
Setelah Karina sampai di rumah ia segera membuatkan susu untuk anak-anaknya. Kemudian ia pun duduk di sudut dapur sambil berpikir, apa besok lebih baik ia mengundurkan diri?
Apakah pengunduran dirinya akan membuat Aditya marah? Lalu konsekuensi apa yang akan diterimanya?
Status dan kekuasaan Aditya cukup membuat orang merasa ketakutan.
Dia hanyalah orang biasa yang tidak punya kuasa, bukankah ini seperti sebuah telur yang dihantamkan pada batu?
Selain itu, Budi juga sudah mengatakannya dengan jelas, dia tidak boleh mengundurkan diri.
"Ah..." Karina menghela napas panjang.
"Mama?"
Karina mendongakkan kepalanya, ia melihat keenam anaknya masuk sambil memeluk botol susunya. Mereka berjalan menghampiri Karina dan berdesakan masuk ke dalam pelukannya.
Karina mengulurkan tangannya untuk memeluk tubuh lembut mereka, "Ada apa?"
"Mama, apa ada orang yang menindasmu?" Tanya Lili dengan wajah serius.
"Mama, aku plajulit yang paling hebat, aku mau melawan monsternya!" Yuda melambaikan tinju kecilnya.
"Mama, aku juga mau melawan monster!" Hendra naik dan melingkarkan tangannya pada leher Karina dan bergelantungan di sana.
"Mama, aku juga mau..." Kata Anita dengan lemah.
__ADS_1
"Mama, jangan takut." Renata yang rambutnya dikuncir dua dengan menggemaskan itu memeluk lengan Karina.
Erik tidak berkata apa pun, melainkan hanya diam dan mengulurkan tinju gempalnya ke hadapan Karina.
Karina tertegun sejenak, dan akhirnya mengerti. Dia juga mengepalkan tangannya dan meninjunya dengan tinju Erik.
"Mama, uh!" Yuda memasang ekspresi serius. Karena tidak bisa mengatakan 'berjuanglah', ia menggantinya dengan 'uh'. Sungguh menggemaskan.
Karina tersenyum, "Semangat. Terima kasih, Erik. Kalian semua adalah anak kesayangan mama."
Melihat anak-anaknya begitu menggemaskan dan sangat pengertian, hati Karina terasa sangat hangat.
Anak-anak juga telah memberikannya keberanian dan kekuatan hati. Lagi pula, selama dia bekerja dengan baik, dia tidak akan berbeda dengan karyawan lain dari Grup KING.
Dia menggunakan tatami untuk tidur. Karena Karina khawatir saat malam anak-anaknya akan terjatuh dari ranjang. Jarak dari tatami ke lantai sangat pendek, selain itu ukurannya juga besar. Karina bisa tidur bersama dengan anak-anaknya.
Satu orang dewasa dan enam orang anak kecil yang terbaring di atas tatami terlihat sungguh menggemaskan.
Meskipun di siang hari tidak terasa dingin, tapi malam hari pasti akan terasa sangat dingin.
Keenam anak kecil ini seperti enam buah kantung air hangat, Karina dapat memakainya dengan aman.
Keesokan harinya, Karina pergi melapor ke tempat di mana otoritas tertinggi berada.
Departemen Sekretariat berada di bawah naungan Budi. Budi pun membawanya ke ruang rapat dan memberitahu bahwa tugasnya adalah mengurus dan melayani di ruang rapat presiden yang berada di lantai ini.
__ADS_1
Ruang rapat ini sangat besar, jauh lebih besar dibandingkan dengan apartemennya, meja rapatnya berbentuk persegi panjang, dan terdapat sebuah tanaman hijau di atasnya.
Selain itu juga terdapat sebuah proyektor berteknologi tinggi yang akan dibutuhkan saat rapat.
Setelah keluar dari ruang rapat, Budi membawanya ke Departemen Sekretariat, memperkenalkannya kepada karyawan di sana, kemudian pergi untuk kembali bekerja.
Karina merasa Departemen Sekretariat sangat serius, rasanya seperti hidup di dalam suasana ujian masuk perguruan tinggi, tidak ada seorang pun yang bicara dan bermalas-malasan.
Telepon berdering pukul 09:30, adalah Budi yang meneleponnya, "Ada rapat pada pukul 10:00."
"Baik!" Karina segera beranjak dan pergi menuju ke ruang rapat.
Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik di ruang rapat. Dia pun berdiri di depan pintu masuk untuk menunggu.
Melihat para manajemen papan atas datang dari kejauhan, Karina pun bergegas membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk.
Di belakang sudah tidak ada orang, bukan?
Apakah aku harus menutup pintunya?
Tidak lama setelah pintu ditutup, ia melihat Aditya yang datang terlambat. Dengan setelan jas hitamnya, tubuhnya terlihat tegap dan gagah, karismanya juga begitu kuat.
Tubuh Karina pun menegang. Saat menyadari Aditya berjalan ke arahnya, napasnya pun semakin melambat.
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 500 bab di App F/izzo !!!
__ADS_1