Wanita Ranjang

Wanita Ranjang
Bab 3


__ADS_3

Tania bahkan tidak menoleh untuk melihatnya, ia langsung masuk ke mobil.


Karina buru-buru mengikutinya.


Di dalam mobil, Tania berbicara sambil sibuk berdandan, "Ini adalah sebuah kesempatan yang sulit didapatkan, hanya ada waktu 15 menit untuk wawancara, kalau kamu mengacaukanku, kamu bisa keluar dari perusahaan ini."


"Baik, baik, baik! Saya pasti akan berhati-hati."


"Sebenarnya kamu juga tidak perlu melakukan apa-apa, cukup bawa kamera itu dan arahkan ke orang yang sedang diwawancarai, jangan sampai membuat ia mengira kamu ini amatir, itu saja sudah cukup."


"Siapa orang yang akan kita wawancarai?" Karina penasaran.


"Buat apa kamu bertanya sebanyak ini? Kamu hanya perlu tahu bahwa beliau adalah orang besar yang ingin didekati oleh semua orang di seluruh Jakarta, sangat dikagumi dan sangat berpengaruh. Banyak wanita yang berlomba-lomba untuk tidur dengannya. Kamu sungguh beruntung, bisa bersamaku pergi menambah pengalaman di hari pertama."


Karina memperhatikan Tania yang masih sibuk memperbaiki riasannya walaupun sudah terlihat cantik, bibirnya dihiasi dengan lipstik pink pucat seperti bibir boneka Barbie.


Dalam hatinya ia berpikir, kamu bukan termasuk salah satu dari para wanita itu, 'kan?


Tempat yang mereka datangi adalah sebuah klub mewah, dimana yang bisa masuk ke sini adalah mereka yang kaya atau para bangsawan, karena semua harga disini sangat mahal, sudah pasti diluar jangkauan orang biasa.


Sesampainya di meja resepsionis, "Halo, kami dari Televisi SK, kami sudah membuat janji."

__ADS_1


Resepsionis melirik mereka sekilas, lalu membuat panggilan telepon.


"Ikut denganku." Kata resepsionis itu setelah ia menutup telepon.


Lalu mengantarkan mereka ke suatu tempat.


Sesampainya di depan pintu salah satu ruangan, mereka bisa langsung merasakan bahwa atmosfir di dalamnya tidak wajar, bahkan ketika resepsionis itu melihatnya, ia langsung berbalik dan lari ketakutan.


Pintu ruangan itu terbuka, tampak di dalamnya seorang pria menangis sambil berlutut di lantai, memohon belas kasihan, "Pak Aditya, ampuni saya! Saya tidak bermaksud begitu, hanya saja saya benar-benar tidak ada cara lain!"


Ini pertama kalinya Karina melihat seseorang berlutut memohon belas kasihan.


Hanya terlihat sisi wajah dari pria itu, siluetnya yang tajam, memandang dingin ke arah orang yang berlutut itu, minuman anggur di tangannya sedikit bergoyang, terdengar suara rendah yang dingin, "Orang rendahan sepertimu, berani juga berhadapan denganku."


Pria itu dengan gemetar memohon belas kasihan, "Pak Aditya, tolong Anda lepaskan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi lain kali!"


"Kamu terlalu berisik." Pria yang sedang duduk itu berdiri, gerakannya sangat cepat sehingga kejadiannya tidak sempat terlihat, tahu-tahu pria yang berada di hadapannya itu telah ditendang.


Pria itu terpental beberapa meter, menabrak dinding, lalu jatuh ke lantai, dan memuntahkan darah segar. Kemudian, pria yang berdiri di sampingnya memerintahkan para pengawal di belakangnya untuk menyeret orang itu keluar seperti mayat.


Karina sangat ketakutan sampai-sampai seluruh tubuhnya kaku.

__ADS_1


Budi membalikkan badan, dilihatnya dua orang sedang berdiri di pintu, membungkuk sedikit dan mengatakan sesuatu, lalu berjalan menghampiri, "Kalian hanya punya waktu sepuluh menit untuk wawancara."


"Baik, baik, baik!" Tania buru-buru menjawab, ia juga sangat ketakutan.


Setelah mereka masuk ke ruangan, ketika melihat pria yang sedang duduk di sofa itu, tubuh Karina membeku.


Wajah tampan pria itu tajam dan tegas, matanya yang hitam seperti batu obsidian menyapu tajam, Karina langsung menundukkan wajahnya ketakutan.


Tidak mungkin, 'kan?


Pria tiga setengah tahun lalu itu adalah seorang model, bagaimana mungkin ia ada di sini? Jangan-jangan ia sudah pindah dari bar ke klub mewah ini?


Mustahil, ada barisan pengawal yang berdiri rapi di belakangnya, dan Tania berkata, orang ini adalah orang besar di Jakarta, apa stasiun televisi mewawancarai seorang model?


Ia sebenarnya sudah tidur dengan orang seperti apa……


"Halo, Pak Aditya, saya adalah Tania, pembawa acara Televisi SK, terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk mewawancarai Anda……"


Aditya bersandar malas di sofa sambil menyilangkan kaki, kakinya yang panjang menarik perhatian, sikapnya sangat bermartabat. Ia tidak berbicara, hanya mengangkat pergelangan tangan dan melirik arlojinya.


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 500 bab di App F/izzo !!!

__ADS_1


__ADS_2