
Sore ini acara sudah usai, pasangan halal itu istirahat di kamar mereka, yaitu kamar utama yang biasa di tempati oleh Radit kini juga ditempati oleh Amel.
Amel membawakan secangkir teh hangat untuk suaminya. Sedari tadi wajah Pria itu masih tampak murung dan sangat irit bicara.
"Tehnya, Mas," ucap Amel meletakkan diatas nakas. Dia ikut duduk disamping Radit.
"Ya terimakasih," jawab Pria itu datar.
"Mas, maafkan aku yang telah membuat kamu malu. Aku merasa wanita sepertiku memang tak pantas jadi pendampingku. Kamu terlalu baik, Mas," ujar Amel menatap sedih pada Pria yang ada disampingnya.
Sadar sekali dirinya dan Radit bagaikan langit dan bumi. Takut kehadirannya membuat Radit malu pada semua teman-temannya. Amel menunduk sembari meremat jemarinya sendiri. Ia tahu Radit masih memikirkan ucapan Alvin, bagaimana pula nanti bila ada yang tahu selain Alvin, pasti akan membuat Pria itu merasa tak punya muka.
Radit meraih telapak tangan Amel dan menatap dengan dalam. Dia tahu wanita itu merasa bersalah dan merasa tak percaya diri atas siapa dirinya di masalalu.
"Mel, maafkan aku yang masih terbawa suasana atas segala ucapan Alvin. Kamu jangan berkata seperti itu, apapun perkataan orang-orang tentang dirimu biarkan saja. Ini memang tidak mudah, tetapi aku sudah berjanji akan berusaha menerima atas segala kekurangan dan kelebihanmu," ucap Radit menggengam tangan Amel.
Amel hanya diam, dua titik air mata jatuh menandakan hatinya sangat sedih, andai waktu bisa diputar kembali ia tak akan pernah mau terjerumus dalam lumpur dosa yang kini akan menjadi penyesalannya seumur hidup.
"Mas, tolong bimbing aku untuk menjadi wanita lebih baik lagi. Aku ingin bahagia bersama orang yang aku cintai. Selama ini aku hidup sendiri tanpa bimbingan dan kasih sayang dari keluarga, bahkan aku tidak tahu dimana keluargaku berada, aku juga tidak pernah tahu wajah ayah dan ibuku. Apakah mungkin aku juga terlahir dari wanita yang tidak baik?"
Tanya Amel membuat Radit terkesiap dan segera membawanya masuk kedalam pelukan. Radit semakin merasa bersalah dan sedih mendengar curahan hati wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
"Jangan menangis lagi, maafkan aku. Aku berjanji akan membimbingmu, mari kita sama-sama belajar menjadi lebih baik lagi," ucap Radit masih berusaha menenangkan wanita itu.
"Terimakasih ya Mas." Amel semakin menguatkan pelukannya.
"Sudah, jangan sedih lagi ya. Sekarang tidak perlu memikirkan omongan orang, ini hidup kita jadi tidak ada orang yang berhak menghakimi."
Amel hanya mengangguk, Radit merangkum kedua pipi sang istri, memberi kecupan di bibir se ksi itu. Kecupan semakin dalam mereka saling membalas hingga akhirnya berakhir diatas ranjang saling bertukar peluh.
Radit jatuh disamping Amel dan segera membawa wanita itu dalam dekapannya. Amel begitu merasa nyaman bersama Pria yang sangat dicintai, rasanya ingin selalu berada dalam dekapan tubuh kekar itu.
__ADS_1
Meskipun Radit belum pernah mengutarakan perasaannya, tetapi Amel sudah cukup bahagia atas segala perlakuan lembut Pria itu. Amel memahami, tidak akan mudah bagi Radit bisa mencintai dirinya. Akan perlu waktu untuk itu.
Pagi ini Amel menikmati perannya sebagai seorang istri dan Ibu untuk bocah kecil yang menggemaskan itu. Amel mempersiapkan keperluan Radit yang hari ini mau ke RS. Sebenarnya Pria itu masih ingin menghabiskan waktu liburnya bersama anak dan istri, tetapi ada panggilan dari RS bahwa ada pasiennya yang harus ditangani.
