
"Mas, nanti saja kita bicarakan. Sekarang ayo kita luruskan semuanya pada warga, anggap saja bahwa kita memang masih suami istri," ucap Amel meminta Pria itu untuk mengerti dengan situasi saat ini.
"Baiklah." Radit segera mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu tanda penduduknya dan ternyata di dompetnya masih tersimpan kartu nikah mereka dari KUA.
Seketika Amel menatap tak percaya bahwa Pria itu masih menyimpannya. "Kamu masih menyimpannya, Mas?" tanya Amel begitu penasaran hingga ia tak sabar untuk menanyakan.
"Aku sudah jelaskan padamu, Mel, bahwa aku masih menganggapmu sebagai istriku. Sudahlah, ayo kita temui mereka." Radit meraih tangan Amel dengan lembut dan berjalan bergandengan keluar dari rumah untuk menemui mereka semua.
"Maaf, untuk semua warga yang telah berpikir buruk tentang istri saya. Sekali lagi disini saya tegaskan, bahwa kami adalah pasangan suami istri. Jika kalian tidak percaya ini saya berikan buktinya pada Pak RT, silahkan di cek, Pak," jelas Radit menyerahkan buku nikah dan kartu nikah, juga KTP miliknya pada Pak RT untuk di periksa.
Pak RT segera menerima dan memeriksa kebenaran yang ada. Pria itu mengangguk paham setelah melihat bukti yang ada.
"Jadi, Mas ini suaminya Mbak Amel, tapi kenapa baru kali ini kami melihat bapak pulang?" tanya ketua RT mencoba untuk mengorek informasi.
"Saya sudah pernah bilang, Pak, bahwa suami saya bertugas di Kalimantan. Jadi dia tidak bisa pulang sebelum teken kontraknya selesai," sambung Amel, ia takut jika Radit salah bicara.
"Benar begitu Mas?" tanya Pak RT meminta keyakinan pada Radit.
"Benar, Pak. Saya seorang Dokter, karena tenaga medis disana masih kurang, maka kami harus teken kontrak dalam jangka waktu yang lama," jelas Radit yang sudah mulai mengerti dari arah bicara Amel dengan alasan yang diberikan.
"Baiklah, para warga semuanya. Sepertinya kita hanya salah paham dengan Mbak Amel. Memang benar bahwa mereka adalah pasangan suami istri, dan sudah memperlihatkan buku nikah yang sah. Silahkan dilihat bagi yang belum percaya," Ketua RT sembari menunjukkan bukti yang ada.
Mereka melihat satu persatu secara bergantian, setelah semua meyakini bahwa pasangan itu adalah suami istri, maka ketua RT dan warga lainnya meminta maaf atas kesalahpahaman ini.
"Baiklah, Mas Radit, saya selaku ketua rukun tetangga disini, ingin mengucapkan permohonan maaf atas kejadian ini, maaf kami sudah mengganggu ketenangan keluarga Mbak Amel dan Mas Radit," ucap Pak RT mewakili warganya.
"Iya, sama-sama Pak, kami juga minta maaf karena belum sempat memperkenalkan diri pada warga dan melapor pada Pak RT," ucap Radit menimpali dengan ramah.
Akhirnya tetangga yang julid meminta maaf pada Amel dan Radit. Setelah klarifikasi selesai, Amel dan Radit kembali masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Maaf ya, Mas, apakah kepala kamu masih pusing?" tanya Amel melihat Radit memijit pelipisnya.
"Ah, hanya sedikit, tidak terlalu," jawab Radit pelan. Pria itu menatap Amel begitu dalam.
"Mel, boleh aku tahu semuanya? Dari keterangan warga, selama ini kamu hanya hidup berdua dengan Rara, bukankah kamu bilang sudah menikah?" tanya Radit ingin tahu yang sebenarnya.
Amel membalas tatapan Pria yang ada disampingnya. Tatapan itu mencari sesuatu di manik mata teduh yang sampai saat ini masih selalu membuat hatinya berdebar bila beradu pandang.
