
Seketika Radit terkejut dengan pernyataan sang pengasuh. Radit membiarkan Rafif berlari masuk kedalam kamar dengan tangis belum reda, hati Pria itu kacau. Ia segera menuju kamar untuk mengecek kebenarannya, apakah benar Amel telah pergi?
Radit membuka lemari pakaian, hanya menyisakan pakaiannya sendiri. Tak ada pakaian sang istri yang bersisa. Pria itu semakin kalut, ia segera merogoh kantong untuk mengambil ponsel, dan segera menghubungi nomor Amel.
Hanya pemberitahuan dari operator bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Radit berulang kali menghubungi masih jawaban yang sama.
Pria itu terhenyak di pinggir ranjang sembari mengusap wajahnya dengan lembut. Tak sengaja netranya melihat sebuah lipatan surat. Radit segera meraih surat itu dan segera membaca kalimat demi kalimat yang tertuang dalam kertas putih itu.
Hati Pria itu semakin dilanda kecemasan. Rasa bersalah bergelayut dalam lubuk hatinya. Mendadak hatinya perih dan pilu saat membaca ucapan selamat tinggal dari wanita itu.
"Amel, maafkan aku yang terlalu emosi," ucapnya sembari menggusal rambut hingga sedikit berantakan.
Radit kembali keluar dari kamar dan segera mengendarai mobilnya untuk menuju ke kediaman Amel, Pria itu berpikir bahwa Amel pasti pulang kesana.
Setibanya dikediaman itu, pintu gerbang rumah yang yang berlantai dua itu terkunci dari dalam Radit mencoba untuk menggedor-gedor dan menekan bel gerbang itu, berharap sang istri keluar menemuinya.
"Mau cari siapa, Pak?" tanya wanita yang Radit sama sekali tidak kenal.
"Saya mau bertemu dengan Amelia," jawab Radit tak sabar.
"Maaf, rumah ini sekarang milik saya, karena Ibu Amel sudah menjualnya," jelas wanita itu yang membuat Radit terkejut.
"Apa! Dijual?"
"Iya, baru semalam kami timbang terima."
Radit kembali terpaku. Lelaki yang berusia tiga puluh lima tahun itu beranjak meninggalkan kediaman yang kini bukan milik istrinya lagi.
Diperjalanan pulang Radit bingung harus mencari wanita itu kemana, dia tahu Amel tidak mempunyai sanak keluarga. Bahkan wanita itu juga mengatakan bahwa dirinya sangat tertutup, ia seakan tak mempunyai teman yang akrab ataupun sahabat.
"Amel kamu pergi kemana? Kenapa begitu cepat kamu mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan aku," gumam Pria itu dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
Saat mobil Radit ingin memasuki perkarangan rumahnya, ia melihat ada sebuah mobil berhenti tepat berada di depan rumahnya. Radit mengingat bahwa mobil ini yang mengantarkan Amel pulang sore kemarin.
Radit segera turun dari mobil, ia melihat seorang Pria sudah duduk di sofa teras sepertinya sedang menunggu seseorang. Siapa yang dia tunggu, apakah Amel?
"Selamat sore, Mas. Perkenalkan saya Lino kuasa hukum Mbak Amel. Saya ingin bertemu dengan beliau mengenai pembangunan yayasan panti asuhan yang sudah kami sepakati bersama dengan warga setempat. Apakah Mbak Amel nya ada?" tanya Pria itu membuat jantung Radit berdetak kencang.
"Ja-jadi, semalam Amel?" tanya Radit tak mampu meneruskan ucapannya.
"Iya, Mas. Semalam kami mengurus penjualan semua aset Mbak Amel, dan kami juga meninjau lokasi pembangunan yayasan panti asuhan. Tadi pagi Mbak Amel telpon saya untuk meminta saya mengurus semuanya. Tetapi ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Mbak Amel," jelas Pria itu yang membuat Radit tak bisa bicara apa-apa.
"Ah, istri saya sedang ada acara diluar kota. Apakah dialihkan pada saya tidak bisa untuk tanda tangan?" ujar Radit tak ingin orang lain tahu masalah mereka.
