau kemana, kok Mama beles-beles?" tanya gadis kecil yang sudah duduk memperhatikan sang Mama sedang mempacking barang-barang yang akan dibawa.
"Eh, anak Mama udah bangun, kan kita mau ikut Papa dan Kakak ke kota, Rara mau ikut 'kan?" tanya Amel sembari mendekati putrinya, meraba kening dan pipinya. Ternyata panasnya sudah turun.
__ADS_1
"Yeee... aku senang sekali. Kak, bangun, ayo mandi kita mandi," ujar bocah itu membangunkan Rafif dengan girang.
"Udah jam berapa sih, Dek?" tanya Rafif menggeliat malas, masih menutup matanya.
Radit yang mendengar suara heboh kedua anaknya mengganggu tidur nyenyaknya. Pria itu membuka mata dengan sempurna dan segera duduk.
"Udah bangun, Mas? Sana sholat subuh, selak kesiangan," ujar Amel masih fokus dengan aktivitasnya.
"Ah, ya, kok kamu nggak bangunin aku?" tanya Pria itu sembari berdiri.
"Papa, gendong," rengek gadis manja itu.
"Ah, baiklah. Sini Papa gendong, udah nggak panas lagi badannya Sayang?" Radit segera membawa gadis kecil itu dalam gendongannya.
"Ndak, Pa," jawabnya menggeleng lucu dengan senyum merekah.
"Nafas Adek masih sesak?"
"No, Papa. Aku cudah baik-baik saja."
"Syukurlah, sayang Papa dulu." Pria itu segera memberikan pipinya dan segera dikecup oleh gadis kecil itu.
"Kak Rafif, mana sayangnya untuk Papa pagi ini?" tanyanya pada putra sulungnya.
Rafif segera berdiri menjangkau pipi Papanya dengan kecupan. Amel tersenyum bahagia melihat pemandangan yang begitu menghangatkan jiwanya.
Wanita itu berdo'a semoga Allah selalu melindungi keluarga kecilnya, semoga tidak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka. Ia ingin membesarkan kedua buah hatinya hingga mereka dewasa.
Setelah mendudukkan gadis kecil itu kembali diatas ranjang, Radit segera menuju kamar mandi bersiap untuk melaksanakan ibadah dua rakaat.
Pagi ini setelah rapi, dari kedua orangtuanya hingga kedua anaknya, pasangan itu sarapan bersama. Sebelum pergi Amel menitipkan semuanya pada Uni Pitri dan Ayu. Mungkin dia agak lama di kota, karena harus mengobati Rara sampai sembuh.
Soal rumah makan, Uni Pitri dan Ayu yang menghandle. Amel sudah mempercayai kedua orang itu, karena sudah dia anggap sebagai saudara sendiri.
"Uni, Ayu, kami pamit dulu ya, aku percayakan warung pada kalian berdua. Mungkin aku agak lama disana," jelas Amel.
"Baiklah, insya Allah Uni dan Ayu akan mengemban dengan baik. Kalian hati-hati ya. Semoga cepat sembuh ya, cantik," ujar Uni memberi Do'a.
"Hati-hati dijalan Mbak Amel, Do'ain aku bisa melenturkan hati Dokter jutek itu ya," sambung Ayu membuat Amel dan Radit tertawa.
"Siapa sih Dokter jutek itu?" tanya Radit penasaran karena memang tidak tahu.
"Ih, Mas Radit pura-pura nggak tahu, itu loh Mas, Dokter Rian," jawab Ayu malu-malu.
"Oh, Dr Rian. Nanti deh, aku bantuin kalau aku sudah praktek disini," ujar Radit ikut mendukung, bukan tak ada sebab, karena dia tahu bahwa Pria muda itu ada perasaan pada istrinya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