
Amel hanya diam, tak bisa menanggapi ucapan Radit, ia takut berharap kembali dengan Pria itu. Dan ia juga tak ingin kembali kecewa untuk yang kedua kalinya.
"Ah, kalau begitu aku dan Rafif pamit dulu, sekali lagi terimakasih banyak atas jamuannya," ucap Radit ingin segera beranjak.
"Mama, Rara, aku pulang dulu ya, besok pagi aku akan kesini lagi. Besok kita main lagi ya, Dek," pamit bocah itu pada Mama dan adiknya.
"Janji becok main kecini lagi ya,Kak," jawab Rara sangat berharap.
"Iya, kakak janji. Besok kesini lagi."
Ayah dan anak itu segera beranjak meninggalkan Ibu dan anak itu. Rafif dan Rara masih berdada ria. Amel hanya tersenyum sendu melepaskan kepergian mereka.
Pagi ini seperti janji Radit sebelum berangkat kemaren, bahwa Rafif harus dirumah saja saat dirinya sedang tugas.
"Sayang, setelah sarapan, kamu Papa anterin kembali kerumah ya, kamu dirumah saja tungguin Papa. Karena Papa masih baru disini, jadi Papa belum bisa seleluasa membawa kamu seperti RS bisanya," jelas pria itu pada putranya.
"Pa, aku anterin ketempat Mama Amel saja," ujar bocah itu.
"Tapi, Nak? Papa takut nanti kamu ngerepotin Mama." Radit merasa keberatan jika Rafif akan merepotkan mantan ibu sambungnya.
"Aku janji tidak akan merepotkan Mama, Pa, aku hanya ingin bermain dengan adik Rara," jawab bocah itu meyakinkan.
Radit menghela nafas dalam, entah kenapa jantungnya selalu berdebar saat memikirkan ingin bertemu kembali dengan wanita cantik itu. Tak bisa dipungkiri bahwa rasa cintanya begitu besar terhadap mantan istrinya.
Radit tak bisa berbuat apa-apa, kini wanita itu sudah mempunyai suami, dan bahkan Amel sudah mempunyai kehidupan baru, dan juga sudah mempunyai seorang anak dari pernikahan itu. Tentu saja Amel sangat bahagia dengan pernikahannya.
Mungkin suami baru Amel sangat menyayanginya, hanya dia lelaki bodoh yang terlalu mengikuti ego, dan bahkan dirinya telah melanggar janji itu. Lihatlah wanita itu sekarang sudah menjadi wanita baik dan Sholeha atas bimbingan suaminya.
"Pa, ayo kita tempat Mama sekarang," seru Rafif membuyarkan lamunan Dokter Tampan itu.
"Ah, ayo, tapi kamu harus janji tidak boleh nakal dan merepotkan Mama ya," ulang Pria itu sekali lagi pada anaknya.
"Oke, Pa, aku janji tidak akan merepotkan."
Radit segera mengantarkan Rafif pada Amel, karena terlalu pagi, maka Amel sedang sibuk di dapur. Rumah makan belum buka.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Amel menghentikan kegiatannya yang sedang mencuci sayuran.
"Ah, Mas Radit, Rafif, ayo duduk dulu Mas," sambut Amel begitu ramah dan mempersilahkan untuk duduk.
"Tidak usah, Mel, aku sedang buru-buru, maksud kedatangan aku kesini, ingin menitipkan Rafif hingga aku pulang, apakah kamu tidak keberatan?" tanya Radit merasa sangat sungkan.
"Oh, iya tidak apa-apa, Mas. Aku tidak keberatan sama sekali. Ayo sini, Sayang," Amel mengubik meminta bocah itu mendekat. Amel berusaha untuk bersikap sewajarnya.
"Yaudah, Papa pergi dulu ya. Titip ya, Mel. Terimakasih sebelumnya sudah mau menjaga Rafif."
"Iya, sama-sama." Pasangan itu saling melempar senyum canggung.
Setelah Radit pergi, Amel segera membawa Rafif duduk didalam. "Rafif duduk di sini dulu ya, Nak. Kamu mau apa? Biar Mama masakin," ujar Amel menawarkan sesuatu pada bocah itu.
