Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 20


__ADS_3

"Silahkan Mas," ucap Amel meletakkan secangkir kopi hitam diatas meja.


"Terimakasih ya." Radit menerima dan segera menyeruput kopi itu beberapa teguk.


Amel duduk bersebrangan. Kecanggungan diantara mereka masih terasa. Tak tahu harus bicara apa, seakan lidah mereka terasa kaku. Radit menatap wajah cantik yang ada dihadapannya dengan dalam.


"Mel, apakah kamu sekarang bahagia?" tanya Radit ingin tahu kehidupan wanita itu.


"Ah, ya. Aku bahagia Mas."


Pria itu hanya menghela nafas dalam. Saat mereka sedang bicara, terdengar suara seseorang memanggil nama Amel dari luar. Wanita itu segera beranjak menemui siapa tamunya yang datang.


"Hai, Mel," ucap Dokter Rian mengulas senyum lembut.


"Eh, Dok, udah makan?" tanya Amel pada Pria yang berdiri diambang pintu.


"Belum, kok sepi, Rara kemana?" tanya Rian.


"Oh, Rara sedang tidur," jawab Amel apa adanya.


Radit yang melihat Amel begitu akrab, Pria itu segera menghampiri, siapa kira-kira tamu mantan istrinya itu. Seketika duo Dokter itu saling pandang.


"Ah, Dokter Radit!" Pria itu heran melihat kehadiran Dokter seniornya ada di dalam rumah wanita yang selama ini berusaha ia dekati.


"Hai, Dokter Rian!" balas Radit hanya tersenyum tipis.


"Sudah saling kenal? Ah, iya aku lupa bahwa Mas Radit dan Dokter Rian diruamah sakit yang sama," ucap Amel tersenyum kikuk.


Kecanggungan diantara mereka bertiga tampak begitu nyata. Amel merasa tidak enak pada kedua lelaki itu.


"Kalau begitu mari kita ngobrol di warung saja," ajak Amel.


Radit dan Rian segera mengekor dibelakang wanita itu.


Amel meminta Ayu menyediakan makan untuk Rian. Amel tahu bahwa Ayu sangat menyukai Pria yang diperkirakan berumur dua puluh delapan tahun itu.


Amel tidak ingin memberi harapan pada Rian, dari tatapan dan perhatian Rian menyiratkan ada perasaan terhadap Amel.


Selesai makan, Rian pamit untuk kembali ke RS. Merasa tidak nyaman harus bersaing dengan Dokter pembimbingnya sendiri.

__ADS_1


"Mari, Dok, saya duluan," pamit Rian pada Radit.


"Ah, ya, Mari." Radit kembali tersenyum ramah, kali ini senyum Pria itu tampak lebih lega.


Amel sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaannya, yaitu membantu melayani pembeli, sebenarnya ia masih ingin duduk ngobrol dengan Pria yang amat dicintai, tapi kini semua sudah tak seperti dulu lagi, terasa kaku, tak tahu harus berbuat apa.


Sementara Radit sudah mulai bosan dengan kesendirian, ia merasa Amel sengaja menghindari dirinya. Pria itu memainkan ponselnya untuk menghabiskan waktu.


"Papa!" panggil sikecil Rara menghampiri Radit yang sedang fokus dengan ponsel ditangannya.


"Hai, Sayang, udah bangun? Kak Rafif mana?" tanya Pria itu sembari membawa Rara duduk di pangkuannya.


"Kakak macih bobok. Papa kok pake baju dotel?" tanya gadis kecil itu sembari meraba Snelli yang masih dikenakan oleh Radit.


"Ah, iya. Om kan seorang Dokter, apakah Rara ingin Oom periksa?" tanya Pria itu sembari mengeluarkan stetoskop dari saku jas Dokternya.


"Hihi, boleh." Rara tersenyum lucu.


Radit menggusal rambut putri kecil itu, segera memeriksa detak jantung pasiennya dan memperhatikan dengan seksama. Radit mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh dengan pemeriksaannya.


Berawal Pria itu hanya iseng-iseng saja, tapi ia semakin serius. Radit juga meminta Rara untuk membuka mulutnya. Sebagai Dokter penyakit dalam, Radit sudah tahu bahwa ada yang tidak beres dengan gadis kecil yang ada di pangkuannya.


