
"Ayo, sedikit lagi, Mel! Tarik nafas panjang lalu keluarkan saat ngeden!" perintah Bu Bidan.
Amel mengikuti arahan Bu Bidan, wanita itu menarik nafas panjang. "Akwwh! Sakit Bu!" seru wanita itu.
"Ayo, mulai ngejan, jangan putus-putus nafasnya."
"Aaakhh!"
"Ayo sedikit lagi, ya bagus."
"Aaaakhhh!"
Seruan suara bayi menggema di ruangan itu. Semua yang ada di ruang bersalin itu mengucapkan rasa syukur.
"Alhamdulillah.... Bayinya perempuan, selamat ya, Mel. Cantik banget baby-nya," ujar Bu Bidan sembari membersihkan bayi merah itu.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah," ucap Amel begitu bersyukur atas kelahiran buah cintanya.
Mas Radit, Putri kita sudah lahir, Mas. Terimakasih sudah memberiku keturunan. Kamu tenang saja, Mas, aku akan merawat buah hati kita dengan sepenuh jiwa dan ragaku.
Dua titik cairan bening menetes disudut matanya. Saat mengingat Pria yang dicintainya, perasaan rindu yang teramat dalam ia kubur dalam relung hati.
"Assalamualaikum, Mama," ucap Bu Bidan menaruh bayi itu disamping Amel.
"Wa'alaikumsalam Sayang, Mama sangat bahagia bisa bertemu denganmu,Nak. Semoga kamu menjadi anak yang Sholeha," jawab wanita itu sembari mengiringi dengan do'a.
"Bu, boleh minta tolong Bapak yang mengadzani putriku?" tanya Amel pada Bu Niar.
"Telpon saja Papanya, Mel, kan bisa diadzani melalui VC," potong Bu Bidan.
Amel termenung, mana mungkin dia menghubungi Radit. Bahkan nomornya saja sudah dia hapus.
"Tidak apa-apa aku minta tolong Bapak saja yang mengadzani, karena Papanya sedang sibuk bekerja, jadi tidak bisa di ganggu," jelas Amel.
"Yaudah, Ibu panggil Bapak dulu ya." Bu Niar segera memanggil suaminya yang menunggu di mobil.
__ADS_1
Setelah diadzani, Bu Niar menimang bayi perempuan yang sangat cantik seperti Mamanya. Tetapi matanya sangat mirip sekali dengan sang Papa.
Setelah mengurusi bayinya, kini Bu Bidan mengurusi Mamanya, wanita itu menjahit ada robekan di jalan lahir.
Karena Amel melahirkan normal, maka tak perlu harus menginap, wanita itu hanya butuh istirahat beberapa jam saja. Setelah pagi menjelang, Amel sudah dibolehkan untuk pulang. Tentu saja dengan bantuan Bu Niar.
"Mel, nanti biar Ibu yang memandikan bayimu, kamu panggil saja Ibu bila waktu sibayi mandi," ucap Bu Niar sangat baik ingin membantu.
"Terimakasih banyak ya, Bu, maaf aku sudah banyak sekali merepotkan Ibu," ucap Amel merasa sangat sungkan.
"Tidak perlu merasa sungkan, Ibu tahu kondisi kamu. Sudah, kamu istirahat dulu. Nanti kan kamu bisa minta tolong sama Uni Pitri untuk mengurus makananmu."
"Baiklah, sekali lagi terimakasih atas bantuan Ibu."
"Iya, sama-sama. Kalau begitu Ibu pulang dulu ya."
"Iya, Bu."
Kini Amel tinggal sendiri dengan bayi mungil itu. Wanita itu tak henti-hentinya memberikan sayang. Rasanya begitu bahagia dengan kehadiran bayi mungil itu.
Amel minta tolong pada Uni Pitri untuk membantunya, dia juga meminta Uni Pitri untuk mencari teman satu orang lagi untuk membantunya berjualan selama dirinya masa pemulihan.
Amel menyerahkan tugas warung pada Uni Pitri untuk menghandle semuanya selama dia dalam mode pemulihan pasca melahirkan.