"Mas, nanti pulang jam berapa?" tanya Amel sembari merapikan ranjangnya yang sedikit berantakan. Sementara Radit masih fokus mengenakan pakaiannya.
"Seperti biasanya, mungkin jam dua sudah pulang kalau jadwal pasien tidak padat," jawab Pria itu fokus dengan kemeja panjang lengannya.
Amel menghampiri Pria itu dan segera membantu mengancingkan. Radit menatap wajah sang istri yang terlihat begitu cantik saat sedang fokus. Sebenarnya hatinya sudah ada rasa, tetapi masih sulit untuk mengakui.
"Kenapa kamu menanyakan aku pulang?" tanya Radit menatap begitu dekat. Amel mendongakkan kepalanya sehingga tatapan mereka bertemu.
"Aku ingin masak sesuatu, nanti kita makan siang bareng dirumah ya," ucap Amel masih menatap mata teduh itu.
"Hmm, baiklah."
Cup
"Kenapa terdiam sepi, Kaget? Mulai sekarang hingga selamanya hal ini akan terus terjadi. Kamu harus terbiasa," ucap Radit tersenyum.
Amel hanya tersenyum malu, baru kali ini dia melihat Pria itu tersenyum penuh keikhlasan, apakah Radit sudah mulai bisa menerima dirinya dalam hati? Entahlah, hanya Pria itu dan Tuhan yang tahu.
"Ayo kita sarapan," ajak Amel membantu membawakan Snelli dokter sang suami.
"Mama, Papa!" seru Rafif yang sudah duduk anteng sembari menikmati sarapannya.
"Pagi, Sayang," balas Amel mengecup kedua pipi bocah kecil itu, dan dibarengi oleh Radit.
"Sarapan pake apa, kok punya kamu beda sendiri?" tanya Radit melihat isi piring Putra kesayangannya.
"Ini oatmeal buah, Pa, Mama yang buatin," jawab bocah itu sembari menikmati dengan lahap.
__ADS_1
"Oh, kok Papa nggak dibuatin juga. Ah, Mama pilih kasih dong," intrupsi sang Papa
"Bukan, Pa. Mama bilang kalau untuk Papa nasi goreng saja biar lama kenyangnya, kan Papa kerja, jadi sarapan harus kenyang. Benar kan, Ma?" sangkal bocah itu tak mau sang Mama disalahkan.
"Oh, gitu... Hahaha. Pinter banget kamu ngebelain Mama," ujar Radit terkekeh melihat ekspresi wajah sang anak tampak tak terima hingga meluruskan biar Papanya tak salah paham.
Amel ikut tertawa kecil melihat tingkah anak dan suaminya. Wanita itu menarik kursi duduk di samping Radit, dan mengisi piring lalu menyerahkan pada sang suami.
"Ini Mas."
"Ya, terimakasih."
Keluarga kecil itu makan dengan tenang sesekali ocehan Rafif membuat Papa dan Mamanya tertawa. Selesai sarapan Amel bersiap mengantarkan Rafif ke sekolah.
"Kamu yakin tidak ingin aku antarkan sekalian?" tanya Radit sembari mengenakan Snelli dokternya.
"Tidak, Mas, nanti aku pergi ditemani si Mbak saja, sekalian aku mau belanja mingguan, bahan-bahan sudah mau habis," jelas Amel.
"Yasudah, hati-hati mengendara ya. Aku pergi dulu."
Amel mengangguk mencium tangan Radit dan di balas dengan kecupan di keningnya. Tetap saja wajah Amel merah merona. Hatinya sangat bahagia bisa mempunyai keluarga yang utuh.
Setelah melepaskan kepergian Radit, Amel segera bersiap berangkat mengantarkan Rafif ke sekolah.
"Udah siap semuanya, Sayang?" tanya Amel membimbing bocah itu setelah memastikan semua perlengkapan sekolahnya tak ada yang ketinggalan.
"Sudah, Ma. Nanti pulang Mama yang jemput aku 'kan?" tanya Rafif berjalan sembari melompat-lompat kecil saking senangnya.
"Iya, Sayang, nanti Mama yang jemput. Ayo kita berangkat sekarang. Ayo Mbak," ajak Amel pada pengasuh Putranya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