Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 14


__ADS_3

Jika Amel sedang menikmati masa-masa kehamilan dan berjuang mencari rezeki yang halal, berbeda dengan Radit yang semakin hari hidupnya terasa hampa, Pria itu harus kehilangan wanita yang dicintainya untuk kedua kalinya.


Rasanya perpisahan dengan Amel lebih menyakitkan daripada berpisah dengan almarhumah istri pertamanya. Karena dipisahkan oleh maut itu sudah takdir yang tak mungkin disesali. Tetapi berpisah hidup dan bahkan dia tidak tahu dimana keberadaan istri keduanya sekarang, sungguh begitu sakit dan penuh penyesalan.


Pagi ini Radit enggan untuk bangkit dari tempat tidurnya, Pria itu masih betah tiduran, matanya terasa sangat berat. Akhirnya Radit memutuskan untuk izin tidak praktek hari ini.


"Papa! Buka pintunya,Pa!" teriak Rafif mengganggu kenyamanan sang Papa yang masih mengalai diatas ranjang.


Radit beranjak membukakan pintu. "Ada apa, Sayang?" tanya Pria itu, ia melihat sang anak sudah rapi dengan pakaian trend-nya.


"Pa, hari ini aku tidak mau sekolah, hari ini kita jemput Mama yuk,Pa," ajak bocah itu memberi ide, ah, andai saja Radit tahu dimana Amel sekarang, maka sudah dari kemaren-kemaren dia membawa wanita itu pulang, mungkin dia akan bersujud memohon maaf agar Amel mau memaafkannya.


"Sayang, hari ini Papa sedang tidak enak badan, besok saja ya kita jemput Mama," ujar Pria itu masih memberi harapan pada anaknya.


"Yah, padahal aku udah kangen banget sama Mama, Pa," ucap bocah itu dengan wajah kecewa.


"Iya, maaf ya, Nak. Papa sedang tidak enak badan. Kamu pergi sama Mbak dan Bibik saja jalan ke mall ya," ujar Radit mengalihkan perhatian bocah itu agar tak selalu mengingat sang Mama.


"Emang boleh aku pergi sama Bibik dan Mbak, Pa?" tanya Rafif, biasanya sang Papa tidak mengizinkannya pergi jika tidak bersamanya atau Mama.


"Iya boleh, Sayang. Nanti Papa bilang sama Mbak dan Bibik agar menjaga kamu dengan baik.


Radit dan Rafif segera menemui pengasuh dan asisten rumah tangganya untuk meminta mereka membawa Rafif jalan ke mall, dan tak lupa memberikan mereka uang pegangan.


Setelah mereka pergi. Radit kembali merebah di kamar, masih dengan mode malas. Saat sedang sibuk dengan ponselnya, tetiba perutnya terasa mual, Radit segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan segala cairan yang ada dalam perutnya.


"Aku kenapa ya? Apa karena masuk angin," gumam Pria itu sembari membersihkan mulutnya dari sisa cairan muntah.

__ADS_1


Begitulah setiap hari yang dirasakan oleh Pria itu, saat pagi Radit akan mengalami mabuk, tetapi siangnya dia akan kembali baik-baik saja. Rasanya Pria sudah lelah terus begitu.


Dirumah sakit Radit memeriksa dirinya melalui teman sejawatnya yang sama-sama Dokter. Tetapi dari hasil pemeriksaan dirinya baik-baik saja, tidak ada penyakit serius.


"Terus jika tidak ada penyakit yang serius, jadi aku sakit apa, Al?" tanya Radit pada temannya yang bernama Aldo itu.


"Itu yang aku bingung, Bro. Dari hasil pemeriksaan kamu sehat Wal Afiat. Asam lambung kamu aman, tidak ada masalah," jelas Aldo.


"Jangan-jangan istri kamu yang sedang hamil," celetuk Dokter Dewi yang seorang Dokter Obgyn. Wanita itu tidak sengaja mendengar obrolan kedua temannya sedang duduk di kantin RS.


"Apa maksud kamu,Wi?" tanya Radit tidak mengerti.


