
Amel menikmati hari-harinya menjadi seorang istri dan Ibu yang akan selalu mengurus keperluan dan juga melayani dengan sepenuh hati. Hidupnya terasa lebih berwarna dan bahagia. Akhirnya angan-angan yang dulu ingin menikah dengan Pria yang dicintai dan mempunyai anak dapat terealisasi.
Meskipun menikah dengan Pria yang sudah memiliki paket lengkap, tak menjadi masalah baginya. Amel juga sangat menyayangi bocah kecil itu, dirinya merasa sudah menjadi wanita yang sesungguhnya, karena bisa mengurus anak juga.
Jika Amel sedang menikmati perannya,berbeda dengan Radit di RS yang menjadi bahan omongan dari kawan-kawan sejawatnya karena mereka mendapat cerita bahwa wanita yang dinikahinya adalah seorang pel acur.
Tentu saja berita itu membuat para staf RS yang mengenal baik karakter Radit mereka semua serentak kaget. Radit tahu siapa yang telah menyebar berita itu kalau bukan Alvin.
"Sus, berikan surat pengantar ini pada Dokter bedah," ujar Radit pada perawat pendampingnya. Tetapi perawat itu hanya diam memandangi sang Dokter dengan seksama.
Sempat tersirat dalam hati sang perawat yang menyayangkan seorang Dokter tampan seperti Radit harus menikah dengan wanita malam. Padahal masih banyak wanita yang berharap cintanya, salah satunya adalah perawat itu sendiri. Sudah lama sekali dia mengharapkan cinta Dokter duda Tampan itu, tetapi pada akhirnya Pria itu jatuh dipangkuan wanita yang menurutnya tidak pantas bersanding dengan sang Dokter.
"Sus, apakah kamu mendengarkan saya?" tanya Radit karena tak melihat perawat itu beranjak dari tempat duduknya.
"Ah, ya, saya dengar, Dok." Wanita itu segera beranjak meninggalkan ruangan Dokter penyakit dalam itu.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Radit segera beranjak meninggalkan ruangan itu untuk segera pulang. Saat dirinya menyusuri lorong RS, terdengar desas-desus para Dokter maupun perawat yang sedang membicarakan dirinya.
"Nggak nyangka banget ya Dokter Radit bisa menikah dengan wanita seperti itu," ucap salah seorang Dokter umum pada temannya yang juga seorang staf di RS itu.
"Iya, aku benar-benar nggak percaya. Kok bisa ya? Apakah dia tidak takut bila wanita itu akan membohonginya, padahal di RS ini banyak sekali wanita yang tergila-gila padanya."
"Iya, termasuk kamu 'kan? Hahaha..."
"Ish, tahu aja. Hahaha..."
__ADS_1
Radit yang berjalan di belakang mereka merasa geram dan tidak nyaman dengan segala ucapan yang mereka lontarkan. Tetapi dia tidak bisa menyangkal bahwa memang itulah kenyataannya. Tetapi, tak seharusnya pula mereka ngejudge.
Radit mempercepat langkahnya hingga sejajar dengan dua wanita itu. Sehingga sontak membuat wanita itu terkejut dan malu.
"Apakah ada yang salah dengan saya, bila saya menikahi seorang wanita malam? Apakah hidup kalian merasa dirugikan? Apa hak kalian menghakimi hidup saya? Dengar kalian semua! Mulai sekarang saya tegaskan pada kalian yang memandang rendah terhadap istri saya, saya akan membuktikan bahwa wanita malam juga bisa menjadi terhormat bila berada di dalam naungan seorang lelaki yang baik. Jangan menghakimi masa lalu seseorang, karena jalan hidup seseorang itu tidak ada yang tahu, wanita malam juga manusia yang mempunyai hati dan perasaan. Ingatlah! Bila sekarang kalian merasa menjadi wanita terhormat, jalan hidup kedepannya tidak ada yang tahu bisa jadi hal buruk juga menimpa hidup kalian."
