Wanita Ranjang

Wanita Ranjang
Bab 18


__ADS_3

Karina melihat harga yang tertera, kurang lebih dua ratus ribu Rupiah, cukup murah. Karena sudah berniat membawa mereka berjalan-jalan, tentu saja ia harus rela mengeluarkan uang!


Sambil meyakinkan dirinya, Karina pun membelikan Lili boneka panda itu.


Lili memeluk boneka panda dengan gembira, berkata kepada Bibi Tutik, "Mama yang membelikan ini untuku!"


"Benar, mama yang membelikannya." Bibi Tutik tersenyum.


Jangan lupa, jika sudah membelikan untuk satu anak, anak-anak lainnya juga harus dibelikan, tidak boleh pilih kasih.


Yuda memilih sebuah pistol mainan. Ia memegangnya dan mulai menembakkannya, "Dor, dor, dor".


Lili mendapatkan sebuah boneka panda. Dia sangat senang sampai tidak mau melepaskan pelukannya dari boneka barunya itu.


Mainan milik Hendra dan Anita adalah layang-layang. Begitu mulut mungil mereka mulai meniupnya, layang-layang itu pun mulai berputar.


Milik Renata adalah sebuah cincin plastik yang sudah dikenakan di jarinya.


Lalu, Erik mendapatkan sebuah spidol. Setelah mendapatkannya, ia pun bersiap-siap untuk menggambar di tembok, namun Karina menghentikannya dengan tepat waktu.


Saat Aditya keluar dari hotel, ia melihat di sebelah mobil yang sedang menunggu di pintu masuk, ada seorang anak kecil yang tingginya belum mencapai sebuah ban sedang memegang spidol dan menggambar dengan serius di badan mobil hitam itu.


Melihat situasi ini, Budi hendak menegurnya. Meskipun sang supir berada di dalam dan tidak bisa melihatnya, tetap saja ini tidak bisa dijadikan sebagai alasan.


"Biarkan dia menyelesaikan gambarnya." kata Aditya.


Budi tidak mengerti. Ia berpikir dalam hati, sejak kapan Pak Aditya berubah menjadi sebaik ini? Ini benar-benar aneh.


Erik menggoreskan spidolnya dengan serius, gambarnya terlihat seperti sebuah bola baja berwarna biru.


Aditya berjalan ke depan, Budi menyuruh anak kecil itu untuk pergi. Aditya menatap anak kecil berpipi gembul itu, dia dirawat dengan sangat baik, pikir Aditya.


Sebelum Aditya masuk ke mobil, ia berkata, "Temukan orang tuanya untuk meminta ganti rugi."


Kemudian mobil Aditya pun melaju pergi.

__ADS_1


"..." Budi berkata dalam hati, aku menarik kembali ucapan mengenai Pak Aditya yang sudah menjadi baik barusan, Anda benar-benar sangat kejam.


Bibi Tutik pun datang, "Erik, kamu jangan pergi sembarangan, aku hampir saja kehilanganmu."


Karina pergi ke toilet dan meminta Bibi Tutik untuk menjaga anak-anak. Namun dalam sekejap Erik menghilang, dia benar-benar panik.


Budi memandang Bibi Tutik, "Dia adalah anakmu?"


"Benar, ada apa?" tanya Bibi Tutik.


Budi memperlihatkan foto hasil karya Erik di ponselnya pada Bibi Tutik, "Ini adalah sebuah mobil Rolls Royce, silakan menghubungi nomor telepon ini dalam waktu tiga hari. Kami akan memberi tahu biaya pembersihan dan perawatannya. Jangan berpikir untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Anak ini tidak bersalah, namun orang tuanya yang telah lalai. Jika kalian tidak menelepon ke nomor ini, aku akan menemukan kalian, dan masalah ini akan berubah menjadi lebih rumit dari sebelumnya."


Setelah menyerahkan kartu nama pada Bibi Tutik, Budi meliriknya sesaat, kemudian pergi ke arah lapangan parkir.


Bibi Tutik tidak percaya, Erik telah menimbulkan bencana besar meski baru ditinggal sebentar saja.


