Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 23


__ADS_3

"Iya, Dek, kita sudah menjadi suami istri kembali. Kamu sudah menjadi milikku seutuhnya," jawab Radit membawa wanita itu masuk kedalam pelukannya.


"Aku kangen banget sama kamu, Dek," lirih Pria itu mendekap tubuh sang istri begitu dalam meresapi wanginya yang telah lama tak ia rasanya.


"Mas, nanti dilihat anak-anak," ujar Amel was-was saat Pria dewasa itu mulai merusuh.


Radit segera melerai pelukannya, tersenyum merangkum kedua pipi wanita itu dengan lembut.


"Maaf, aku tak mampu menahan rasa rindu yang selama ini sudah menggunung," ucapnya meminta maaf.


"Aku juga sangat merindukan kamu, Mas," balas Amel tersenyum lembut.


"Jika kamu rindu, kenapa kamu tega membohongi aku, Sayang? Aku benar-benar hampir gila memikirkan saat mendengar pengakuanmu yang telah menikah kembali."


"Aku mengira kamu sudah tak mempunyai perasaan padaku, aku juga berpikir bahwa kamu sudah mempunyai istri," ujar Amel menatap sendu.


"Kamu tahu, Dek, sejak kepergianmu, duniaku tak berwarna lagi. Aku selalu dihantui rasa bersalah. Aku juga selalu mencari keberadaanmu, tetapi semuanya buntu, aku kehilangan jejakmu," ungkap Pria itu.


"Maafkan aku, Mas, saat itu hatiku benar-benar hancur, rasa percayaku padamu telah runtuh saat dirimu tak lagi mempercayai aku. Aku ingin sekali menjelaskan semuanya, tapi kamu tak memberiku kesempatan sehingga aku memilih untuk pergi dari hidupmu," ungkap wanita itu dengan lirih.


"Dek, maafkan aku. Aku tahu aku salah, penyesalanku begitu besar. Aku memang lelaki bodoh yang telah menyia-nyiakan cinta tulus darimu," ucap Radit penuh penyesalan.


"Tidak Mas, aku tak pernah menyalahkan dirimu sepenuhnya, karena aku menyadari tak mudah bagimu mempercayai wanita yang mempunyai masa lalu kelam seperti diriku."


"Sekarang aku percaya bahwa kamu tidak seperti yang aku pikirkan. Maafkan aku, Sayang. Aku janji tidak akan mengulangi kembali kesalahanku."


Amel hanya mengangguk paham atas segala penyesalan sang suami. Saat pasangan suami istri itu masih saling menyesali, terdengar suara kedua buah hatinya menghampiri mereka.


"Mama, Papa!" panggil Rafif menghampiri kedua orangtuanya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Amel


"Tadi Adek Rara nafasnya sesak," ujar bocah itu memberitahu.


"Sesak! Mana Nak?" tanya Amel segera meraih balita itu menduduki dipangkuannya.

__ADS_1


"Tadi sudah mulai hilang, Ma," jawab Rafif.


Radit juga tampak panik, ia mengingat pemeriksaannya beberapa hari yang lalu. Pria itu masih menduga-duga sakit yang di derita putrinya.


"Ayo, sini sama Papa Nak," Pria itu mengambil Rara dari pelukan Amel. "Adek demam?" tanyanya sembari meraba pipi dan kening putri kecilnya, lalu mengeluarkan alat stetoskop kembali memeriksa.


"Bagaimana hasilnya Mas? Apakah Rara baik-baik saja? Tidak ada sakit yang serius kan?" tanya Amel tampek panik.


"Mel, kita harus membawa Rara ke RS untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti cek darah dan yang lainnya," jelas Radit pada sang istri.


"Apakah sakitnya serius Mas?" tanya Amel dengan raut wajah khawatir.


"Semoga saja tidak apa-apa, Sayang, kamu jangan cemas ya. Besok pagi kita kembali ke kota Padang ya. Kita akan segera melakukan serangkaian pemeriksaan untuk Rara," jelas Radit.


"Kenapa tidak di RS disini saja, Mas?"


"Dek, RS ini terlalu baru, peralatannya belum lengkap masih dalam pemesanan, jadi lebih baik kita bawa ke RS tempat aku praktek saja."


