Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 26


__ADS_3

Amel segera masuk, dan tersenyum simpul. Rasanya tak percaya bisa kembali lagi di rumah itu. Tapi seketika terpaku saat ingatannya pada masa lalunya yang dulu begitu hina dan berkubang dosa.


Hati wanita itu terasa sedih, apakah Tuhan bisa mengampuni segala dosa yang pernah ia perbuat. Hanya bisa berdo'a dan selalu memperbaiki diri agar menjadi wanita lebih baik lagi. Sangat bersyukur Allah titipkan seorang lelaki yang begitu tulus mencintai dirinya.


Amel segera merapikan pakaiannya menyusun kedalam lemari, setelah itu ia kembali keluar dan menuju kamar Putranya untuk melihat kegiatan kakak beradik itu. Ternyata kedua bocah itu sedang sibuk dengan mainan yang ada di lemari khusus dikamar itu.


Amel segera beranjak menuju dapur, membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Dua orang Art itu tampak begitu senang dengan kehadiran Amel di rumah itu kembali.


"Bu Amel, tinggal dimana selama ini?" tanya Bibik masih penasaran.


"Saya tinggal di kampung S, Bik. Semuanya baik-baik saja kan, selama saya tinggalkan?" tanya Amel sedikit penasaran dengan suasana rumah ini setelah kepergiannya.


"Tidak begitu baik, Bu Amel, Pak Radit selalu murung, dan Dek Rafif juga selalu menangis saat mengetahui Bu Amel tak lagi pulang kerumah ini," jelas Bibik menggambarkan suasana hati kedua Pria kesayangannya itu saat ia tinggalkan.


"Oh, begitu ya, Bik." Amel segera menyudahi obrolan singkat sembari membuat kopi untuk suaminya.


Amel membawa kopi hitam itu kedalam kamarnya, terlihat Radit baru saja selesai mandi dengan rambut yang masih basah.


"Kopinya, Mas," ucap Amel menaruh cangkir itu di atas meja yang ada di kamar.


"Ah, ya. Makasih, Sayang," jawabnya sembari menyisir rambutnya agar lebih rapi, setelahnya segera duduk dan menyesap kopi hitam kesukaannya.


Amel segera meraih handuk, ia juga ingin mandi agar lebih segar. Setelah perjalanan cukup jauh membuat tubuhnya terasa lengket.


"Mau kemana, Dek?" tanya Radit yang mungkin pura-pura tak tahu maksud dan tujuan istrinya yang sudah pasti ingin mandi.


"Mau mandi dulu, Mas," jawab Amel berjalan melewati Sofa dimana suaminya sedang duduk, namun tangannya segera diraih oleh Pria itu.


"Mas!" pekik Amel terkejut saat mendapat perlakuan tiba-tiba dari suaminya.

__ADS_1


"Nanti saja mandinya, Sayang, duduk disini temani aku dulu. Atau nanti kita mandi bareng," ujar Pria itu tersenyum nakal sembari menggusal wajah istrinya dengan hidungnya yang mancung.


"Mas, udah, Geli!" seru perempuan itu saat mendapatkan serangan dari suaminya.


Radit memeluk dengan erat, dengan lembut tangannya membelai rambut Amel yang hitam legam. Rasanya sudah tak ingin lagi berpisah dengan wanita kesayangannya itu.


"Biarkan seperti ini dulu, Dek, aku masih kangen kamu," ujarnya belum mau melepaskan wanita itu dari pelukan.


Amel hanya mengangguk, membalas pelukan sang suami yang sedang mode manja dan masih diliputi kabut rindu. Tak bisa dipungkiri perasaannya juga merasakan hal yang sama.


Pagi ini Amel dan Radit sudah bersiap membawa Rara ke RS untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sebagai seorang Dokter spesialis penyakit dalam, Radit ingin dirinya sendiri yang akan melakukan pemeriksaan itu untuk anaknya.


Sebelum berangkat, pasangan itu mengantarkan Putra sulung mereka terlebih dahulu ke sekolah.


Amel dan Radit turun untuk mengantarkan Rafif hingga gerbang sekolah. Bocah itu sangat bahagia karena sekarang Papa dan Mama sudah kembali bersama, dan yang paling bahagia adalah hadirnya seorang adik kecil seperti yang dulu ia inginkan.


"Iya, aku sudah sembuh, kak. aku ingin sekolah kaya Kakak. Boleh kan, Pa?" tanya gadis kecil itu menatap Radit penuh harap.


"Tentu saja, Sayang, tapi nanti ya, soalnya umur kamu belum cukup untuk sekolah. Sekarang biar Kak Rafif dulu yang sekolah," ujar Radit memberi pengertian.


"Aku masuk dulu ya, Pa, Ma." Rafif menyalami tangan kedua orangtuanya.


"Rajin belajar ya, Nak." Amel memeluk dan mencium kedua pipi Pria kecil itu. Begitu juga dilakukan hal yang sama dengan Radit.


Setibanya di RS, Radit segera melakukan serangkaian pemeriksaan untuk Putri kecilnya. Lelaki yang berusia tiga puluh enam tahun itu tampak begitu serius memeriksa hasilnya.


"Mas, apa hasilnya?" tanya Amel tak sabar.


"Rara mengalami infeksi paru-paru, Dek," ucap Radit yang sudah bisa mendiagnosa penyakit anaknya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, jadi bagaimana, Mas? Apakah penyakit ini berbahaya? Apakah bisa disembuhkan? Rara tidak apa-apa kan, Mas?" tanya Amel memberondong dengan segala takut dan cemas. Tak terasa air matanya jatuh seketika.


"Kamu tenang ya. Insya Allah, bisa diobati. Rara pasti akan sembuh. Jangan panik seperti itu, Dek. Rara hanya mengalami infeksi ringan. Dia masih bisa menjalani rawat jalan kok, aku akan memberinya obat yang terbaik," jelas Pria itu berusaha menenangkan sang istri.


Amel baru bisa bernafas lega saat mendengar pernyataan suaminya. Setelah melakukan pemeriksaan dan memberikan obat. Amel pamit pulang terlebih dahulu membawa putrinya, karena Radit masih bertugas hingga siang nanti.


"Mas, aku pulang dulu ya," pamit wanita itu pada suaminya.


"Ya, Dek. Ini kamu bawa mobil aku saja." Radit menyerahkan kunci mobil pada istrinya.


"Nggak usah, Mas. Aku pulang naik taksi saja," tolak Amel.


"Bawa saja, Sayang, biar aku saja nanti pulang naik taksi."


"Tidak, Mas. Udah, aku mau naik taksi saja, aku tidak butuh mobil. Aku hanya ingin menghabiskan hari-hariku bersama anak-anak dan kamu. Jikapun pergi aku hanya ingin bersamamu," ujar Amel membuat Radit tersenyum haru.


Pria itu segera mencuri kecupan di kening sang istri yang sudah memberinya kebahagiaan. Dan tak lupa juga gadis kecilnya yang mendapatkan serangan kecupan darinya.


"Salim dulu sama Papa," ucap Amel membiasakan sang anak.


"Dadah Papa," seru Rara sembari melambaikan tangan.


"Dadah Sayang..."


Bersambung....


Nb. Hai, raeder tersayang. Author punya karya baru. Silahkan mampir ya. Jangan lupa tinggalkan jejak. Kira-kira disini masih ada yang ingat dengan Ikhsan Wibowo nggak 😊🤗


__ADS_1


__ADS_2