
Sore ini keluarga kecil itu bercengkrama sembari menikmati puding buah yang disajikan oleh Amel. Radit berusaha untuk tetap ceria dan tersenyum dihadapan istri dan anaknya.
Radit tak ingin Amel tahu masalah yang sedang ia hadapi sekarang. Radit akan berusaha untuk membersihkan nama Amel dari pandangan buruk orang-orang yang merasa hidupnya bersih tanpa dosa.
Amel dan Radit menatap bocah kecil itu sedang asyik bermain bola di taman belakang. Terkadang mereka terkekeh dengan tingkah kekonyolannya.
"Papa, ayo main bareng aku!" panggil bocah itu yang merasa tidak puas bermain dengan Mbak pengasuhnya yang tak bisa bermain bola.
"Hah? Baiklah. Ayo." Radit segera beranjak mengikuti bocah kecil itu untuk ikut bermain dengannya demi menyenangkan hati sang putra.
Amel hanya tersenyum memandangi kedua Pria yang amad dicintainya. Setelah cukup lelah, Rafif menyudahi permainan olahraga kaki itu. Sang bocah ikut bergabung dengan kedua orangtuanya, kembali menikmati sisa puding yang masih berada diatas meja.
"Sudah mau magrib, Nak, kamu Mama yang mandiin atau mandi sendiri?" tanya Amel memberi pilihan.
"Aku mandi sendiri saja,Ma. Aku kan sudah besar, kata Papa sebentar lagi aku akan mempunyai adik, benarkah, Ma?" tanya Rafif begitu polos. Entah sejak kapan sang Papa mengatakan hal itu pada anaknya.
Wajah Amel menjadi bersemu, Pria yang ada disampingnya itu terkadang penuh kejutan, padahal mereka belum pernah membahas tentang rencana mempunyai anak, tetapi Radit sudah terlebih dahulu bicara pada sang bocah.
"Kenapa Mama bengong? Benarkah aku sebentar lagi akan mempunyai adik?" tanya Rafif kembali meminta pembenaran dari Mamanya.
"Ah, Insya Allah ya, Sayang, kan semuanya atas izin Allah. Kita berdo'a bersama ya?" jawab Amel sedikit gugup. Masih merasa malu pada Pria itu. Apakah benar Radit sudah bisa membuka hati seutuhnya sehingga dia menginginkan seorang anak dari rahimnya.
"Horee... Sebentar lagi berarti aku akan jadi Abang, nanti aku sudah punya teman main bola." bocah itu kegirangan dan segera minta ditemani oleh Mbak pengasuhnya untuk mandi.
Amel dan Radit hanya tersenyum melihat kelakuan Putranya. Amel menoleh kesamping ternyata Radit juga menatapnya sehingga pandangan mereka bertemu.
"Apakah Mas Radit mau mempunyai anak dariku?" tanya Amel sedikit malu untuk menanyakan, tetapi dia juga ingin tahu bagaimana sebenarnya hati Pria itu, apakah benar apa yang diutarakannya pada Rafif.
__ADS_1
"Kenapa kamu menanyakan hal itu, ya tentu saja aku mau. Bukankah tujuan kita menikah untuk mempunyai keluarga yang utuh, yaitu keturunan," jawab Radit membuat Amel tersenyum malu.
Terkadang wanita itu masih belum percaya dengan kehidupan nyata yang kini sedang ia jalani. Berharap semoga kebahagiaan ini akan selalu menyertai keluarganya.
"Terimakasih ya, Mas, terkadang aku masih suka tak percaya diri. Aku masih merasa ini seperti mimpi. Dulu aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan pernah menemui kebahagiaan yang hakiki. Lantaran aku tak mempunyai tujuan hidup. Tetapi setelah bertemu denganmu apa yang aku sangkakan tidaklah benar, kamu hadir memberiku kebahagiaan yang sesungguhnya."
Amel mencurahkan isi hatinya dengan mata berkaca-kaca. Radit menggengam tangan sang istri dengan lembut. Kembali Pria itu menatap dengan dalam.
