
"Yu, tolong anterin ke meja sana ya," ucap Amel pada anggotanya itu.
"Maksud Mbak Amel, Dr Rian?" tanya gadis itu tersenyum sumringah.
"Hmm, iya. Kenapa kamu senyum-senyum begitu? Kamu suka ya, sama Dokter Rian?" tanya Amel, menebak dengan benar.
"Hihi, siapa sih Mbak, wanita yang tidak menyukai Dokter Tampan itu, apa yang kurang darinya coba, tampan, seorang dokter, baik dan ramah. Eh, tapi sepertinya dia suka sama Mbak Amel deh," celoteh gadis itu.
"Ish, kamu sok tahu banget. Udah kamu kalau suka usaha untuk meluluhkan hati Pria pujaan hati kamu itu, mana tahu memang jodoh," jawab Amel memberi dukungan.
"Mbak serius? Emang Mbak Amel tidak tertarik dengannya?" tanya Ayu penasaran.
"Nggak tuh," jawab Amel jujur, karena dia memang tak ada perasaan apapun pada Pria yang begitu baik dengan putrinya.
Ayu tersenyum mendengar jawaban dari sang majikan yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri. "Oke Mbak, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya." Ayu segera melesat menuju meja dimana Dr tampan itu sedang duduk.
"Silahkan Mas," ucap Ayu tersenyum manis.
"Ah, ya, terimakasih," balas Dr Rian datar.
Ayu masih berdiri disana dengan senyum-senyum sendiri membuat sang Dokter jadi tak nyaman.
"Maaf, saya bisa makan sekarang?" Rian menyindir agar gadis itu segera beranjak.
"Ah, ya silahkan," ucapnya masih menatap wajah tampan rupawan yang ada dihadapannya.
"Tapi kamu ada keperluan apa ya, Kok masih berdiri disana?"
"Eh, mm, nggak ada, silakan dinikmati. Kalau perlu apa-apa panggil saja, aku siap melayani sepenuh hati," ujar gadis itu yang membuat Rian sedikit ilfil. Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum senjang.
Amel dan Uni Pitri hanya tersenyum dan geleng kepala melihat tingkah Ayu yang tampak begitu agresif pada Dokter tampan itu.
Siang ini ada rapat para staf RS, termasuk para Dokter-dokter, ada pembahasan tentang cabang RS yang ada di desa yang sudah menjadi kecamatan X. Ada beberapa Dokter senior diutus untuk meninjau lokasi cabang RS sekaligus untuk menjadi Dokter pembimbing bagi Dokter baru yang praktek disana, salah satunya Radit ditunjuk untuk peninjauan RS baru itu.
Sebenarnya Pria itu keberatan, tetapi karena sudah diutus oleh pimpinan, maka dia tidak bisa menolak. Selesai rapat, Radit segera pulang karena mereka akan berangkat siang sekitar jam dua.
Setibanya dirumah Pria itu segera bersiap mempacking barang-barang dan peralatannya. Rencananya Radit akan membimbing hanya satu minggu saja.
__ADS_1
"Papa, mau kemana?" tanya sikecil Rafif saat melihat sang Papa sedang berkemas.
"Hai, Sayang, kamu nggak bobok siang? Papa ada tugas diluar kota. Kamu sama Mbak dan Bibik dirumah ya," ujar Radit sembari mengusap kepala sang Putra lalu mengecupnya.
"Pa, aku ikut ya sama Papa. Kan hari ini aku sudah selesai ujian, jadi disekolah sudah nggak ada pelajaran lagi. Senin besok juga sudah libur," ucap bocah itu merengek ingin ikut.
"Beneran kamu sudah selesai ujian?" tanya Pria itu memastikan.
"Iya, Pa, nanti Papa telpon Miss Devi, sekalian izin," ujar bocah itu memberi solusi.
"Hmm, baiklah. Tapi nanti disana saat Papa kerja, kamu diam saja dirumah ya," ucap Radit mewanti-wanti.
"Baiklah, tapi rumah dinas Papa tidak jauh dari rumah sakit 'kan?"
"Kata pihak RS tidak, tapi Papa belum lihat. Yaudah, sana kamu siap-siap, sebentar lagi kita berangkat."