"Udah bangun, Sayang?" tanya Amel menghampiri putrinya yang tampak begitu manja dengan lelaki yang memang ayah biologis.


"Sini sama Mama," ucap Amel ingin mengambil Rara dari pelukan Radit.


"Ndak mau, Mama," jawab Rara semakin menguatkan pelukannya.


"Hei, kenapa kamu manja sekali, Nak. Oom lagi capek. Mas Radit benaran nggak mau makan?" tanya Amel pada Pria yang selalu menatapnya.


"Tidak, Mel, aku benaran masih kenyang," jawabnya.


Sore itu Radit menghabiskan waktunya bersama Rara dan Rafif, ia tak ingin membuat Amel tidak nyaman, maka Pria itu membiarakan Amel mengerjakan pekerjaannya yang sibuk dengan pembeli di rumah makan itu.


Tak terasa waktu berjalan, sudah satu minggu Radit berada disana, seperti janjinya yang hanya satu minggu saja berada di RS baru itu.


Andai Amel masih sendiri, maka ia akan berusaha untuk meluluhkan hati wanita itu untuk kembali padanya. Tapi ia sudah tak punya harapan lagi, ia harus bisa menerima kenyataan dan membiarkannya bahagia dengan lelaki lain.


Sore selepas dinas, Radit segera bersiap untuk berangkat, sebelum berangkat ia menjemput Rafif terlebih dahulu di kediaman Amel, sekalian pamit pada wanita itu dan gadis kecil yang selama satu minggu ini telah menemani hari-harinya.

__ADS_1


Amel masih bercengkrama dengan kedua anaknya, suara ketukan pintu rumah mencuri atensinya. Wanita itu segera beranjak membukakan pintu.


"Mas Radit! Kok sudah rapi, mau kemana, Mas?" tanya Amel yang tak tahu entah kenapa hatinya mendadak cemas bila Pria itu pergi meninggalkannya.


"Mel, aku ingin jemput Rafif, dan sekalian pamit sama kamu untuk pulang ke kota Padang," ujar Radit mengutarakan niatnya.


Seketika hati wanita itu sedih, rasa tak ingin berpisah kembali. Tetapi sadar sekali dirinya tak mempunyai hak atas diri Pria itu.


"Rafif mana, apakah dia tidur?" tanya Radit.


Amel masih diam terpaku. Pikiran dan hati wanita itu terasa entah sehingga tak mendengar apa yang diucapkan oleh ayah dari anaknya.


"Mel, kamu dengar aku 'kan?" tanya Radit demi melihat Amel yang sedang melamun.


"Ah, i-iya aku dengar, Rafif ada didalam. Ayo masuk dulu, Mas," ucap Amel. Selama ini Amel tak pernah mengizinkan lelaki manapun untuk masuk kerumahnya bila tak mempunyai keperluan, tetapi saat bersama Radit seakan ia menginginkannya untuk tinggal bersama.


Radit hanya mengangguk dan tersenyum, segera masuk ikut bergabung dengan anak-anaknya.


"Papa!" panggil kedua bocah itu kegirangan melihat kedatangan sang Papa.


"Hai, Sayang." Radit memberi tanda sayang pada kedua anaknya.


"Papa mau kemana?" tanya Rara yang segera glendotan.


"Hmm, Papa mau pulang. Rara mau ikut?" tanya Radit mengguraui gadis kecil itu.


"Mau banget," jawabnya menanggapi serius.


"Kita mau pulang sekarang, Pa?" tanya Rafif terasa berat meninggalkan sang Mama dan adik Rara.


"Iya, Sayang, kan udah Papa bilang, kita disini hanya satu minggu."


"Mama Amel dan adek Rara ikut saja ya, kita tinggal bersama seperti dulu," ujar bocah laki-laki itu.


Amel hanya diam sembari menatap Radit. Saat mereka sedang asyik ngobrol, tetiba Radit merasakan sakit kepala yang mendera. Pria itu mendesis sembari memegang kepalanya.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Amel tampak begitu cemas.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2