
"Kepala aku sakit banget, kenapa ya," ujar Radit sembari meremat kepalanya.
"Istirahat dulu Mas." Amel membantu memapah Radit untuk duduk kembali.
"Mas Radit ada obat sakit kepala?" tanya Amel.
"Ada, tolong ambilkan di mobil," jawab Radit masih menahan sakit.
Amel bergegas mengambil obat untuk Radit, setelah itu ia segera memberikan bersama air putih.
"Ayo, minum dulu Mas."
"Makasih ya." Setelah minum obat Radit istirahat sejenak di sofa panjang yang ada diruang tamu.
Amel menatap sedih, setitik cairan bening menetes disudut matanya. Ingin rasanya merawat Pria yang sampai saat ini masih merajai hatinya, tetapi sadar sekali dirinya tak mempunyai hak apa-apa.
Amel membawa anak-anak untuk main di warung agar sang Papa bisa istirahat dengan tenang.
"Main disini saja ya, Nak, biarkan Papa istirahat," ucap Amel pada kedua anak-anaknya.
"Oke, Ma. Maunya besok saja pulang, kami boleh nginep disini untuk malam ini kan, Ma?" tanya Rafif pada sang Mama.
"Ah, ya, kalian boleh nginep." Wanita itu mengiyakan.
"Yee... Semoga Papa cepat sembuh. Ayo, Dek kita main lagi," ajal Rafif pada Rara.
"Ayo Kak."
"Mel, sebenarnya kamu dan Dokter Radit ada hubungan apa?" tanya Uni Pitri sangat penasaran.
Amel terdiam, sebenarnya ia tidak ingin menceritakan masalah privasinya, tapi ia harus memberitahu, karena Amel sudah menganggap Pitri dan Ayu sebagai saudaranya sendiri. Merekalah yang selalu membantunya.
"Sebenarnya Mas Radit ayah Rara, Un.
Aku sengaja pergi dari kehidupannya karena tak ingin merepotkan dia," jelas Amel. Pitri belum mengerti bagaimana kisah mereka yang sebenarnya. Maka Amel mengatakan bahwa ada hal yang tak bisa ia ceritakan, karena itu adalah aibnya yang harus disembunyikan dari orang lain, cukup dirinya yang tahu dan Tuhan saja.
"Apakah kalian masih saling cinta?" tanya Uni Pitri.
"Ah, mungkin lebih tepatnya cinta itu hanya aku yang punya, Un, karena sampai kapanpun dia tetaplah cinta pertamaku."
__ADS_1
"Kenapa tidak coba untuk bicara lebih serius dan terbuka, karena Uni lihat dia juga masih mencintai kamu," ujar Uni.
"Tidak, Un, aku sudah berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupannya.
Cukup lama kedua perempuan itu ngobrol. Sementara Ayu hanya menjadi pendengar setia saja.
Setelah menutup warung, dan kedua anggota Rumah makannya itu juga sudah pulang, maka Amel segera membawa kedua anaknya masuk dan memandikan.
Setelah mengurus mereka, Amel berjalan menuju ruang tamu untuk melihat keadaan Pria itu. Terlihat Radit tidur begitu nyenyak, ingin membangunkan, tetapi tak tega.
Amel membiarakan saja Radit istirahat. Dengan ragu-ragu wanita itu menempelkan punggung tangannya di kening Radit. Terasa suhu tubuhnya panas tinggi.
"Ya Allah, kamu demam, Mas," desis wanita itu segera beranjak mengambil baskom kecil dengan sapu tangan. Amel segera mengompres kening Pria itu.
Merasa ada yang berbeda, Radit membuka matanya. Samar melihat kehadiran wanita yang amad dicintainya duduk bersimpuh menghadap padanya, tangan membolak-balik kain kompres itu agar suhu tubuhnya kembali normal.
"Mel," lirih Radit meraih tangan wanita itu dan menggenggam dengan lembut.
Amel terjingkat. "Ah, Mas Radit! Apakah kepalanya masih sakit?" tanya Amel berusaha untuk tetap tenang.
Pria itu hanya mengangguk pelan. Tak tahan lagi dengan segala rindu yang selama ini ia tahan, Radit segera meraih tangan Amel dengan kuat sehingga tubuh ramping itu mendekat padanya.
