
Radit hanya menghela nafas dalam, ia tak menghiraukan,dan segera beranjak ke RS. Bahkan Pria itu tak menyempatkan diri untuk makan masakan yang telah disediakan oleh sang istri.
"Rafif, nanti pergi sekolah dengan Mbak saja ya, soalnya Papa lagi buru-buru," pesan Pria itu pada sang Putra yang sedang menikmati sarapannya.
"Kenapa tidak dengan Mama saja, Pa?" tanya bocah itu tak tahu sama sekali.
"Sama Mbak saja, Papa bilang!" tegas Pria itu kepada anaknya.
Rafif tak mengiyakan, tetapi juga tak membantah. Bocah itu terlihat murung sehingga tak berselera untuk menghabiskan makanannya.
Amel yang mendengar akan hal itu membuat hatinya semakin pilu. Wanita itu kembali masuk kedalam kamar dan menangis sesenggukan. Hatinya perih sekali, merasa sudah tak dianggap lagi kehadirannya dirumah itu.
Setelah Radit dan Rafif berangkat, Amel segera mengemasi barang-barangnya, wanita itu sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Radit, tak ada yang bisa di pertahankan lagi dari hubungan singkat ini. Radit sudah meruntuhkan hatinya dengan melanggar komitmen itu.
Mungkin Pria itu masih menganggapnya sebagai wanita penghibur. Dan bahkan kehadirannya sudah tak diharapkan lagi. Terlihat dari sikap Radit yang melarang tegas putranya untuk diantarkan olehnya. Pria itu tak minat ingin memperbaiki hubungan mereka, karena tidur saja mereka tidak seranjang.
Amel meninggalkan semua yang pernah diberikan Pria itu, selain cincin kawin yang masih ia kenakan. Sebelum pergi Amel menuliskan surat untuk sang suami.
*Assalamualaikum, Mas Radit. Aku pamit Mas. Maaf, aku memilih mundur dan pergi dari hidupmu. bahkan dari hatimu. Semua aku lakukan bukan karena Aku tidak mencintai kamu lagi, namun ragaku sudah mulai lelah dengan skenario hidup ini.
Aku sadar Mas, bahwa wanita sepertiku memang tidak pantas untuk mendampingi dirimu seorang lelaki yang begitu baik. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Mas. Aku tidak seperti yang kamu bayangkan, aku memang pernah menjadi wanita penghibur, tetapi setelah menikah denganmu aku sudah memutuskan untuk mengubur kenangan buruk itu dalam hidupku.
Aku sudah tidak bisa menjalani hubungan bila dihatimu sudah tak mempunyai kepercayaan padaku. Karena untuk menjadi milikmu satu-satunya itu mustahil dan tidak akan mungkin. Aku berdo'a semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang sepadan dan terhormat, juga yang baik akhlaknya.
Terimakasih sudah banyak memberi pelajaran dalam hidupku. Titip salam sayang untuk putraku. Aku pasti akan selalu merindukannya.
Amel melipat surat itu dan meletakkan di nakas. Ia segera beranjak meninggalkan kediaman sang suami. Sebelumnya ia pamit pada Art dan pengasuh Putranya.
"Mbak, aku pamit ya. Titip Rafif, jaga dia dengan baik. Sampaikan salam sayangku padanya," ujar Amel pada mereka berdua.
__ADS_1
"Kenapa Ibu Amel harus pergi? Kasihan Dek Rafif pasti sangat kehilangan," jelas mereka ikut sedih, karena selama ini Amel begitu baik, dan tak pernah membeda-bedakan.
"Tidak apa-apa, Mbak. Ada hal yang tak bisa aku ceritakan. Aku pamit ya." Amel menyalami kedua wanita itu dan segera berlalu meninggalkan kediaman Dokter penyakit dalam itu.
Amel memesan taksi online. Diperjalanan wanita itu menghubungi kuasa hukumnya yang menangani harta yang di wakafkan untuk membangun sebuah panti asuhan, Amel sudah mempercayai semuanya pada Pria yang bernama Lino itu. Amel mentransfer semua uang hasil menjual semua asetnya.
Setelah itu ia segera membuka kartu ponsel itu dan menukar dengan yang baru. Amel benar-benar ingin pergi dari kehidupan Pria yang dicintainya, biarkan cinta itu ia simpan dalam hati dengan rapi. Amel tidak akan pernah menghalangi kebahagiaan Radit lagi.
