Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 25


__ADS_3

Kini keluarga kecil itu sudah berada di perjalanan menuju kota Padang. Radit begitu bahagia, terlihat jelas diwajahnya yang selalu mengukir senyum.


"Mas, kenapa kamu selalu senyum-senyum begitu?" tanya Amel penasaran.


"Ini senyum bahagia, Dek, aku sangat bahagia bisa membawamu dan Rara pulang kekediaman yang terasa begitu sepi sejak kepergian kamu," jelasnya sembari fokus mengemudi.


"Kenapa begitu, Mas?" tanya Amel tidak mengerti. Apakah sebegitu sedihkah Pria itu ditinggalkannya?


"Kamu tidak tahu bagaimana aku berusaha tetap tegar dihadapan Rafif. Aku tidak ingin membuat Rafif semakin sedih, karena sejak kamu pergi Rafif selalu menangis dan meminta aku untuk selalu mencari dirimu."


"Maaf ya, Mas, sebenarnya aku juga begitu sedih saat meninggalkan rumah. Tapi aku tidak mau kamu semakin tidak nyaman melihat kehadiranku. Aku mengira bahwa kamu memang tak menginginkan aku lagi. Kamu sudah tak ingin tidur bersamaku, kamu juga tak mau bicara lagi, aku tidak bisa bertahan bila seseorang sudah tak ada rasa," ungkap wanita itu dengan hati sedih mengingat masa lalu.


"Ya, itulah yang membuat aku larut dalam penyesalan, Dek, aku menyesal karena telah menyia-nyiakan dirimu, aku lelaki yang ceroboh hanya mengikuti emosi semata," ujar Pria itu penuh penyesalan.


"Sudahlah, Mas, tidak usah kita ingat lagi masa silam. Semoga untuk kedepannya hubungan kita baik-baik saja."

__ADS_1


"Terimakasih ya, karena kamu sudah mau memaafkan aku. Aku janji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama," ujar Pria itu bersungguh, tangannya mengusap mahkota sang istri yang masih di tutup hijab.


Pasangan itu saling melempar senyum, sesekali mereka tertawa saat mendengar celoteh kedua buah hatinya yang duduk di kabin belakang.


Perjalanan jauh yang mereka tempuh terasa begitu dekat saat hati mereka dilanda cinta untuk yang kedua kalinya. Pasangan itu saling bercerita dan tertawa bersama.


"Nggak terasa ya, Dek, udah sampai aja," ujar Radit, tersenyum sembari mengecup pipi sang istri setelah memarkir kendaraannya di halaman rumah.


"Masuk saja Dek, biar mereka Papa yang gendong," ucap Radit menyuruh istrinya untuk masuk terlebih dahulu.


"Bu Amel! Ya Allah, benaran Bu Amel," seru Bibik menghampiri Amel sembari menyalami.


"Bibik, apa kabar?" Amel membalas pelukan.


"Alhamdulillah Bibik sehat, Bu." Wanita itu tampak begitu senang melihat kehadiran majikan perempuannya kembali.

__ADS_1


"Loh, siapa gadis cantik ini, Bu?" tanya Bibik melihat Rara berada dalam gendongan Papanya.


"Dia Rara, Bik, Putri saya dan Mas Radit. Saat saya pergi dari rumah, ternyata saya sedang hamil," jelas Amel agar sang Bibik tak bertanya-tanya.


"Ya Allah, cantik banget. Selamat datang cantik," ujar Bibik berkenalan dengan gadis kecil itu.


Rara tampak begitu senang berkenalan dengan Art rumah Papa. Gadis kecil itu minta turun dan segera dibawa oleh Rafif ke kamarnya untuk melihat semua permainan Abangnya yang telah di janjikan sejak di desa.


Sementara Amel dan Radit segera menuju kamar mereka. Amel kembali terdiam mengamati sekeliling ruangan itu. Tak ada yang berubah, semua masih sama seperti dulu.


"Kenapa bengong, Dek? Tidak ada yang berubah kok. Semua masih sama seperti dulu, aku sengaja tak mengubah apapun, agar suasana bersamamu tetap terasa," ujar Pria itu jujur sekali.


Bersambung...


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2