"Tidak, Ma, aku dan Papa udah sarapan di kantin," Jawa Rafif jujur sekali.
"Adik Rara mana, Ma?" tanya Rafif karena tak melihat gadis cilik yang manja itu.
"Oh, Rara jam segini masih tidur. Yaudah ayo masuk kerumah sambil nungguin adik bangun Rafif nonton saja biar nggak bosan."
Rafif masuk kedalam rumah sederhana itu. Walaupun sederhana, tapi perabotannya cukup lengkap. Pria kecil itu melihat seluruh ruangan, dan menduduki sofa yang ada diruang tamu.
Amel segera menyalakan televisi yang berukuran 42 inci, dan mencarikan Chanel khusus film kartun, setelah itu ia pamit untuk kembali ke warung sembari menyerahkan remote TV pada Rafif.
Amel kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Sejak kehadiran kedua lelaki terhebat dalam hidupnya, sungguh membuat hari-hari wanita itu terasa lebih berwarna.
Tanpa harus mengatakan isi hatinya, yang jelas dia sudah bahagia bila telah bertemu dengan mereka. Amel mengerjakan pekerjaannya begitu semangat.
Bila Amel merasa mendapatkan kebahagiaan saat bertemu dengan mereka, berbeda dengan Radit yang selalu merasa gelisah memikirkan wanita yang selama ini ia tunggu sudah menikah dengan lelaki lain.
Walaupun hatinya sedang bermasalah, tapi Pria itu tetap melakukan pekerjaannya dengan konsisten, dengan sabar Dr. SPD itu melayani semua pasien barunya. Karena itu adalah RS baru maka sudah pasti pasiennya membludak.
Radit pulang agak sorean, Pria itu segera menuju rumah makan tempat ia menitipkan putranya, jiwanya begitu semangat untuk datang ketempat itu, sudah pasti bukan Rafif saja alasannya.
__ADS_1
"Selamat sore," sapa Pria pada penghuni warung.
"Selamat sore, Dok, apakah mau makan?" tanya Uni Pitri yang sedang mengemas piring kotor di meja.
"Amel dan anak-anak mana ya?" tanya Radit karena tak melihat kehadiran ketiga orang itu.
"Oh, mereka ada dirumah. Masuk saja, Dok," ucap Uni Pitri. Kebetulan rumah dan warung hanya berjarak dua meter.
Radit mengangguk, segera menuju kediaman mantan istrinya untuk menemui mereka.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Amel segera membukakan pintu. "Eh, Mas Radit, sudah pulang, silahkan masuk, Mas."
"Ah, ya terimakasih." Radit segera menuju ruang tamu mengikuti langkah wanita itu.
"Kok sepi, anak-anak pada kemana?" tanya Radit tak melihat siapapun selain Amel.
"Anak-anak masih tidur, Mas. Tadi kecapekan main. Belum lama tidur," jawab Amel.
"Mas mau minum, kopi, teh?" tawar Amel dengan ramah.
"Ah, seperti biasa saja," jawab Radit ingin tahu apakah wanita itu masih ingat minum kesukaannya.
"Kopi?" tanya Amel sedikit ragu, takut bila minuman Pria itu berubah.
"Hmm, ternyata kamu masih ingat dengan minuman kesukaanku."
"Tentu saja, Mas. Yaudah, sebentar ya." Amel segera menuju dapur menyeduh secangkir kopi hitam.
Radit memperhatikan seluruh ruangan sederhana milik sang mantan, tampak sangat sederhana,tapi aura ketenangan sangat terasa. Andai saja dirinya masih mempunyai kesempatan untuk membersamai wanita itu, maka ia akan pindah tugas di RS itu.
Seketika lelaki itu menyadarkan dirinya sendiri, itu semua tidak akan mungkin. Ia juga berusaha untuk tidak berharap lagi. Radit harus bisa ikhlas menerima segala kenyataan ini. Ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan Amel.
Seharusnya ia juga ikut merasakan kebahagiaan itu melihat wanita yang dicintainya telah bahagia dengan Pria lain. Karena semua terjadi adalah kebodohan dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 😍