"Amel, tetaplah menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku kelak. Aku juga bahagia hidup bersamamu. Aku tahu sesungguhnya kamu adalah wanita yang baik, apa yang terjadi di masa lalu karena disebabkan kamu tak mempunyai bimbingan dari orang terdekat sehingga kamu salah pergaulan dan terjerumus ke dunia hitam. Pegang tanganku selalu, Dek, mari bersama menuju masa depan yang bahagia."
Amel segera masuk kedalam pelukan Pria itu dengan tangis haru, tak bisa menggambarkan bagaimana bahagianya ia saat ini bersama Pria itu. Radit membalas pelukan sang istri memberi kenyamanan.
"Sudah mau magrib, ayo kita mandi dan sholat magrib," ajak Radit melerai pelukannya.
Amel mengangguk patuh, pasangan halal itu segera masuk menuju kamar untuk mandi dan bersiap melaksanakan ibadah berjamaah bersama istri dan anaknya.
Kini Keluarga kecil itu menunaikan sholat magrib berjamaah, Radit menjadi imam anak dan istrinya menjadi makmum. Selesai salam Pria itu merampalkan Do'a kebaikan untuk keluarga kecilnya dan setelah itu Amel dan Rafif menyalami tangan imam mereka dengan takzim.
Begitulah hari-hari yang mereka lalui tanpa terasa sudah beberapa bulan rumah tangga itu berlangsung dengan penuh kebahagiaan, Radit juga sudah mulai bisa menerima Amel dengan sepenuh hati. Rasa cinta Pria itu mulai tumbuh semakin dalam.
Radit juga sudah terbiasa dengan lingkungan di mana dia bertugas, sudah tak dihiraukannya lagi apapun yang mereka katakan, sehingga gosip dan bulyan berangsur pulih sendiri.
Pagi ini Amel sudah mempunyai janji dengan seorang kuasa hukumnya untuk menjual rumah dan asetnya yang lain. Rencananya Amel akan membangun sebuah panti asuhan untuk menampung anak-anak terlantar yang ada dijalanan.
Amel sudah tak ingin lagi berhubungan dengan harta yang memang sebagian besar ia dapatkan hasil dari masalalunya saat menjadi BO. Lebih baik sekarang harta itu ia jual dan disumbangkan untuk kepentingan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Amel sebenarnya ingin memberitahu Radit, tetapi nanti saja saat semua sudah terealisasi. Amel ingin memberi kejutan untuk Pria itu yang selama ini sudah menganjurkan untuk menjual semua aset yang Amel miliki dan menyumbangkan pada orang yang membutuhkan, tetapi Amel saat itu masih mempertimbangkan.
__ADS_1
Disaat hatinya sudah mantap, maka Amel segera menghubungi kuasa hukumnya, untuk membantunya mengurus segalanya mewakafkan semua hartanya untuk dijadikan panti asuhan.
"Mbak, aku pergi dulu ya ada keperluan. Nanti sekalian aku yang jemput Rafif pulang sekolah," ujar Amel pada pengasuh Rafif.
"Baik, Bu."
Sementara itu di RS Radit baru saja selesai praktek, Pria itu sudah bersiap untuk pulang. Saat Radit masih mengecek beberapa file pasien, vibrasi ponselnya membuyarkan fokusnya.
"Ya, saya sendiri. Ah, baiklah saya jemput Rafif sekarang." Ternyata telpon dari sekolah Rafif yang mengatakan belum ada jemputan yang datang untuk Rafif.
Radit bergegas untuk menjemput Putranya. Pria itu segera menghubungi Amel, tetapi ponsel wanita itu tidak aktif.
"Kemana mereka? Kenapa bisa lupa menjemput Rafif," gumam Radit sembari fokus mengemudi.
Setelah menjemput Rafif, Radit segera pulang. Setibanya dirumah Pria itu segera mencari Amel dan sang pengasuh.
"Mbak, kenapa tidak menjemput Rafif?" tanya Radit sedikit kesal.
"Ah, maaf, Pak. Tadi Ibu Amel bilang beliau yang akan menjemput sekalian," jelas sang pengasuh.
"Amel kemana?"
"Ibu Amel keluar dari tadi pagi ada keperluan beliau bilang."
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1