Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 13


__ADS_3

"Apa keluhannya, Dek Amel?" tanya Ibu Bidan sembari mempersilahkan Amel untuk duduk didepan mejanya.


"Ah, saya sudah beberapa hari ini sering mual, Bu, tapi pagi ini mualnya lebih parah dari yang biasanya," jelas Amel.


"Apakah haidnya lancar?" tanya Bu Bidan memastikan.


"Sudah dua bulan ini saya tidak haid, Bu."


"Kalau begitu mari kita tespeck dulu ya. Silahkan tampung urinenya, ada kok tempatnya didalam kamar mandi, masuk saja," ujar Bu Bidan memberitahu.


Amel mengangguk paham, dan segera melesat masuk ke kamar mandi, wanita itu segera menampung urinenya dan segera membawa menghadap Bu Bidan yang tampak sedang ngobrol dengan Bu Niar.


"Ayo duduklah," ucapnya mempersilahkan Amel untuk duduk kembali di kursi yang berhadapan dengannya.


Amel mengamati kegiatan Bu Bidan membuka sebuah bungkus tes kehamilan, lalu mencelupkan benda pipih itu kedalam urinenya. Jangan ditanya bagaimana jantungnya saat melihat benda itu diangkat kembali setelah dicelupkan.


"Apa hasilnya, Bu?" tanya Amel sangat penasaran karena dia tak dapat melihat strip pada benda pipih itu.


Bu Bidan tersenyum menatap Amel. "Kalau Dek Amel inginnya apa?" tanya Bu Bidan cantik itu meskipun usianya tak lagi muda.


"Tentu saja saya menginginkan hasil yang positif, Bu," jawab Amel jujur sekali.


"Alhamdulillah, keinginan Dek Amel didengar oleh Allah, selamat ya, kamu positif hamil," ucap Bu Bidan sembari menunjukkan hasil positif hamil yang menampakkan strip dua.


"Alhamdulillah ya Allah, Terimakasih banyak Engkau telah memberiku kepercayaan dengan menitipkan malaikat kecil dirahimku," seru wanita itu dengan tangis haru.


"Selamat ya, Nak, Ibu Do'akan semoga sehat selalu hingga lahiran," ucap Bu Niar mendo'akan yang terbaik.


"Aamiin, terimakasih Do'anya Bu."

__ADS_1


"Kita data dulu ya Mel," ucap Bu Bidan mengeluarkan sebuah buku periksa kandungan setiap bulan.


Bidan itu menuliskan nama, alamat, dan juga umur calon Ibu. Sesaat Amel termangu saat sang Bidan menanyakan perihal ayahnya.


"Siapa nama calon ayahnya?" tanya Bidan. Amelia lama berpikir, namun dia menyadari bahwa dirinya dan Radit masih berstatus suami istri, Pria itu belum menalaknya. Bagaimanapun juga, anak ini adalah benihnya Radit.


"Ah, Radit Dewangga, Bu."


Sang Bidan segera menulis nama dan alamat, Bidan juga menanyakan pekerjaan sang ayah. Kembali Amel dibuat bingung harus menjawab apa.


"Suami saya bekerja sebagai buruh kontrak, Bu. Jadi dia terikat kontrak lima tahun di Kalimantan," jawab Amel berbohong, itu semua ia lakukan agar orang-orang tak memandangnya buruk karena hamil tanpa suami.


"Wah lama sekali. Apakah nanti saat lahiran dia bisa pulang?" tanya Bu Bidan sedikit tertarik prihal pekerjaan calon ayah sibayi.


"Semoga saja, Bu."


"Oya, ini anak yang keberpa?"


Terkadang wanita itu tidak mengerti dengan hatinya sendiri, bagaimana ia bisa melupakan ayah dan anak itu, sementara nama mereka tetap segar di sanubarinya.


Rasanya tidaklah salah bila kita menyayangi seseorang sepenuh jiwa, asalkan tidak menghalangi kebahagiaan mereka. Cukup dirinya saja yang menyimpan perasaan cinta dan sayang itu untuk selamanya.