"Oke, Pa." Rafif segera minta si Mbak untuk membantu mempersiapkan pakaiannya. Tidak perlu lama bocah itu sudah rapi, senyum bahagia tersungging di bibir bocah berumur delapan tahun itu.
"Ready?" tanya Radit melihat Putranya sudah rapi dan tampan.
"Oke, let's go."
Ayah dan anak itu segera berangkat, tentunya berbarengan dengan rekan-rekan Radit lainnya sudah menunggu di SPBU yang telah dijanjikan, mereka berangkat menggunakan mobil masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan dua jam setengah, mereka sampai waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Radit dan yang lain segera men menuju rumah dinas yang telah disediakan oleh pihak RS.
Setelah menempati kamar masing-masing, Radit segera bersih-bersih, dan tak lupa mengurus bocah kecil itu. Kini ayah dan anak itu sudah rapi dan tampan setelah mandi.
"Pa, aku lapar, kita cari makan yuk, Pa," ajak bocah itu, kebetulan tadi mereka tidak sempat berhenti karena tergesa-gesa.
"Oh, kamu lapar, Nak? Papa lupa beli sesuatu dijalan. Yaudah, ayo kita cari makan di kantin," ujar Pria itu segera menggandeng tangan sang anak menuju RS. Kebetulan rumah dinas Dokter di belakang RS yang cukup besar itu. Meskipun fasilitasnya belum lengkap karena sangat new.
"Loh, tidak buka?" tanya Radit melihat petugas sudah berkemas.
"Kami cuma buka sampai jam lima saja, Pak, karena masih baru, " jelas pegawai itu.
"Oh, kira-kira dimana lagi tempat jualan makan ya?" tanya Pria itu bingung, karena belum tahu daerah itu.
__ADS_1
"Ada rumah makan tidak jauh dari sini, Pak, kira-kira lima ratus meter dari sini," jelas wanita itu memberi petunjuk.
"Oh, dimana itu?"
"Bapak lempang aja nggak ada belokan, sebelah kanan dari sini."
"Ah, Terimakasih ya, jadi tidak perlu pakai kendaraan 'kan?"
"Tidak, dekat kok."
Radit segera membimbing putranya. "Rafif sudah lapar? Masih tahan 'kan? Maaf ya, Papa benar-benar lupa mampir beli makanan atau cemilan di minimarket, habisnya tadi buru-buru karena takut kemalaman nyampenya," ujar Pria itu merasa bersalah karena sang anak sudah lapar.
"Tidak apa-apa, Pa. Aku masih kuat kok," jawab Rafif sangat pengertian.
Saat mereka sedang asyik menikmati indahnya waktu sore di tempat baru itu. Duo Pria beda generasi itu dikagetkan dengan tangisan seorang anak kecil yang terjerembab di atas aspal.
"Pa, lihat adik itu jatuh!" seru Rafif pada sang Papa.
"Astaghfirullah, ayo." Radit dan Rafif mempercepat langkah mereka untuk menghampiri bocah perempuan yang diperkirakan berumur dua tahun lebih.
"Hiks... Hiks... Huuaa!" tangis bocah itu pecah.
"Hei, Sayang, kenapa bisa jatuh? Ayo Oom bantu." Radit segera menegakkan gadis kecil itu. Seketika jantung Pria itu berdebar saat menatap mata polos sang bocah.
"Huuaa... Sakit Om," gumamnya masih dengan tangisan.
"Mana yang sakit Sayang? Nanti Oom obati ya. Nama kamu siapa?" Radit memperbaiki kekacauan pada tubuh gadis kecil itu yang tampak sedikit kotor karena ada bekas pasir yang menempel pada pakaiannya.
"Kaki aku cakit Om, perih," rengeknya masih menahan sakit.
"Pa, lututnya berdarah," ujar Rafif menunjuk bagian yang terluka karena gesekan aspal.
"Oh, iya, tapi nggak pa-pa, dikit kok. Nanti Oom obati ya. Ayo sekarang Oom antar pulang, lain kali tidak boleh lari-lari ya," nasehatnya pada gadis kecil yang sangat cantik itu.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1