Amel kembali menikmati momen menjadi seorang Ibu. Wanita itu berjuang sendiri merawat dan membesarkan putrinya ia tak pernah mengeluh saat walau selelah apapun dirinya, begadang sendiri, mendiamkan sendiri saat bayinya sedang mode rewel. Pokoknya dia harus kuat dan tetap sehat, agar selalu bisa merawat putrinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Sudah sembilan bulan sang istri pergi dari kehidupannya, Radit masih sendiri, seakan tak pernah berniat untuk mencari pengganti. Radit masih yakin bahwa suatu saat nanti dia akan bertemu kembali dengan wanita yang teramat dicintainya.
Kini Rafif sudah naik kelas dua dasar, tetapi bocah kecil itu tak pernah bisa melupakan sang Mama. Rafif masih terus bertanya pada Papanya dimana Mamanya kini berada.
Terkadang Radit kesulitan untuk menjawab dan memberi alasan. Tetapi dia berusaha memberi pengertian pada bocah kecil itu agar dapat memahami. Radit memberitahu bahwa Mama telah pergi meninggalkan mereka.
Awalnya bocah kecil itu menangis meraung, tetapi perlahan dia dapat memahami bahwa masalah orang dewasa tidak dapat dia pahami. Tetapi bocah kecil itu masih tetap berharap suatu saat akan bertemu kembali dengan wanita yang begitu menyayanginya.
Begitulah yang mereka jalani. Hari terus bergulir, tak terasa sudah dua tahun berlalu. Tak ada yang berubah, Radit masih tetap dengan kesendiriannya.
__ADS_1
Sementara itu Amel terus mengembangkan usahanya, dari warung makan, kini sudah menjadi rumah makan. Pengunjungnya semakin ramai. Ditambah lagi ada pembangunan RS swasta di daerahnya.
Banyak pengunjung dari pihak RS yang makan disana. Maklum saja, petugas RS sakit kebanyakan dari luar kota, karena RS ini cukup jauh dari kota. Maka dari pihak Dokter dan para perawat makan di rumah makan milik Amel.
Kini perkampungan itu sudah mulai ramai, akses sudah mulai lengkap. Sehingga sudah banyak orang yang membangun didaerah sana. Tentu saja akan menambah keuntungan bagi Amel.
"Mama, Adek dikasih boneka belbi cantik," celoteh sikecil Rara, gadis itu kegirangan karena mendapatkan hadiah dari seseorang.
"Eh, siapa yang kasih kamu boneka itu, Sayang?" tanya Amel heran.
"Papa," jawabnya sembari tersenyum lucu. Entah berapa banyak lelaki dewasa yang dipanggilnya Papa. Amel hanya menggelengkan kepala.
"Nak, bilang sama Mama siapa yang kasih Adek boneka ini? Adek tidak minta-minta 'kan?" tanya Amel memastikan.
"No, Mama. Adek ndak minta. Adek dikacih," jawabnya jujur dengan bahasa cadelnya.
"Aku yang kasih Rara boneka itu, Mel," ucap Pria yang berprofesi sebagai Dokter di RS baru itu.
"Ya ampun. Dokter Rian, jangan terlalu memanjakan Rara, nanti dia terbiasa. Aku tidak enak," ucap Amel merasa sangat sungkan. Pria itu memang selalu meluangkan waktunya untuk selalu bermain dengan Rara.
"Tidak apa-apa, Mel. Aku memberinya dengan ikhlas, kamu jangan merasa sungkan seperti itu," jawab Dr Rian.
Amel hanya menghela nafas berat, dia tidak tahu harus berbuat apa, jika terlalu menolak takutnya disangka sombong. Dia juga tidak tahu apa keinginan Dokter Rian dibalik sikap baiknya itu pada sang putri.
Amel sudah menutup hatinya untuk lelaki manapun. Dia hanya ingin hidup tenang bersama putrinya, tak ingin lagi kehadiran lelaki lain. Baginya hanya Raditlah pemilik hatinya.
"Silahkan duduk, Dok, mau makan siang 'kan?" tanya Amel tak ingin lagi banyak basa basi.
"Iya dong. Seperti biasanya ya, Mel."
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Dok."
Amel segera menyediakan makanan untuk Dokter Rian, tetapi ia meminta Ayu mengantarkan. Ayu adalah pegawainya beberapa bulan ini bekerja di rumah makannya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 😍