"Iya, jika kamu sering mual di pagi hari. Dan setelah itu akan membaik sendirinya, begitulah seterusnya. Itu yang dinamakan hamil simpatik. Dikarenakan kamu terlalu menyayangi istrimu dan mengkhawatirkannya," jelas Dokter Obgyn itu,


Seketika Radit terpaku dengan perasaan tak menentu, apakah benar Amel saat ini sedang hamil? Ah, Pria itu benar-benar dilanda kegelisahan. Kemana lagi dia harus mencari keberadaan sang istri yang menghilang bak di telan bumi.


Radit duduk menyandiri di balkon RS. "Amel kamu dimana sekarang? Aku benar-benar buntu informasi tentangmu."


Radit menatap lurus kedepan dengan pikiran merewang. Hati Pria itu teramat galau dan gelisah. Tak tahu harus berbuat apa.


Hari begitu cepat berlalu, Amel sangat menikmati masa-masa kehamilannya seorang diri, wanita itu sudah mempersiapkan perlengkapan bayinya yang diperkirakan akan dilahirkan pertengahan bulan ini.


Perasaan wanita itu sungguh bercampur baur, ada rasa cemas, takut, bahagia. Semua menjadi satu saat menunggu hari kelahiran sang bayi.


Amel duduk di ranjang dengan bersandar dan meluruskan kakinya yang sedari tadi sudah membengkak, karena terlalu lama berdiri. Maklum saja warung makannya cukup ramai dengan pengunjung.


"Anak Mama sehat selalu ya, Sayang. Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu. Nanti saat lahir, Adek jangan susah-susah ya, kamu harus bantu Mama biar mudah melahirkan kamu," celoteh wanita itu membawa bayinya bicara sembari mengusap perutnya dengan lembut.

__ADS_1


Merasa sudah cukup ngobrolnya dengan sang bayi, Amel segera merebahkan tubuhnya untuk segera istirahat. Hari ini cukup lelah, ditambah perutnya sudah mulai tidak nyaman karena sering buang air kecil setiap saat mengganggu aktivitasnya.


Entah jam berapa Amel terbangun dari tidurnya karena merasakan perutnya sangat mules dan nyeri. Amel merasakan ada yang keluar dari jalan lahir, ia segera memeriksa.


"Ya Allah, ini air apa yang keluar? Awwh! Sakit banget." Amel segera berjalan dengan perlahan menuju rumah Bu Niar yang bersebelahan dengan kontrakannya.


Tok! Tok!


"Assalamualaikum, Bu Niar!" panggil Amel pada wanita baya itu. Mungkin karena tengah malam, maka lambat respon, tentu saja seisi rumah sedang hanyut dalam mimpi.


Berulang kali Amel mengetuk dan memanggil yang punya rumah. Pada akhirnya Bu Niar membukakan pintu walau dengan mata yang belum terbuka sempurna.


"Amel! Kamu kenapa?" tanya wanita itu tampak panik saat melihat Amel meringis menahan rasa sakit yang mendera.


"Perut aku sakit sekali, Bu. Tadi juga keluar cairan bening," lirih wanita itu menjelaskan apa yang terjadi padanya.


"Ya Allah, mungkin itu air ketuban. Ayo kita ke Bidan sekarang. Kamu tunggu sebentar, Ibu bangunkan Bapak dulu."


Bu Niar segera membangunkan suaminya untuk meminta diantarkan kerumah Bidan. Dengan mengunakan mobil pick up Bu Niar dan suaminya mengantarkan Amel kerumah Bidan.


Setibanya di rumah Bidan, Amel segera diperiksa. Ternyata sudah buka delapan. Itu tandanya tidak lama lagi wanita itu akan segera melahirkan.


"Sudah buka delapan ya, Mel. Jangan turun lagi, kamu baring saja. Bawa miring kiri kanan biar jalan lahir lengkap bukanya ya," terang sang Bidan.


Amel hanya mengangguk menuruti perintah Bu Bidan, walau sakitnya semakin jadi, tetapi wanita itu berusaha untuk tetap tegar dan tenang. Sadar sekali dirinya tak mempunyai siapapun, jadi harus bisa kuat dan tidak boleh cengeng.


Bersambung ....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2