Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 18


__ADS_3

"Hai, apa kabar?" Pria itu menyapa dengan perasaan tak menentu.


"Alhamdulillah, baik Mas. Kamu sendiri?" tanya Amel masih begitu canggung setelah tiga tahun berpisah.


"Separuh jiwaku hilang," jawab Radit dengan jujur.


Amel menatap wajah Pria yang amat dirindukan, ingin sekali memeluknya dan berkata. "Aku kangen banget Mas" tetapi hanya ada dalam angannya saja. Amel takut akan merusak kebahagiaan Pria itu. Amel berpikir bahwa Radit sudah memiliki pasangan yang baru.


"Apakah Mas Radit sakit?" tanya Amel saat mendengar jawabannya.


"Mungkin secara fisik aku sehat, tetapi batinku sangat sakit dan terluka," jawab Radit masih memberi kiasan yang Amel tidak juga mengerti.


"Apakah kamu sudah menikah kembali?" tanya Pria itu membuat Amel terkesiap.


"Ahwwh!" Tanpa sadar Amel menyentuh pinggiran peralatan masak yang sangat panas.


"Amel! Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Radit segera meraih tangan wanita itu, raut wajah cemas terlihat jelas. Radit menggiring Amel menuju wastafel dan mengguyur tangannya yang sedikit melepuh dengan air.


"Sudah, tidak apa-apa Mas, terimakasih," ucap Amel sembari menarik tangannya dari pegangan Radit.


Amel tidak ingin terbawa perasaan lagi, ia takut jadi berharap pada Pria itu. Sebesar apapun rasa cintanya akan ia simpan rapi dalam hati. Amel sudah berjanji tidak ingin mengganggu kebahagiaan Radit. Sadar sekali wanita sepertinya yang banyak kekurangan tidak pantas menjadi pendampingnya.


"Suami kamu mana?" tanya Radit kembali.


Amel bingung harus jawab apa, dia juga tidak ingin Pria itu tahu bahwa dirinya masih sendiri, dan takut jika Radit akan menganggapnya sebagai wanita malam lagi. Dia harus bisa terlihat bahagia dihadapan Pria itu.


"Ah, suami aku tugas diluar kota, Mas," jawab Amel sudah pasti berbohong.


"Oh." Radit hanya menjawab ber oh ria saja. Hatinya terasa perih dan teriris saat mengetahui kebenarannya wanita itu sudah mendapatkan pengganti dirinya.


"Selamat ya, semoga kamu selalu bahagia. Maaf bila aku pernah menjadi lelaki bodoh, dan menyakiti perasaan kamu. Aku percaya suami kamu sekarang pasti sangat menyayangi kamu," ujar Radit menatap sendu.


Amel ingin sekali menangis menumpahkan segala kerinduan yang selama ini ia tahan, bahkan dihatinya tiada nama lain yang menempati selain nama Radit Dewangga.


"Iya, makasih atas do'anya Mas. Aku harap kamu juga selalu bahagia dengan yang baru," jawab Amel mendo'akan yang terbaik untuk Pria itu.


Radit hanya tersenyum senjang mendengarnya, tapi yasudahlah, di aminkan saja Do'a baik itu.

__ADS_1


"Tapi, surat nikah kita masih utuh, apakah kamu tidak minat untuk mengurus surat cerai resmi agar kamu mendapatkan status jelas?" tanya Radit.


"Kenapa kamu tidak menggugatnya di pengadilan, Mas?" tanya Amel heran. Seharusnya Radit sudah menggugat, dengan hilangnya kabar akan memudahkan Radit untuk mendapatkan surat cerai resmi. Tapi kenapa Pria itu belum melakukannya.


"Aku masih menganggap kamu sebagai istriku, tetapi sudahlah, setelah aku tahu yang sebenarnya, maka aku akan mengurus secepatnya agar status pernikahan kamu jelas," ungkap Radit yang membuat Amel diam seribu bahasa. Apa maksud Pria itu?


Amel segera menyelesaikan pekerjaannya, menata masakan didalam tempat, dan menyajikan diatas meja.


"Ayo makan, Mas, maaf seadanya saja," ucap Amel mempersilahkan Radit dan Rafif untuk makan.


"Ah, ya. Terimakasih, maaf sudah merepotkan kamu," ucap Radit merasa tidak enak.