Erik tahu bahwa ia sudah melakukan kesalahan. Ia menundukkan kepalanya dan wajahnya terlihat sangat sedih.


Karina dan anak-anak lainnya pun datang, "Bibi Tutik, kenapa kamu membiarkan anak-anak di dalam toko, itu sangat berbahaya. Apa yang terjadi?"


"Tidak mungkin. Rolls Royce?" Karina hampir menangis. Erik, apa kamu tidak bisa menggambar di mobil yang harganya lebih murah sedikit?


Namun, ia tertegun saat membaca nama yang tertera di atas kartu nama itu. Budi? Budi yang mana? Tidak mungkin begitu kebetulan, bukan?


"Akulah yang telah lalai menjaganya. Kamu bisa memotong gajiku." kata Bibi Tutik.


"Ini tidak ada urusannya denganmu." Karina kembali tersadar dan bertanya, "Apa ada seorang pria lain di sebelah pria yang memberikan kartu nama ini padamu?"


"Aku tidak tahu. Saat aku menemukan Erik, hanya ada satu orang pria saja."


Karina ingat, mobil Budi bukan Rolls Royce. Rolls Royce adalah milik Aditya.


Jangan-jangan Aditya sudah melihatnya?


Karina memiliki kekhawatiran yang tidak kunjung hilang, saat melihat Erik, Aditya pasti tidak akan menyadarinya, karena di antara keenam anak itu, hanya Yuda yang paling mirip dengan Aditya, itu benar-benar menakjubkan.

__ADS_1


"Ayo jalan, kita bicarakan lagi setelah pulang." kata Karina.


Setelah sampai di rumah, Karina berjongkok di dalam toilet sambil terus menatap kartu nama itu. Bagaimana ini? Apa dia harus meneleponnya? Tentu saja, hanya dapat meminta Bibi Tutik yang menelepon, tapi biayanya perbaikannnya pasti sangat besar, dia tidak sanggup untuk membayarnya!


Karina mendongakkan kepalanya dan melihat Erik yang ikut masuk dengan menunjukkan ekspresi wajah yang sangat sedih. Meskipun berkeringat, ia tetap tidak mau pergi dari dalam toilet, apa kamu tidak mencium bau yang menusuk?


"Tidak apa-apa, tidak masalah. Setelah mama meneleponnya, semuanya pasti akan baik-baik saja. Erik tidak sengaja melakukannya. Tapi, lain kali kamu tidak boleh menggambar sembarangan di mobil orang lain. Kamu mengerti?"


"Iya." Erik menganggukkan kepalanya.


"Anak baik, ayo keluar dan pergi bermain bersama dengan Yuda."


Hari Senin pagi, Bibi Tutik baru menghubungi nomor telepon di kartu nama itu.


Mode hands-free dinyalakan.


"Halo, waktu itu anak dari keluarga kami sudah menggambar di mobil Anda. Jadi, berapa yang harus kami bayar untuk biaya ganti ruginya?" tanya Bibi Tutik.


"Empat puluh juta lebih, kamu bisa membayar empat puluh juta saja."


"Empat puluh juta?" Bibi tutik mendongakkan kepalanya dan menatap Karina.


Karina lemas, dia tahu biayanya tidak mungkin murah. Dia menunjuk ke arah ponsel, memberi isyarat pada Bibi Tutik untuk melanjutkan pembicaraan. "Saat ini aku harus merawat anak dan juga masih harus bekerja. Aku tidak punya cukup uang, apa aku boleh mengangsurnya setiap bulan?" tanya Bibi Tutik.


"Di mana suamimu?"


Bibi Tutik dan Karina tidak menyangka dia akan menanyakan pertanyaan semacam itu.


Karena tidak bisa memberi tahu Bibi Tutik secara langsung, Karina menggunakan satu tangan untuk mencekik lehernya, menjulurkan lidahnya keluar, dan memutar bola matanya ke atas.


Bibi Tutik berkata, "Meninggal dunia karena bunuh diri."


"..." Karina.


"..." Budi di panggilan telepon. "Baiklah kalau begitu, kamu boleh mengangsurnya."

__ADS_1


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 500 bab di App F/izzo !!!


__ADS_2