
"Aku ikut?" tanya Amel masih tidak percaya.
"Iya, kenapa? Kamu keberatan?" tanya Radit.
"Bu-bukan begitu. Ah, baiklah, aku akan bersiap sekarang." Amel segera beranjak menuju kamarnya untuk bersiap.
Tidak perlu lama wanita itu sudah rapi, Amel segera menghampiri kedua Pria yang sudah menunggunya.
"Ayo, Sayang," ajak Amel pada Rafif.
"Oke, ayo Pa kita pergi sekarang!" ajak Rafif pada sang Papa.
Amel dan Rafif segera masuk. Namun, anak kecil itu mengatur tempat duduknya.
"Tante Amel didepan saja, aku dibelakang, Tan!" titah bocah itu yang membuat Amel terdiam dan menatap Radit.
"Kita duduk bareng dibelakang saja, Sayang, biar bisa ngobrol," balas Amel tidak nyaman melihat wajah Pria itu begitu datar.
"Duduklah di depan!" titah Radit masih mode dingin.
Amel tak membantah dia segera duduk di bangku ACC. Bocah kecil itu tertawa riang melihat sang Papa sudah mau bicara pada wanita yang telah dia anggap sebagai ibunya.
Setibanya disekolah Amel dan Radit segera turun mengantarkan Rafif hingga di depan lokal dan disambut sang guru.
"Tante, nanti jemput aku lagi ya, nanti kita nonton bareng, benar kan, Pa?" ujar bocah itu menagih janji pada sang Papa
"Iya, nanti kita nonton bareng. Sekarang masuklah." Radit mengiyakan ajakan putranya.
"Horee! terimakasih Papa." Bocah itu kegirangan sembari memeluk papanya dan calon ibu sambungnya.
Setelah Rafif masuk. Kini Radit dan Amel berjalan keluar. Wanita itu bingung harus bagaimana, Pria itu hanya diam tak bicara apapun segera masuk kedalam mobil.
"Kenapa masih diluar, Masuklah!" titah Pria itu membuka kaca mobil.
Amel masih diam ditempat. Tapi sedikit penasaran, kira-kira Pria itu ingin membawanya kemana?
"Hei, masuklah!" terdengar suara itu kembali memerintah.
"Ah, ya baiklah." Wanita itu segera masuk.
Radit memarkirkan kendaraannya di sebuah Cafe. Pria itu ingin bicara soal pernikahan mereka. Amel segera mengikuti langkah Radit masuk kedalam dan menempati sebuah meja yang ada di pojokan, agar lebih nyaman untuk bicara.
"Mau minum apa?" tanya Radit sembari menyodorkan daftar menu.
"Apa aja," jawab Amel simpel.
__ADS_1
Radit memesan minuman yang sama, karena mereka sudah sarapan, nanti saja untuk makanannya.
Lama mereka saling diam, larut dalam pikiran masing-masing. Amel juga bingung harus bicara apa, kecanggungan diantara mereka begitu terasa. Wanita itu sudah tak punya keberanian untuk berharap lebih dari sang Dokter.
"Amel, besok pagi adalah tanggal pernikahan yang telah kita sepakati, aku ingin kita tetap melaksanakan pernikahan itu," ucap Radit mengutarakan keinginannya.
"Ta-tapi, Mas?"
"Kenapa?" tanya Radit ingin tahu dengan keraguan wanita itu.
"Apakah Mas Radit yakin ingin menikahi wanita sepertiku, setelah mengetahui yang sebenarnya?"
"Ya,aku yakin asalkan kamu juga bersungguh-sungguh ingin meninggalkan duniamu," jawab Radit tenang.
"Aku sudah meninggalkan semuanya, Mas, sejak aku mengenal dirimu. Apakah kamu tidak malu menikahiku, karena teman kamu sudah tahu siapa aku."
"Aku tidak menghiraukan mereka, karena ini adalah hidupku, maka dari itu sebelum kita menikah, kita harus berkomitmen dulu."
"Baiklah, aku berjanji akan meninggalkan segalanya, aku tidak akan pernah lagi kembali kedunia hitam itu. Tapi bolehkah aku meminta satu hal dari kamu, Mas?" tanya Amel berharap.
"Silahkan!"
"Aku minta setelah kita menikah, jika kita mempunyai masalah, dan sebesar apapun masalah itu, tolong jangan hina diriku dengan masalaluku yang telah aku kubur."
"Terimakasih, Mas. Aku akan berusaha untuk menjadi istri dan Ibu yang baik untuk Rafif."
"Ya, mari bersama belajar saling memperbaiki segala kekurangan agar rumah tangga kita bahagia nantinya.
