
"Apakah Dokter sedang memberiku harapan palsu?" tanya Ayu menatap tak percaya, hatinya juga berdebar tak menentu. Rasanya ini benar-benar mimpi saat Rian mengungkapkan perasaannya sesungguhnya.
"Astaghfirullah, Dek, aku serius dengan ucapanku. Apakah aku masih mempunyai kesempatan untuk hal itu?" tanya Rian ingin memastikan.
"Aku tidak tahu, apakah aku harus percaya? Bagaimana jika Dokter hanya ingin mempermainkan perasaanku?"
"Ayu, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku serius. Aku ingin kita menjadi kekasih," ucap Rian menatap serius.
"Kamu serius kan, Mas? Aku benar-benar takut berharap, jika kamu tidak punya perasaan, tolong jangan beri aku harap. Aku sudah berjanji akan menghapus rasa yang ada dalam hatiku," ujar Ayu masih tidak percaya.
"Dek, harus bagaimana lagi aku meyakinkan dirimu?" tanya Rian, perlahan tangannya menyentuh tangan Ayu dengan lembut.
Jangan ditanya bagaimana perasaan wanita itu, bagaikan kupu-kupu menghinggapi hatinya. Ayu tak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu, hormon kebahagiaan meluap Seketika.
Rian menggengam tangan gadis itu dengan lembut. "Dek, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?" ujar Rian masih berusaha meyakinkan wanita yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta.
__ADS_1
"Aku tidak butuh apa-apa Mas, buktikan saja melalui sikap dan perlakuanmu bila memang tulus mencintaiku."
"Baiklah, aku akan membuktikan kesungguhanku. Aku hanya butuh jawaban darimu," ucap Rian meminta jawaban untuk ungkapkan perasaannya.
"Jangan tanya perasaan aku, Mas, dan tentu saja jawabannya aku sangat mencintai kamu, karena akulah yang mempunyai perasaan itu terlebih dahulu."
"Terimakasih banyak, Sayang, aku sangat bahagia. Mulai besok aku akan menunggu makanan darimu, aku akan memberikan uang makan pada Uni Pitri untuk satu bulan ini, dan aku hanya ingin kamu yang memasaknya untukku," jelas Pria itu bersemangat.
"Kamu serius? Nanti nggak dibuang lagi kan, masakan aku?" tanya Ayu yang ternyata belum bisa melupakan hal itu.
"Hehe... Maaf deh, Mas, habisnya masih susah untuk lupa," balas Ayu tersenyum kikuk.
"Iya, ga pa-pa, wanita kan memang hobinya begitu, masalah kecil yang sudah beribu tahun saja masih bisa ia keluarkan dari dasar samudera demi memuaskan hati untuk membalas sakit hati pada pasangannya," sindir Rian tersenyum gemas.
"Ih, nggak juga," jawab Ayu menyangkal.
__ADS_1
"Tuh nyatanya. Terus sebentar ini apa?" tanya Rian.
"Hehe... Maaf deh, kilaf," jelasnya ngeles.
"Jadi sekarang kita sudah resmi pacaran 'kan?" tanya Rian ingin memastikan sekali lagi bahwa hati wanita itu memang benar-benar masih mencintainya.
"Hmm, kita pacaran. Apakah Mas Rian ada niat untuk lebih serius denganku?" tanya Ayu yang sebenarnya memang tak ingin berpacaran terlalu lama.
"Aku sangat serius, Dek, mari kita jalani hubungan ini untuk saling mengenali karakter dan sikap masing-masing terlebih dahulu. Jika nanti kita sama-sama sudah serius, maka aku akan datang melamarmu," janji Pria itu padan sang kekasih.
Tentu saja hati Ayu sangat bahagia mendengar ucapan kekasih yang begitu dicintainya. Sampai saat ini masih terasa mimpi karena telah dicintai dan mencintai.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1