"Mas, sebenarnya aku tidak pernah menikah," jawab Amel menunduk.
"Terus, Rara?" tanya Pria itu langsung pada intinya.
"Rara anak kamu, Mas," ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, dadanya terasa sesak saat saat mengakui kenyataan yang ada.
Deg!
Radit terpaku dengan bibir terbuka. Jantungnya berdegup kencang. Otaknya berdenyut semakin kencang menuntut penjelasan lebih atas pertanyaan yang diucapkan oleh Amel.
Radit tak bisa bicara apapun, hatinya sudah begitu bahagia mendengar kejujuran yang diberikan oleh Amel. Radit meraih tubuh ramping itu dan mendekapnya dengan erat.
"Dek, jangan bicara seperti itu. Aku tidak pernah lagi berpikir buruk padamu, aku diam karena tak bisa bicara apapun atas kebahagiaan sudah meluap yang sedang aku rasakan saat ini," jelas Pria itu mengungkapkan perasaannya.
Amel membalas pelukan Radit. "Apakah benar Mas Radit belum menikah lagi?" tanya Amel masih berada dalam pelukannya.
"Tidak, Dek, bahkan aku tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti dirimu," lirihnya menahan haru. Sungguh hatinya bahagia saat mengetahui bahwa wanita yang ada dalam pelukannya belum menikah, berarti cinta wanita itu masih utuh untuknya.
Amelia melerai pelukannya dan menatap Radit begitu dalam. "Apakah Mas Radit masih mencintai aku?" tanya wanita itu, dari matanya tampak berharap.
Radit tersenyum lembut sembari mengecup telapak tangannya. "Sangat, Dek. Aku sangat mencintai kamu, itulah alasan kenapa sampai saat ini aku masih tetap sendiri, karena aku yakin suatu saat nanti akan bertemu kembali denganmu," jawabnya jujur sekali.
__ADS_1
"Dek, secara hukum kamu masih sah sebagai istriku, mungkin di agama sudah jatuh talak meskipun tidak aku ucapkan, karena kita sudah lama berpisah, maka saat ini aku meminta rujuk padamu, apakah kamu mau?" tanya Radit sangat berharap.
Lama Amel terdiam menatap wajah kesungguhan Pria itu. Tak bisa dibohongi bahwa dirinya juga masih sangat mencintai dan menyayanginya.
"Aku takut Mas, aku takut jika nanti kamu masih menganggapku wanita malam," lirih wanita itu menatap ragu.
Radit segera bangkit dan menjatuhkan tubuhnya terduduk di lantai menghadap pada Amel yang masih duduk di atas Sofa,
"Dek, aku mohon maafkan kesalahanku dimasa lalu. Aku janji tidak akan mengulanginya. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi," ujar Radit memohon sembari menggengam tangan Amel.
"Ayo bangun, Mas, kenapa kamu seperti ini," ujar Amel meraih kedua lengan Pria itu untuk kembali duduk disampingnya. Radit semakin memeluk kakinya dengan erat.
"Aku mohon maafkan aku," ucapnya masih memohon.
"Mas, aku sudah memaafkan kamu. Ayo, bangunlah, jangan seperti ini." Amel masih berusaha membawa Radit untuk duduk diatas sofa.
"Apakah kamu mau rujuk denganku?" tanya Radit berharap.
"Ya, aku mau Mas," jawab Amel serius.
"Alhamdulillah, Terimakasih Sayang." Radit segera mendekap wanita yang telah kembali menjadi istrinya.
"Apakah kita harus akad kembali?" tanya Amel melerai pelukannya.
"Tidak, Sayang, aku tidak pernah menjatuhkan talak tiga, dengan kesepakatan kita berdua maka kita sudah kembali rujuk," jelas Radit menurut keyakinan agama mereka.
"Berarti kita sudah sah menjadi pasangan suami istri lagi, Mas?" tanya Amel tersenyum, wanita itu tampak begitu bahagia.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