"Tidak repot sama sekali."


Amel masih melayani kedua Pria itu seperti biasanya. Perasaan Radit semakin ngilu, kenapa sikap wanita ini masih seperti dulu. Bagaimana ia bisa merelakan begitu saja.


"Ayo dimakan Sayang," ucap Amel pada Rafif.


"Mama, aku mau maem juga!" seru bocah kecil itu.


"Oh, Rara mau makan juga, ayo sini Mama suapin ya," jawab Amel ingin menyuapi gadis kecilnya.


Uhuk! Uhuk!


Radit keselek mendengar panggilan gadis kecil itu. Ia merasa darahnya berdesir saat dipanggil Papa oleh Rara.


"Minum dulu, Mas. Maaf jika panggilan Rara membuat kamu tidak nyaman, dia memang terbiasa dengan panggilan seperti itu, karena ayahnya jarang pulang," jelas Amel masih berbohong.


Radit hanya mengangguk paham dan segera minum. Rafif tampak bersemangat makan dengan ayam goreng mentega yang dibuat khusus oleh sang Mama.


"Enak banget masakan Mama," celetuk bocah itu.


"Alhamdulillah jika Rafif masih suka dengan masakan Mama," jawab Amel sembari mengisi piring untuk Rara.


"Ayo makan Sayang," Radit mendekatkan piring pada Rara yang duduk disampingnya.


"Cuap Papa," pinta Rara tiba-tiba manja.

__ADS_1


"Eh, Rara, tidak boleh begitu. Oom itu lagi makan, sini Mama yang suapin," tegur Amel pada gadis kecilnya.


Entah kenapa Rara begitu manja saat bersama Radit, apakah ikatan batin mereka begitu kuat? Karena mendapat teguran dari Mama, anak itu cemberut dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah, tidak apa-apa, Mel. Biarkan saja. Aku sama sekali tidak keberatan menyuapinya," potong Radit.


"Mau maem yang mana , Sayang? punya Om atau yang ini?" tanya Radit memberi pilihan pada gadis itu.


"Aku mau punya Papa saja, kacih cambal dikit aja," pintanya.


"Baiklah, kamu suka makan pake sambal?"


"Cuka, Om."


"Wih, Kak Rafif kalah sama Rara, lihat Rara suka sambel," ujar Radit membandingkan Putra sulungnya yang sampai sekarang tidak tahan pedas.


"Biarin, enak makannya pake ayam goreng aja," jawab Rafif menanggapi.


Amel hanya tersenyum melihat pemandangan yang menghangatkan jiwanya, meskipun Radit belum tahu kebenaran tentang Rara, tetapi Pria itu terlihat begitu menyayangi Rara dengan tulus.


"Kamu tidak makan sekalian, Mel?" tanya Radit membuyarkan lamunan Amel.


"Ah, aku sudah kenyang Mas. Udah, biar aku saja yang menyuapi Rara, nanti kamu makan tidak tentu kenyang bila di ganggu seperti ini," ujar Amel ingin mengambil alih pekerjaan Radit yang sedang menyambi.


"Tidak apa-apa, dia lagi senang jangan diganggu, nanti nangis lagi," bantah Radit tak ingin putri kecil itu kembali menangis.


Selesai makan, Radit hendak membayar semua makanannya, tentu saja Amel tidak akan menerima, karena ia tidak merasa melayani orang lain, tetapi tetap sama, yaitu suami dan anaknya.


"Tidak perlu, Mas, aku ikhlas melakukan semuanya. Jangan menganggapku sebagai orang lain, anggaplah aku sebagai saudaramu sendiri," ujar Amel yang membuat hati Radit kembali perih.


"Bagaimana jika aku tidak bisa melakukan hal itu, Mel?" tanya Radit menatap sendu.


"Apakah aku memang tidak pantas menjadi saudaramu? Masih begitu burukkah pemikiran kamu tentang aku, Mas?" tanya Amel menahan perih dihati. Matanya sudah mulai berembun. Ia merasa Radit sangat jijik padanya.


"Maaf, bukan itu maksud aku, Mel, aku tidak bisa menganggapmu sebagai saudara, karena sampai saat ini aku masih tetap menganggapmu sebagai istriku," jelas Radit membuat Amel terpaku.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2