Amel hanya mengangguk pasrah, sebenarnya ia sudah tak ingin lagi untuk kembali ke kota yang banyak sekali menyimpan kenang kelam dalam kehidupannya. Namun ia juga tak ingin terjadi hal yang buruk pada putrinya. Mungkin nanti setelah mengetahui penyakit Rara dan dipastikan baik-baik saja, maka ia akan meminta pada suaminya untuk kembali lagi ke kampung ini yang sudah memberinya kenyamanan.


"Mas, setelah Rara sembuh, apakah aku boleh kembali lagi kesini?" tanya Amel sangat berharap.


"Tentu saja, Sayang, aku akan ikut dimana menurutmu nyaman. Aku juga akan mengurus surat pemindahan tugasku di RS ini," jawab Radit membuat senyum wanita itu tersungging.


"Terimakasih ya, Mas,"


Radit hanya mengangguk. Pria itu kembali fokus dengan putrinya. "Ada yang sakit, Nak? Bilang sama Papa mana yang sakit?" tanyanya pada gadis kecil itu.


"Nggak ada yang cakit, Pa, tapi aku cucah nafas," ujar Rara sembari menyandarkan kepalanya di dada sang Papa.


"Benarkah? Sesak banget ya?" tanya Dokter penyakit dalam itu memeriksa secara manual, yaitu dengan cara menekan dadanya dan menghitung detik helaan nafasnya.


"Ayo, adek baring di temani sama Mama dulu ya, Papa ambil obat Adek di RS sebentar ya," ujarnya pada sang anak.


Radit menyerahkan Rara pada Amel untuk di baringkan. "Sayang, bawa anak-anak istirahat ya, Mas mau ke RS dulu ambil anti biotik untuk Rara," ujarnya pada sang istri.

__ADS_1


"Baiklah, apakah sakit Rara serius Mas?" tanya Amel begitu cemas.


"Jangan cemas, Sayang, semoga tidak apa-apa, aku belum bisa memastikan. Yaudah, kamu istirahat ya." Radit segera beranjak ingin ke RS.


"Mas, bukankah kamu juga sedang tak enak badan?" tanya Amel juga mencemaskan kondisi suaminya.


"Tidak apa-apa, Sayang, aku sudah mendingan. Nanti aku akan minta obat sekalian," ujar Radit meyakinkan wanita itu.


Amelia hanya mengangguk paham, ia segera membawa kedua anaknya masuk kedalam kamar untuk istirahat.


"Ayo bobok, Nak," ucap Amel menidurkan kedua anaknya.


"Ma, besok kita balik, Mama dan Rara ikut sama kita 'kan?" tanya bocah itu memastikan.


"Iya, Sayang, besok Mama dan Rara ikut," jawab Amel mengusap kepala bocah berumur delapan tahun itu.


"Yeee, Adek cepat sembuh ya, besok ikut Kakak ke kota," ujar Rafif pada sang adik.


"Kapan kita pelginya Kak?" tanya bocah itu masih menahan sesak.


"Besok pagi. Makanya sekarang ayo kita tidur. Biar besok pagi kita siap-siap untuk berangkat. Nanti disana banyak mainan. Adek boleh pinjam semua mainan Kakak," celoteh bocah itu merayu adiknya.


"Benalkah, baiklah, ayo kita bobok cekalang," Rara segera memeluk Mamanya.


Tak berselang lama Rafif sudah terlelap, tetapi Rara masih enggan memejamkan matanya. Bocah kecil itu masih sulit mengatur nafas. Amel tidak pernah melihat putrinya seperti itu.


Saat Amel masih sibuk dengan aktivitasnya, yaitu mengusap punggung gadis kecil itu untuk memberi kenyamanan. Terdengar suara deru mesin mobil berhenti di depan rumahnya. Perempuan itu segera beranjak sembari menggendong Rara membukakan pintu untuk Papanya.


"Belum bobok kamu Sayang?" ucap Radit mengambil Rara dari gendongan istrinya.


"Nggak bisa tidur, masih sesak dia Mas," jawab Amel sembari mengunci pintu dan mengekor dibelakang suaminya.


"Iya Sayang? Adek nggak bisa bobok ya, kita minum obat dulu ya," ujar Pria itu mengecup wajah gadis kecil itu dengan sayang.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2