"Oya, satu lagi! Jika besok dan seterusnya jika ada diantara kalian yang masih berani bicara buruk tentang istri saya, maka saya akan tuntut kalian atas pencemaran nama baik! Camkan itu!" Radit segera berlalu saat menyampaikan itu di lobby yang didengar oleh orang banyak yaitu staf RS yang sedang berkumpul disana.
Setibanya dirumah Radit masih dengan wajah kesal. Pria itu berlalu begitu saja saat dihampiri oleh Amel dan putra kecilnya.
"Papa kenapa, Ma?" tanya Rafif bingung sendiri melihat sikap sang Papa yang tak seperti biasanya.
"Tidak apa-apa, Sayang, mungkin Papa sedang capek atau sedang ada masalah di RS. Sekarang Rafif main dulu sama Mbak ya, Mama mau bikin minum untuk Papa," ujar Amel memberi pengertian pada putranya.
"Hmm, baiklah." Bocah yang berumur belum genap enam tahun itu segera beranjak bersama pengasuhnya.
Amel meletakkan teh itu diatas meja tanpa berani membangunkan. Perlahan ia membuka sepatu sang suami yang masih dikenakan. Amel bingung harus berbuat apa, lebih baik dia membiarakan Pria itu untuk istirahat dulu agar pikirannya tenang.
Amel kembali keluar menyibukkan diri dengan membuat suatu cemilan sehat untuk keluarga kecilnya, yaitu membuat puding buah.
Sementara Radit yang melihat sang istri sudah keluar, dia segera duduk. Pikiran Pria itu benar-benar kacau. Entahlah, dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya saat ini. Terasa begitu berat, dirinya harus menghadapi ucapan dan pandangan senjang dari semua orang.
Tetapi Radit juga tak bisa berbuat apa-apa selain terus menjalani kehidupannya. Mungkin inilah ujian terberat untuknya, dia harus bisa menghadapi. Amel tidak perlu tahu tentang semua ini. Radit tak ingin sang istri semakin larut dalam penyesalan dan rasa bersalah. Radit ingin wanita itu tetap nyaman bersamanya.
Radit menyesap teh yang dibuatkan oleh istrinya, setelah itu ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya menunaikan ibadah Zuhur.
__ADS_1
Setelah sholat, Pria itu keluar dari kamar. Pikirannya sudah kembali lebih tenang setelah meminta kekuatan dari sang pencipta. Radit menghampiri Putranya yang sedang tiduran diruang keluarga sembari nonton film animasi.
"Hai, anak Papa lagi apa nih?" tanya Pria itu menghampiri sembari ikut berbaring memeluk tubuh mungil itu.
"Lagi nonton. Papa udah nggak capek lagi?" tanya bocah itu dengan polosnya.
"Capek? Nggak, Papa nggak capek kok. Siapa yang bilang Papa capek?" tanya Radit mengecup puncak kepala Rafif
"Mama, tadi saat Papa pulang, Papa nggak gendong aku seperti biasanya, terus aku tanya sama Mama, kenapa Papa seperti orang marah, kata Mama Papa sedang capek," jelas bocah itu dengan detail.
"Oh, hehe.. Sini peluk Papa dulu. Maaf ya Sayang, iya tadi Papa capek sedikit, karena hari ini pasien Papa banyak sekali," ujar Radit beralasan.
Rafif segera memutar tubuhnya menghadap pada sang Papa dan memeluk dengan erat. Radit mengecup puncak kepala Putra kesayangannya.
"Rafif, pudingnya sudah dingin Sayang, ayo kita makan dulu," ucap Amel menghampiri sang Putra yang tadi ada diruang TV.
"Eh, Mas, kamu udah bangun?" tanya Amel sedikit canggung melihat ada Radit disana.
Radit dan Rafif segera duduk. Bocah itu menghampiri Amel dan bergelayut di tangannya.
"Ayo Ma, kita makan puding buahnya," ajak bocah itu dengan manja.
"Ah, baiklah, ayo Mas, kamu belum makan siang 'kan?" Ajak Amel pada sang suami.
"Ya, ayo." Radit mengekori Ibu dan anak itu.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