Wanita itu memilih desa terpencil keluar dari kota Padang. Sepertinya tempat itu jauh lebih baik dimana dirinya memulai kehidupan baru. Dengan sedikit sisa uang yang dia punya, Amel mengontrak sebuah rumah sederhana dan ingin membuka warung makan untuk menyambung hidup.
"Semoga betah ya Mbak Amel, tinggal disini," ujar Ibu kontrakan ikut membantu membersihkan tempat tinggal baru untuk Amel.
"Terimakasih ya, Bu. Oya, Bu, apakah aku boleh untuk membuka warung makan disini, itung-itung untuk menambah penghasilan," ujar Amel meminta izin terlebih dahulu pada pemilik rumah itu.
"Silahkan, Mbak, ide yang bagus itu. Soalnya disini belum ada yang membuka warung makan," jawab Ibu kontrakan menyambut dengan senang hati atas rencana Amel.
"Aamiin..."
"Disini balainya jauh ya, Bu?" tanya Amel.
"Disini balainya setiap hari Sabtu, kalau balai pusat memang jauh, kita harus ke kotanya," jelas Ibu yang bernama Niar itu.
"Oh, begitu ya, Bu. Kalau begitu aku tunggu hari Sabtu saja untuk mempersiapkan segalanya sesuatunya buat jualan. Sembari menunggu aku akan membuat stelingnya dulu. Biar nanti bisa langsung jualan."
"Bagus itu, nanti Ibu carikan tukang untuk membuatkan," ucap Ibu Niar ingin membantu.
"Alhamdulillah, terimakasih sekali lagi, Bu. Maaf aku jadi merepotkan," sahut Amel merasa sungkan.
"Ah, sama sekali tidak merepotkan Mbak Amel."
__ADS_1
"Jangan panggil aku Mbak, Bu. Panggil nama saja."
"Ya baiklah."
Amelia bersyukur karena mendapatkan ibu kontrakan yang baik, dan bersedia membantu. Wanita itu sedikit lebih lega.
Setelah selesai membersihkan seluruh ruangan, Amel masuk kedalam kamar dengan tempat tidur seadanya. Wanita itu menyusun pakaiannya didalam lemari pakaian usang yang disediakan di kamar itu fasilitas dari Ibu kontrakan.
Amel mengambil sebuah pigura yang di selipkan dalam tasnya, ia menatap dan mendekap didada gambar keluarga kecilnya. Terlihat digambar itu Radit memeluknya dengan mesra dan terselip bocah kecil itu di tengah-tengah mereka.
"Maaf, aku membawa foto ini, Mas, sampai kapanpun kalian akan selalu ada dalam hatiku. Aku akan bercerita pada semua orang bahwa aku bahagia menjadi istrimu. Sayangnya kamu sudah tak mempercayai aku lagi. Tapi aku berusaha memahami segala prasangkamu, karena aku memang pernah berada di posisi itu. Semoga nanti kamu bahagia dengan jodohmu yang akan datang, tentunya dengan orang yang sepadan."
Amel menata pigura itu di meja kecil yang ada disamping ranjang tidurnya. Dengan mengucap bismillah untuk memulai hidup baru.
Sore ini Radit baru saja pulang dari RS, ia melihat sang putra sedang menangis dan berusaha dibujuk oleh pengasuhnya.
"Aku tidak percaya Mama pergi meninggalkan aku. Mbak pasti bohong. Katakan, Mbak! Mama kemana?" tangis bocah itu semakin kuat.
"Mbak tidak bohong, Dek, tapi tadi Mama Amel pergi, Mbak tidak tahu dia pergi kemana, Mama tidak memberitahu," jelas pengasuhnya.
Radit yang mendengar segera menghampiri mereka. Kemana istri saya pergi, Mbak?" tanya Radit tak kalah pemasaran.
"Saya tidak tahu, Pak, Ibu Amel hanya titip salam untuk Adek Rafif," jelas sang pengasuh.
"Hu.. Hu... Mama kemana, Pa? Kenapa Mama pergi meninggalkan kita, ini semua pasti gara-gara Papa yang suka marahin Mama!" ujar bocah itu semakin menguatkan tangisnya.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1