Setelah mendapatkan obat mual dan vitamin, Amel dan Bu Niar pamit undur, dan tentunya sudah melunasi biaya pemeriksaannya. Diperjalanan pulang Amel selalu mengukir senyum bahagia, tak henti-hentinya bersyukur dan berdo'a. Semoga dirinya dan calon anaknya selalu dalam lindungan Allah SWT.


"Oya, Mel, tadi kamu bilang ini adalah anak kedua, kemana anak pertama kamu, kok kamu sendirian?" tanya Bu Niar.


"Ah, anak pertama aku ada di kampung bersama neneknya, Bu," jawab Amel kembali berbohong.


Ya Allah, ampuni aku bila berkata bohong.

__ADS_1


Wanita itu menyesali karena sudah berbohong prihal pribadinya yang tak bisa ia umbar pada orang lain. Cukup dirinya saja dan Tuhan yang tahu.


***


Hari ini adalah hari pertama Amel memulai usaha sederhananya. Wanita itu tampak bersemangat karena hari pertama buka sudah banyak pembeli yang berdatangan.


"Alhamdulillah ya Allah, ternyata Engkang memberiku kemudahan, aku percaya rezeki halal itu akan semakin berkah bila kita mensyukuri berapapun itu," gumam wanita itu mengucap syukur.


"Amel, Uni pulang dulu ya, semua sudah Uni bereskan," ujar Uni Pitri yang membantunya dalam berjualan. Amel tidak bisa mengerjakan sendiri karena kondisinya yang sedang hamil muda, dia harus menjaga kandungannya dengan baik.


"Iya, Uni, terimakasih untuk hari ini. Bawa saja jika ada lauk yang bersisa,Un, biar bisa anak-anak makan dirumah," ujar Amel meminta Uni Pitri membawa ada beberapa potong ikan yang tersisa, agar anak-anak Uni bisa makan dirumahnya.


"Tapi nanti Amel makan pakai apa," ujar Uni merasa sungkan.


"Ah, tidak usah pikirkan aku, Un, aku sedang tidak mood makan. Kalaupun ingin makan nanti bisa buat sesuatu, karena masih banyak stok. Udah, Uni bawa saja lauknya biar nanti dirumah nggak masak lagi. Besok datang seperti biasanya ya,Un," pesan Amel.


"Baiklah, terimakasih ya, Mel, Uni pulang dulu."


Setelah warung makan tutup, Amel segera mandi, tak berapa lama waktu magrib sudah tiba, wanita itu segera menunaikan tiga rakaat. Setelah beribadah, Amel menuju tempat tidur untuk segera istirahat, karena besok pagi ia harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan bahan-bahan masak. Biasanya Amel akan memetik semua sayuran dan percabean sebagainya yang ringan-ringan dulu sebelum Uni Pitri datang.


Sebelum merebah, Amel menatap foto keluarga kecilnya, tangannya meraih pigura kecil itu dan mengusapnya dengan lembut.


"Hai, Mas, kamu dan Rafif apa kabar? Semoga kalian selalu sehat ya. Oya, Mas, aku punya kabar, tetapi aku tidak tahu apakah ini kabar baik atau buruk untukmu. Sekarang aku hamil, seperti keinginan kamu waktu itu yang ingin memberi Rafif seorang adik. Tetapi aku sangat bahagia, Mas. Sungguh aku bahagia dengan kehamilan ini. Aku akan merawat buah hati kita dengan kasih sayang sepenuh jiwaku. Selamat istirahat dua lelaki terhebatku. Miss you."


Amel mengecup gambar itu sebelum rasa kantuk mengantarnya ke alam mimpi. Setelah bercakap-cakap dengan benda mati itu, Amel segera merebahkan diri untuk istirahat hingga terlelap, dan wanita itu kembali membuka mata saat seruan azan subuh berkumandang.


Selesai sholat, Amel segera melakukan aktivitasnya. Sebelum melakukan aktivitas tentu saja ia harus mengganjal perutnya dan meminum segelas susu hamil agar sang bayi tetap sehat.


Ya, seperti itulah yang selalu dilalui oleh Amel mengais rezeki halal untuk dirinya dan calon anaknya. Alhamdulillah jualannya dibilang cukup laris, semakin banyak saja pengunjung warung makan sederhana itu.

__ADS_1


Bersambung...


Happy reading 🥰


__ADS_2