"Boleh kalau begitu, silahkan ditanda tangani, Mas." Pria itu menyerahkan beberapa file yang harus di tanda tangani oleh pihak kuasa.
Radit segera menandatangani, setelah selesai Pria itu segera beranjak meninggalkan kediaman Dokter itu. Radit menghela nafas dalam, rasa penyesalan semakin dalam.
Amel kamu dimana? Aku harus mencari kamu kemana.
Radit masuk dengan wajah lesu, Rafif menghadang dihadapannya. Tatapan bocah kecil itu sangat berharap adanya kabar baik tentang sang Mama.
Radit berjongkok mensejajarkan tubuhnya pada sang Putra. "Sayang, Mama lagi ada urusan diluar kota. Kita tunggu Mama pulang ya," ujar Pria itu berbohong. Jujur, Radit bingung harus bicara apa pada anaknya.
"Apakah Mama lama disana? Kenapa Mama tidak pamit dengan kita?" tanyanya kembali.
"Mm, mungkin Mama sedang buru-buru. Udah, jangan sedih lagi ya. Papa janji akan jemput Mama nanti," ucap Pria itu memberi penghiburan pada bocah kecil itu.
"Janji ya, Pa."
"Iya, Sayang. Yaudah, sekarang Rafif main lagi sama Mbak ya, Papa mau mandi dulu."
Rafif sedikit lega saat sang Papa berjanji akan menjemput wanita yang telah dia anggap sebagai ibunya. Maklum saja Rafif yang tak pernah bertemu dengan wajah ibu yang melahirkannya, maka jika ada wanita yang menyayanginya dengan tulus bocah itu akan ketergantungan.
__ADS_1
Radit masuk kedalam kamar, kembali bayangan sang istri menari dalam otaknya. Radit mengingat bagaimana dia menyakiti perasaan wanita itu dan tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Jika Radit sedang berada dalam penyesalan, berbeda dengan Amel yang sedang bahagia.
Pagi ini wanita itu merasakan mual yang tak bisa ditahan. Amel terduduk di ranjang setelah sebagian tenaganya terkuras saat memuntahkan cairan dalam perutnya.
Tiba-tiba tubuhnya meriang, Amel tak ingin dirinya sakit, karena dia harus mempersiapkan segala sesuatu untuk berjualan. Amel memutuskan untuk berobat ke Bidan terdekat.
Dengan di temani Bu Niar, Amel mendatangi praktek seorang Bidan yang tak jauh dari kediaman mereka.
"Apa yang kamu rasakan, Mel?" tanya Bu Niar di perjalanan.
"Aku tiba-tiba mual, Bu. Dan badanku meriang," jelas wanita itu sembari mengikuti langkah wanita baya yang menunjukkan rumah Bidan.
"Apakah kamu sedang hamil?" tanya Bu Niar, wanita itu tahu bahwa Amel mempunyai suami yang sedang berada diluar kota, karena Amel memang sengaja membawa buku nikah bagiannya, agar warga dimana tempat dia tinggal tidak beranggapan buruk tentang dirinya.
Seketika Amel tertegun saat mendengar dugaan Bu Niar. Apakah benar dirinya sedang hamil? Karena sudah dua bulan terakhir ia tak mendapat tamu bulanan.
Jika orang akan bersedih hamil tanpa suami, tetapi berbeda dengan Amel yang memang berharap kehadiran malaikat kecil itu ada dirahimnya. Amel akan bahagia jika benar terjadi.
"Kenapa diam, Mel? Ayo, sudah dekat kok," tegur Bu Niar saat melihat Amel diam termangu.
"Ah, baik, Bu. Jika benar aku hamil, aku sangat bahagia," jelas wanita itu pada Bu Niar.
"Iya, berdo'a saja. Semoga ini benar."
Setibanya di rumah Bidan, mereka segera disambut ramah oleh Bidan cantik yang menggunakan hijab syar'i itu.
"Siapa yang sakit, Bu Niar?" tanya Bu Bidan.
"Ini Amel, dia warga baru disini," jawab Bu Niar memperkenalkan.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading