Wanita Ranjang

Wanita Ranjang
Bab 7


__ADS_3

"Apakah kalian pikir dia mudah ditindas karena dia sudah tua? Keterlaluan! Paman, keluarkan ponselmu dan aku akan membantumu mengambil foto sebagai bukti, sehingga dia tidak bisa mengelak!"


"Ya, memang harusnya seperti itu, kamu sangat pintar." Orang tua itu mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Karina.


Namun, siapa yang menyangka Karina akan langsung berlari ketika dia mengambil ponsel itu.


"Kamu mengambil ponselku! Jangan lari, kembalikan ponselku!" Orang tua itu bangkit dan mengejarnya. Dia berlari hingga bisa menangkap Karina dan menghentikannya. "Apa kamu mau cari mati? Kembalikan ponselku!"


"Oh, kamu tidak apa-apa? Bukankah kamu mengatakan bahwa kakimu patah?" Karina melihatnya dari atas ke bawah.


Orang tua itu baru tersadar, dia berlari mengejar Karina yang mengambil ponselnya hingga lupa tentang kejadian kaki yang tertabrak tadi.


"Kamu!" Orang tua itu sangat marah hingga tak bisa berkata-kata lagi.


Karina memutar matanya dan berjalan ke arah pria itu, "Tidak apa-apa, aku bisa bersaksi bahwa kakinya masih sangat sehat."


"Terima kasih banyak." Pria itu sedikit membungkuk sambil mengungkapkan rasa terima kasih.


"Sama-sama." Karina tersenyum hingga dia tidak menyadari bahwa mata lelaki tua di belakangnya yang gagal mendapatkan uang ganti rugi itu berubah menjadi jahat, dia mengambil batu bata dari tanah dan mencoba untuk memukul bagian belakang kepala Karina.


Supir itu hanya sempat berkata 'awas', Karina berbalik dan melihat batu bata itu dilempar ke arah wajahnya, dia begitu terkejut dan ketakutan hingga tanpa sadar menutup matanya.

__ADS_1


Tapi dia tidak merasakan sakit apapun, kemudian dia membuka satu matanya dan melihat bahwa batu bata yang dilempar kearahnya itu berhenti di depannya, pergelangan tangan lelaki tua itu dicengkeram oleh tangan orang lain, wajahnya pun berubah kesakitan dan batu bata itu terjatuh dari tangannya.


Karina mengangkat wajahnya dengan rasa heran dan tercengang ketika melihat siapa pria yang menyelamatkannya.


Lelaki tua itu tampak kesakitan seperti sedang menahan sebuah penderitaan yang sangat berat, tetapi wajah Aditya terlihat sangat garang dan ganas.


"Karena kamu sendiri yang minta disakiti, maka aku akan membantumu menyakiti dirimu." Setelah selesai berbicara, dia dengan mudah memutar pergelangan tangan lelaki tua itu hingga terdengar bunyi tulang yang patah.


"Ahhhhh!!" Pria tua itu mengerang kesakitan dan berteriak sambil memegang pergelangan tangannya yang patah.


Pengawal itu melangkah maju dan langsung menyeret lelaki tua itu pergi hingga teriakannya tidak terdengar lagi.


Karina masih berdiri di sana dengan pikiran kosong, dia baru saja mendengar suara tulang yang dipatahkan untuk pertama kalinya dalam jarak yang begitu dekat, suaranya itu sangat mengerikan.


Karina kembali tersadar dan sangat ingin segera pergi dari tempat ini, "Aku hanya melihat ketidakadilan di jalan ini, tidak ada maksud lain, dan saya masih ada urusan jadi harus pergi dulu!"


Setelah selesai berbicara dia langsung ingin pergi, hanya saja ketika Karina berbalik badan, tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram dengan erat dan ditarik.


Itu adalah tangan yang baru saja mematahkan pergelangan tangan lelaki tua itu, suhunya terasa dingin dan kekuatannya luar biasa.


Pria berpostur tinggi itu semakin mendekati dan menekannya, "Apakah aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?"

__ADS_1


Suara serak serta napas ringan bersuhu panas yang berhembus di kulit telinga dan leher Karina membuat seluruh tubuhnya gemetar, dan darah seolah mengalir deras ke dahinya. Dia tersenyum canggung sambil berkata, "Anda.... pasti bercanda, bagaimana mungkin saya bisa mendapatkan kehormatan untuk bertemu dengan Anda, Anda salah orang."


Karina melepaskan tangannya lalu berbalik dan segera berlari, kemudian menghilang setelah beberapa saat.


Aditya melihat ke kejauhan dengan tatapan mata yang dalam dan tajam.


Pura-pura tidak kenal?


"Mama pulang!" Karina membuka pintu.


Bibi Tutik sedang menemani anak-anak didalam.


Anak-anak kecil itu sangat senang ketika mereka melihat Karina, mereka berlari dengan kaki kaki mungilnya. Mereka tampak seperti enam bola bundar yang sedang berlari kesana kemari, mereka mengangkat wajah gemuknya sambil membuka mulut dan berkata, "Mama!"


Bibi Tutik berjalan menghampirinya seraya tersenyum, "Kamu sudah pulang."


"Iya, Bibi Tutik bisa pulang sekarang."


"Baik."


Anak-anak kecil itu berkata dengan serempak, "Dadah, nenek!"

__ADS_1


"Dadah."


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 500 bab di App F/izzo !!!


__ADS_2