"Aamiin, insya Allah."
Selesai membicarakan hubungan mereka dan bersepakat untuk saling menerima, pasangan itu segera beranjak untuk mengambil pakaian akad nikah yang akan mereka kenakan besok di sebuah butik.
Selesai urusan di butik, mereka menjemput sang putra, seperti yang sudah dijanjikan, Radit membawa bocah itu untuk nonton bareng.
Pasangan itu terlihat begitu menikmati kebersamaan, ditambah si tampan Rafif yang selalu membuat mereka tertawa. Seusai nonton, mereka makan dulu sebelum pulang.
Setibanya dirumah hari menjelang magrib. Amel segera mengurus bocah kecil itu yang tak mau lepas dari calon ibu tirinya.
***
Pagi ini Amel sudah selesai di makeup oleh jasa seorang Mua. Wanita itu terlihat begitu cantik dibalut pakaian akad yang di couple dengan pakaian Radit, dan tak lupa pula jagoan kecil mereka juga memakai pakaian yang sama. Karena pernikahan mereka cukup sederhana, maka akan melaksanakan akad di sebuah masjid yang ada di kompleks.
Pasangan itu sudah duduk didepan penghulu, pernikahan itu terlihat sunyi, karena tak ada satupun keluarga dari pihak wanita yang hadir, begitu juga sebaliknya, keluarga dari pihak Pria juga tak ada yang datang lantaran Radit sudah tak mempunyai keluarga kandung.
Ayah dan ibunya sudah almarhum, sementara dirinya adalah anak tunggal. Jikapun ada saudara, yaitu saudara jauh. Mereka tak ada yang bisa menghadiri pernikahannya lantaran pada sibuk dengan urusan masing-masing.
__ADS_1
Saksi yang datang dan mengetahui pernikahan mereka kebanyakan dari penduduk sekitar dan beberapa teman sejawat Radit yang diundangnya.
"Bagaimana? Apakah sudah siap?" tanya wali hakim yang akan menjadi wali untuk Amel.
"Insya Allah siap, Pak!" jawab Radit yakin.
Dengan sekali sentak Radit mengucapkan kalimat sakral itu dengan lancar, dan pak wali segera bertanya.
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah..."
Mereka mengucapkan rasa syukur secara bersama. Dan disambung Do'a oleh wali hakim untuk kedua mempelai. Amel menyalami tangan Radit dengan penuh haru.
Setitik cairan bening menetes disudut matanya, hati wanita itu sungguh bahagia tak tara. Masih terasa mimpi bisa menikah dengan Pria yang amad dicintainya.
Amel mengecup punggung tangan Radit dengan penuh perasaan. Pria itu membalas mengecup keningnya. Mereka saling memasangkan cincin kawin.
Selesai acara akad, mereka kembali kekediamannya untuk mengadakan syukuran dan menjamu tamu yang mereka undang dengan makanan yang telah tersedia di meja prasmanan.
Sebenarnya acara itu cukup sederhana, tetapi karena Radit seorang Dokter senior di RS, maka para staf yang ada di RS menyempatkan diri untuk datang memberikan Do'a Restu untuk pasangan itu.
Banyaknya tamu undangan membuat pasangan itu cukup kelelahan menanti para tamu diatas pelaminan. Sibocil yang tak ingin melewatkan momen bahagia itu, dia begitu antusias dan bahagia menyambut para tamu, juga ikut menyalami, maka jadilah di pelaminan itu satu wanita dua Pria.
"Selamat ya, semoga ini pilihan yang tepat untukmu dan tidak akan menyesal seumur hidup," ucap Alvin menyalami Radit. Pria itu menatap Amel dengan senyum senjang.
"Sekarang dia istriku. Jangan pernah kamu memandangnya rendah lagi!" ucap Radit dengan tatapan tak bersahabat.
"Hahaha... Radit, Radit. Sebuah tempurung tidak akan pernah pantas merangkai permata. Begitu juga debu, mau kamu hiasi dengan apapun maka tempatnya akan tetap di jalanan!" ujar Pria itu yang membuat air muka Radit berubah seketika.
"Heh, dengar! Walaupun kau mengatakan istriku hanya sebagai debu jalanan, maka akan aku buktikan debu itu menjadi berlian yang sangat berharga. Jangan sekali-kali kau menghinanya lagi!" sentak Radit sembari memegang kerah baju temannya itu.
"Hahaha... Buktikan saja."
"Kau..."
"Mas, sudah! Biarkan saja. Ini hari pernikahan kita, jangan rusak momen berharga ini." Amel segera menahan tangan Radit yang ingin memberi pelajaran pada mulut Alvin.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1