Reflek, Radit segera memeluk Amel dengan dalam. Pria itu meresapi segala aroma tubuhnya, perasaannya begitu nyaman. Amel tak mampu bicara apapun, terasa tubuhnya berubah menjadi batu.
Amel tak kuasa menahan air matanya, sekuat apapun dia menyembunyikan perasaan, jika sudah seperti ini, maka akan terbawa perasaan.
Tanpa disangka oleh Radit, ternyata Amel membalas pelukannya. Terdengar isakan kecil wanita itu dibahunya. Radit mengusap punggung dan kepalanya dengan lembut.
"Maafkan segala kesalahanku dulu, Dek, maaf karena aku sudah menjadi lelaki bodoh. Tapi aku selalu berusaha mencarimu, andai saja aku tahu dimana keberadaanmu saat itu, maka aku akan bersujud di kakimu untuk memohon maaf," ucap Radit mencurahkan isi hatinya dengan segala rasa haru.
"Mas, jangan bicara begitu. Aku sudah memaafkan segala kesalahanmu, aku tidak pernah menyalahkanmu, Mas, aku memahami segala kecurigaanmu, karena memang dulunya aku adalah seorang wanita malam. Kamu tidak salah Mas," jawab Amel sembari melerai pelukannya.
"Dek, katakan padaku sejujurnya. Apakah kamu benar-benar bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Radit menatap sedih.
"Mas, sebenarnya..."
"Assalamualaikum!"
Seru seseorang dari luar menghentikan ucapan Amel. Pasangan itu saling pandang. Radit hendak beranjak, tetapi Amel melarang.
__ADS_1
"Jangan, Mas. Biar aku saja," ujar Amel menahan agar Radit tetap duduk.
Amel berjalan untuk membukakan pintu, terdengar suara heboh diluar rumah. Sebelum membukakan pintu, Amel membuka gorden jendela di samping pintu untuk melihat ada kejadian apa diluar.
Seketika jantungnya berdegup kencang, ternyata warga sudah berkerumun diluar dan terlihat juga ada ketua RT. Amel menyadari bahwa mereka berpikir dirinya sudah berbuat hal tidak baik di dalam.
Amel mencoba menghela nafas dalam, tak ada cara lain selain mengatakan yang sejujurnya siapa Pria yang kini sedang bersamanya.
Tok! Tok!
"Ibu Amel!" panggil ketua RT dari luar.
Dengan langkah pasti, Amel membukakan pintu, ia harus memberitahu yang sebenarnya pada warga setempat.
"Maaf, ada apa ya?" tanya Amel membuka percakapan.
"Nggak usah pura-pura kamu Amel! Kami tahu kamu menyimpan seorang lelaki dari tadi siang dirumah ini. Kamu sudah berbuat mesum dengan Pria itu!" sorak warga pada Amel.
"Ada apa ini?" tanya Radit sudah berada di belakang Amel.
"Nah ini dia lelakinya. Udah Pak RT, bawa saja mereka disidang saja di kantor wali!" seru mereka bersama-sama.
Amel tampak begitu cemas. Namun Radit berusaha untuk tetap tenang. Pria itu masih berusaha meyakinkan para warga.
"Ayo, Bu Amel, dan Mas-nya ikut saya ke kantor wali nagari," ucap ketua RT itu.
"Tidak! Saya tidak akan ikut. Karena untuk apa kalian ingin menyidang kami disana? Kami ini suami istri. Dia adalah Mas Radit, suami saya!" sentak Amel pada mereka.
"Benarkah? Kalau begitu tunjukkan buktinya bahwa kalian adalah suami istri!"
"Amel, benarkah kalian suami istri? Jika benar beri bukti pada mereka semua," ujar Bu Niar pada Amel. Wanita itu merasa kasihan. Entah siapa yang menjadi tukang fitnah.
"Baiklah, Bu, sebentar akan saya tunjukkan." Amel membawa Radit masuk kedalam rumah.
"Mel, apa ini? Kamu akan dikatakan berbohong," ujar Radit tidak mengerti.
"Mas, tunjukkan identitas kamu. Akan kita sesuaikan dengan buku nikah milikku," ucap Amel memberi solusi.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