Wanita Malam Milik Dokter Tampan

Wanita Malam Milik Dokter Tampan
Bab 27


__ADS_3

Setibanya dirumah Amel segera memberi Rara obat yang diberikan oleh suaminya. Setelah memastikan bocah kecil itu bermain cukup anteng, Amel menuju dapur untuk memasak makan siang.


Radit pulang sepenggari sore, ia disambut hangat oleh istri dan anak-anaknya. Kebahagiaan pasangan itu sudah begitu lengkap. Tak ada yang mereka inginkan selain mensyukuri segala nikmat dan bahagia yang Tuhan lingkupi dalam keluarga kecilnya.


Pasangan itu tak ingin mengulang kesalahan dan dosa masalalu, mereka selalu belajar untuk memperbaiki diri dan menjadi yang lebih baik lagi untuk pasangan dan juga anak-anak mereka.


Jika Amel dan Radit sedang di lingkupi kebahagiaan, berbeda dengan halnya Ayu dan Dokter Rian. Gadis itu masih berusaha untuk mendapatkan hati Pria itu.


Siang ini Ayu nekat mendatangi RS dimana Rian bertugas. Gadis itu telah membawa bekal makanan berserta lengkap dengan lauknya. Ayu duduk di pelataran RS demi menunggu pujaan hatinya keluar.


Tak berselang lama yang ditunggu telah menampakkan batang hidungnya. Ayu segera menghampiri Pria yang masih menggunakan Snelli dokternya.


"Mas Rian!" panggil Ayu berjalan mendekati dengan senyum manisnya.


"Ada apa?" tanya Rian dingin.


"Mas, mau kemana?" tanya Ayu masih senyum mesem.


"Mau cari makan," jawab Rian masih datar.


"Eh, tunggu Mas!" ucap Ayu menahan langkah Pria itu.

__ADS_1


"Ada apa lagi, Ayu?"


"Ini, aku bawa makanan buat kamu, Mas. Semoga kamu suka ya, ini makanan kesukaan kamu, dan di masak dengan penuh perasaan," ucap gadis itu tersenyum manis.


"Ambil, Mas. Jangan bengong saja! Kamu tidak perlu repot-repot makan diluar, aku percaya kamu pasti suka," ucap Ayu dengan percaya diri.


Rian hanya diam, ingin menolak tapi takut wanita itu tersinggung. Maka dengan berat hati ia menerima rantang stainless yang berisi makanan.


"Baiklah, terimakasih. Lain kali kamu tidak perlu repot-repot mengantarkan aku makanan seperti ini. Karena aku tidak suka," ujar Pria itu, namun Ayu tak nampak sakit hati, ia hanya menanggapi dengan senyum.


"Aku tidak repot sama sekali, Mas. Karena aku ikhlas melakukan semuanya untuk kamu. Yaudah, aku balik ke warung dulu ya, semoga Mas Rian suka dengan masakan aku," ujarnya sebelum beranjak meninggalkan Dokter umum itu.


Hari berikutnya, Ayu masih melakukan hal yang sama pada Pria itu, ia menyambangi Dokter itu dengan makanan yang telah disediakan. Namun sikap Rian masih tak berubah. Tetap dingin dan cuek.


Bagi Ayu tak masalah, selagi Pria itu masih mau menerima makanan darinya itu sudah membuatnya bahagia.


"Ayu, sekali lagi aku katakan padamu. Tolong jangan repot-repot seperti ini! Karena aku tidak suka dengan masakanmu!" tekan Rian dengan lantang.


"Mas, santai saja bicaranya. Jangan ngegas gitu. Aku percaya lama kelamaan kamu pasti menyukai masakan aku, diwarung kamu juga makan masakan aku," jawab Ayu dengan cuek.


"Ah, terserah kamulah! Aku pergi dulu!" Rian masih membawa makanan wanita itu masuk kedalam RS . Sebenarnya ia sudah makan, tapi gadis itu tetap saja ngeyel.

__ADS_1


Rian menaruh makanan itu diatas mejanya. Setelah itu dia kembali sibuk dengan pasien-pasienya. Maklum saja, sebagai Dokter IGD, maka membuat aktivitasnya sangat sibuk. Karena ruang IGD tak pernah sepi dari para pasien yang masuk secara darurat.


Sore setelah jam tugasnya usai, ia segera beranjak keluar dari ruangan itu, namun diambang pintu ia teringat bekal yang diberikan oleh gadis ngeyel itu.


Rian kembali masuk untuk mengambil rantang yang isinya masih utuh. Tetapi karena sudah seharian tak disentuh maka makanan itu sudah tak bagus lagi.


"Ah, basi lagi. Ya habisnya nggak sempat makan," gumam Pria itu sembari memeriksa isi rantang itu. Rian segera menumpahkan makanan basi itu kedalam tong sampah. Tak enak bila Ayu tahu bahwa ia tak menyentuh makanan darinya.


"Kenapa dibuang, Mas?" Terdengar suara seseorang yang membuat Rian terjingkat.


"Ah, Yu. Ini makanannya..."


"Iya, aku tahu, Mas. Yasudah, tidak apa-apa, Mas. Maaf ya, jika wanita melankolis ini semakin tak tahu malu, terimakasih sudah menyadarkan aku," ucap gadis itu bergetar sembari meraih rantang kosong itu dari tangan Rian.


"Yu, bukan maksud aku seperti itu!" Rian ingin mengejar, tapi gadis itu semakin menjauh dan sedikit berlari, tak bisa ditahan air matanya jatuh seketika. Rasanya sakit sekali, tetapi ia tak bisa menyalahkan Pria itu, ia yang salah, karena tak bisa menahan perasaannya.


Rian menggusal rambutnya hingga sedikit berantakan. Tak tahu harus bersikap apa. Apakah dia harus menjelaskan yang sebenarnya, atau membiarkan saja agar wanita itu tak lagi datang menemui dirinya. Bukankah itu yang ia inginkan?


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2