
Ayu menyambangi rumah makan dengan tangisan tersedu sedan, tentu saja membuat Uni Pitri menatap heran dan segera menghampiri gadis yang telah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Yu, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Uni menatap cemas.
"Hiks, hiks... Ternyata selama ini dia tidak memakan bekal yang aku berikan, Un, dia membuangnya kedalam tong sampah. Haa.. Bodoh, bodoh. Kenapa aku tidak menyadari bahwa dia memang tidak menyukai aku," seru wanita itu dengan tangis penyesalan.
Uni Pitri meraih tubuh wanita itu dan memeluknya untuk memberikan ketenangan. Ia tahu batinnya sedang terluka.
"Dari awal Uni sudah katakan, kamu jangan terlalu berharap, nanti kamu terluka."
"Iya, Un, aku tahu bahwa diriku memang tidak pantas untuk dirinya. Aku terlalu tinggi menaruh harapan sehingga sekarang hanya aku yang merasakan sakitnya," gumam Ayu dalam pelukan Uni.
"Sudah, sekarang jangan menangis lagi. Kamu tidak perlu sedih, mungkin kalian memang tidak berjodoh, karena cinta tidak bisa dipaksakan," ujar Uni memberi nasehat.
"Iya, Un, mulai sekarang aku akan berusaha untuk melupakannya."
Sudah beberapa hari Rian menjalankan tugas dengan semangat kendor, entah apa yang membuatnya tak bersemangat seperti itu. Pria itu selalu menatap ke pintu ruangan IGD. Apakah dia berharap sosok gadis itu datang membawakan makanan untuknya?
Sore selesai tugas, Rian menuju rumah makan dimana Ayu bekerja. Perutnya terasa sangat lapar, karena dari siang tak makan apapun.
__ADS_1
"Uni, pesan makanan seperti biasanya ya," ucap Rian pada Uni Pitri, netranya seperti sedang mencari seseorang.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Yan," ucap Uni tersenyum ramah.
"Yu, ada Rian di depan," ucap Uni memberitahu Ayu yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Uni serius?" tanya Ayu tampak bahagia.
"Iya, kamu antar makan untuk dia ya," ucap Uni, namun seketika Ayu teringat kejadian beberapa hari yang lalu membuat hatinya ngilu.
"Tidak, Un, Uni saja yang anterin," tolak wanita itu sengaja menghindari. Ia tak ingin terluka lagi. Sebisa mungkin ia tahan perasaan itu agar tak lagi bertemu.
"Silahkan, Yan," ucap Uni menghidangkan makanan diatas meja.
"Ah, ya, terimakasih ya,Un." Rian makan dengan keheningan. Biasanya ada wanita itu yang akan berceloteh. Ah, entahlah. Kenapa sekarang dia merindukan sosok yang semula tak ia inginkan.
Selesai makan, sebelum beranjak Rian izin ke kamar kecil yang ada di warung makan. Ia seperti ingin mencari sosok gadis cantik itu. Ingin bertanya tapi merasa sungkan.
Saat lelaki itu hendak memasuki kamar mandi, kakinya terhenti saat melihat wanita yang dia cari berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Ayu!" panggil Rian
"Ah, Dokter Rian," jawab Ayu menatap biasa saja. Ia berusaha untuk bersikap sewajarnya untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya.
Rian mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi, ia berjalan mendekati Ayu yang sedang duduk di pelataran di belakang dapur sedang memetiki sayuran.
Seketika tatapan mereka bertemu, namun, Ayu segera memutuskan pandangan itu, ia menunduk dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Rian ikut menduduki bokongnya di bangku yang ada di samping wanita itu. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat berdekatan dengan orang yang dicintainya.
Ayu terjingkat, rasa tak percaya bahwa Pria itu mau duduk disampingnya. Ada angin apa?
"Apa kabar?" tanya Rian lembut.
"Alhamdulillah baik, Mas," jawabnya datar.
Bersambung.....
Happy reading 🥰
__ADS_1